Cerminan Ulama Salaf: Meneladani Para Sahabat

Cerminan Ulama Salaf: Meneladani Para Sahabat

Makkah Al-Mukarramah ( 6/7/1434 H ).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Kitab "Min Akhbar As Salaf “, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam

No comments

Tidak diragukan lagi, bahwa para sahabat merupakan generasi paling baik dan termulia. Hal ini berdasarkan persaksikan Allah dan Rosul-Nya. Banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang memuji mereka, baik secara global maupun terperinci. Jika demikian apa arti sanjungan kita kepada mereka??!!

Adapun kedudukan dan keutamaan mereka dalam islam, maka sangatlah agung dan mulia, ibarat kisah-kisah indah yang tiada akan pernah habis ditelan oleh waktu dan masa. Jika kita berbicara ilmu, maka merekalah rajanya. jika kita membahas amal, maka merekalah ratunya. kalau kita berbicara dakwah, maka merekalah pahlawannya. kalau mau menyoal pengorbanan dan jihad, maka merekalah penglimanya. kalau mau mempelajari akhlaq, maka merekalah panutan kita yang terbaik setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Ini semua menunjukkan keutamaan dan keistimewaan mereka dalam Islam. Oleh karena itu pantaslah jika kita disuruh untuk meneladani mereka, mengikuti jejak mereka, serta selalu memuji dan mendoakan mereka dengan kebaikan. Sebagaimana Allah dan Rosul-Nya telah ridha terhadap mereka.

Dan yang lebih penting, yang banyak ditinggalkan dan dilupakan oleh kaum muslimin yaitu supaya kita meniru apa yang dipahami, diyakini, diamalkan dan didakwahkan oleh para sahabat Nabi yang mulia. Dimana pratek mereka merupakan amal sekaligus foto copy dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diridhai oleh Allah. Sehingga cara beragama yang paling benar adalah cara sahabat, yaitu yang tengah-tengah antara ifroth (berlebihan) dan tafrith (meremehkan), cara yang adil dan cara yang sesuai dengan kehendak Allah dan Rosul-Nya.

Jika ada yang berkata, “bukankah mereka juga laki-laki atau manusia yang bisa salah dan benar?”. Maka kita jawab “ya, akan tetapi tidak sama dengan kita”. Karena Allah telah memberikan kelebihan dan keistimewaan kepada mereka dengan keistimewaan yang sangat banyak. Sebagaimana yang akan kami sebutkan di bawah ini sebagiannya. Dengan kesaksian dan syadahah dari para ulama kita yang terpercaya. Sekarang mari kita simak bersama:

1. Dari Hudzaifah Bin Yaman -semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Ikutilah jalan-jalan kami (para sahabat), karena jika kalian mengikuti kami niscaya kalian akan mendapatkan (kebaikan) yang sangat banyak dan jika kalian menyelisihi kami, niscaya kalian akan tersesat dengan kesesatan yang jauh”. (Al-Bida Libni Waddzah: 44).

2. Imam Ahmad berkata: “Apabila kamu melihat seseorang menyebutkan sahabat Rosulullah dengan kejelekan, maka curigailah keislamannya”. (Syarh Usul ‘Itiqod Ahli Sunnah Wal Jamaah karya Lalakai: 7/1252).

3. Dari Auzai, ia berkata: “Ilmu adalah apa yang datang dari para sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang tidak datang dari seorang pun dari mereka, maka itu bukanlah merupakan sebuah ilmu”. (Jami Bayan Ilmu: 1/769).

4. Dari Ibrohim an-Nakh’i, ia berkata: “Andaikata telah datang penjelasan kepadaku bahwa para sahabat tidak melebihkan sepotong kuku pun dalam membasuh anggota wudlu niscaya aku tidak akan melebihkan sedikitpun”. (Syarh Wal Ibadah: 161).

5. Dari Sya’by, ia berkata: “Apa yang mereka kabarkan dari pada sahabat maka ambillah dan apa yang mereka ucapkan dari pendapat selain mereka ( para sahabat), maka kencingilah pendapat tersebut”. (Hilyatul Auliya: 4/319).

6. Dari Shalih Bin Kaisan, ia berkata: Suatu saat aku berkumpul dengan Zuhri untuk mencari ilmu. Ia berkata: “Aku akan tulis semua sunnah, baik yang datang dari Nabi maupun apa yang datang dari para sahabat, karena sesungguhnya itu adalah sunnah”. Maka aku berkata: “aku tidak akan menulisnya, karena itu bukan sunnah”. Kemudian Shalih Bin Kaisan berkata: maka berhasilah zuhri, karena ia telah menulis (ilmu sahabat), sedangkan aku telah menyia-nyiakan kerena aku tidak menulisnya”. (Jami Bayan Ilmu: 1/773).

7. Dari Ubaid bin Muhammad al-Warraq, ia berkata: “Aku mendengar Bisyr Bin Al Harits berkata: “amalan yang paling kuat dalam diriku adalah mencintai para sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Hilyatul Auliya: 3: 16).

8. Dari Hasan Al-Basry, ia berkata: “Ketahuilah akan keutamaan orang-orang muhajirin dan ikutilah petunjuk mereka serta jauhilah apa yang diada-adakan oleh manusia dalam agama mereka, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan”. (Az-Zuhud : 273).

9. Ahmad bin Hambal berkata: “Al-ittiba’ yaitu seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya, kemudian apa yang datang setelah tabi’in adalah pilihan”. (Abu Dawud Fi Masailil Imam Ahmad: 276).

10. Robi’ Bin Nafi’ berkata: “Muawiyah bin Abi Sufyan adalah tabir para sahabat Nabi, apabila ada seseorang membuka tabir ini, maka ia berani menyingkap apa yang ada di baliknya”. (Tarikh Ibnu Asakir 59/209).

11. Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Abu Usamah Hamad Bin Usamah, ia berkata: “Aku telah mendengar ia ditanya: “siapakah yang paling utama Mu’awiyah atau Umar Bin Abdul Aziz? ” beliau menjawab: “sahabat Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam tidak bisa diqiyaskan dengan seorangpun “. (asy syari’ah lil aajiri /165).

12. Al Auza’i berkata : “Hendaklah engkau mengikuti jejak orang-orang salaf walaupun manusia menolakmu dan jauhilah pendapat manusia walaupun perkataannya membuatmu terpukau. Karena sesungguhnya urusan tersebut telah jelas sedangkan kamu berada di jalan yang lurus”. (Siyar A’laam An Nubala 7/120).

Semoga Allah memberikan kekuatan lahir dan batin serta kemudahan di zaman yang penuh dengan fitnah ini, baik fitnah harta, kekuasaan, kedudukan, dan lain-lain.khususnya fitnah fanatisme, perselisiihan dan perpecahan ummat, untuk mengikuti jalan para sahabat yang mulia, dalam semua ibadah, sehingga amalan kita benar-benar menjadi amalan yang diterima di sisi Allah dan diridhai oleh Allah dan Rosul-Nya.

Ya Allah, Sesungguhnya kami mencintai dan menyayangi para sahabat Rosul-Mu semuanya tanpa terkecuali sebagaimana Engkau telah meridhai mereka, maka jadikanlah kami bersama mereka sekalipun tidak dapat beramal seperti amal mereka. Amiin

Penulis Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits Makkah Al-Mukarramah ( 6/7/1434 H ).

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf “, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup. .

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda