Cerminan Ulama Salaf: Wajib Mengikuti Sunnah Yang Shahihah dan Meninggalkan Semua Yang Menyelisihinya

Cerminan Ulama Salaf Wajib Mengikuti Sunnah yang Shahihah

Makkah al-Mukarramah ( 5/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab “Min Akhbar As Salaf”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

No comments

Pada lembaran yang lalu telah saya sampaikan tentang cerminan ulama salaf dari empat imam madzhab, yaitu nasehat mereka agar kita hanya mengikuti dalil-dalil yang mu’tabar, baik dari al-qur’an, as-sunnah, ijma’ maupun qiyas (yang benar) dalam beramal. Dan supaya kita tidak mendahulukan pendapat atau akal atas dalil-dalil yang ada, siapapun orangnya. Karena tidak ada manusia yang ma’sum melainkan Rosulullah shalallahu ‘aihi wasallam.

Maka sekarang, penulis hanya ingin memperkuat lagi masalah ini dengan membawakan wasiat atau komentar ulama yang lain (selain imam empat), berhubungan khusus dengan kewajiban kita untuk menerima dan mendahulukan –setelah al-qur’an- hadits-hadits yang shahih dari yang lainnya. Karena masalah ini sangat penting dan banyak terlupakan.

Dengan nukilan-nukilan ini, penulis hanya ingin membuktikan bahwa masalah ini (mendahulukan dalil) merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama kita semuanya, dari dahulu sampai sekarang. Berkaitan dengan hukum-hukum apapun yang ada dalam syariat kita yang mulia ini.

Faktanya sebagian kaum muslimin yang fanatik, mereka lebih mendahulukan pendapat madzhab, keputusan organisasi, dan argumen seorang ustadz dan yang lainnya. Seakan-akan itu semua merupakan wahyu dari langit, tanpa harus dikoreksi dan dicocokkan, sesuai atau tidak dengan al-qur’an dan as-sunnah serta pemahaman para sahabat. Padahal kita hanya diperintahkan untuk mengikuti kebenaran sesuai dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana hal ini dapat kita fahami dari komentar dan sikap ulama salaf sebagai berikut:

1. Dari Yahya Bin Qotton ia berkata: “Janganlah kalian melihat kepada hadits akan tetapi lihatlah kepada isnadnya. Jika sanadnya shahih (maka ambilah), jika tidak maka janganlah kalian terpedaya dengan sebuah hadits apabila sanadnya tidak shahih”. (Siyar ‘Alami Nubala Li Dzahaby: 9/188).

2. Dari Ibnu Mubarak, ia berkata: “Di dalam hadits yang shahih terdapat kecukupan dari yang lemah”. (Siyar ‘Alami Nubala Li Dzahaby: 8/403).

3. Dari Umar Bin Abdul Aziz, sesungguhnya ia menyerukan kepada manusia: “Sesungguhnya tidak ada pendapat bagi seorangpun bersama sunnah Rosulullah shallahu ‘alahi wa sallam“. (jami’ bayanil ilmu: 1/781).

 

4. Dari Malik bin Anas, ia berkata: “setiap orang boleh diambil ucapannya dan ditinggalkan melainkan penghuni kuburan ini”. (Siyar ‘Alami Nubala Li Dzahaby: 8/93).

 

5. Dari Anas bin Malik ia berkata: “Rosulullah shallallaahu’alaihi wasalam telah membuat amalan-amalan sunnah. Barangsiapa yang mengambilnya berarti ia telah mengikuti al-qur’an dan menyempurnakan dalam mentaati Allah serta menjadikan kekuatan di atas agama. Tidak boleh bagi siapapun untuk merubah sunnah atau menyelisihinya. Barangsiapa yang mengambil petunjuk dengannya, maka ia akan mendapat petunjuk”. (Siyar A’laam An Nubala 8/98).

6. Dari Yahya At Taymi berkata: “Aku mendengar Abu Yusuf berkata: “setiap apa yang aku fatwakan dengannya aku telah mengulang-ulanginya kecuali apa yang sudah sesuai dengan kitab dan sunnah”. (Siyar A’laam An Nubala 8/537).

7. Dari Malik Bin Anas berkata: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan benar. Maka lihatlah pendapatku, jika sesuai dengan al qur’an dan assunnah maka ambillah. Dan jika bertentangan dengan keduanya, maka tinggalkanlah”. (Jami’ Bayan Al ‘Ilmi 1/775).

8. Dari Sufyan berkata: “Perbanyaklah untuk mendapatkan hadits karena ia adalah senjata.” (Hilyatul Auliya 6/364).

9. Ahmad bin Hanbal berkata: “diantara sedikitnya ilmu sesorang adalah mengikutkan perkara agamanya kepada orang lain”. (Majmu Fatawa: 20/212).

Sebenarnya masih banyak ucapan ulama kita seputar masalah ini, akan tetapi cukuplah yang ada bisa kita jadikan sebagai pegangan dan figur dalam praktek beragama yang benar, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ya Allah, lapangkanlah dada kami untuk menerima sunnah Nabi-Mu dan meninggalkan semua yang menyelisihinya, sebagaimana kami memohon kepada-Mu untuk bisa mendahulukan dan menjujung tinggi sunnah Nabi-Mu di atas yang lainnya selama hidup kami. Amiiin……….

Penulis
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
( 5/7/1434 H )

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda