Cerminan Ulama Salaf: Komitmen Terhadap Sunnah

Cerminan Ulama Salaf Komitmen Terhadap Sunnah

Makkah al-Mukarramah ( 5/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab "Min Akhbar As Salaf", karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

No comments

Setiap generasi mempunyai tantangan dan cobaan yang berbeda-beda, sesuai dengan peradaban dan tingkat kultural pada zaman itu sendiri. Mulai zaman Nabi Adam sampai sekarang. Tentu semuanya sesuai dengan kehendak Allah.

Adapun kita sekarang telah berada di era globalisasi, era informasi, di suatu masa yang penuh dengan fitnah, baik yang berhubungan dengan fitnah syubhat atau fitnah syahwat dengan berbagai corak dan macamnya, fitnah yang multi dimensi, yang tidak pernah ada dan dialami oleh umat-umat sebelumnya.

Dan fakta ini bersifat universal, bukan hanya di negeri Indonesia yang kita cintai ini, bahkan di seluruh belahan dunia Islam, apalagi kafir. Ini semua menunjukkan sekaligus membuktikan bahwa kita telah benar-benar berada di akhir zaman, dimana bukan hanya nilai-nilai moral atau budaya yang telah banyak berubah. Bahkan hukum-hukum syariatpun banyak yang punah dan sirna karena ditinggalkan oleh kaum muslimin itu sendiri. Mereka sadari atau tidak. hal ini terbukti, berapa banyak dari amalan sunnah yang dianggap bid’ah, dan sebaliknya. Perkara tauhid dihukumi syirik dan sebaliknya, sesuatu yang ma’ruf menjadi mungkar dan sebaliknya, dan lain-lain.

Jika demikian dahsyatnya fitnah akhir zaman sekarang ini, lalu bagaimana solusi dan terapinya? Maka tidak diragukan lagi bahwa obat satu-satunya atau jalan keluarnya yaitu dengan kembali kepada syariat yang mulia ini. Berhukum kepadanya dalam segala urusan, berpegang teguh hanya dengan “Al-Qur’an Dan Sunnah Yang Shahih Sesuai Dengan Pemahaman Salaf As-Shalih”.

Inilah satu- satunya senjata yang ampuh untuk keluar dari semua fitnah, sebagaimana yang dipraktekkan oleh generasi terdahulu, yang mendapat kemenangan dan kejayaan di muka bumi

Oleh itu mari kita simak bersama nasehat dan wasiat mereka yang menganjurkan kepada kita semua, agar berpegang teguh hanya dengan al-qur’an dan As-sunnah menurut pemahaman as salas as-shalih, bukan yang lain-lain.

1. Dari Zuhri ia berkata: “berpegang teguh dan komitmen dengan sunnah adalah jalan keselamatan”. (Syarh As-Sunnah Lil Lalakai: 2/56).

2. Dari ‘Aun Bin Abdillah ia berkata: “Barangsiapa yang meninggal diatas keislaman dan sunnah, maka ia akan mendapat kabar gembira dengan semua kebaikan”. (Syarh As-Sunnah Lil Lalakai: 2/64).

3. Dari Ibnu Yahya ia berkata: “Tidak ada jalan atau cara yang lebih ringkas untuk menuju ke surga dari pada meniti As-sunnah”. (Syarh As-Sunnah Lil Lalakai: 2/88).

4. Dari Fudhail Bin Iyadh ia berkata: “Ikutilah jalan petunjuk dan tidak akan merugikanmu sedikitnya orang mengikuti serta jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan terperdaya dengan banyaknya orang-orang yang binasa”. (‘Ithisam Lisy Syathibi, hal:62).

5. Dari Auza’i ia berkata: “Ada lima perkara yang selalu berada diatasnya para sahabat Rosulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan para tabi’in: ber jamaah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca qur’an dan berjihad di jalan Allah”. (Hilyatul Auliya’, 6/142).

6. Dari Abi Ustman Al-Khairy, ia berkata: “Barangsiapa yang memakmurkan sunnah pada dirinya, baik ucapan maupun perbuatan, maka ia akan berbicara dengan hikmah dan barangsiapa yang memakmurkan dirinya dengan kebid’ahan, ia akan berbicara dengan kebid’ahan. Allah berfirman yang artinya: “Jika kalian mentaati Allah, maka akan mendapat petunjuk”. (Siyar ‘Alamin Nubala’: 14/64).

7. Dari Ayub as-Sahtiyany: “Sesungguhnya diantara kebahagiaan kawula muda dan orang asing (selain arab) adalah ketika Allah memberi taufiq kepada keduanya berupa seorang ‘alim dari ahli sunnah”. (Syarh As-Sunnah Lil Lalakai: 2/60).

8. Dari Robi bin Sulaiman ia berkata: “Seorang bertanya kepada imam Syafi’i tentang hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian orang itu bertanya kepadanya: “apa pendapatmu?” Maka imam Syafi’i bergetar dan berkeringat seraya berkata: “langit manakah yang menaungiku, bumi manakah yang melindungiku apabila aku meriwayatkan hadits dari Rosulullah kemudian aku mengambil yang lainnya”. Ia berkata: “apabila kalian menjumpai sunnah Rosulullah Shallallaahu’alaihi wasallam, maka ikutilah dan jangan kalian menoleh kepada pendapat siapapun”. (hilyatul auliya’, 9/107).

9. Dari Hammad bin Zaid – juga, ia berkata: “Sesungguhnya orang – orang yang senang dengan kematian ahlu sunnah, berarti mereka menginginkan untuk mematikan cahaya Allah dengan mulut mereka sedangkan Allah akan selalu menyempurnakan cahaya walaupun orang-orang musyrik marah”. (Syarh Sunnah Lil Lika’i 2/61).

10. Dari Shalih Bin Muslim, ia berkata: Amir As-Sa’by berkata kepadaku: “Sesungguhnya kehancuran kalian adalah ketika kalian meninggalkan atsar dan mengambil qiyas ( yang batil atau akal)”. (Hilyatul Auliya’: 4/320).

11. Dari Sufyan Ats-Tsauriy, ia berkata: “berwasiatlah kepada ahlus sunnah dengan kebaikan, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dianggap asing”. (Syarh Sunnah Lil Lika’i 2/61).

12. Dari Abdurrahman bin Abi Zinad dari bapaknya, ia berkata: “Tidaklah aku melihat seorangpun yang lebih tahu tentang sunnah dari pada qosim bin Muhammad. dan tidak seseorang dikatakan laki-laki yang sesungguhnya sehingga ia mengetahui sunnah”. (Hilyatul Auliya’: 2/184).

13. Hasan berkata: “Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu-, sesungguhnya ahlu sunnah dahulu adalah orang –orang yang paling sedikit, mereka adalah orang-orang yang paling sedikit pula pada waktu sekarang, mereka tidak bersama dengan orang orang yang mewah dalam kemewahan mereka, atau dengan orang-orang bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka sabar di atas sunnah sampai bertemu dengan Allah, maka jadilah kalian demikian”. (Ta’dzimu Qodzrus Shalat Lil Marwazih 2/678).

14. Dari Abu Ayub As-Sahtiyani, ia berkata: “Sesungguhnya apabila telah sampai kepadaku kematian salah seorang dari ahli sunnah, maka seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota badanku”. (Hilyatul Auliya’: 3/9).

Setelah meneladani dan mencontoh panutan kita, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, Kiranya kita dapat ambil perajaran pula dari para pendahulu kita salaf as-shalih, yang mana mereka adalah sebaik-baik generasi dalam mengamalkan agama yang mulia ini, baik yang berkaitan dengan aqidah khususnya, maupun ibadah, muamalah, akhlaq dan lain-lain.

Ya Allah, tuhan kami, jadikanlah kami tunduk dan mengikuti hanya kepada syariat-Mu, sesuai dengan maksud-Mu, yang engkau turunkan dalam al-qur’an dan Jadikanlah kami tunduk dan mengikuti hanya kepada sunnah nabi-Mu, sesuai dengan maksud Rosul-Mu, yang ia ucapkan dalam sunnahnya…

Sebagaimana yang telah diamalkan oleh salafuna as-shalih..Ya Allah, mudahkanlah kami untuk mengikuti jalan mereka, yaitu jalan yang engkau ridhai..dan bukan jalan-jalan yang lainnya

Penulis
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
( 5/7/1434 H )

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda