Empat Kaidah Penting Memahami Tauhid

empat kaidah penting memahami tauhid

Makkah al-Mukarramah ( 27/6/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Qowa’idul Arba’ karya Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan.

No comments

Aku memohon kepada Allah azza wajalla yang Maha Pemurah Pemilik ‘Arsy yang agung agar senantiasa menjagamu di dunia dan di akhirat, dan menjadikanmu berbarokah selalu di mana pun kamu berada, serta menjadikanmu sebagai orang yang bisa bersyukur apabila dikarunai nikmat, sebagai orang yang dapat bersabar apabila ditimpa suatu musibah, dan sebagai orang yang senantiasa minta ampunan apabila melakukan suatu dosa, karena tiga hal ini merupakan pilar kebahagiaan.

Ketahuilah -semoga Allah azza wajalla memberikan keteguhan kepadamu untuk taat kepada-Nya, sesungguhnya Hanifiyyah adalah ajaran Nabi Ibrahim yaitu: “kamu beribadah hanya kepada Allah azza wajalla dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Artinya:“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Apabila kamu telah mengetahui bahwasanya Allah azza wajalla telah menciptakanmu hanya untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah pula bahwa ibadah tidak dikatakan ibadah (yang benar) kecuali harus didasari dengan tauhid, seperti halnya sholat tidak dikatakan sholat melainkan dengan bersuci dahulu, jika syirik telah mencampuri suatu ibadah, maka hukum ibadahnya batal sebagaimana jika berhadats setelah bersuci, jika kamu mengetahui bahwa kesyirikan apabila mencampuri suatu ibadah akan merusaknya, dan membatalkan amal serta menjadikan pelakunya sebagai penghuni yang kekal di dalam Neraka.

Berarti kamu telah mengetahui bahwa kewajibanmu yang paling asasi adalah memahami hal ini, semoga Allah azza wajalla menyelamatkanmu dari jeratan ini yaitu jaring kesyirikan kepada Allah azza wajalla, dan Allah azza wajalla pernah berfirman tentangnya:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١١٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya“. (QS. An-Nisa: 116).

Hal itu dengan mengetahui empat kaidah yang telah disebutkan oleh Allah azza wajalla dalam kitab Al-qur’an.

Kaidah Pertama: Hendaknya kamu ketahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka menetapkan bahwa Allah azza wajalla adalah Maha pencipta, Maha Pemberi rizki dan Maha Pengatur, akan tetapi hal ini belum menjadikn mereka masuk Islam, dalilnya adalah firman Allah azza wajalla :

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٣١

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31).

Kaidah Kedua: Mereka mengatakan bahwa kami tidak berdoa dan menghadap kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri dan mencari syafaat, dalil yang menunjukan pendekatan diri (kepada selain Allah) adalah firman Allah azza wajalla :

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ ٣

Artinya: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar“. (QS. Az-Zumar: 3).

Adapun dalil syafaat adalah firman Allah azza wajalla,

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ١٨

Artinya: “dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi? suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)“. (QS. Yunus: 18).

Syafaat ada dua macam:

  1. Syafaat yang ditiadakan oleh syariat.
  2. Syafaat yang ditetapkan oleh syariat.

Adapun Syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah azza wajalla dalam hal-hal yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah azza wajalla, dalilnya adalah firman Allah azza wajalla:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَٰعَةٞۗ وَٱلۡكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٥٤

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim (QS. Al-Baqarah: 254).

Adapun syafaat yang ditetapkan syariat adalah syafaat yang diminta dari Allah azza wajalla, dan orang yang memberikan syafaat akan menjadi terhormat dengan syafaat yang dia berikan, sedangkan orang yang akan mendapatkantkan syafaat adalah orang yang diridzai oleh Allah azza wajalla baik ucapan maupun perbuatannya setelah diizinkan (oleh Allah), sebagaimana firman Allah azza wajalla ;

مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

Artinya: “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?”. (QS. Al-Baqarah: 255).

Kaidah Ketiga: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada manusia yang beragam dalam tata cara peribadatan mereka, ada diantara mereka yang beribadah kepada malaikat, ada diantara mereka yang beribadah kepada para nabi, orang-orang sholih (yang meninggal), ada diantara mereka yang menyembah bebatuan, pepohonan keramat, dan ada diantara mereka yang beribadah kepada matahari dan bulan, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi mereka tanpa membedakan diantara mereka. dalilnya adalah firman Allah azza wajalla,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَلَا عُدۡوَٰنَ إِلَّا عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩٣

Artinya: “dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah“. (QS. Al-Baqarah; 193).

Dalil yang menunjukkan (peribadatan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah azza wajalla.

Artinya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah”. (QS. Fushilat: 37).

Dalil yang menunjukkan (peribadatan kepada) para malaikat yaitu firman Allah azza wajalla.

وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ أَرۡبَابًاۗ أَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡكُفۡرِ بَعۡدَ إِذۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ ٨٠

Artinya: “dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Al-Imran).

Dalil yang menunjukkan (peribadatan kepada) para nabi yaitu firman Allah azza wajalla,

وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ١١٦

Artinya: “dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (QS. Al-Maidah; 116).

Dalil yang menunjukkan (bahwa ada yang beribadah kepada) orang-orang sholih yaitu firman Allah azza wajalla,

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Artinya: ” orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS.al-Isra; 57).

Dalil yang menunjukkan (peribadatan kepada) bebatuan dan pepohonan yaitu firman Allah azza wajalla,

أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ ١٩ وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ ٢٠

Artinya: “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (QS. An-Najm: 19-20).

وحديث أبي واقدٍ الليثي – رضي الله عنه – قال: خرجنا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها: ذات أنواط، فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله إجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط… الحديث.

Hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu berkata; “Kami pernah keluar safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke Hunain sedangkan kami baru masuk Islam, dan orang-orang musyrikin memiliki pohon bidara yang digunakan untuk bersemedi dan untuk (cari berkah dengan) menggantungkan pedang-pedang. Mereka menamakan dengan “Dzatu anwath” (pohon yang memiliki cabang-cabang untuk menggantungkan), tatkala kami melewati pohon bidara lain, kami pun berkata: “Wahai Rasulullah jadikanlah pohon bidara ini sebagai Dzatu anwath bagi kami seperti halnya Dzatu anwath bagi mereka”….sampai akhir al-hadits.

Kaidah Keempat: Sesungguhnya orang-orang musyrik di zaman kita lebih parah dibanding dengan kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu, karena orang-orang musyrik dahulu melakukan kesyirikan di waktu lapang saja dan mereka mengikhlaskan ibadah ketika keadaan susah, sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terus menerus, baik dalam kondisi lapang maupun susah. dalilnya sebagaimana firman Allah azza wajalla,

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ ٦٥

Artinya: “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al-Ankabut; 65).

Demikianlah empat kaidah/landasan dasar yang harus diketahui oleh setiap muslim dalam memahami tauhid. Semoga risalah ini memberikan kemudahan kepada kita semua dalam memahami dien yang haq ini.

Diterjemahkan dari kitab Qowa’idul Arba’ karya Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan.

Oleh:
Al-fakiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu harits
Makkah al-Mukarramah
( 27/6/1434 H )

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda