Definisi, Keutamaan Serta Kewajiban Shalat lima Waktu – Kitab Shalat (Bab Pertama)

shalat

Makkah al-mukarramah (12/07/1438 H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa As-sunnah, karya Team dari ulama, pengantar As-syeikh Shalih abin Abdul aziz al-syeikh, mentri agama Saudi arabiyah, cet. Pertama Dar nadwah, hal : 65-66

No comments

1. Definisi Shalat.

Shalat secara bahasa adalah Do’a. Adapun secara istilah adalah suatu ibadah yang memiliki perkataan dan perbuatan yang dikhususkan, dimulai dengan Takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Rincian penjelasannya akan ada pada bab-bab berikutnya, InsyaAllah.

2. Keutamaan Shalat.

Shalat adalah rukun islam yang paling kuat setelah dua kalimat syahadat, bahkan ia merupakan tiang agama. Allah telah mewajibkannya kepada Nabi-Nya Shallallaahu’alaihi wa sallam pada malam Mi’raj dari atas langit ke tujuh. Hal itu merupakan dalil akan pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim, karena Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam apabila tertimpa dengan sesuatu ( yang menyedihkan), maka beliau bersegera melakukan shalat. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat dan anjuran untuk melakukan shalat maka banyak sekali, diantaranya adalah:

Sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر

“Shalat lima waktu dan hari jum’at ke jum’at berikutnya dan bulan Ramadhan ke ramadhan berikutnya adalah dapat menghapus segala kesalahan diantara mereka selama tidak melakukan dosa-dosa besar”. (HR. Muslim 16/233).

Sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

‏”‏ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ‏”‏ ‏.‏ قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ‏”

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

3. Kewajiban Shalat.

Kewajiban shalat lima waktu sudah diketahui berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma yang diketahui dalam agama secara darurat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al Baqarah:43) ayat ini terdapat di beberapa tempat dari Al Qur’an, dan firman Allah: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman supaya mereka mengerjakan shalat.” (QS. Ibrahim:31).

Adapun dalil dari sunnah yaitu hadits tentang isra’ mi’raj, di dalamnya disebutkan : “ia adalah lima dan ia adalah lima puluh.” (Bukhari no.349). maksudnya adalah lima dalam bilangan dan lima puluh dalam pahala atau balasan.

Dan di dalam shahihain (bukhari dan Muslim) Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang bertanya tentang syari’at-syari’at islam: “Shalat lima waktu dalamm sehari semalam, si penanya berkata: apakah ada shalat selain itu untukku? Beliau menjawab: tidak! Kecuali yang sunnah-sunnah. (Bukhari no.46 dan Muslim no.11)

Dan shalat diwajibkan atas seorang muslim yang balig dan berakal, maka tidak diwajibkan atas orang yang kafir, anak kecil dan orang gila, berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam: “Telah diangkat pena untuk tiga, yaitu: orang yang tertidur sehingga ia bangun, dan orang gila hingga ia sadar diri, dan anak kecil hingga dia mencapai masa balig.” Akan tetapi anak-anak tetap disuruh untuk mengerjakan shalat ketika sudah berumur tujuh tahun, dan mereka mesti dipukul ketika mereka meninggalkannya pada umur 10 tahun. Barangsiapa yang menentangnya atau meninggalkannya, maka dia telah kafir dan keluar dari agama islam, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam:

إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya, dia telah kafir.”(HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574)

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman…

(Kami terjemahkan dari kitab : Al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa As-sunnah, karya Team dari ulama, pengantar As-syeikh Shalih abin Abdul aziz al-syeikh, mentri agama Saudi arabiyah, cet. Pertama Dar nadwah, hal : 65-66 ).

Bersambung insyaAllahu ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (12/07/1438 H).

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda