At-Tafwidh – Silsilah Mushtalah Ilmu Tauhid ( Bagian 3 )

at-tafwidh

Makkah al-mukarramah (11/03/1437 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab musthalah fi kutubil al-aqoid, dirasah wa tahlil, karya syeikh Muhammad bin Ibrahim al0hamd, cet dar ibnu huzaimah, tahun 1427 dan 2006

No comments

AT-TAFWIDH

At-tafwidh termasuk bagian dari il-had (penyimpangan) di dalam nama-nama Allah. Dan sengaja saya sendirikan (masalah ini) karena terdapat tambahan pembahasan di sini. Berikut kesimpulannya :
Pertama : Pengertiannya secara bahasa : berkisar antara beberapa makna, diantara: kembali dan berhukum kepada sesuatu.
Sedangkan di bidang ilmu asma dan sifat, tafwidh yaitu hukum bahwa arti nash-nash (dalil-dalil) yang berhubungan dengan sifat tidak bisa diketahui atau tidak bisa diakali serta tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah. Atau dengan kata lain : menetapkan sifat, menyerahkan makna serta kaifiyah kepada Allah ta’ala.
Kedua: orang yang berpendapat tafwidh ada dua kelompok :

  1. Kelomplok Pertama : mereka mengira bahwa kontek dalil-dalil (secara dzahir) mengharuskan adanya persamaan, sehingga mereka menghukumi bahwa yang dimaksud adalah kebalikan dari dzahirnya dan sesungguhnya dzahirnya bukanlah yang dimaksud.
  2. Kelompak kedua : mereka berkata: diperlakukan sesuai dzahirnya, akan tetapi nash-nash tersebut mempunyai penafsiran yang menyelisihi dzahirnya dan tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah. Dan sesungguhnya pendapat mereka adalah saling bertentangan.

Ketiga : lahirnya pemahaman tafwidh. Benih-benih pemahaman tafwidh muncul pada permulaan abad ke empat kerena beberapa sebab, diantaranya:

  1. Pemahaman yang salah mengenai manhaj salaf, dimana sebagian pengikut paham ini mereka mengira bahwa kaum salaf menyerahkan makna dan kaifiyah padahal sebenarnya kaum salaf menetapkan makna dan menyerahkan kaifiyah.
  2. Patokan kepada prinsip-prinsip dasar filsafat yunani dan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat serta mempergunakan istilah-istilah mereka seperti al-jism (bentuk) dan al-hayyiz (ruang).
  3. Persangkaan kekhawatiran demi untuk menjaga aqidah orang-orang awam.

Empat : Faktor-faktor yang membantu munculnya pemikiran tafwidh diantaranya adalah :

  1. Keberadan datangnya dari sebagian imam yang ma’ruf dalam meriwayatkan hadits, seperti al-khattaby, al-baihaqi dan abi ya’la.
  2. Salah seorang imam takwil yang bernama Abu ma’aly al-juwainy bergabung kepada madzhab tafwidh di akhir hidupnya.
  3. Adanya fatawa yang mengharuskan orang awam mengikuti madhab tafwidz dan bahwa sesungguhnya tidak akan dapat mencukupkan mereka melainkan hal itu.
  4. Tersebarnya penisbatan tafwidh kepada kaum salaf dan penetapan hal tersebut dalam kitab-kitab aqidah dan tauhid.

Lima : Patokan ahli tafwidh ketika memakai dalil untuk menunjukkan madzhab mereka dengan al-qur’an adalah berporos pada firman-Nya :
وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ
“padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah”. (QS. Ali Imran: 7)
Maka mereka membangun syubhat (kerancuan) berdasar dua muqoddimah:

  1. Sesungguhnya ayat sifat-sifat merupakan ayat yang mutasyabih.
  2. Bahwa ta’wil yang dimaksud oleh ayat (di atas) yaitu memalingkan lafadz dari dzahirnya kepada makna yang menyelisihi dzahir. Sehingga hasilnya yaitu : bahwasannya ayat-ayat sifat mempunyai makna yang menyelisihi dzahirnya dan tidak ada yang mengetahui makna tersebut melainkan Allah.

Sesungguhnya, mereka keliru dalam dua muqoddimah tersebut. Karena ayat-ayat sifat termasuk ayat-ayat yang muhkam (jelas) maknanya, mutasyabih (tidak jelas) kaifiyah dan hakikatnya.

Sedangkan ta’wil dalam ayat diatas mempunyai dua bacaan yang masyhur dari salaf. Apabila ta’wil dalam ayat di atas dibaca waqof (berhenti) maka artinya adalah hakikiyah dan kaifiyah dan apabila dibaca wasl (bersambung) maka arti ta’wil adalah tafsir.

Sementara ta’wil dari dua ayat di atas yang dimaksud bukanlah dengan makna ta’wil baru yang mana itu adalah memalingkan lafadz dari dzahirnya kepada makna yang menyelisihi dzahir.

Enam: konsekwensi dari madzhab tafwidh.
Madzhab tafwidh mengharuskan kelaziman-kelaziman batil yang tidak bisa dihindari darinya. Diantaranya, mengecam akan hikmah Allah, terjerumus ke dalam penghapusan maksud nash-nash, menutup pintu tadabbur, dan mencelah penjelasan al-qur’an, membodohkan para Nabi dan kaum salaf.

Tujuh : tafwidh bertentangan dengan dalil-dalil wahyu dan akal.
Akan datang tambahan penjelasan tentang tafwidh ketika membahas ta’wil ( jika ingin lebih jelas maka bacalah kitab : madzhab ahli tafwidz fi nusus as-sifat, karya Dr. Ahmad Al-qodzi).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemah dari kitab musthalah fi kutubil al-aqoid, dirasah wa tahlil, karya syeikh Muhammad bin Ibrahim al0hamd, cet dar ibnu huzaimah, tahun 1427 dan 2006). Alih bahasa, al-faqir illah Hamidin as-sidawy, Abu harits Makkah al-mukarramah (11/03/1437 H ).”

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda