18 Wasiat Untuk Para Penghafal Al-Quran (Bag. 2)

18 wasiat untuk para penghafal al-quran bag 2

Makkah Al Mukarramah 7 Sya'ban 1434H

Ditulis oleh: Ummu Fayha Anisah

Sumber:

Kutaib “Washaayaa Li Haafidzaati Kitaabillah”, karya, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Daar Al Wathan Lin Nasyr, cetakan pertama, tahun 1420 H/ 1999 M

1 comment

Para pembaca yang dirahmati Allah..

Pada artikel sebelumnya sudah kita simak pemaparan 9 poin wasiat pertama untuk para penghafal Al-Quran. Pada artikel kali ini silahkan disimak kelanjutan dari poin sebelumnya. Selamat membaca.

10. wahai penghafal Al-Qur’an…. sesungguhnya penjagaan terhadap sesuatu yang tinggi lebih sulit dari pada usaha ketika mencapainya.

عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: تعاهدوا القرآن فو الذي نفسي بيده لهو أشد تفصيا من الابل في عقلها ”

“Dari Abu musa –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jagalah Al-Quran ini, karena demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatannya”. (HR. Bukhari 4645).

Kata “ta’aahaduu” artinya ulang-ulangilah Al-Qur’an dan peliharalah di dalam membacanya serta mintalah pada diri kalian untuk selalu mengulanginya. Janganlah lalai dari menjaga dan mengulang-ulangnya. . sebagaimana seekor unta ia meminta agar tidak terlepas sebisa mungkin. Maka, kapan saja kita tidak mengikatnya, ia akan lari. Begitu juga dengan seorang penghafal Al-Qur’an, jika ia tidak betul-betul menjaganya, maka hafalannya akan hilang bahkan lebih dahsyat lagi dari pada itu.

Ibnul Bathal mengatakan: hadits ini sesuai dengan dua ayat dari firman Allah ‘Azza Wa Jalla yaitu:

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”. (QS. Al Muzzammil: 5).

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al Qamar: 17) artinya: barang siapa yang menyambut Al-Qur’an dengan penjagaan yang kuat, maka akan dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang berpaling darinya, maka ia akan lepas. (Fathul Baari).

وعن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل القرآن مثل الابل المعلقة إن تعاهدها صاحبها بعقلها أمسكها عليه وإن أطلق ذهبت

“Dari ibnu umar –semoga Allah meridhainya- berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “perumpamaan Al-Qur’an adalah seperti unta yang diikat, jika pemiliknya menjaganya dengan tali pengikatnya, maka ia akan tetap ada (tidak lari). Dan jika pemiliknya membiarkannya, maka ia akan lari”. (HR. Bukhari 4643)

11. Wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau menjauhkan dirimu dari derajat yang tinggi ini setelah engkau mendapatkannya.

Ibnu hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata di dalam Fathul Baari: “para salafush shalih berselisih di dalam masalah melupakan Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang menjadikannya termasuk dosa-dosa besar. Adh Dhahhak bin muzahim berkata: tidaklah salah seorang mempelajari Al-Qur’an kemudian ia melupakannya, melainkan disebabkan dosa yang ia lakukan, karena Allah subhaanahu wata’aala berfirman: ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (QS. Asy Syura: 30), dan melupakan Al-Qur’an adalah merupakan musibah paling besar!

Abu ‘Aliyah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “kami memasukkan ke dalam dosa-dosa yang paling besar adalah seseorang mempelajari Al-Qur’an kemudian tidur darinya sehingga ia melupakannya”. Dan sanadnya baik.

Dan dari jalan ibnu sirin dengan sanad yang shahih tentang orang yang melupakan Al-Qur’an, mereka sangat membencinya dan mengatakan tentang mereka dengan perkataan yang keras… dan berpaling dari membacanya dapat menyebabkan ia melupakan Al-Qur’an, adapun melupakannya berarti menunjukkan bahwa ia tidak memperhatikannya dan menganggap remeh dengan urusan tersebut.. dan meninggalkan penjagaan terhadap Al-Qur’an dapat mengakibatkan ia kembali kepada kebodohan.. adapun kembali kepada kebodohan setelah mendapatkan ilmu adalah perkara yang sangat besar.

Ishaq Bin Rahawaih berkata: “seseorang itu dibenci jika ia melewati empat puluh hari tidak membaca Al-Qur’an sedikit pun”.

12. wahai penghafal Al-Qur’an…. bangkitlah dan perbanyaklah mempelajarinya, niscaya engkau akan hidup dengannya.

Adz dzahabi berkata di dalam siyarnya: abu Abdullah bin bisyr berkata: “aku tidak pernah melihat perselisihan yang sangat baik di saat ia menginginkan satu ayat dari Al-Qur’an dari pada Abu Sahl Bin Ziyad, ia adalah tetangga kami, ia selalu melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur’an. karena banyaknya mempelajari Al-Qur’an seakan-akan Al-Qur’an itu berada diantara kedua matanya”.

13. wahai penghafal Al-Qur’an…selama engkau menjaganya di dalam hatimu, maka jagalah ia dalam anggota badanmu.

Imam Al Qurthubi –semoga Allah merahmatinya- berkata di dalam tafsirnya: “wajib bagi seorang penghafal Al-Qur’an dan pencari ilmu untuk bertaqwa kepada Allah di dalam dirinya dan mengikhlaskan niat hanya untuk Allah. Jika sesuatu yang ia benci mendahuluinya, maka bersegeralah untuk taubat dan kembali kepada Allah serta mulailah ikhlas di dalam menuntut dan mengamalkannya. dan sesuatu yang selayaknya bagi penghafal Al-Qur’an adalah menjaganya lebih dari yang selazimnya dari pada yang lainnya sebagaimana ia mendapatkan pahala yang tidak didapatkan oleh selainnya.

14. wahai penghafal Al-Qur’an…janganlah engkau tertipu dengan hafalanmu sehingga engkau tidak mengamalkannya.

Telah ada dalam riwayat Syu’bah dari Qatadah, ia merupakan tambahan yang terperinci dari makna yang dimaksud. Dan perumpamaan yang disebutkan adalah orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak menyelisihi apa yang terkandung di dalamnya dari hal perintah, larangan dan bukan hanya bacaan saja. “orang mukmin yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya , maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti”.

15. wahai penghafal Al-Qur’an…. hargailah kedudukan yang ada di dalam dadamu dan berikanlah hak dan derajatnya. Sebagaimana engkau telah naik ke tingkat yang paling tinggi dengan hafalan Al-Qur’an, maka di hadapanmu ada tanggung jawab dan kewajiban yang setara dengan itu. Sesungguhnya hafalan itu bukanlah piagam yang digantungkan atau dipajang, dan bukan syahadah yang dibanggakan dan bukan pula pendapatan yang membedakan, akan tetapi hafalan merupakan amanah yang wajib ditunaikan haknya.

16. Selayaknya bagi penghafal Al-Qur’an mempunyai sebaik-baik akhlak dan keadaan.

Fudhail Bin Iyadh berkata: “penghafal Al-Qur’an adalah pembawa panji islam, tidak selayaknya baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, dan berkata yang tidak bermanfa’at bersama orang yang berkata tidak bermanfaat, sebagai bentuk pengagungan akan hak Al-Qur’an”.

Ia adalah hati yang tetap dan Penegak kebenaran

17. wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau sombong terhadap orang yang tidak menghafalkan Al-Qur’an, karena bisa jadi orang yang lebih sedikit hafalan disebabkan ada alasan tertentu itu lebih beruntung dari pada seorang penghafal yang tertipu lagi merugi.

Dari Abdullah Bin ‘Amr berkata: Seorang pria datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ajarkan saya apa yang harus saya lafalkan, ya Rasulullah!” Nabi berkata: ”Ucapkan tiga dari mereka) yang dimulai (dengan huruf Alif, Lam, Ra ‘) Pria itu kemudian berkata kepadanya,’ Aku telah menjadi tua di usia, hati saya sudah mengeras dan lidahku menjadi keras. ‘ Nabi berkata: “(Kemudian membaca dari orang-orang) yang dimulai (dengan huruf Ha-Mim. ) Pria itu mengatakan hal yang sama seperti yang telah dikatakan sebelumnya, sehingga Nabi berkata,: “Ucapkan tiga dari Musabbihat tersebut. ) Pria itu kembali mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya. Orang itu berkata, `Melainkan memberi saya sesuatu untuk membaca yang bersifat menyeluruh (dari semua ini), wahai Rasulullah. ” Jadi Nabi menyuruhnya untuk melafalkan: surah Az Zalzalah, Kemudian tatkala dia (Nabi) selesai membacakan Surah kepadanya orang itu berkata, ‘Dengan Dialah yang telah mengirimkan Anda dengan kebenaran sebagai Nabi, saya tidak akan menambah apa pun untuk itu. ‘Kemudian pria itu berbalik dan kiri, dan Nabi berkata,: (Laki-laki kecil telah berhasil, pria kecil telah berhasil. ) Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no: 1191, para perowinya adalah terpercaya. Isa Bin Hilal As-Shadafi telah dikuatkan oleh Ibnu Hibban. Al-Hafid Ibnu Hajar berkata dalam At-Taqrib: “shoduq”. Imam Bukhari dan Abu Hatim berkata: “tidak shahih hadits”. (dibawakan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dhaif Sunan Abu Dawud no: 300).

18. Wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau menunggu pujian dan sanjungan dari manusia, akan tetapi bersungguh-sungguhlah untuk tidak terpengaruh oleh pujian mereka kemudian kau palingkan mereka untuk ikhlas kepada Allah saja.

Memang benar, kita harus menghormati penghafal Al qur’an, karena di tenggorokannya ada kalaamullah (perkataan Allah). Dan salah satu tanda pengagungan terhadap Allah adalah dengan memuliakan penghafal Al-Qur’an dengan tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak pula meremehkannya. Ibnu Abdil Barr –semoga Allah merahmatinya- berkata: “para penghafal Al-Qur’an mereka adalah yang diliputi rahmat Allah , yang mengagungkan kalaamullah, dan yang dipakaikan cahaya Allah. Barang siapa yang mencintai mereka berarti mencintai Allah, dan barang siapa yang memusuhi mereka, maka ia telah menganggap remeh hak Allah. Pemilik kitab Al Fawakih Ad Dawaani telah menukil perkataan ahli ilmu: “bahwa sesungguhnya menggunjing orang yang berilmu dan penghafal Al-Qur’an itu lebih besar (dosanya) dari pada menggunjing selain keduanya”.

Walaupun demikian, seorang penghafal Al qur’an hendaklah tidak tertipu oleh penghormatan yang datang kepadanya, karena barangkali ketidak ikhlasannya akan mengeluarkannya dari antara mereka.

Jika seseorang telah keluar dari lembaga hafalan Al-Qur’an dan masa perpisahan dengan sekolah dan para guru sudah dekat, maka selayaknya ia mengingat usaha yang telah ia curahkan dan menghargai kedudukannya sesuai dengan kadarnya serta diakhiri dengan wasiat yang sesuai. Inilah kalimat Abdullah bin mas’ud ketika beliau melepaskan murid-muridnya di kufah setelah beliau bersungguh-sungguh mengajari dan menghafalkan Al-Qur’an untuk mereka dan beliau hendak pergi ke kota madinah: Dari Abdurrahman bin ‘abis ia berkata: ”telah mengabarkan kepada kami seseorang dari Hamadan salah seorang sahabat Abdullah bin mas’ud –semoga Alah meridhainya- ia berkata: “ketika Abdullah bin mas’ud hendak pergi ke kota madinah, beliau mengumpulkan semua para sahabatnya dan berkata: ”Demi Allah, sungguh aku berharap hari ini ada orang diantara kalian yang menjadi lebih utama diantara para prajurit kaum muslimin dalam urusan agama, fiqh dan ilmu Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan di atas huruf-huruf, barang siapa yang membacanya di atas sesuatu dari huruf-huruf tersebut yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka janganlah ia tinggalkan karena kebencian (ketidaksukaan) terhadapnya, karena sesungguhnya siapa yang menentang satu ayat dari padanya berarti ia menentang seluruhnya”. (HR. Ahmad 3652)

“Ya Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi, Wahai Pemilik kebesaran dan karunia. Kami memohon kepada-Mu Ya Allah Wahai Yang Maha Pengasih dengan kemuliaan-Mu dan cahaya Wajah-Mu agar memberi petunjuk kepada mereka yang telah menghafalkan kitab-Mu, dan menetapkan hati mereka untuk selalu menjaga hafalan kitab-Mu sebagaimana yang telah Engkau ajarkan, serta memudahkan mereka untuk selalu membacanya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai.

“Ya Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi, Wahai Pemilik kebesaran dan karunia. Kami memohon kepada-Mu Ya Allah Wahai Yang Maha Pengasih dengan kemuliaan-Mu dan cahaya Wajah-Mu, agar Engkau menerangi pandangan mereka dengan kitab-Mu dan meluruskan lisan mereka dengannya, mensucikan hati mereka dengannya, melapangkan dada mereka dengannya dan membebaskan kesedihan mereka dan seluruh kaum muslimin dan muslimin dengannya”.

Shalawat dan salam senantiasa kami haturkan kepada Nabi kita Muhammad.

Diterjemahkan dari buku kecil berjudul “Washaayaa Li Haafidzaati Kitaabillah”, karya, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Daar Al Wathan Lin Nasyr, cetakan pertama, tahun 1420 H/ 1999 M

Alih bahasa:

Al faqiirah ilaa ‘afwi Rabbiha Ummu Fayha, Anisah

Makkah Al Mukarramah 7 Sya’ban 1434H

Tentang Penulis

Ummu Fayha Anisah

Comment: 1


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180