Berdo’a, bertasbih dan berta’awwudz Ketika Membaca Ayat-Ayat yang Sesuai – Silsilah Amalan Sunnah yang Terlupakan (19)

berdoa, bertasbih dan bertaawwudz

Makkah al-mukarramah (22/07/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-wasyiyah bi ba'di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal: 88-90, cet. Kedua, tahun 1426 H

No comments

BERDO’A, BERTASBIH DAN BERTA’AWWUDZ KETIKA MEMBACA AYAT-AYAT YANG SESUAI – Silsilah amalan sunnah yang terlupakan (19)

Dari Hudzaifah Al Yaman –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Suatu malam aku shalat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka beliau membuka shalatnya dengan membaca surah Al Baqarah, lalu aku katakan: beliau akan ruku’ ketika ayat yang ke seratus, kemudian berlalu, lalu aku katakan: beliau shalat dengan surah al baqarah dalam satu raka’at, kemudian berlalu. Maka aku katakan: beliau akan ruku’ dengannya, kemudian beliau membuka surah Annisa lalu membacanya, kemudian membuka surah ali Imran lalu membacanya secara tartil apabila beliau melewati ayat yang ada tasbihnya beliau bertasbih, Dan apabila melewati ayat permohonan beliau memohon, dan apabila melewatii ayat permohonan perlidungan beliau memohon perlidungan. (HR. Muslim 772, Abu Dawud 871 secara ringkas, Tirmidzi 262, Nasai 1008 dan 1009 dan Ibnu Majah 1351).

Imam Nawawi mengatakan di dalam Syarah Muslim (3/320): “Dalam Hadits tersebut disunnahkannya perkara-perkara ini bagi setiap pembaca baik di dalam shalat maupun di luar shalat, dan menurut madzhab kita –Syafi’i- disunnahkannya perkara-perkara ini bagi seorang imam, Makmum dan orang yang shalat sendirian”. (Al Adzkar hal. 102-103).

Imam Nasai telah menjadikannya bab dengan perkataannya:”Bab memohon perlindungan seorang pembaca di saat melewati ayat tentang adzab”. Dan “Bab memohon permohonan seorang hamba di saat melewati ayat tentang rahmat”.
Ibnu Hazm mengatakan:”Dan kami sunnahkan bagi setiap orang yang shalat apabila melewati ayat tentang rahmat supaya memohon kepada Allah dari karuniaNya, dan apabila melewati ayat tentang adzab supaya memohon perlindungan kepada Allah dari api neraka”. (Al-Muhalla 4/117).

Sebagian madzhab hanafi dan sebagian madzhab hambali mengaitkannya dengan shalat sunnah, As sindi telah mengatakan dalam catatan kaki nasai :”ulama kami dari kalangan hanafiyah telah mengamalkannya dalam shalat sunnah sebagaimana yang tersebut”. Yakni apa yang disebutkan di dalam hadits tersebut yaitu shalat sunnah. (Hasyiyah An-nasai : 2/177).

Al Mubarakfuri telah berkata : “Ini adalah dalil yang jelas bahwa berdirinya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan permohonannya di saat menjumpai ayat rahmat, begitu pula berdirinya beliau dan permohonannya perlindungan di saat menjumpai ayat adzab adalah ketika beliau melakukan shalat malam”. (Tuhfatul ahwadzi syarh tirmidi : 2/112).

Asy syaukani berkata : “Yang jelas adalah disunnahkannya perkara-perkara ini bagi setiap pembaca, tanpa membedakan antara orang yang sedang shalat dengan lainnya, dan antara imam, makmum dan orang yang shalat sendirian, kepadanyalah madzhab syafi’i berpendapat”. (Nailul authar : 2/254).

Syeikh Muhammad Bin Ali Adam lebih mengutamakannya di dalam syarah An Nasai, beliau mengatakan: “Nampaknya pengarang, yakni –Nasai– menyepakati madzhab jumhur yang mengatakan disunnahkannya perkara-perkara ini untuk setiap orang yang shalat, di mana ia mengumumkan judul dan tidak membatasinya dengan shalat sunnah. Adalah madzhab yang kuat menurutku. Dan tidak ada dalil bagi orang berpendapat mahruh dalam shalat wajib.

Adapun keberadaan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakannya dalam shalat wajib adalah karena karena shalat sebagai imam sehingga ia khawatir kepanjangan. Demikianlah sepatutnya bagi imam untuk tidak mengerjakannya apabila ia khawatir kepanjangan.

Al-‘allamah Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya- dalam kesempatan lain berkata :”Apa yang di perbolehkan dalam shalat sunnah maka diperbolehkan dalam sunnah wajib melainkan apabila ada dalil (lain yang melarang)”. (Al-bab al-maftuh : 1/118).

Syeikh Abdurrahman bin hasan, anak syaikhul islam ibnu Muhammad bin Abdul wahab –semoga Allah merahmatinya- ditanya tentang meminta ketika datang ayat rahmat dalam shalat wajib, demikian pula berlindung ketika datang ayat ancaman (siksa)?

Maka ia menjawab : ini boleh dalam shalat sunnah dengan kesepakatan para ulama. Adapun dalam shalat wajib maka moyoritas ulama hanabila melarangnya dan mereka mengatakan : sesungguhnya hal itu tidak datang dari Nabi shallahu ‘alaihi wa shallam sehingga hukum dibatasi dengan apa yang dikandung oleh dalil. Muwaffaq –semoga Allah meridzainya- : “Diperbolehkan hal tersebut dalam shalat wajib. Karena hukum asal dalam hal itu adalah sama selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Dan ini adalah pendapat yang kuat dan diperkuat oleh sabda Rosulullah shallahu ‘alaihi wa salla dalam tasyahhud akhir :”Dan hendaklah ia memilih do’a yang dikehendaki”.

Dan ini adalah umum, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah. Barang siapa tidak mengerjakannya dalam shalat wajib berarti keluar dari perbedaan para ulama dan barang siapa yang mengerjakannya maka sesungguhnya ia telah bersandar kepada dalil. Allahu ‘alam. (Ad-duror as-saniyah : 4/322).

Ibnu Baz –Semoga Allah merahmatinya- berkata di dalam fatwa-fatwanya:”Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila melewati ayat tasbih, beliau bertasbih dalam shalat malam, dan apabila melewati ayat ancaman beliau memohon perlindungan, dan apabila melewati ayat tentang janji beliau meminta. Hal ini berdasarkan hadits Hudzaifah –semoga Allah meridhainya- Dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam:

“Ini adalah perbuatan Nabi Shallallaahu ‘alaii wa sallam dan sunnahnya, berdo’a ketika ada ayat-ayat yang mengandung pengharapan, dan berlindung ketika ada ayat yang mengandung rasa takut, dan bertasbih ketika ada nama-nama dan Sifat-sifat Allah disebut”. (fataawa Ibnu Baz 11/345).

Dengan perkataan jumhur, Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya- berfatwa dengan mengatakan : “Benar hal itu dibolehkan, dan tidak ada bedanya antara imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Kecuali makmum disyaratkan supaya dia tidak disibukkan dengan hal itu, padahal dia diperintahkan untuk diam”. (al-fatawa : 13/340).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(Al-wasyiyah bi ba’di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal: 88-90, cet. Kedua, tahun 1426 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…….

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (22/07/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda