Cerminan Ulama Salaf: Menjauhi Bid’ah dan Pelakunya

Cerminan Ulama Salaf Menjauhi Bidah dan Pelakunya

Makkah al-Mukarramah ( 5/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab “Min Akhbar As Salaf”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

No comments

“Mau beramal kok dilarang”, “yang penting kan niatnya”, “agama mempersusah dalam agama”, ini semua adalah merupakan ucapan orang yang tidak mengerti akan bahaya bid’ah dalam agama dan menganggap perkara bid’ah adalah perkara kecil dalam syariat islam. Padahal para sabahat adalah generasi yang paling baik, dekat dengan wahyu, serta sangat senang dengan kebaikan. Walaupun demikian mereka adalah yang paling anti dalam memerangi kebid’ahan. Bagaimana jika mereka hidup di zaman kita sekarang??!!

Sebagian yang lain mengatakan, “kalo begitu pesantren bid’ah, komputer bid’ah, internet bid’ah”. Ini semua adalah orang yang tidak memahami hakekat bid’ah, karena telah ma’lum bahwa segala pengertian dalam syariat ini ada dua hakekatnya, yaitu hakekat lughowy (menurut bahasa) dan hakekat Syar’i (menurut syariat). Dan keduanya mempunyai kriteria khusus di samping adanya perbedaan diantara para ulama dalam hal tersebut. Tentunya masing-masing sesuai dengan dalil, bukan hawa nafsu. Seperti ucapan sebagian orang ketika diberitahu tentang bid’ah: “dikit-dikit bid’ah payah deh” atau “semuanya haram” dan slogan-slogan kosong lainnya. Tidakkah mereka paham, bahwa agama ini adalah wahyu? Syariat ini dari langit, bukan dari bumi. Artinya bikinan Allah yang Maha kuasa dan sempurna, bukan manusia yang sangat lemah dalam segala hal.

Singkatnya yang penting adalah bahwa semua bid’ah (yaitu semua perkara baru dalam agama, yang dibuat untuk menandingi dan menyerupai syariat islam yang mulia) dengan macam dan cakupannya merupakan amalan tercela dan perbuatan yang sesat dan menyesatkan, apapun dalih dan niat yang melakukannya. Sebagaimana tidak ada yang namanya bid’ah hasanah dalam syariat islam.

Mengingat pentingnya masalah ini, para ulama sangat berhati-hati, baik dalam menyikapi perbuatan atau pelakunya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengarang khusus dalam masalah ini. Baik yang berkaitan dengan bid’ah-bid’ah dalam ibadah, maupun aqidah khususnya dan lain-lain. Semua dalam rangka untuk memperingatkan dan menasehati umat muhammadiyah ini, agar mereka terhindar dan selamat dari penyakit yang berbahaya ini (bid’ah).

Saudaraku yang saya cintai, akan lebih jelas dan gamblang lagi, tentang bahaya bid’ah, kejelekan bid’ah bagi yang meyakininya atau melakukannya, bahkan yang mendakwahkannya, jika kita mengetahui komentar ulama salaf atau sikap mereka terhadap bid’ah. Disini saya hanya menyebutkan sekelumit saja sebagai contoh. Diantaranya adalah:

1. Abdullah Bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya, ia berkata: “sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada sungguh-sungguh dalam bid’ah”.(Al-Zuhd Li Ahmad: 198).

2. Abdullah Bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya, iaberkata: “ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah karena kalian telah dicukupi dan setiap bid’ah itu adalah sesat”. (Al Bida’ Libni Wadhah).

3. Abu Idris Al Khaulani berkata: “sungguh aku melihat api berkobar di masjid lebih baik bagiku dari pada aku melihat di dalamnya bid’ah yang tidak berubah-rubah”. (asy-syarh wal ibanah: 254).

4. Abdurrahman Bin Mahdi menyebutkan tentang suatu kaum dari kalangan ahli bid’ah dan kesungguhan mereka di dalam beribadah dengan mengatakan: ” Allah tidak akan menerima (suatu amalan) kecuali di atas perintah dan sunnah, kemudian beliau membacakan ayat: “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepadamereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)” maka Allah tidak akan menerima sesuatu pun dari mereka dan menjelek-jelekkan mereka. (Hilyatul Auliya’ 9/8).

5. Ja’far Bin Ahmad Bin Sinan berkata, aku mendengar ayahku mengatakan: “Tidaklah di dunia ini seorang ahli bid’ah melainkan dia sangat membenci ahli hadits, jika seseorang melakukan suatu bid’ah, maka dia akan dicabut manisnya hadits dari hatinya”. (Siyar A’laam Nubala’).

6. Sufyan Atstsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis dari pada maksiat. Karena maksiat seseorang dapat bertaubat darinya sedangkan bid’ah seseorang tidak mau bertaubat darinya (karena ia menganggap bid’ah sebagai ibadah)”. (Syarh Sunnah Al Lalakai 2/132).

7. Abu Zur’ah ditanya tentang kitab-kitab Al-Harist Al-Mahasiby maka ia menjawab: “Jauhilah kitab-kitab ini, karena ini semua adalah kitab-kitab kebid’ahan dan kesesatan, peganglah dengan atsar niscaya engkau akan menjumpai didalamnya apa yang bisa mencukupkan dari kitab-kitab ini”. Kemudian ia ditanya: “Bukankah didalam kitab-kitab ini terdapat ibrah? Maka ia menjawab: “Barangsiapa yang tidak dapat mengambil ibrah dari al-qur’an maka ia tidak akan mendapatkan ibrah dari kitab-kitab ini”. (Tarikh Baghdad: 8/218).

8. Dari Fudhail Bin Iyadh ia berkata: “Diantara tanda-tanda bencana adalah ketika seseorang menjadi ahli bid’ah”. (Hilyatul Auliya: 8/108).

9. Dari Yahya Bin Abi Katsir, sesungguhnya ia berkata: “Apabila engkau menjumpai ahli bid’ah di jalan, maka ambillah jalan yang lain”. (Hilyatul Auliya: 3/69).

10. Dari Al-Auzai ia berkata: “Janganlah kalian persilahkan ahlu bid’ah untuk berjidal, sehingga ia mewariskan di hati kalian fitnah dan keraguan”. (Al-Bid’ah libni Waddah: 151).

11. Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata: “Sesungguhnya pelaku bid’ah itu pada mukanya terdapat kegelapan walaupun ia memakai minyak setiap hari tiga puluh kali”. (Al-Lalakai: 2/141).

12. Dahulu Ayu As-Sahtiyani menamai semua ahlu bid’ah sebagai khawarij seraya berkata: “sesungguhnya khawarij mereka berbeda dalam penamaan akan tetapi bertemu di atas pedang”. (Syarhsunnahal-Lalakai: 2/143).

13. Dari Fudhail Bin Iyadh, ia berkata: “Barangsiapa yang didatangi oleh seseorang kemudian ia mengajaknya musyawarah, lalu ia menunjukinya kepada ahlu bid’ah, maka sungguh ia telah menipu agama Islam”. (Syarh Sunnah al-Lalakai: 2/137).

14. Ia juga berkata: “Barangsiapa yang duduk dengan ahli bid’ah, maka ia tidak akan mendapat atau diberi al-hikmah”. (Syuabul Iman Lil Baihaqi: 7/9482).

15. Dari Hasan Al-Bashry ia berkata: “Janganlah kamu bermajlis dengan ahli bid’ah, karena sesungguhnya ia dapat membuat hati kamu menjadi sakit atau rusak”. (Al-I’tisham: 62).

16. Dari Said Bin Jubair, ia berkata: “Andai kata anakku berteman dengan orang fasik yang sesuai dengan sunnah adalah lebih aku cintai dari pada berteman dengan ahli ibadah tapi bid’ah”. (Syarhwalibanah: 149).

17. Hasan al-Bashry berkata: “Tidak ada ghibah bagi ahli bid’ah”, dalam riwayat yang lain ia berkata: “Tiga kelompok yang tidak ada keharaman ghibah bagi mereka, kemudian ia menyebutkan diantaranya adalah: pelaku bid’ah yang menampakan kebid’ahannya”. (Syuabul Iman Lilbaihaqi: 7/9675).

18. ‘Ashim bin Ahwal berkata: “Aku bermajelis kepada Qatadah, beliau menyebutkan tentang ‘Amr Bin ‘Ubaid kemudian larut dalam perkataan dan menggunjingnya. Maka aku berkata: “Wahai Abal Khaththab, aku tidak sependapat jika ulama menggunjing sebagian ulama lainnya”, maka beliau menjawab: “Wahai Ayub, Tidakkah kau tahu, jika sesseorang berbuat bid’ah, maka kau harus menyebutkannya sehingga kau dapat menghindar darinya”. (Hilyatul Auliya’ 2/335).

Sebaik-baik nasehat dan petunjuk adalah mengikuti salaf (ulama terdahulu), dan sejelek–jelek kebid’ahan adalah mengikuti orang-orang khalaf (ulama moderen). Sedangkan kita hanya diperintah untuk mencari ridha Allah dalam semua ibadah, bukan ridha manusia.

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mengetahui yang benar adalah kebenaran serta diberi kekuatan untuk mengikutinya dan semoga kita juga diberi kemudahan oleh Allah untuk mengetahui yang batil adalah kebatilan serta diberi kekuatan untuk menjauhinya.

Ya Allah jauhkanlah kami dan anak keturunan kami dari segala macam syirik dan bid’ah yang Engkau murkai. Dekatkanlah selalu kepada kami hidayah dan petunjuk-Mu. Jadikanlah kami orang-orang yang selalu mencintai sunnah Nabi-Mu, hingga akhir hayat.. Amiiin.

 

Penulis
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
( 5/7/1434 H )

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda