25 October 2014

Bab Al-Lahn di Dalam Bacaan Al Qur'an

Mawar Merah

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah atas Nabi Muhammad yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.

Pada tulisan yang lalu, telah saya bahas tentang Muqaddimah Ilmu Tajwid yang harus kita ketahui, karena keterkaitannya dengan kitabullah yang merupakan kalaamullah Azza Wa Jalla. Maka pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang Al Lahn, yaitu suatu kesalahan yang terjadi ketika membaca Al Qur’an. Dengan tujuan dan harapan agar bacaan Al Qur’an kita benar dan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah Azza Wa Jalla. Tentu, masing-masing sesuai dengan kemampuan dan usaha berdasarkan apa yang diberikan oleh Allah kepada kita semua.

Sebagaimana kita ketahui bahwa membaca Al qur’an dengan bertajwid adalah merupakan kewajiban bagi siapa saja yang hendak membaca Al qur’an, maka kesalahan di dalam membacanya hukumnya adalah haram dan orang yang merubah sesuatu yang ada di dalamnya adalah berdosa. Oleh karena itu, seseorang yang hendak membaca Al qur’an sudah seyogyanya untuk mengetahui Bab al lahn ini, supaya ia dapat menghindari nya –karena itu merupakan kesalahan- semaksimal mungkin.

Pengertian Al lahn

Secara bahasa Al lahn memiliki beberapa arti, yaitu:

a. menyimpang dari jalan yang lurus,

b. cerdas, contoh dalam bahasa arab :” لحن فلان” , artinya, si fulan cerdas

c. bahasa, contoh dalam bahasa arab, : “نزل القرآن بلحن قريش “ Al qur’an diturunkan dengan bahasa Quraisy.

d. mengulang-ulang, contoh, dalam bahasa arab, : لحنت لفلان بكذا إذا قلت له كلاما لا يفهمه غيره “aku mengulang-ulang untuk si fulan dengan seperti ini, jika aku mengatakan kepadanya dengan perkataan yang tidak dapat difahami oleh yang lainnya”.

e. salah atau banyak salahnya. Contoh dalam bahasa arab : يقال رجل لحن أو لحان ”seseorang dikatakan salah atau banyak salahnya (dalam berbicara).”.

Adapun secara istilah sebagaimana yang didefinisikan oleh imam ibnu al Jazary al lahn adalah suatu kesalahan yang terjadi pada lafadz-lafadz Al qur’an yang dapat mempengaruhi kebiasaan atau makna, atau hanya mempengaruhi kebiasaan saja tanpa menmpengaruhi makna.

Pembagian Al Lahn

Al lahn dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Al lahn al jaliy dan Al lahn al khafiy. Untuk lebih jelasnya, sekarang akan saya bahas satu persatu.

1. AL-LAHN AL-JALIY

a. Definisi

Al lahn al jaliy secara bahasa adalah kesalahan yang Nampak. Adapun secara istilah adalah kesalahan yang terjadi pada lafadz-lafadz al qur’an dalam bentuk harakat dan huruf, baik itu merubah arti atau yang tidak merubah arti.

b. Sebab penamaan

Disebut Lahn jaliy adalah dikarenakan kesalahan tersebut nampak dan jelas dan dapat diketahui oleh semua orang dan para ahli qiro’ah (bacaan).

c. Hukum

Hukum Al lahn al jaliy adalah haram secara ijma’ apalagi jika kesalahan tersebut sengaja dilakukan oleh si pembaca .

d. Bentuk-bentuk dan contoh-contohnya

NO

BENTUK KESALAHAN DILIHAT DARI SEGI

CONTOH DARI AYAT YANG MERUBAH ARTI

CONTOH DARI AYAT YANG TIDAK MERUBAH ARTI

1

Mengganti huruf dengan huruf yang lain

ظل وجهه مسودا

mengganti ظ dengan ض

الذين
mengganti ذ dengan ز

2

Merubah harakat dengan harakat yang lain

إنما يخشى الله من عباده العلماء

memberi harakat dhammah pada huruf هـ dalam lafadz الله padahal harkatnya fathah

الحمد لله رب العالمين

memberi harkat fathah pada huruf د dalam lafadz الحمد padahal harkatnya dhammah

3

Memberi harakat pada huruf yang bersukun atau sebaliknya

ولقد خلقنا

memberi harakat pada huruf ق dalam kalimat خلقنا padahal ia bersukun

ماننسخ

memberi harakat pada huruf خ padahal ia bersukun

4

Menambah dan mengurangi huruf

كافورا dibaca كفورا yaitu dengan menghilangkan huruf alif setelah ك.

لتسألن dibaca dengan menambahkan alif (لاتسألن )

فإن تبعتني dibaca dengan menghilangkan huruf ي di akhirnya.

رب شقيا dibaca dengan menambah huruf ي pada kalimat رب

5

Memberi tasydid pada huruf yang tidak bertasydid atau sebaliknya

Tidak memberi tasydid pada kalimat إياك padahal ada tasydid pada huruf ي

ربما memberi tasydid pada huruf ب padahal ia tidak bertasydid.

2. AL- LAHN AL- KHAFIY

a. Definisi

Al lahn al khafiy secara bahasa adalah kesalahan yang tersembunyi. Adapun secara istilah adalah kesalahan yang terjadi pada lafadz-lafadz al qur’an yang dapat merubah kebiasaan bacaan, akan tetapi tidak merubah arti dari lafadz-lafadz tersebut.

b. Sebab penamaan

Disebut al lahn al khafiy karena kesalahan tersebut hanya diketahui oleh para ahli qiro’ah, sedangan selain mereka tidak mengetahuinya.

c. Hukumnya.

Hukum al-lahn al-khafiy terdapat dua pendapat,yaitu:

1. Menurut para ulama dahulu, hukumnya adalah haram dan orang yang membaca dengannya dikatakan berdosa karena melafadzkan al qur’an dengan cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam.

2. Menurut ulama kontemporer, hukumnya dapat dilihat dari dua keadaan.

Pertama: dalam dunia pendidikan atau majelis musyafahah, maka hukumnya haram, orang yang membaca dengannya dikatakan berdosa, karena ia telah berdusta atas Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam.

Kedua:ketika membaca sendiri, jika ia membaca dengannya ia tidak berdosa, hanya saja ia luput dari kesempurnaan dalam membaca.

Tetapi menurut pendapat yang rajih, hukumnya adalah haram apalagi jika hal tersebut dilakukan dengan sengaja dan dianggap sepele. Ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut makruh (dibenci).

Bentuk-bentuk dari al-lahn al-khafiy

No

DIKETAHUI OLEH PARA ULAMA QIRA’AH SECARA UMUM

HANYA DIKETAHUI OLEH PARA ULAMA YANG AHLI BIDANG QIRA’AH

1

Meninggalkan hukum-hukum tajwid seperti idhar, idgham, ikhfa&iqlab

Mengulang-ulang sifat Ra’

2

Mentafkhimkan yang muraqqaq atau sebaliknya

Berlebihan dalam mengghunnahkan huruf nun

3

Memendekkan huruf mad atau sebaliknya

Menebalkan semua huruf lam bukan pada tempatnya dan menipiskannya bukan pada tempatnya juga.

4

Meringankan huruf yang bertasydid atau sebaliknya

Menambah atau mengurangi jeda (waktu) pada huruf mad

5

Meninggalkan sifat ghunnah

Menambah atau mengurangi jeda (waktu) pada huruf berghunnah

6

Berhenti dengan harakat sempurna

Menggetarkan suara seperti bacaan orang yang sakit atau grogi.

Dalam masalah Al-lahn ini manusia terdapat tiga golongan,

Pertama : ada orang yang ditakdirkan oleh Allah memiliki kemampuan sangat bagus di dalam mengucapkan lafadz-lafadz Al qur’an sehingga terlepas dari kesalahan, orang seperti ini ma’juur (dapat pahala sempurna).

Kedua: orang yang memiliki kemampuan biasa saja bahkan memilki kekurangan dalam meluruskan lidahnya untuk melafadzkannya, akan tetapi ia telah berusaha untuk memperbaikinya dan ia tidak mendapatkan seseorang yang meluruskannya. Maka orang seperti ini Allah tidak membebani sesuatu di luar kemampuannya.

Ketiga: orang yang merasa cukup dengan dirinya sendiri, mengandalkan sesuatu yang telah dihafalkannya dan merasa sombong untuk bertanya kepada orang yang lebih mengetahui dalam hal ini, maka orang seperti ini tidak diragukan lagi akan berdosa.

Pada kenyataannya, setiap muslim hendaknya berusaha mencurahkan segala kemampuannya untuk bersungguh-sungguh di dalam membaca Al qur’an dengan baik dan terlepas dari kesalahan di dalam membacanya, sehingga ia mendapatkan keridhaan dari Allah dan ditempatkan bersama para malaikat yang mulia. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: ”orang yang pandai membaca Al qur’an maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Dan orang yang membaca Al qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesusahan di dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala”. (HR.Muslim)

Pendapat para ulama fiqih tentang hukum Al Lahn (kesalahan bacaan) dalam shalat:

1. Imam Malik –semoga Allah merahmatinya-

Beliau berkata: ”tidaklah pantas bagi seseorang untuk bermakmum kepada orang yang tidak baik dalam bacaan Al qur’an”. beliau berpendapat bahwa pada dasarnya orang tersebut lebih keras (ancamannya) dari pada orang yang meninggalkan bacaan sama sekali dalam shalat”. Kemudian beliau berkata: ”barang siapa yang shalat di belakang seseorang yang membaca dengan bacaan Ibnu Mas’ud – yang dinisbatkan kepadanya salah satu bacaan syadzah –yaitu bacaann yang tidak memenuhi salah satu dari tiga syarat dari bacaan shahihah- maka hendaklah ia keluar dan meninggalkannya”. (lihat: al Mudawwanah 1/84). Ini adalah lebih keras (ancamannya) dari pada Al Lahn, karena ia telah memasukan kepada Al qur’an sesuatu yang tidak ada dasarnya bahwa itu adalah Al qur’an.

2. Imam Abu Hanifah –semoga Allah merahmatinya-

Beliau mengatakan: ”aku tidak menjumpai sepanjang penelitianku terhadap induk kitab-kitab mereka sebutan tentang Al Lahn dalam bacaan di pertengahan shalat, melainkan dapat difahami darinya bahwa sesungguhnya Al Lahn ada dua macam yaitu Al Jaliy dan Al khafiy, yang keduanya tidak membatalkan shalat, karena suatu kesalahan yang merusak shalat dalam hal bacaan itu tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu”. (lihat Al Mabsuth Lis Sarkhusi 1/41, dan Badaai’ Ash Shanaai’ Lil Kasani 1/113)

Imam Abu Hanifah telah membolehkan bacaan dalam shalat dengan bahasa Persia. Muhammad bin Al Hasan berkata: aku berkata, apa pendapatmu tentang orang yang membaca dalam shalat dengan bahasa Persia padahal dia sangat bagus dalam berbahasa Arab?”. Beliau menjawab: ”shalatnya sah”. aku berkata: ”begitu pun dengan do’a?”. beliau menjawab: iya. Ini adalah perkataan imam abu hanifah.

Abu yusuf dan Muhammad berkata – tentang dirinya (Abu Hanifah): ”jika seseorang membaca dalam shalat dengan sesuatu dari Taurat, Injil dan Zabur baik dia mampu atau tidak dalam membaca al qur’an, maka shalatnya tidak sah / tidak mencukupkannya, karena bacaan tersebut bukan Al qur’an dan bukan juga tasbih”. (lihat Al Mabsuth Lisy Syaibaani 1/252, dan Al Mabsuth Lis Sarkhasi 1/36-37)

3. Imam Syafi’i –semoga Allah merahmatinya-

”Aku membenci seorang imam yang banyak salah dalam bacaan Al qur’annya, karena seorang yang banyak salah dalam bacaan berarti ia telah merubah arti dari pada Al qur’an. jika ia tidak melakukan satu kesalahan yang dapat merubah arti Al qur’an, maka shalatnya sah. Dan jika ia melakukan kesalahan dalam membaca surat al fatihah sehingga merubah arti dari padanya, aku tidak berpendapat bahwa shalatnya sah begitu pula orang yang shalat di belakangnya. Jika ia salah dalam bacaan selain surat Al fatihah aku membencinya dan aku tidak berpendapat harus mengulanginya, karena seandainya ia meninggalkan surat Al fatihah kemudian ia membacanya, aku berharap shalatnya sah. Dan jika shalatnya sah, maka shalat orang yang di belakangnya pun sah –insyaAllah-. Dan jika kesalahannya pada surat Al fatihah dan selainnya akan tetapi tidak merubah arti, maka shalatnya sah dan aku membenci jika hal itu dilakukan oleh seorang imam”. (Al umm – lisy syaafi’I 1/95)

4. Imam Ahmad bin Hanbal –semoga Allah merahmatinya-

Imam Ahmad berkata: ”jika seorang imam terdapat banyak kesalahan dalam bacaannya, maka aku tidak tertarik untuk shalat di belakangnya, Kecuali jika kesalahannya sedikit, karena manusia itu tidak ada yang selamat dari kesalahan. Dibolehkan shalat di belakangnya jika kesalahannya satu atau dua saja”. Imam Ahmad juga pernah ditanya oleh seseorang tentang bacaan Al qur’an dengan disertai al lahn, beliau berkata kepada si penanya: siapa namamu? Ia menjawab: Muhammad. Kemudian beliau berkata: ”apakah kamu senang jika seseorang memanggilmu dengan ”Wahai Muuhaamad!? ”. ( Masail Imam Ahmad – Riwayat Ishak 1/55. Zaadul Ma’aad Libnil Qayyim 1/489).

Catatan:

  1. Jika kesalahan tersebut merubah makna seperti kalimat أنعمت عليهم harakat fathah pada huruf ت dirubah menjadi dhammah atau kasrah, atau pada kalimat إياك harakat fathah pada huruf ك dirubah menjadi kasroh. Ini adalah al lahn al jaliy yang merubah arti dan membatalkan shalat baik imam maupun makmum.
  2. Jika kesalahan tersebut tidak merubah makna, seperti kurang dalam mengucapkan huruf bertasydid seperti pada kalimat الحمد لله رب العالمين atau kurang dalam mengucapkan sifat huruf ص atau س , maka ini adalah al lahn al jaliy yang tidak merubah arti dan tidak membatalkan shalat, baik imam maupun makmum.

Bersambung insyaAllah….

Al faqiirah ilaa ‘afwi Rabbiha

Ummu Fayha, Anisah

Makkah Al Mukarramah, 25 sya’ban 1434 H

Maraji’ :

1. Hidaayatul Qaari’ Ilaa Tajwiid Kalaamil Baarii, karya Abdul Fattah Assayyid ‘Ajmi Al Mirshafi, Daar Al Fajr Al Islaamiyyah, tahun 1424 H.
2. Al Mulakhkhash Al Mufiid Fii ‘Ilmit Tajwiid, Karya Muhammad Ahmad Ma’bad, Daar Al Fajr Al Islaamiyyah Madinah Al Munawwarah, tahun 1425 H.
3. Taisiir ‘Ilmittajwiid, Karya Ahmad Bin Ahmad Muhammad Abdullah Ath Thawiil , Daar Ibnu Khuzaimah, tahun 1423 H.
4. Fathul Majiid Fii Hukmi Al Qiraa-Ah Bi At Taghanni Wa At Tajwiid, Karya : Syekh Su’ud Bin Abdullah Al Finiisan, Daar Ibnul Jauzy, cetakan pertama tahun 1410 H/ 1989 M.
5. Al Burhaan Fii Tajwidil Qur’aan Wa Risaalah Fii Fadhaailil Qur’aan, Karya Muhammad Ash Shaadiq Qamhaani, ‘Aalamul Kutub Beirut, cetakan pertama tahun 1405 H / 1985 M.

Article Tags

Related Posts