Berbagai Penyimpangan dalam Tauhid (Bagian 1)

Penyimpangan dalam tauhid bagian 1

Makkah Al Mukarramah, 10 Rabi'tsani 1435 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Mukhaalafaat fii At Tauhiid, karya: Abdul Aziz Bin Rais Ar Rais, tahun 1421 H

1 comment

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Risalah ini mengandung goresan-goresan yang berkaitan dengan sesuatu yang paling agung, yang Allah perintahkan dengannya, tiada lain ia adalah perkara tauhid. Dan sesuatu yang paling agung yang Allah larang darinya, tiada lain ia adalah perkara Syirik.

Wahai pembaca yang budiman..! sesungguhnya sesuatu yang sudah diketahui di kalangan Ahlus sunnah yang berjalan di atas manhaj salafushalih adalah bahwasanya tidaklah Allah mengutus para Rasul, dan tidak pula menciptakan seluruh makhluk melainkan untuk menegakkan kalimat tauhid dan meninggalkan kesyirikan kepada Allah serta mencampakkannya. Maka di saat musuh kita yang paling besar yaitu syetan yang terkutuk mengetahui, dia menjadi siap siaga untuk mengerahkan pasukannya baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki untuk memalingkan hamba-hamba Allah sesuai dengan predikatnya masing-masing baik para da’i, para mad’uw, atau para ulama maupun orang-orang yang awwam (kecuali yang dirahmati Allah) dari mempelajari kalimat tauhid dan menegakkannya.

Maka, mulailah syetan menghiasi para da’i untuk meninggalkan dakwah kepada tauhid dengan alasan bahwa mendakwahkan tauhid akan dapat memecah belah barisan ummat. Atau dengan alasan bahwa manusia tidak akan merespon dakwahnya. Atau dengan alasan bahwa manusia sudah mengetahui dakwah tauhid. Sungguh Aneh luar biasa! Perkara ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana mungkin kita meninggalkan dakwah kepada manusia untuk bertauhid dengan berpegang kepada alasan-alasan tersebut yang sama sekali tidak pernah terdetik dalam benak para Nabi dan para Rasul? Apakah anda tahu mengapa demikian? Karena mereka (para Nabi dan para Rasul) mengetahui (dengan apa yang diajarkan Allah kepada mereka)bahwa maksud berdakwah kepada manusia adalah untuk mentauhidkan Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan meniti jalan mereka, sedangkan jalan mereka adalah satu, sebagaimana firman Allah ta’aala:

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَ‌اطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّ‌قَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٥٣﴾

”dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya”. (QS.Al An’am :153).

 

Dan apakah tugas para da’i yang jujur, tiada lain kecuali menghidupkan dakwahnya para Rasul,yaitu mentauhidkan Allah?
salah satu bentuk penipuan syaitan atas orang awwam adalah bahwasanya tauhid itu sudah dikenal dan kita termasuk orang-orang yang bertauhid, maka mengapa kita harus mendakwahkannya? Maka jawabannya adalah :
Maha suci Allah! Bagaimana ini padahal banyak Negara-negara islam dan non islam yang telah diliputi oleh gelapnya syirik yang jelas-jelas syirik akbar, sebagaimana yang akan kita bahas.
Kemudian, kalau syirik sudah terkenal dan tersebar, maka kita masih butuh untuk mengingatkan dan berdo’a kepada Allah supaya kita dijauhkan darinya. Sebab kita tidak akan seperti sang kekasih Allah Ibrahim ‘alaihissalam, walau demikian beliau memanggil Allah berdo’a kepada-Nya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَ‌اهِيمُ رَ‌بِّ اجْعَلْ هَـٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾

”dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS.Ibrahim: 35)

 

Ibrahim at taimi berkata: ”dan siapakah yang merasa aman dari cobaan –syirik- setelah Ibrahim ‘alaihissalam?”. (diriwayatkan ibnu abi hatim dan Ibnu Jarir Ath Thabari)

Dan kita tidak akan seperti para sahabat Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam yang mana mereka adalah sebaik-baik jaman, karena Rasulullah senantiasa mengikat mereka dengan tauhid hingga dalam keadaan sakit menjelang akhir hidupnya shallallaahu’alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, wahai sekalian manusia! Marilah kita sama-sama mempelajari tauhid dan mendakwahkannya. Karena mempelajarinya dan mendakwahkannya serta menegakkannya merupakan sebab tegaknya Negara islam di dunia dan sampainya kita ke surga firdaus di akhirat kelak. Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْ‌تَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِ‌كُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ‌ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An Nuur: 55).

 

Wahai pembaca yang dimuliakan Allah..inilah sebahagian penyimpangan dalam tauhid kepada Allah semoga kita semua dijauhkan darinya dan mendapat keridhaan Allah.

1. Apa yang kita perhatikan tersebar di kalangan kaum muslimin, di mayoritas belahan dunia Islam, yaitu memalingkan ibadah untuk selain Allah Ta’ala, seperti berdo’a kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal, meminta ampunan dosa kepada mereka, menghilangkan kesusahan, ingin mendapatkan anak, kesembuhan penyakit. Demikian pula mendekatkan diri kepada mereka dengan menyembelih, bernadzar, thawaf, shalat khusus serta sujud kepada mereka. Sampai-sampai hati mereka menjadi lebih khusyu’ bahkan menangis ketika berada di kuburan mereka dibanding ketika mereka sholat dan menghadap kepada Allah Ta’ala. Bahkan ketika mereka thawaf di ka’bah sekalipun.
Ya Allah, alangkah anehnya. Tidakkah mereka tahu bahwa dengan perbuatan ini, mereka telah menggugurkan amal-amal mereka, karena mereka telah terjatuh ke dalam kesyirikan yang besar. Allah Ta’ala berfirman:

لْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَ‌بِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِ‌يكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْ‌تُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

”Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (surat al-an’am: 162-163).

 

Demikian pula Allah berfirman :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّـهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّـهِ أَحَدًا ﴿١٨﴾

”Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (Al-jin : 18).

 

Yaitu, maka janganlah kalian beribadah bersama Allah kepada seorangpun. Karena beribadah kepada selain Allah bersama Allah, apapun bentuk yang diibadahi, baik seorang Nabi yang diutus, atau malaikat yang didekatkan kepada Allah, maka itu termasuk menyekutukan kepada selain Allah bersama Allah dalam perkara yang khusus hanya milik Allah, yang mana itu merupakan kesyirikan yang besar, sebagaimana firman Allah :

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ‌ أَن يُشْرَ‌كَ بِهِ وَيَغْفِرُ‌ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِ‌كْ بِاللَّـهِ فَقَدِ افْتَرَ‌ىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An-nisa : 48).

 

Allah juga berfirman :

لَقَدْ كَفَرَ‌ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّـهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْ‌يَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَ‌ائِيلَ اعْبُدُوا اللَّـهَ رَ‌بِّي وَرَ‌بَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِ‌كْ بِاللَّـهِ فَقَدْ حَرَّ‌مَ اللَّـهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ‌ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ‌ ﴿٧٢﴾

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.( Al-maidah : 72 ).

 

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَ‌كْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِ‌ينَ ﴿٦٥﴾

”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Az-zumar : 65).

 

حُنَفَاءَ لِلَّـهِ غَيْرَ‌ مُشْرِ‌كِينَ بِهِ ۚ وَمَن يُشْرِ‌كْ بِاللَّـهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ‌ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ‌ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّ‌يحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ ﴿٣١﴾

”dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Al-haj : 31).

 

Marilah kita memohon afiyah dan keselamatan kepada Allah.

2. Menafsirkan kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAAHU” dengan bahwasanya tidak ada pencipta melainkan Allah, dan tidak ada yang mampu untuk memulai yang baru melainkan Allah. Karena penafsiran terbatas dan menyelisi dengan apa yang datang dalam al-qur’an dan as-sunnah, hal ini dapat diperjelas dengan: Allah telah mengabarkan kepada kita tentang orang-orang kafir quraisY bahwa mereka mengakui Allah adalah yang menciptakan, memberi rizqi, mengatur. Sebagaimana Allah berfirman :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضَ لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّـهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُ‌هُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٥﴾

”Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. luqman : 25).

 

Andaikata (pengakuan) ini merupakan arti kalimat tauhid, niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang beriman. Ketika mereka enggan untuk mengucapkannya maka mereka menjadikannya sebagai sesuatu yang aneh, sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang mereka :

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَـٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ ﴿٥﴾

”Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. shad : 5).

 

Maka dari itu, artinya (yang benar) adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah Ta’ala dan mengesakan-Nya dalam semua ibadah. Itulah yang diingkari oleh orang kafir quraisy, yaitu sesuatu yang mereka jadikan aneh, sehingga itulah arti yang sebenarnya.

3. Melampaui batas dalam hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Nabi kita mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi dan tidak seorangpun dapat sampai kepadanya, baik seorang Nabi, manusia maupun jin. Beliau adalah pemilik syafaat dan Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. Allah telah mensifatinya dengan sifat-siifat yang mulia, diantaranya firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَ‌سُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِ‌يصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَ‌ءُوفٌ رَّ‌حِيمٌ ﴿١٢٨﴾

”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS.At Taubah:128)

 

Diantara bentuk kepeduliannya kepada kita adalah beliau melarang kita untuk melampaui batas kepadanya. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dari Umar bin khaththab –semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan kepada putra maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. maka panggilah aku sebagai hamba dan utusan-Nya”.

Maka beliau adalah seorang hamba, yang tidak menyertai Robbnya sedikitpun dalam kekhususan-kekhususan-Nya, seperti ilmu ghoib dan yang lainnya. Beliau adalah seorang Rosul yang menyampaikan agama Allah, sebagaimana beliau mengatakan tentang dirinya :”Sesungguhnya aku hanya manusia semisal kalian. Aku lupa seperti kalian lupa”. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits ibnu mas’ud.

Diantara bentuk-bentuk berlebihannya orang-orang awam kepadanya adalah sebagai berikut :

a. Anggapan bahwa beliau mengetahui ilmu ghaib dan sesungguhnya dunia diciptakan karena beliau, seperti uangkapan salah seorang dari mereka.
b. Meminta ampunan dosa-dosa darinya dan memohon untuk masuk surga. Ini adalah perkara-perkara khusus milik Allah dan tidak ada seorangpun yang berserikat di dalamnya. Bahkan Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah dengan rahmat-Nya agar dimasukan ke dalam surga, sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya-, sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Tidak akan masuk surga seorangpun dari kalian dengan (sebab) amalnya. Para sahabat bertanya : tidak pula engkau wahai Rosulullah, beliau menjawab : tidak pula aku, melainkan Allah menaungiku dengan rahmat dan keutamaan dari-Nya”.

c. Bepergian dengan bermaksud menziarahi kuburannya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah terlarang menurut kesepakatan para sahabat. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sesungguhnya Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam bersabda :” Tidak ada keutamaan bepergian (kesuatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi tiga masjid, (yaitu) masjidku ini (masjid Nabawwi di Madinah), Majidil Haram (Makkah), dan Masjidil Aqsha (Palestina).”.”. ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa sesungguhnya semua hadits yang diriwayatkan mengenai anjuran bepergian kepada kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka itu adalah lemah dan tidak shahih, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian para imam. Adapun bepergian karena shalat di masjid, maka ia merupakan perkara yang dianjurkan.

d. Meyakini bahwa keutamaan haram madinah adalah dengan sebab adanya kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan kesalahan fatal. Sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan keutamaan sholat di dalamnya sejak sebelum beliau meninggal.

4. Mendatangi tukang sihir, dukun, paranormal serta yang lainnya, dan membenarkan dengan apa yang mereka katakan. karena ini merupakan perbuatan kufur dengan apa yang diturunkan atas Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya-, Sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang mendatangi paranormal dan perdukunan kemudian ia membenarkan dengan apa yang mereka ucapkan, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Allah Ta’ala telah berfirman :

وَمَا كَفَرَ‌ سُلَيْمَانُ وَلَـٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُ‌وا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ‌

”padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia”. (QS. Al-baqorah : 102).

 

Kemudian dilanjutkan dengan ayat berikut:

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَ‌اهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَ‌ةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ

”sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”. (QS.Al Baqarah:102)

 

Yang dimaksud dengan kalimat “khalaq”, yaitu bagian atau jatah. Sangat mengherankan bagi mereka yang ditimpa musibah dalam diri mereka, istri-istri mereka, anak-anak mereka, jika mereka serta merta mengetuk pintu tukang sihir, para dukun atau paranormal serta yang lainnya demi mengharap kesembuhan. Apakah mereka ridha dengan kesembuhan di dunia yang cepat habis kemudian menerima siksa dan adzab di akhirat dengan tanpa batas?!.

Tidakkah mereka tahu bahwa Allah terkadang menguji hamba-Nya demi untuk membersihkan agamanya dan menghapus kesalahan-kesalahannya sehingga ia menghadap kepada-Nya dalam keadaan tanpa dosa. Kemudian ia akan beruntung dengan ridha-Nya, besarnya pahala dan keutamaan jika ia mau sabar?!..

Hanya kepada Allah kita memohon sabar dan kesabaran serta menggunakan cara –cara yang disyariatkan dalam berobat, seperti ruqyah yang mengandung firman Allah, do’a dan memohon kepada-Nya.

Terakhir, sesungguhnya seorang penyihir mempunyai tanda-tanda yang dapat diketahui dengannya. Diantaranya : ia menyamarkan perkataan dan tidak dapat diketahui artinya, atau ia bertanya sesuatu yang tidak ada faedahnya, seperti pertanyaan: siapa nama ibumu? Atau meminta darimu untuk menyembelih ayam atau yang lainnya, di tempat-tempat yang tersembunyi dan yang lainnya.

5. Lemahnya aqidah al-wala’ dan al-bara’, yang nama kesimpulannya adalah mencintai ahli iman sesuai dengan ketaatan mereka kepada Allah dan membenci orang-orang kafir semaunya serta membenci pelaku maksiat sesuai dengan kadar kemaksiatan mereka. Ini merupakan aqidah yang banyak ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَ‌اهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَ‌آءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ كَفَرْ‌نَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌اهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَ‌نَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّـهِ مِن شَيْءٍ ۖ رَّ‌بَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ‌ ﴿٤﴾

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS.Al Mumtahinah : 4).

 

Maka lihatlah -wahai saudaraku yang dipelihara oleh Allah- bagaimana Nabi Ibrahim alaihis salam berlepas diri dari kaumnya, keluarganya, diantaranya adalah bapaknya. Tidak cukup hanya itu, bahkan berlepas diri dari semua sesembahan mereka. Kemudian beliau menjadikan batas hilangnya permusuhan dan kebencian ini ketika kaumnya beriman kepada Allah saja serta tidak menyekutukan dengan-Nya kepada yang lain.

Kemudian perhatikan kembali niscaya engkau akan temukan, bahwa Allah telah menjadikan perbuatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai teladan bagi orang-orang yang sesudahnya. Maka diantara ayat yang memerintahkan untuk memusuhi orang-orang kafir adalah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَ‌ىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS. Al-maidah : 51).

 

Syariat yang mulia telah mengharamkan loyalitas kepada orang-orang kafir karena beberapa hal. Karena loyal kepada mereka menyebabkan seorang muslim menjadi seperti mereka. Maka demi menjaga agama diperintahkan untuk memusuhi mereka dan tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin.

Demikian pula sebab haramnya loyal kepada mereka adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir sangat ingin untuk menyesatkan kita dan menjadikan kita sebagai pengikut mereka, di atas agama mereka yang batil. Allah berfirman :

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُ‌ونَ كَمَا كَفَرُ‌وا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُ‌وا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرً‌ا ﴿٨٩﴾

”Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)….” (QS. An-nisa’ : 89).

 

Ketika fakta seperti ini maka diperintahkan untuk memusuhi mereka yang mengharuskan untuk menjauhi dari mereka sehingga mereka tidak mampu menyesatkan kita dengan menjadika kita sebagai pengikut mereka di atas agama mereka yang batil.

Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha dalam urusan dengan sebenar-benarnya, baik secara ucapan maupun perbuatan. Barangkali akan saya cukupkan dengan membawakan tiga dalil :

Pertama : Apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya- sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”janganlah kalian memulai kepada orang yahudi dan nasrani dengan salam dan apabila kalian menjumpai salah seorang dari mereka dij alan maka desaklah mereka kepada yang paling sempit”.

Maksudnya adalah janganlah kalian meluaskan jalan bagi mereka sehingga mereka cepat melintas. Maka bagaimana dengan orang – orang yang menonjolkan mereka dalam forum-forum dengan memuliakan mereka, menghormati serta mengucapkan selamat dihari-hari lebaran mereka.

Kedua : Apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Umar bin khattab –semoga Allah meridhainya- ia berkata :”Sungguh aku akan keluarkan orang-orang yahudi dan nasrani dari kepulauan arab sehingga aku tidak membiarkan (di dalamnya) melainkan hanya orang-orang muslim”.

Ketiga : Apa yang telah shahih dari Imam Ahmad, Abi dawud, dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata, Rosulullah shallallaau ‘alaihi wa sallam bersabda :”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia menjadi bagian dari mereka”.

Penyerupaan yang terlarang ini meliputi semua yang khusus pada mereka, baik percakapan dengan bahasa mereka, berpakaian dengan pakaian mereka, memendekan rambut seperti mereka dan semisalnya yang tersebar di kalangan kaum muslimin. Umar bin khattab –semoga Allah meridhainya- berkata :”Hendaklah kalian berhati-hati dari logat khusus orang-orang non muslim, dan jangan kalian masuk bersama musyrikin di gereja mereka
, memasuki gereja-gereja di hari perayaan mereka, karena sesungguhnya kemurkaan telah diturunkan kepada mereka”. Diriwayatkan oleh al-baihaqi dan dishahihkan oleh Ahmad bin hambal dan Ibnu taimiyah.

Andaikata penyerupaan orang-orang kafir hanya sampai di sini,

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Abu al-wafa ibnu aqil :”Apabila engkau ingin mengetahui islam (yang benar) dari pengikutnya pada zaman tertentu, maka janganlah kalian perhatikan berbondong-bondongnya mereka ketika di masjid, atau gaung mereka ketika mengucapkan talbiyah akan tetapi lihat kecocokan dan keseragaman mereka dengan musuh-musuh mereka”.

Setelah semua ini akan menjadi jelaslah bagi kalian akan bejatnya seruan yang tersebar dengan nama “pendekatan atau penyatuan agama”, yang mana hakikatnya adalah penghancuran islam. Karena al-qur’an telah menerangkan dengan jelas bahwasannya agama-agama yang lain seperti yahudi dan nasrani setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah terhapus, dirubah dan merupakan kekufuran serta bahwasannya penganutnya adalah kafir.
Allah berfirman :

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُ‌ونَ كَمَا كَفَرُ‌وا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka”. (QS. An-nisa’ : 89).

 

Allah berfirman :

لَّقَدْ كَفَرَ‌ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّـهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّا إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾

“Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. (Al-maidah : 73).

 

Allah juga berfirman :

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِ‌كِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ ﴿١﴾

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, ‘‘. (Al-baiyinah : 1).

 

Setelah penjelasan Al-qur’an bahwasannya agama-agama yang lain adalah kekufuran, maka tidak ada lagi diantara kita dan mereka melainkan kebencian dan permusuhan dengan berdakwah kepada mereka supaya mereka meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama islam yang benar.

6. Penyakit yang ganas, yaitu riya’. Yang mana artinya adalah beramal shalih karena manusia. Karena kesamaran dan bahayanya yang besar Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirnya terhadap para sahabatnya. Sebagaimana yang datang musnad Imam Ahmad dari Mahmud bin Labib, ia berkata :”Sesuatu yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Maka ia tanya, maka ia menjawab : riya'”.

Wahai orang-orang yang berakal, apabila Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan riya atas para sahabatnya, maka bagaimana dengan kita? Dan sesungguhnya diantara tanda keimanan adalah takut kepada riya dan menyembunyikan amal dan tidak menampakkannya. Dan janganlah engkau diperdaya oleh syetan yang mengajak dan menyeru kalian untuk menampakkan amal shalih dengan alasan demi memberi motivasi yang lain. Dan sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam muslim dari sahabat Abi Hurairah – semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya orang yang pertama akan dibereskan urusannya di Hari Kiamat adalah : (1) Orang yang mati (dianggap) syahid. Kemudian ia dihadapkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku telah berperang karena-Mu sehingga aku mati syahid”. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau (sebenarnya) berperang agar dikatakan ’Pemberani’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di atas wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka.

(2)Orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan membaca (baca: mempelajari) Al-Qur’an. Lalu iapun didatangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an karena Engkau”. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau menuntut ilmu, dan mengajarkannya agar digelari ‘Ulama’. Engkau membaca Al-Qur’an pun agar disebut ‘ Qori’’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di atas wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka.

(3)Orang yang Allah luaskan jalan rezeki baginya dan diberikan seluruh jenis harta. Lalu iapun di datangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab, “Aku tidaklah meninggalkan suatu jalanpun yang Engkau suka untuk disumbang, kecuali aku berinfaq (menyumbang) di dalamnya karena Engkau. Dia berfirman, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau lakukan semua itu agar disebut ‘Dermawan’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di ats wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka”.

7. Lemahnya aqidah tawakkal kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman:

وَعَلَى اللَّـهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٢٣﴾

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”. (QS.Al-maidah : 23).

Muhammad bin abi bakr berkata :”maka nampaklah bahwa tawakkal merupakan asal untuk semua kekukan iman, ihsan dan semua amalan islam dan bahwasannya kedudukan tawakkal dari iman seperti kedudukan jasad dari kepala”.

Sesungguhnya lemahnya aqidah tawakkal mempunyai dampak negative sangat berbahaya. Diantaranya adalah keterkaitan dengan sebab –sebab. Seperti orang sakit yang sangat bergantung kepada seorang dokter dengan melupakan tuhan sang dokter sendiri. Atau seorang yang membutuhkan harta, ia mencarinya walaupun dengan cara yang haram atau bekerja dibank-bank yang mengandung riba dan lain-lainya.
Terakhir, janganlah kalian memahami bahwa meninggalkan sebab merupakan bentuk perwujutan tauhid. Sebagai hal tersebut adalah persangkaan kelompok yang menyimpang. Akan tetapi tauhid dan tawakkal yang sesungguhnya adalah menggabungkan antara pengambilan sebab dan bersandar kepada yang memiliki sebab itu sendiri, yaitu Allah Ta’la.

8. Diantara penyimpangan yang tersebar di belahan dunia islam adalah berlebih-lebihan kepada kuburan. Dan ini mempunyai bentuk yang bermacam-macam.

a. Memasukan ke dalam masjid dan meyakini adanya keberkahan dengan memasukkan kuburan tersebut ke dalam masjid. Ini merupakan kebid’ahan yang telah nyata dosanya dalam syariat kita yang suci. Dan shahih dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, bahwasannya ummu salamah pernah menyebutknan kepada Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam gereja yang ia lihat di negri habasyah. Maka Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”mereka adalah orang-orang, yang apabila salah seorang yang shalih dari mereka meninggal mereka membangun di atas kuburnya sebuah masjid dan mereka menggambar foto-foto orang yang shalih tersebut. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Dan telah shahih juga dalam shahihain bahwasannya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”kutukan Allah atas orang-orang yahudi dan nasroni karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”.

b. Membangun di atas kuburan dan mengecatnya. Telah shahih dalam shahih Muslim dari Jabir –semoga Allah meridai keduanya- ia berkata: “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengecat kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membangun di atasnya”.

Maka lihatlah –wahai saudaraku yang dirahmati oleh Allah- kepada dalil yang jelas dan shahih dari Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini, tentang haramnya mengecat kuburan, membangun di atasnya dan bandingkanlah dengan fakta kaum muslimin –semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka- di akhir –akhir zaman ini. Dan ketauhilah wahai saudaraku se-iman, sesungguhnya syariat kita telah mengharamkan untuk membangun di atas kuburan dan mengecatnya karena perbuatan ini merupakan wasilah kepada kesyirikan –semoga Allah menjagaku dan kalian dari kesyirikan dan semua yang menjadi wasilah kepadanya.

Wa shallallaahu’alaa Nabiyyinaa Muhammadin Wa’alaa Aalihi Wa shahbihi Ajma’iin.

Makkah Al Mukarramah,
10 Rabi’tsani 1435 H
Hamidin Abu Fayha.

*Tulisan ini diterjemahkan dari kutaib berjudul, Mukhaalafaat fii At Tauhiid, karya: Abdul Aziz Bin Rais Ar Rais, tahun 1421 H

Bersambung ke Berbagai Penyimpangan Tauhid bagi 2

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1