10 Harta Simpanan Di Bulan Ramadhan

10 harta simpanan di bulan Ramadhan

Makkah Al Mukarramah, 6 Ramadhan 1434 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

“10 Kunuuz Ramadhaaniyyah", karya syekh. Khalid Abu Shalih, Madaar Al Wathan Lin Nasyr.

No comments

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan atas penutup para Nabi dan para utusan, Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan atas keluarganya dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Jika manusia saja mensifati orang-orang yang lengah terhadap harta simpanan dunia dengan sebuah kebodohan dan sedikitnya akal serta rusaknya pemikiran, maka sudah sepantasnyalah sifat seperti itu disandangkan kepada mereka yang telah lengah terhadap harta simpanan akhirat. Yang mana harta simpanan ini sifatnya kekal dan memberi manfaat bagi pemiliknya pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Dan bulan Ramadhan ini sungguh penuh dengan harta simpanan yang sangat agung. Yang untuk mendapatkannya memerlukan kepayahan dan kesungguhan serta harus berjalan dengan cepat. Ia adalah salah satu musim dari musim-musim yang penuh dengan rahmat, banyak kebaikan, barakah yang menyeluruh serta memberikan hembusan aroma yang harum. Allah subhanahu wata’ala menganugerahi hamba-hamba-Nya dengan pemberian maaf, ampunan serta pembebasan dari api neraka. Diantara harta simpanan di bulan Ramadhan adalah:

Harta simpanan pertama: pengampunan untuk orang-orang yang berpuasa.

Harta simpanan ini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkannya di dalam sabdanya:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا, غفر له ما تقدم من ذنبه. متفق عليه
Artinya: “ barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu “(Muttafaq ‘alaih).
Oleh karena itu.. wahai yang dirinya telah penuh dengan segala dosa dan maksiat! Inilah harta simpanan yang sangat agung. Peliharalah ia, bergantunglah padanya, jangan biarkan ia melewatimu. Karena barangsiapa yang kehilangan rahmat dan ampunan di bulan Ramadhan, kapan lagi ia akan mendapatkannya selain di bulan tersebut? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رغم أنف رجل دخل عليه رمضان, ثم انسلخ منه قبل أن يغفر له. رواه الترمذي وصححه الألباني
Artinya: “ sungguh hinalah seseorang yang telah memasuki bulan Ramadhan, kemudian ia meninggalkannya sebelum mendapat ampunan “ (HR.Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Harta simpanan kedua: ampunan untuk orang-orang yang melakukan qiyamullail.

Ini adalah harta simpanan nabawi yang ke dua, Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan puasa sebagai ibadah di siang hari, dan qiyamullail sebagai ibadah di malam hari, dan pada setiap keduanya mempunyai akibat baik yaitu pengampunan atas segala dosa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه متفق عليه
Artinya:” barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah segala dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih.)
Ibnu Rajab berkata: “ketahuilah sesungguhnya seorang mukmin akan terkumpul pada dirinya dua kepayahan di bulan Ramadhan. Yaitu kepayahan di siang hari dengan berpuasa, dan kepayahan di malam hari dengan mengerjakan qiyamullail. Maka barangsiapa yang benar-benar mengumpulkan dua kepayahan ini, maka cukuplah baginya pahala yang tanpa batas”. (Al-Lathaa-if) Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Tidak sepantasnya bagi seorang laki-laki untuk meninggalkan shalat tarawih, agar ia mendapat pahala dan balasannya. Dan tidak pula berpaling sampai imam selesai dari shalat tarawih dan witir, supaya ia mendapatkan pahala qiyamullail seluruhnya” (Majalis Ramadhan)

Harta simpanan ketiga: Bacalah dan Naiklah ke tempat yang tinggi.

Apabila puasa Ramadhan dilakukan di siang hari, dan qiyamullail di malam hari, maka sesungguhnya Al qur’an di bulan Ramadhan dilakukan di siang dan di malam hari serta di sepanjang waktu. Karena bulan Ramadhan adalah bulan Al qur’an untuk dibaca, dihafal, ditadabburi, dipelajari, dan diamalkan. Salah satu yang menunjukkan keistimewaan Al qur’an di bulan Ramadhan adalah:
أن جبريل كان يلقي النبي صلى الله عليه وسلم في كل ليلة من رمضان, فيدارسه القرآن. متفق عليه
Artinya: “bahwasanya jibril selalu mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam setiap malam dari bulan Ramadhan, ia mengajarkan Al qur’an” (Muttafaqun ‘alaih).
Hal ini lain dengan sibuknya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap bacaan Al qur’an di dalam shalat dan lainnya. Bacaan Al qur’an ini merupakan harta simpanan yang paling agung yang dianugerahkan Allah kepada ummat ini. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
من قرأ حرفا من كتاب الله كان له به حسنة, والحسنة بعشرة أمثالها, لا أقول (الم) حرف, ولكن ألف حرف, ولام حرف, وميم حرف. رواه الترمذي
Artinya: “barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al qur’an, maka baginya kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh yang semisalnya, aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf” (HR.Tirmidzi).
Maka dengan perhitungan sederhana, surat al fatihah terdiri dari kira-kira 133 huruf tanpa memasukkan kalimat bismillaahirrahmaanirrahiim, maka orang yang membacanya mendapatkan pahala sebanyak 1330 kebaikan. Dan lembaran pertama dari mushaf mencakup kira-kira 600 huruf, maka dengan membacanya akan mendapatkan pahala sebanyak 6000 kebaikan. Sungguh Allah melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Maka bagaimanakah jika seorang muslim membaca satu juz, dua juz, tiga juz atau bahkan lebih dari itu dalam satu hari ?? Sudah pasti akan bertambahlah pahala kebaikannya dan hilanglah segala kesalahannya, karena Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Artinya: “ Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud : 114)

Harta simpanan keempat: Do’a yang dikabulkan.

Do’a adalah ibadah, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
ليس شيئ أكرم على الله تعالى من الدعاء. رواه الترمذي وأحمد وحسنه الألباني
Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah selain dari pada do’a” (HR. Tirmidzi dan ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).
Di bulan Ramadhan ini ada harta simpanan yang kebanyakan manusia lengah darinya, dan mereka lebih sibuk terhadap hal-hal yang lebih rendah darinya. Harta simpanan ini adalah do’a yang mustajab bagi setiap muslim pada setiap hari dari bulan Ramadhan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن لله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة – يعني في رمضان – وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجابة. رواه البزار وصححه الألباني
Artinya: “sesungguhnya Allah membebaskan manusia (dari api neraka) pada setiap sehari semalam di bulan ramadhan. Dan setiap muslim memiliki do’a yang mustajab pada setiap sehari semalam”. (HR.Al Bazzar dan dishahihkan oleh syekh Al-Albani).
Beberapa adab dalam berdo’a yang harus diperhatikan, agar dapat dikabulkan:
1. Memulai do’a dengan memuji Allah Tabaaraka Wa ta’aalaa dan membaca shalawat atas Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.
2. Berwudhu dan menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangan ketika berdo’a.
3. Mengakui segala dosa dan kesalahan dan merasa butuh kepada Allah subhanahu wata’ala.
4. Meminta terus menerus dalam berdo’a dan ber’azzam dalam meminta.
5. Merendahkan suara dan pelan-pelan dalam berdo’a.
6. Tidak berlebih-lebihan dalam membaca kalimat-kalimat do’a.
7. Mencari-cari waktu dikabulkannya do’a. Seperti setelah shalat fardhu, antara adzan dan iqamat, sepertiga terakhir pada setiap malam, hari Jum’at, ketika sahur dan lain sebagainya diantara waktu-waktu yang mulia.
8. Tidak melampaui batas ketika berdo’a.

Harta simpanan kelima: shadaqah dan berderma.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan yaitu di saat Jibril alaihissalam mendatanginya untuk mengajarkannya Al Qur’an, maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan orang yang lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin kencang. Al imam Ibnu Rajab –rahimahullah– telah menyebutkan beberapa manfaat bulan Ramadhan, diantaranya adalah:
1. Waktu yang paling mulia dan dilipatgandakannya pahala beramal di bulan ini. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya, :
أفضل الصدقة, صدقة في رمضان
Artinya: “shadaqah yang paling utama adalah shadaqah di bulan Ramadhan“ (HR.Tirmidzi).
2. Menolong orang-orang yang berpuasa dan mengerjakan qiyamullail serta senantiasa berdzikir atas ketaatan mereka. Maka orang yang menolong mereka berhak mendapat pahala sama dengan pahala mereka.
3. Bahwa di bulan Ramadhan ini, Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa Rahmat, Ampunan dan pembebasan dari api neraka. Apalagi di malam lailatul qadar Allah subhanahu wata’ala menyayangi hamba-hamba-Nya yang berkasih sayang. Maka barangsiapa yang berkasih sayang kepada hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala, Allah subhanahu wata’ala juga akan memberinya kebaikan dan keutamaan. Dan pahala itu sebanding dengan amal perbuatan.
4. Bahwa berpadunya puasa dan shadaqah adalah merupakan indikasi seseorang untuk masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ali –semoga Allah meridhainya- dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن في الجنة غرفا, يرى ظهورها من بطونها, وبطونها من ظهورها.قالوا : لمن يا رسول الله ؟ قال : لمن طيب الكلام, وأطعم الطعام, وأدام الصيام, وصلى بالليل والناس نيام
Artinya: “sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar, yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya”. mereka bertanya: “ bagi siapakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “bagi orang yang berkata baik, memberi makanan, selalu berpuasa, dan shalat di malam hari pada saat manusia sedang tidur” (HR.Ahmad dan Tirmidzi)
5. Bahwa berpadunya puasa dan shadaqah lebih utama untuk menghapuskan kesalahan dan terjauh dari neraka jahannam.
6. Bahwa dalam berpuasa pasti ada celah dan kekurangan, maka dengan bershadaqah akan mengganti celah dan kekurangan yang ada padanya.

Harta simpanan keenam: memberi makan buka puasa untuk orang-orang yang berpuasa.

Ini adalah salah satu bentuk kedermawanan di Bulan Ramadhan yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
من فطر صائما كان له مثل أجره, من غير أن ينقص من أجر الصائم شيء
Artinya: “Barangsiapa yang memberi makan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun”. (HR.Tirmidzi 807, Ibnu Majah 1428)
Keutamaan memberi makan ini juga terdapat dalam Al qur’an,:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
Artinya:”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al Insaan: 8).
Orang yang berpuasa sangat senang terhadap makanan ketika ia berbuka dari pada orang yang tidak berpuasa. Jika ada orang yang memberi makan buka puasa, maka ia telah memberikan makanan yang disukainya. Oleh karena itu ia telah bersyukur kepada Allah atas nikmat makanan dan minuman yang telah dibolehkan untuknya. Karena sesungguhnya nikmat ini akan diketahui kadarnya di saat ia tertahan darinya.

Harta simpanan ketujuh: umrah di Bulan Ramadhan

Umrah di bulan Ramadhan itu berpahala besar yaitu sama dengan pahala haji atau haji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Harta simpanan yang dapat dihasilkan dari umrah di bulan Ramadhan ini adalah bahwa orang yang umrah tadi akan selalu bersiap sedia untuk melakukan shalat di masjidilharam. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صلاة في مسجدي هذا افضل من ألف صلاة فيما سواه, إلا المسجد الحرام, وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه
Artinya:”shalat di masjidku (masjid nabawi) ini lebih baik dari pada seribu kali shalat di tempat lain, kecuali masjidilharam. Shalat di masjidilharam lebih baik dari pada seratus ribu kali shalat di tempat lain”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Catatan: Perlu diketahui bahwa umrah di bulan Ramadhan walaupun pahalanya seperti pahala haji, akan tetapi itu tidak menggugurkan kewajiban haji dan apa-apa yang terdapat dalam kewajiban ini. Oleh karena itu, suatu keutamaan dilihat dari berlipatnya pahala bukan dari digugurkannya kewajiban.

Harta simpanan ke delapan: ‘itikaf.

I’tikaf adalah harta simpanan yang agung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaganya di Bulan Ramadhan. Di dalam shahihain, ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان, حتى توفاه الله, ثم اعتكف أزواجه من بعده
Artinya: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga Allah subhanahu wata’ala mewafatkannya, kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelahnya”.
Dari Anas –semoga Allah meridhainya- berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان, فلم يعتكف عاما, فلما كان العام المقبل اعتكف عشرين رواه أحمد والترمذي وصححه
Artinya: “dahulu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan tidak beri’tikaf setahun penuh, dan pada tahun setelahnya beliau beri’tikaf dua puluh hari”. (HR.Ahmad dan Tirmidzi dan telah dishahihkan)
Al imam Az zuhri berkata:
عجبا للمسلمين تركوا الإعتكاف مع أن النبي صلى الله عليه وسلم ما تركه منذ قدم المدينة
“Sungguh aneh orang-orang muslim, mereka meninggalkan I’tikaf padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya sejak menginjak kota madinah”.
I’tikaf adalah terputusnya seseorang dengan manusia. Dia berada di masjid, mengosongkan diri untuk melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Dengan cara ini menusia bisa menambah ketaatan dan bertaqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala dengan segala macam taqarrub, dan akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang sangat agung. Bagi orang yang melakukan I’tikaf, hendaklah menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an, berdzikir, shalat, berdo’a dan lain sebagainya.

Harta simpanan ke Sembilan: Lailatul Qodar.

Demi Allah, sungguh ia merupakan harta simpanan yang sangat agung. Barangsiapa yang dijauhkan dari kebaikannya, maka ia orang yang terjauhkan. Dan barangsiapa yang diberi keutamaannya, maka ia orang yang bahagia dan dirahmati. Allah subhanahu wata’ala berfirman:(QS.Al qadr:1-5) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika datang bulan Ramadhan:
إن هذا الشهر قد حضركم, وفيه ليلة خير من ألف شهر, من حرمها فقد حرم الخير كله, ولا يحرم خيرها إلا محروم
Artinya: “sesungguhnya bulan ini telah datang kepada kalian, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, barangsiapa yang dijauhkan darinya, maka ia telah terjauhkan dari kebaikannya seluruhnya. Dan tidaklah dijauhkan dari kebaikannya kecuali orang yang telah dijauhkan” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Mundziri).
Lailatul qadar ada di dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka hendaklah menjaga sepuluh hari ini, dan memperbanyak ketaatan sehingga mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه متفق عليه
Artinya:”Barangsiapa yang mendirikan lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih).
Oleh karena itu, maka jagalah wahai saudaraku semuslim harta simpanan yang sangat agung ini, dan bersungguh-sungguhlah untuk menghidupkan malam-malam sepuluh hari ini dengan ibadah shalat, dzikir, berdo’a, dan membaca Al Qur’an. Karena menghidupkan lailatul qadar ini adalah dengan melakukan semua amalan tersebut.

Harta simpanan ke sepuluh: dibebaskan dari neraka.

Harta simpanan ini merupakan hadiah dari Allah bagi orang yang memperbaiki puasanya dan qiyamullailnya, serta menjaga anggota badannya dari segala maksiat, dan memperbagus muamalah dengan sesama manusia. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن لله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة
Artinya: “sesungguhnya Allah Tabaaraka Wa ta’aalaa membebaskan manusia dari api neraka setiap hari dan malamnya” (HR.Al Bazzar dan dishahihkan Al-Albani).
Dalam hadits lain beliau juga bersabda:
لله عند كل فطر عتقاء
Artinya: “setiap berbuka puasa, Allah membebaskan dari api neraka” (HR.Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani)
Dan jika seorang muslim mengerjakan sebab-sebab yang menjadikannya terbebas dari api neraka, maka sudah pasti ia akan memetik hasilnya berupa pahala baginya. Sebab-sebab tersebut diantaranya:
1. Mempertahankan harga diri seorang muslim. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
من ذب عن عرض أخيه بالغيبة, كان حقا على الله أن يعتقه من النار رواه أحمد وصححه الألباني
Artinya:”Barangsiapa yang mempertahankan harga diri saudaranya dari ghibah, maka sudah kewajiban Allah lah untuk membebaskannya dari api neraka”. (HR.Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)
2. akhlak yang baik, berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
من كان سهلا، هينا، لينا، حرمه الله على النار
Artinya:”Barangsiapa yang mudah dan lemah lembut, maka Allah subhanahu wata’ala haramkan baginya api neraka” (HR.Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)
3. menangis karena takut kepada Allah subhanahu wata’ala. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
لايلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع, ولا يجتمع غبار في سبيل الله ودخان جهنم رواه أحمد وصححه الألباني
Artinya: “ tidaklah api neraka masuk kepada seseorang yang menangis karena takut kepada Allah subhanahu wata’ala sehingga air susu kembali ke kantong kelenjar. Dan tidaklah berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka jahannam” (HR.Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)
“Ya Allah, bebaskanlah hamba sahaya kami dari api neraka, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah puasa, shalat dan semua ketaatan kami. Jadikanlah kami hamba-hamba yang berbahagia, wali-wali-Mu yang mulia, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a. Segala puji Bagi Allah tuhan semesta alam”
Alih bahasa: Al faqiir ilaa ‘afwi Rabbih Hamidin Assidawy, Abu harits Makkah Al Mukarramah, 6 Ramadhan 1434 H
Diterjemahkan dari salah satu buletin yang berjudul “10 Kunuuz Ramadhaaniyyah”, karya syekh. Khalid Abu Shalih, Madaar Al Wathan Lin Nasyr.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda