Berbagai Penyimpangan dalam Tauhid ( Bagian 2 )

penyimpangan dalam tauhid bagian 2

Makkah Al Mukarramah, 10 Rabi’tsani 1435 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kutaib berjudul, Mukhaalafaat fii At Tauhiid, karya: Abdul Aziz Bin Rais Ar Rais, tahun 1421 H

1 comment

Berikut ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Berbagai Penyimpangan dalam Tauhid (bag. 1)

9. Permata dan tali-tali ikatan yang digantung oleh sebagian kaum muslimin di leher-leher-leher mereka atau di tangan-tangan mereka atau pada anak-anak mereka, dengan keyakinan bahwa hal tersebut dapat menolak kejahatan yang datang kepada mereka dan akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Hal itu menjadi sebab rusaknya Tauhid karena syariat kita yang suci telah mencelanya dan memperingatkan darinya. Diantara dalil-dalil yang berkenaan dengan hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari ‘Uqbah bin ‘amir, bahwasannya Rosulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda :”Barangsiapa yang menggantungkan tamimah/jimat, maka sunnguh ia telah berbuat syrirk”. Ibnu Mas’ud mengatakan :”Sesungguhnya tiwalah dan tamimah adalah kesyirikan”. Diriwayatkan oleh Abu ubaidah ibnu salam dengan sanad yang shahih. Tamimah adalah semua yang dijadikan sebagai penyempurna manfaat, baik berupa batu permata dan yang lainnya yang sebenarnya itu bukan merupakan penyebab manfaat tersebut. Dan ketahuilah wahai saudaraku seiman –bahwasannya keharaman tamimah adalah menyeluruh sampai-sampai yang berasal dari al-qur’an sekalipun, karena ia masuk dalam keumuman larangan. Demikian pula karena Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menggantungkannya sedangkan beliau adalah sebaik-baik manusia dalam petunjuk dan ibadah. Kemudian ketahuilah bahwasannya kebanyakan tamimah yang dianggap dari Al-qur’an oleh pelakunya, apabila kalian membukanya maka kalian akan dapati tidak demikian. Bahkan berupa makna (atau kalimat) yang tidak dapat dipahami. Jika kalian masih dalam keraguan maka silahkan coba karena uji coba adalah sebaik-baik bukti dan dalil. Dan terakhir, ingatlah akan firman Allah :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Yunus :107)

1. Ath thiyarah /pengaruh dikarenakan seekor burung: ia adalah sesuatu yang meneruskan atau menolak dan bukan merupakan sebab yang nyata pada keduanya (jadi atau tidaknya kebaikan). Seperti orang yang tidak mau membuka tokonya di waktu pagi karena ia melihat orang pincang atau mendengar suara burung gagak. Dan sebagaimana telah maklum bahwasannya melihat orang pincang, mendengar burung gagak dan lain-lain bukan merupakan sebab untuk menolak rizki atau datangnya musibah. Oleh karena itu dapat diketahui bahwasannya perbuatan ini merupakan kesyirikan berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas –semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Tidak ada penyakit menular tanpa izin Alloh, tidak ada pengaruh dikarenakan seekor burung, Tetapi yang mengagumkanku ialah Al Fa’l, yaitu kalimah hasanah atau kalimat thayyibah.”. Demikian pula apa yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan ia shahihkan dari Ibnu mas’ud, sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Sesungguhnya thiyarah/pengaruh dikarenakan seekor burung adalah kesyirikan”.

2. Keyakinan bahwa Allah berada di setiap tempat. Ini merupakan keyakinan yang salah, menyelisihi Al-qur’an dan As-sunnah, ijma’, akal dan fitrah, sebab dalil-dalil telah mutawatir menyebutkan bahwa Allah berada di atas langit, bersemayam di atas ‘arsy yang layak bagi-Nya. Allah berfirman :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

”(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”. (QS.Thaaha:5)

Allah berfirman :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

” Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?”. (QS.Al-mulk : 16).

Demikian pula telah shahih dalam shahih Muslim dari hadits Muawiyah bin hakam, bahwasannya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang jariyah(budak perempuan) :”di mana Allah? : maka dia menjawab: ”Allah ada di langit”. kemudian beliau berkata :”Bebaskanlah, karena sesungguhnya ia adalah seorang mukminah”. Dan seorang yang berdo’ ia akan mengangkat kedua tangannya ke langit, karena telah tertancap dalam jiwanya, bahwa Allah, penolongnya berada di atas langit. Sedangkan arti bahwa Allah berada di atas langit yaitu Dia berada di atas semua makhluk dan alam semesta.

Wahai pembaca yang budiman, manakah yang lebih jelas mensucikan bagi Allah, apakah pendapat yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana, baik tempat yang suci maupun kotor? ataukah pendapat yang mengatakan bahwa Allah ada di atas alam semesta, tidak ada sedikitpun semua makhluk yang dapat meliputi-Nya? Maha suci dan maha tinggi Allah dari ucapan orang-orang yang tersesat.

3. Bersumpah dengan selain Allah, seperti bersumpah dengan amanat atau bersumpah dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau bersumpah dengan nikmat. Maka ini semuanya adalah kesyirikan, berdasarkan dalil shahih dalam shahihain dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”ketahuilah sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barang siapa yang bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan Allah atau ia diam”.

Setelah jelas bagimu, bahwasannya bersumpah dengan selain Allah adalah kesyirikan, maka wajib bagimu untuk bersegera meninggalkannya dan tidak meremehkan masalah kesyirikan. Karena sesuatu yang dihukumi sebagai kesyirikan maka itu merupakan dosa yang paling besar.

4. Meninggalkan berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan menggantikannya dengan undang-undang buatan manusia, sama saja apakah berupa sesuatu yang diadopsi dari negara kafir atau yang lainnya. Contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh sebagian kabilah-kabilah dalam berhukum kepada adat istidat dan perkara-perkara yang mereka sepakati. Dan semua itu merupakan kekufuran sebagaiman Allah berfirman :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

” Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al-maidah : 44).
Berhukum dengan selain hukum Allah adalah merupakan sebab hilangnya stabilitas keamanan dan kemunduran ekonomi, sekaligus itu adalah sebagai bukti lemahnya agama dan akal. Dinamakan kelemahan agama, kerena menyelisihi Allah dan durhaka kepada-Nya dan kelemahan akal karena Allah lebih mengetahui dengan sesuatu yang lebih baik bagi manusia. Oleh karenanya Allah meletakkan hukum-hukum yang sesuai dengan mereka, maka bagaimana manusia meninggalkan hukum-Nya dan tunduk kepada hukum manusia seperti mereka? Kita memohon kepada Allah supaya memberikan petunjuk bagi penguasa kaum muslimin untuk bisa melaksanakan syariat Allah dan mengikuti pentuntuk Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu merupakan kemuliaan mereka di dunia dan akhirat andaikata mereka mau memahaminya.

5. Meninggalkan shalat walaupun itu merupakan amalan kufur yang dapat mengeluarkan dari agama. Sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat. Sahabat Jabir telah meriwayatkan dari Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda :”Antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat”. Diriwayatkan oleh imam Muslim.

6. Ceroboh atau bersegera dalam mengkafirkan orang. Mengkafirkan seorang muslim tertentu adalah perkara bahaya, yang boleh dilakukan melainkan dengan dalil yang jelas, seperti jelasnya matahari di siang hari dan wajib terpenuhi di dalamnya syarat-syarat serta hilangnya penghalang-penghalang. Adapun secara ringkas syarat dan penghalang tersebut yaitu:

a. Al-ilmu : yaitu hendaklah orang tersebut mengetahui bahwa perbuatan ini adalah kekufuran. kebalikan penghalangnya adalah kebodohan. Ketika kebodohan telah ada maka hilanglah pengkafiran kepada seseorang. Allah berfirman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-nisa : 115).

Barangsiapa yang belum jelas baginya suatu perkara maka dalil-dalil ancaman tidak diturunkan atasnya.

b. Berkehendak dalam perkataan dan perbuatan yang kufur. Maksudnya adalah sengaja berkata dan berbuat. Kebalikan penghalangnya adalah kekeliruan, yaitu ucapan dan perbuatan yang terjadi tanpa adanya maksud, seperti ketergelinciran lisan atau karena lupa. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ

”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (QS.Al-baqorah : 286).

c. Pilihan sendiri. Kebalikan penghalangnya adalah dipaksa. Allah berfirman :

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

”Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. (QS.An-nahl : 106).
d. Ta’wil (penafsiran) yang tidak diperbolehkan. Kebalikan penghalangnya adalah ta’wil yang diperbolehkan. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh kesepatan para sahabat, mereka tidak mengkafirkan orang yang menghalalkan minuman keras karena mereka menta’wil firman Allah Ta’ala :

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوا وَّآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوا وَّآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوا وَّأَحْسَنُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

”Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Al-maidah : 93).

Yaitu bolehnya minuman keras yang disertai dengan taqwa dan iman. Sebagaimanan yang diriwayatkan oleh Abdurrazak dalam Al-mushannaf dengan sanad yang shahih.

Ini semua sebabnya karena perkara kekafiran merupakan hak Allah. Barang siapa yang tidak benar dalam memakainya maka sesungguhnya akan kembali kepadanya, sebagaimana Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih:

“Siapa yang berkata kepada saudaranya “wahai orang kafir” jika benar, jika tidak maka akan kembali kepadanya”.

Peringatan –wahai saudaraku seiman- keberadaan sesuatu yang merupakan perbuatan kufur bukan berarti mengharuskan kafirnya pelaku perbuatan tersebut, kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat dan hilangnya penghalang-penghalang, sebagaimana penjelasan yang telah lalu, oleh karena itu jangan sampai buru-buru??!!……

7. Menyebutkan apa yang diperselihkan diantara sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah kematian beliau dan menyebarkan hal tersebut dalam ceramah-ceramah umum. Ini menyelisih aqidah salaf as-shalih, karena aqidah mereka adalah menahan dari apa yang mereka perselihsihkan diantara mereka serta meyakini bahwa sesungguhnya mereka adalah berijtihad. Barangsiapa yang benar diantara mereka maka akan mendapat dua pahala dan barang siapa yang salah maka akan mendapat satu pahala. Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :
”janganlah mencela sahabatku!Demi Allahyang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun kalian menginfaqkanemas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka, tidak juga separuhnya”.

Dan sesungguhnya menyebarkan apa yang terjadi diantara mereka akan menyesakkan dada mereka, mengurangi kecintaan kepada mereka dalam hati, padahal kebanyakan fakta tentang mereka tidaklah benar,bahkan semata-mata kedustaan atas mereka. Maka alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh pakar sejarah islam, yaitu Al-imam ad-dzahaby :”wajib menahan diri dari semua apa yang diperselisihkan diantara sahabat dan peperangan mereka semuanya. Dan senantiasa hal itu melintas pada kita, baik dalam lembaran-lembaran, buku-buku dan juz-juz. Akan tetapi kebanyakannya adalah terputus atau lemah, sebagiannya adalah dusta. Dan ini adalah apa yang ada pada kita dan ulama-ulama kita, maka patut untuk melipat dan menyembunyikannya, bahkan meniadakannya agar hati menjadi bersih dan terbiasa untuk mencintai para sahabat serta ridha kepada mereka. Dan sesungguhnya menyembunyikan hal itu merupakan kewajiban atas semua dan seluruh ulama. Tetapi diberi keringanan bagi seorang ‘alim yang bijak dan terbebas dari hawa nafsu untuk menelaah hal itu secara sembunyi atau sendirian dengan syarat memintakkan ampunan bagi mereka (para sahabat), sebagaimana yang diajarkan oleh Allah:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al Hasyr:10)

Para sahabat mereka mempunyai para pendahulu (muhajirin dan anshar)-dan amalan-amalan yang dapat menghapus apa yang dilakukan oleh mereka. Demikian pula jihad sebagai penghapus kesalahan dan ibadah sebagai pembersih.

Dan sesungguhnya orang yang memperhatikan keadaan sahabat Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam niscaya akan menemuhi hati mereka adalah sebaik-sebaik hati, fiqh mereka paling jauh dan ilmu mereka paling dalam. Sebab mereka adalah saksi-saksi tanzil sedangkan wahyu turun kepada mereka. Wahyu telah sampai kepada Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di hadapan mereka, sedang mereka melihat kepadanya. Oleh karena itu mayoritas ulama berpendapat bahwa ucapan mereka adalah hujjah dalam syariat. Kami memohon kepada Allah supaya menambah kecintaankepada mereka dihati kita dan mengumpulkan kita dengan mereka di surga-Nya, karena sesungguhnya seseorang bersama orang yang dicintai.

Peringatan : syetan menghiasi sebagian orang yang tidak memiliki ilmu, ia mengetangahkan rekaman ceramah fitnah-fitnah di depan khalayak mengenai apa yang diperselisihkan diantara para sahabat yang akhirnya ceramah-ceramah ini dijual dan digulirkan oleh seorang anak maupun orang dewasa yang awam dan bodoh dengan agama Allah Ta’ala. Maka akibat dari ceramah-ceramah ini adalah kerusakan-kerusakan yang tidaklah mengetahuinya melainkan hanya Allah. Berapa banyak kisah-kisah dusta dan lemah dalam ceramah-ceramah ini? Dan berapa banyak di dalamnya dari kebohongan dan pengada-adaan atas nama sahabat ? Berapa banyak di dalamnya dari sumbangsih untuk sekte-sekte sesat dan hina, yaitu syiah rofidhah –semoga Allah mengikis mereka-. Karena aqidah mereka dibangun di atas pengkafiran para sahabat dan merendahkan mereka.

Maka cukuplah bagi seorang muslim yang loyal dengan agamanya untuk mengetahui, bahwa sekte syiah telah menuduh ibu kita kaum muslimi ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- dengan zina, dan bahwasannya nanti pada hari kiamat akan ditegakkan hukum zina atasnya!!!…maka berhati-hatilah, janganlah sampai kalian terperdaya dengan kemunafikan dan taqiyyah yang ada pada mereka. Mereka menampakkan cinta sedangkan mereka menyembunyikan kebencian dan permusuhan. Maka jadilah orang cerdas, agamis , yang selalu mengangkat permusuhan kepada mereka dan tidak tergiur dengan yang mereka nampakkan dan mereka pura-purakan. Semoga Allah menolong kita atas mereka.

8. Tidak keluar (memberontak) terhadap penguasa karena hal itu dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih besar terhadap agama dan darah (seseorang). Maka dari itu tidaklah dibenarkan melakukan peledakan, pembunuhan serta berpendapat yang menjurus kepada hal itu (pemberontakan) demi menjaga agama dan darah kaum muslimin. Sesungguhnya dakwah itu dengan metode lebih manfaat. Jika diterima maka syukuri dan jika tidak maka sesungguh seseorang telah melaksanakan kewajibannya dan segala puji hanya milik Allah. Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya minhajus sunnah (3/391) :”Oleh karena itu yang masyhur dari ulama salaf, madzhab ahlus sunnah wal jamaah bahwasannya mereka tidak membolehkan keluar (memberontak) terhadap para pemimpin dan memerangi mereka dengan pedang sekalipun terdapat kedhaliman pada mereka. Sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh hadits-hadits yang banyak dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.
Kemudian beliau juga berkata :” Dan barang kali hampir tidak ada sekelompok yang keluar (memberontak) terhadap penguasa melainkan terjadi kerusakan yang lebih besar dari pada kerusakan yang dihilangkan”.
Sepatutnya diperhatikan bahwa semua pemberontakan nyata dengan pedang pada permulaannya adalah sebuah ucapan. Maka hendaklah kamu hati-hati dan berusahalah untuk menggabung antara mengingkari dengan metode yang positif –semampunya- tanpa menyinggung pemerintah serta mendo’akan mereka dengan kebaikan dan hidayah. Karena kebaikan mereka adalah kebaikan hamba dan negara – semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka demi kejayaan islam dan kaum muslimin.

Peringatan : jihad merupakan tuntutan syariat. Dalil-dalil dan anjuran syariat dalam hal ini telah banyak. Hanya saja perlu diketahui bahwa bahwasannya jihad adalah merupakan sarana untuk menegakkan syariat di bumi. Boleh jadi disaat menjadikan jihad sebagai wasilah itu lebih bermanfaat dalam praktek demi meninggikan kalimat Allah, jika tidak maka berpindah kepada yang lainnya. Kalo demikian Jihad merupakan bagian dari wasilah dan bukan tujuan asal. Hal itu terbukti jihad boleh ditinggalkan dengan ganti bayar pajak. Dalam masalah ini terdapat rincian yang tidak layak disebutkan dalam ringkasan ini.

9. Tersebarnya kebid’ahan. Karena ia dapat menghancurkan agama dengan sebenar-benarnya. termasuk perkara yang menyedihkan yaitu tersebarnya bid’ah dalam dunia islam, seperti peringatan maulid Nabi, isra’ dan mi’raj dan lainnya-lainnya dari acara-acara yang tidak pernah diperingati oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Diantara perkara bid’ah pula yaitu berdo’a dan membaca al-qur’an dengan cara berjamaah setelah shalat wajib, mengerjakan shalat dzuhur setelah shalat jum’at, sebagaimana yang terjadi di sebagian negara. Demikian pula termasuk perkara-perkara bid’ah yaitu ibadah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin akan tetapi tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sangat mengherankan, bagaimana amalan-amalan ini menjadi sebuah kebaikan sedangkan Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berpaling darinya? Apakah mereka bodoh dengan amalan-amalan itu ataukah mereka melalaikannya?
10. Tersebarnya ucapan-ucapan salah dalam masalah mentauhidkan Allah. Saya ingat tambahan dari apa yang telah lalu yang tersebar, yaitu ucapan orang yang mengatakan :”Allah telah mendzalimi kamu”, atau “Allah mengkhianati kami”. Karena Allah tidak akan mendzalimi dan mengkhianati seorangpun. Demikian pula ucapan “Fulan telah berpulang ke tempat tinggal terakhirnya”, ketika kematiannya. Karena ucaapan ini menunjukkan pengingkaran terhadap hari kebangkitan dan bahwasannya tidak ada sesuatu setelah alam kubur. Demikian pula ucapan “wahai temanku” kepada orang kafir. Kerena orang-orang kafir adalah musuh-musuh kita dan bukanlah teman bagi kita.

Penutup :

Seseorang yang merenungkan penyimpangan-penyimpangan ini maka ia akan mendapatkan secara yakin kebenaran sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari hadist Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya- :”islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali kepada keasingannya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing”. Para da’I yang meninggalkan penyimpangan-penyimpangan ini, mereka digelari –dengan dusta- bahwa mereka adalah pengikut kebid’ahan, kesesatan, serta memusuhi para Nabi, Rosul dan orang-orang shalih. Semua ini merupakan bentuk kedzaliman, dosa, serta makar dan tipu daya syetan, jika bukan, maka orang-orang yang mengingkari penyimpangan-penyimpangan di atas tidak akan dapat menambah ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya. karena bagaimana mungkin mentaati Allah dan Rosul-Nya (dengan menjauhi penyimpanyan-penyimpangan di atas) digelari bid’ah dan kesesatan??!! Subhanallah, maka ini adalah dusta yang nyata.

Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Makkah Al Mukarramah,
10 Rabi’tsani 1435 H
Hamidin Abu Fayha.

*Tulisan ini diterjemahkan dari kutaib berjudul, Mukhaalafaat fii At Tauhiid, karya: Abdul Aziz Bin Rais Ar Rais, tahun 1421 H

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1