Bab Kedua : Mengenai Bejana, di Dalamnya Terdapat Beberapa Pembahasan – Silsilah Fiqh Praktis (8)

Bab Kedua : Mengenai Bejana

Makkah al-mukarramah (24/07/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 28-29, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H

No comments

BAB KEDUA : MENGENAI BEJANA, DI DALAMNYA TERDAPAT BEBERAPA PEMBAHASAN – SILSILAH FIQH PRAKTIS (8)

Al-aniyah : yaitu bejana yang dibuat untuk menyimpan air atau yang lainnya, Baik terbuat dari besi atau yang lainnya. Asal hukum memakainya adalah mubah, berdasarkan firman Allah ta’ala :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْ‌ضِ جَمِيعًا

Artinya : “Dialah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (Al-baqarah : 29).

PEMBAHASAN PERTAMA : HUKUM MEMAKAI BEJANA EMAS DAN PERAK SERTA SELAIN KEDUANYA UNTUK BERSUCI.

Diperbolehkan memakai semua bejana untuk makan dan minum serta selain keduanya apabila dalam keadaan suci dan (dibuat dari sesuatu yang) mubah walaupun sangat berharga, karena keberadaan asalnya yaitu mubah. Kecuali bejana yang terbuat dari emas dan perak. Maka diharamkan makan dan minum di dalamnya secara khusus tanpa pemakaian yang lain. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لا تشربوا في إناء الذهب والفضة ولا تلبسوا الديباج والحرير فإنه لهم في الدنيا وهو لكم في الآخرة يوم القيامة

Artinya : “janganlah minum dalam bejana emas dan perak dan jangan kalian makan dengan piring yang terbuat dari keduanya, karena sesungguhnya itu adalah untuk mereka didunia dan bagi kalian diakhirat.” (Muttafaqun ‘alaihi, Riwayat Bukhari, no: 5426 dan Muslim, no : 2067).

Demikian pula Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

الذي يشرب في آنية الفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم

Artinya : “Orang yang minum dalam bejana perak, sesungguhnya ia telah memasukkan ke dalam perutnya neraka jahannam”. (Muttafaqun ‘alaihi, Riwayat Bukhari, no: 5634 dan Muslim, no : 2065).

Maka ini merupakan dalil atas haramnya makan dan minum (dengan bejana emas dan perak), tanpa pemakaian yang lain. Sehingga hal tersebut menunjukkan akan kebolehan bejana dipakai untuk bersuci. Dan larangan itu adalah mencakup (bejana dari emas atau perak) secara murni atau karena cat dengan emas dan perak, atau sesuatu yang dicampur dengan emas dan perak.

PEMBAHASAN KEDUA : HUKUM MEMAKAI BEJANA YANG DISAMBUNG DENGAN EMAS DAN PERAK

Apabila sambungan berupa emas dan perak maka hukum memakai bejana tersebut adalah haram secara mutlaq, karena masuk keumuman dalil (larangan). Adapun apabila sambungan berupa perak dan kadarnya sedikit, maka diperbolehkan untuk memakai bejana tersebut.

Berdasarkan hadits Anas –semoga Allah meridhainya- ia berkata :

أَنَّ قَدَحَ، النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم انْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ‏.

“Suatu ketika mangkok Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam retak, maka beliau menambal dengan sambungan yang terbuat dari perak. (Riwayat Bukhari, no: 3109).

PEMBAHASAN KETIGA : HUKUM BEJANA ORANG-ORANG KAFIR.

Pada asalnya bejana orang-orang kafir adalah halal, Kecuali apabila diketahui najisnya maka tidak boleh dipakai melainkan apabila dicuci, berdasarkan hadits Abi tsa’labah al-hutsany ia bertanya, wahai Raosulullah! sesungguhnya kami berada di negri ahli kitab, apakah boleh kami makan dalam bejana mereka? Beliau menjawab :”Janganlah kalian makan di dalamnya kecuali apabila kalian tidak mendapatkan yang lain maka cucilah dan makanlah di dalamnya”. (muttafaqun ‘alaihi, Bukhari, no: 5478 dan Muslim, no: 1930).

Adapun apabila tidak diketahui adanya najis, yaitu pemiliknya tidak dikenal menyentuh najis, maka boleh memakainya. Karena telah shalih bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mereka mengambil air wudhu dari jamban wanita musyrik. Dan karena Allah telah membolehkan bagi kita untuk memakan makanan ahli kitab, bahkan kadang-kadang mereka menyuguhkan makanan kepada kita dalam bejana mereka, sebagaimana seorang anak yahudi mengundang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hidangan roti yang terbuat dari gandum maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya. (Diriwayatkan Imam Ahmad (3/210,211), dishahihkan oleh syeikh Al-bany dalam irwa’ (1/71).

PEMBAHASAN KETIGA : BERSUCI DALAM BEJANA YANG TERBUAT DARI KULIT BANGKAI

Apabila kulit bangkai sudah disamak (disucikan) maka boleh dipakai, berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Semua kulit (yang belum disucikan) apabila telah disucikan maka ia adalah suci. (Riwayat Tirmidzi, no: 1650, dan Muslim, no: 366, dari sahabat Ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya-). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam suatu hari melewati bangkai binatang, maka beliau bertanya : Tidakkah mereka mengambil kulitnya lalu mereka sucikan dan mereka ambil manfaatnya? Para sahabat menjawab : Sesungguhnya ia adalah bangkai. Beliau menjawab : sesungguhnya ia hanyalah diharamkan memakannya. (Muslim, no: 363 dan Ibnu majah, no: 3610).

Adapun bulunya adalah suci –yaitu bulu bangkai (binatang) yang boleh dimakan ketika waktu hidup-. Adapun daging adalah najis dan haram dimakan. Berdasarkan firman Allah ta’ala :

أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ‌ فَإِنَّهُ رِ‌جْسٌ أَوْ فِسْقًا

Artinya : “Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor”. (Al-an’am : 145).

Pensucian bisa diperoleh dengan membersihkan kotoran yang menempel di kulit dengan perantara zat-zat yang dicampur air, seperti garam dan yang lainnya, atau tumbuh-tumbuhan yang ma’ruf untuk hal ini, seperti al-qoradz, al-ur’ur dan selain keduanya.

Adapun binatang yang tidak halal untuk disembelih, maka sesungguhnya ia tidak bisa suci. Dan berdasarkan ini, maka kulit kucing dan yang lebih kecil darinya dalam bentuk tidak bisa suci dengan disamak, Walaupun ketika hidup merupakan binatang yang suci. Begitu juga kulit binatang yang haram dimakan ketika hidup walaupun ia suci, maka ia tidak bisa suci dengan disamak.

KESIMPULAN : Sesungguhnya semua binatang yang mati, sedangkan dagingnya boleh dimakan, maka kulitnya bisa disucikan dengan disamak. Dan semua binatang yang mati yang dagingnya tidak boleh dimakan, maka kulitnya tidak bisa suci dengan disamak (kebalikannya).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 28-29, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala….

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (24/07/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda