Bacaan Dalam Sholat – Silsilah Amalan Sunnah yang Terlupakan (15)

Bacaan dalam Sholat

Makkah al-mukarramah (21/04/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-wasyiyah bi ba'di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal.69-71, cet. Kedua, tahun 1426 H

No comments

Berkata Syekh Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya- di dalam fatawanya: “Yang lebih utama bagi seseorang adalah supaya membaca seperti yang Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam baca dalam sholatnya, karena senantiasa menjaga terhadap apa yang Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam baca adalah lebih utama, adapun perkara yang diperbolehkan, maka urusan dalam masalah ini sungguh luas. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita”.( 13/16)

PERINGATAN!

Aku sebutkan di sini sebelum menyebutkan dalil-dalil dan perkataan-perkataan ahli ilmu, apa yang disebutkan oleh para ulama di dalam membatasi “mufashal” dari al Qur’an secara ringkas, berdasarkan sebahagian hadits yang telah datang”. Semoga Allah memberi kita taufiq.

Pertama: Batasan-batasan (mufashal).

Dalam masalah ini para ulama berselisih, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam fathul Bari: “Dan telah berselisih di dalam (menentukan-pent)awal mufashal walaupun ada kesepakatan bahwa ia adalah akhir juz dalam Al Qur’an menurut sepuluh pendapat yang telah aku sebutkan di dalam bab “al jahru bil qiraah fil maghrib”, mengeraskan bacaan sholat maghrib”. Dan beliau juga telah menyebutkannya (sepuluh pendapat) sebagaimana beliau isyaratkan di dalam Al Fath (2/291-292), sebagaimana telah disebutkan pendapat-pendapat Ibnu Muflih di dalam “Al-Adaab Asy-Syar’iyyah (2/283)”, dan As Suyuti di dalam Al-Itqan”. (1/222).

Dan yang paling penting di sini adalah apa yang telah dikuatkan oleh sebagian ahli ilmu bahwa awal mufashal adalah dimulai dari surat Qaaf, diantara mereka adalah Imam Ibnu Katsir beliau mengatakan di dalam tafsirnya: “Dan surat ini (Qaaf) adalah Hizb pertama mufashal menurut pendapat yang benar”.

Ibnu Hajar telah berkata di dalah fahul baarinya: “telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan mufashaal adalah dari surat Qaaf hingga akhir surat Al-Qur’an menurut pendapat yang shahih”. (2/303).

Adapun yang telah disebutkan dan selalu diulang-ulang di dalam fathul baari bahwa mufashal dimulai dari surat Al Hujuraat. Wallaahu A’lam.

Ibnu Baz –semoga Allah merahmatinya- mengatakan dalam mengomentari pendapat yang ada di fathul Baari: “dan yang kuat adalah dimulai dari surat Qaaf”. demikianlah beliau menguatkan di dalam fatawanya. Ke dua: mengapa disebut Mufashal? Ibnu Al Muflih berkata dalam Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah: “Dan dalam penyebutan Mufashal para ulama memiliki empat pandangan, pertama: karena terpisahnya satu dengan lainnya. Ke dua: karena banyaknya pemisah antara surat tersebut dengan “basmalah”. Ke tiga: karena kesempurnanya. Ke empat: karena sedikitnya yang mansukh padanya”.(2/283).

Imam Nawawy berkata dalam Syarh Muslim: Disebut Mufashal karena pendeknya surat-surat tersebut dan berdekatannya pemisah antara satu dengan lainnya”.(3/368).

As Suyuthi berkata di dalam Al-Itqaan: “Disebut dengan Mufashal karena banyaknya pemisah antara surat dengan Basmalah, dan dikatakan: karena sedikitnya yang mansukh padanya, oleh karena itu disebut juga dengan Al-Muhkam”. Dan apa yang disebutkan oleh As-Suyuthi ini telah disebutkan juga di dalam Riwayat Bukhari dari Sa’id Ibn Jubair ia berkata: Sesungguhnya yang menjadikannya disebut dengan Mufashal adalah Al-Muhkam, ia berkata: Ibnu Abbas telah berkata: “Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam wafat sedangkan aku berumur 10 tahun dan aku sungguh telah membaca Al Muhkam (surat al-mufashal)”.

Ke tiga: As-Suyuthi berkata di dalam Al-Itqan, faidah: “Mufashal ini mempunyai (ayat-ayat) yang panjang, pertengahan dan pendek. Ibnu Mu’in berkata: “maka yang panjangnya adalah dari surat Qaaf sampai surat ‘amma. pertengahannya adalah dari surat ‘amma hingga surat Adh Duha, dan yang pendeknya adalah dari surat Ad Dhuha hingga Akhir Al Qur’an. Ini adalah lebih dekat dari apa yang dikatakan”.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemahkan dari kitab : Al-wasyiyah bi ba’di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal.69-71, cet. Kedua, tahun 1426 H)

Alih bahasa, al-faqir illah Hamidin as-sidawy, Abu harits Makkah al-mukarramah (21/04/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda