Bolehkah Berpuasa di Pertengahan Bulan Sya’ban?

Bolehkah berpuasa di pertengahan bulan syaban

Makkah Al Mukarramah, 5/8/1434 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab "Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar'iyah", karya Syeikh Abul Hasan Mushthafa Bin Ismail As Sulaimani Al Ma'riby Al-Yamany. Edisi ke lima, hal: 110

No comments

Pertanyaan: Apakah boleh berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban?

Jawaban: Tidak mengapa berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban, bahkan hal itu merupakan suatu perkara yang mustahab, karena Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam pernah melakukannya. Dan sesungguhnya beliau berpuasa di bulan Sya’ban sepenuhnya kecuali sedikit yang beliau tinggalkan.

Adapun dalil yang melarang hal itu adalah hadits dari Al ‘ala bin Abdurrahman bin ya’kub Al-huraqy dari bapaknya dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata: Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “jika bulan Sya’ban telah sampai pertengahan, maka janganlah berpuasa”. (dikeluarkan oleh imam An Nasai di dalam “al Kubra”, Abu Daud, At Tirmidzi serta selain mereka.

Pada hadits ini telah terjadi perselisihan. Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Abdil Barr serta selain keduanya telah meng-hasan-kannya. Dan dilemahkan oleh para imam seperti Imam Ahmad, Ibnu Mu’in, Ibnu Mahdi, Abu Daud, Al Khalili dan selain mereka. Adapun alasan orang yang menshahihkannya adalah bahwa dhahir sanad dari hadits tersebut hasan. Sedangkan alasan yang melemahkannya adalah bahwa Al ‘Ala bin Abdurrahman ia masih perselisihkan secara ijmal. Karena ia telah meriwayatkan hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih, seperti hadits ‘Aisyah di dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam berpuasa lebih banyak di bulan Sya’ban atau sepenuhnya kecuali sedikit (berbuka).

Dan hadits Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- di dalam Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali jika bersamaan dengan puasa salah seorang dari kalian, maka boleh ia berpuasa”.

Walaupun Imam Tirmidzi –semoga Allah merahmatinya- telah menafsirkan hadits Al-‘Ala ini dengan sesuatu yang menunjukan bahwa ia menerima hadits tersebut, baik secara matan maupun sanad.

Dan jiwa ini lebih condong kepada tidak bisa dipakainya hujjah hadits dari al-‘Ala. Adapun keberadaan sanad secara dhahir hasan tidak bisa membuang ucapan para pakar yang ahli dalam hal ini ( ilmu hadits). Sedangkan madzhab para ulama tentang hadits ini adalah masih dipertanyakan baik dalam sanad maupun matan.

Wa Allahu ‘alam.

Alih bahasa:

Al faqiir ilaa ‘afwi Rabbih

Hamidin As Sidawy Al Atsary, Abu Harits

Makkah Al Mukarramah, 5/8/1434 H

*Fatawa ini diterjemahkan dari kitab “Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah”, karya Syeikh Abul Hasan Mushthafa Bin Ismail As Sulaimani Al Ma’riby Al-Yamany. Edisi ke lima, hal: 110

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda