Adakah Keutamaan dan Hikmah Puasa di Bulan Sya’ban?

Adakah Keutamaan dan Hikmah Puasa di Bulan Syaban

Makkah Al-Mukarramah ( 26/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab "Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar'iyah", karya Syeikh Abul Hasan Mushthafa Bin Ismail As Sulaimani Al Ma'riby Al-Yamany. Edisi ke lima, hal.109

No comments

PERTANYAAN: Apakah ada suatu dalil yang berkenaan dengan keutamaan puasa di bulan Sya’ban?.

JAWABAN: Ya, telah datang beberapa hadits yang shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai puasa di bulan Sya’ban. Diantaranya adalah Aisyah mengatakan: “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dahulu biasa berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam sebulan dari pada bulan Sya’ban”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (9691) dan Imam Muslim (5611)).

Dan dalam riwayat yang lain dari Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa lebih banyak dalam satu bulan dari pada bulan Sya’ban, beliau berpuasa pada bulan Sya’ban sepenuhnya, beliau bersabda; “kerjakanlah amal semampu kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1970) dan Imam Muslim (1156) secara ringkas.

Banyaknya puasa yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kerjakan di bulan Sya’ban ini menunjukkan akan keutamaan ibadah puasa di bulan ini. Dan yang dimaksud dalam hadits ini adalah anjuran untuk memperbanyak puasa, bukan memperbanyak makan pada bulan Sya’ban.

Sebagaimana yang datang dalam sebagian riwayat yang dipahami oleh ahli ilmu dengan riwayat yang lain bahwa arti sepenuhnya adalah kebanyakannya dan bukan semuanya. Karena dengan mengumpulkan semua riwayat maksud dari sesuatu yang global atau isyarat akan menjadi jelas.

Riwayat yang memperjelas adalah apa yang datang dalam shahih Muslim, dari hadits Aisyah ketika ia ditanya sahabat Abdullah bin Syaqiq: “Apakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan?” Maka Aisyah menjawab: “demi Allah beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan”.
Di riwayat yang lain: “Beliau tidak berbuka pada bulan Sya’ban sehingga ia berpuasa”.
Di riwayat yang lain: “Dan beliau tidak berbuka pada bulan Sya’ban sepenuhnya sehingga ia berpuasa dari sebagiannya”.
Di riwayat lain dalam shahih Muslim juga: “Aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan penuh selama ia datang di Madinah melainkan di bulan Ramadhan”.
Di riwayat dalam shahih Muslim pula: “Aku tidak pernah melihatnya berpuasa lebih banyak dalam satu bulan dari pada bulan Sya’ban”.
Di riwayat lain dalam shahih Muslim: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan puasa pada bulan Sya’ban melainkan sedikit”.
Dan di riwayat Bukhari (1971) dan Muslim (1157), dari hadits ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Beliau senantiasa berpuasa sampai seseorang mengatakan: “Demi Allah beliau tidak pernah berbuka”. Dan beliau senantiasa berbuka sampai seseorang mengatakan: “Demi Allah beliau tidak pernah berpuasa”.

Maka memperbanyak puasa di bulan Sya’ban merupakan pendapat yang dhahir. Oleh karena Imam Tirmidzi telah menukil dari Imam Abdullah bin Mubarak, bahwasanya ia mengatakan: “suatu hal yang dibolehkan dalam bahasa Arab apabila banyak berpuasa sebulan untuk mengatakan: “bahwa ia telah berpuasa sepenuhnya”, sebagaimana dikatakan “ia telah menghidupkan malam semuanya”, walaupun ia telah gunakan waktu untuk makan dan sebagian hajatnya.

Imam Tirmidzy –semoga Allah merahmatinya- berkata: “seakan-akan Ibnu Mubarak memandang kedua hadits di atas sama, ia mengatakan artinya: “sesungguhnya arti hadits ini adalah bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa lebih banyak di bulan Sya’ban”. (Sunan tirmidzi: 3/14/737).

Ulama kita berbeda pendapat mengenai hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Diantara mereka ada yang berpendapat: “Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa tiga hari di setiap bulan karena safar atau yang lain sehingga beliau mengqodho di bulan Sya’ban”.

Diantara mereka ada yang berpandangan: “Tujuannya adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan”. Ada yang berkata: “Bahwasanya para istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengqodho puasa di bulan Sya’ban maka beliau menyertai mereka dalam berpuasa”.
Ada juga yang berpendapat: “Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengganti apa yang terlewat dari bulan Ramadhan (yang telah lalu) “.
Dan ada pula yang berpendapat: “Karena banyak manusia yang lalai dari puasa di bulan Sya’ban, berbeda dengan bulan Rajab dan Ramadhan (banyak yang mengerjakan) dan karena sesungguhnya semua amalan diangkat pada bulan Sya’ban”. Ringkasan dari Fathul Bari (3/314-315).
Dan aku tidak mengetahui satu dalilpun yang benar dari semua pendapat ini. Ibnu Hajar telah melemahkan semua dalil-dalil. Dan tidak meniadakan bahwa semua ini adalah merupakan sesuatu hikmah yang dimaksud atau untuk hikmah yang lain yang diketahui oleh sebagian orang atau tidak diketahui oleh sebagian yang lain. Wa Allah ‘alam.

Alih bahasa Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu harits Makkah Al-Mukarramah ( 26/7/1434 H )

*Fatawa ini diterjemahkan dari kitab “Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah”, karya Syeikh Abul Hasan Mushthafa Bin Ismail As Sulaimani Al Ma’riby Al-Yamany. Edisi ke lima, hal.109

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda