Berhati-hati Dalam Berfatwa – Cerminan Ulama Salaf

berhati-hati dalam berfatwa

Makkah al-Mukarramah ( 9/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab "Min Akhbar As Salaf “, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam

No comments

Sesungguhnya keutamaan dan kedudukan fatwa dalam syariat yang mulia ini sangatlah agung bagi ahlinya, yaitu orang yang memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati oleh para ulama Islam untuk menjadi seorang mufti (pemberi fatwa). Fatwa yang dikeluarkan oleh orang tidak mumpuni memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi umat, sebab seorang mufti adalah pemberi legalisasi apa yang datang dari Allah, pewaris para Nabi dan pengemban kewajiban fatwa (fardhu kifayah). Maka hendaklah orang yang memikul amanat ini berhati-hati serta berfikir seribu kali sebelum ia mengeluarkan hukum atau berfatwa.

Karena demikian beratnya amanat fatwa ini, maka banyak dari kalangan ulama terdahulu lebih memilih tawaqquf (diam) ketika ditanya dan tidak memberikan jawaban apapun. Karena khawatir mengakibatkan dampak buruk yang akan menimpanya, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memberikan jawaban “laa adri (Aku tidak tau)” dalam semua hukum atau yang tidak mereka miliki ilmunya.

Sepintas kita lihat sikap mereka nampak seperti sebuah kekurangan. Namun jika kita cermati sikap mereka tersebut, sebenarnya bukan menunjukkan kekurangan, justru ini semua menunjukkan dalamnya ilmu serta kebaikan iman dan taqwa mereka. Dimana mereka berhenti dan tidak mendahului semua apa yang diluar kemampuan mereka dengan mengembalikan ilmunya kepada Allah, Dzat yang maha mengetahui segala sesuatu.

Akan tetapi sangat disayangkan, jika kita lihat zaman sekarang, semua orang memposisikan dirinya sebagai mufti, menganggap bahwa ini adalah pekerjaan kecil, tidak membutuhkan syarat-syarat dan keahlian, sehingga pertanyaan apapun pasti dia jawab mudah, walaupun tanpa ilmu dan dalil yang jelas. Mereka bahkan tidak segan-segan membawa dalil dari hadits yang palsu atau lemah atau riwayat-riwayat yang tidak ada asalnya. Inilah yang menyebabkan problematika umat, yaitu munculnya ruwaibidza yang mana mereka adalah orang-orang yang jahil akan tetapi berbicara mengenai umat atau maslahat umum.

Padahal hakikat fatwa dalam syariat yang mulia ini adalah untuk kebaikan dan kemudahan tersebarnya ilmu dan amal yang benar di tengah-tengah kamu muslimin, bukan membuat perselisihan dan menyebarkan perpecahan dan perbedaan di tengah-tengah umat. Untuk itu kita perlu meneladani cerminan para ulama salaf, bagaimana contoh dari mereka dalam masalah ini. Marilah kita simak sebagian contoh dari ulama salaf berikut ini:

1. Dari Abi Minhal ia berkata: “aku bertanya kepada Zaid Bin Arqom dan Bara’ Bin ‘Azib tentang sharaf. Maka setiap aku bertanya kepada salah satu dari keduanya ia menjawab: tanyakanlah kepada yang lain, karena sesungguhnya ia lebih baik dan lebih mengetahui dari aku”. (Jami Bayan Ilmi Wa Ahlihi : 2/432).

2. Dari Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhainya-, ia berkata: “ilmu itu ada tiga macam: (pertama) kitabullah yang berbicara, (kedua) sunnah yang telah lalu dan (ketiga) ucapan tidak tahu”. (Jami Bayan Ilmi Wa Ahlihi: 2/423).

3. Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Sesungguhnya orang yang memberi fatwa dalam segala sesuatu adalah orang yang gila”. (Jami Bayan Ilmi : 2/836).

4. Dari Uqbah bin Muslim –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Aku mendampingi Ibnu Umar selama tiga puluh empat bulan, kebanyakan ketika ditanya ia menjawab: “Aku tidak tahu”, kemudian ia menoleh kepadaku sambil berkata: tahukah kamu apa yang mereka inginkan? mereka hendak menjadikan punggung-punggung kita sebagai jembatan mereka kepada neraka jahannam”. (Jami Bayan Ilmi : 2/841).

5. Dari Muhammad bin munkadir, ia berkata: “sesungguhnya seorang ‘alim itu berada diantara Allah dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia melihat bagaimana ia masuk diantara keduanya”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

6. Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Aku menjumpai 120 sahabat dari anshar, salah seorang dari mereka ditanya sebuah masalah, maka ia mengembalikan kepada yang lain dan yang lain kepada yang lain pula sampai akhirnya kembali kepada orang yang pertama. Tidak ada seorangpun dari mereka melainkan ia ingin saudaranya mencukupkannya dari fatwa”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

7. Husain al-Asady berkata: “sesungguhnya seseorang dari kalian berfatwa dalam masalah, andaikata disampaikan kepada sahabat Umar bin Khaththab niscaya ia akan mengundang ahli Badar (sahabat yang diperang badar) untuk menjawabnya”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

8. Imam Syafi’i ditanya tentang sebuah masalah lalu ia diam, maka dikatakan kepadanya: tidakkah engkau menjawab –semoga Allah merahmatimu-?, maka ia mengatakan: “sampai aku tahu yang lebih baik, apakah dalam diamku atau dalam jawabanku”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

9. Said bin Musayib hampir-hampir ia tidak pernah berfatwa atau mengatakan sesuatu melainkan ia berdoa: “Ya Allah selamatkanlah aku dan selamatkanlah orang lain dariku”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

10. Dari Adurrahman bin Mahdi ia berkata: “seseorang datang kepada Imam Malik dan bertanya kepadanya, berhari-hari ia tidak menjawab, maka ia (penanya) berkata: wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya aku ingin kembali dan telah lama aku menunggu (jawaban darimu). Maka Imam Malik diam sesaat lalu mengangkat kepalanya dan berkata: Masyallah, wahai saudaraku, sesungguhnya aku hanya berkata apabila di dalamnya terdapat kebaikan, sedangkan aku tidak menguasai pertanyaanmu ini”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

11. Dari Zaid Bin Khabbab ia bertanya: “Aku melihat Sufyan Ats-Tsaury apabila ditanya tentang masalah, ia menjawab: “aku tidak tahu”, sehingga orang yang tidak mengenalnya akan mengira bahwa Sufyan tidak mengetahui ilmu sedikitpun”. (Musnad Bin Jaed, ha:277).

12. Dari Abu Mus’ab ia berkata, aku mendengar malik Malik bin anas berkata: “Tidaklah aku berfatwa sehingga ada tujuh puluh orang yang mengakui bahwa aku adalah ahli (mengusai dalam hal tersebut)”. (hilyatul auliya: 6/316).

13. Qosim bin Muhammad berkata: “seseorang yang hidup dalam kejahilan lebih dari pada berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Inilah abu bakar yang Allah khususkan dengan keutamaan dari-Nya, ia mengatakan : “aku tidak tau”. (Jami Bayan Ilmi: 2/839).

14. Abu Umar menyebutkan tentang Qosim Bin Muhammad, bahwa ia didatangi oleh seseorang yang bertanya kepadanya, maka Qosim menjawab: “aku tidak menguasainya”, maka sang penanya berkata: “sesungguhnya aku mengajukan kepadamu, karena aku tidak tahu selain kamu”. Maka Qosim menjawab: “janganlah kamu melihat janggutku yang panjang dan banyaknya orang ada disekitarku, demi Allah aku tidak menguasainya (pertanyaan kamu)”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

15. Dari Ali Bin Abi Thalib –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “alangkah dinginnya bagi hati, maka ia ditanya, apakah maksudnya itu: maka ia menjawab: “yaitu engkau mengatakan untuk sesuatu yang engkau tidak tahu “Allah yang mengetahui”. (Jami Bayan Ilmi : 2/836).

Semoga kita bisa ambil pelajaran dari mereka, para ulama salaf untuk lebih berhati-hati dalam meminta fatwa atau berfatwa atau mengamalkan fatwa serta menyebarkan fatwa dan hal-hal yang berkaitan dengan fatwa

Penulis Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu harits Makkah al-Mukarramah ( 9/7/1434 H )

– Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf “, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda