Menggantungkan Tamiman (Jimat) Pada Anak – Fatawa Seputar Anak Muslim (15)

FATAWA SEPUTAR ANAK MUSLIM (15) – MENGGANTUNGKAN TAMIMAH (JIMAT) PADA ANAK

Makkah al-mukarramah (9/7/1438 H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-fatawa At-tifl Al-muslim, dari Syeikh Abduz Aziz bin Abdillah bin Baz, Syeikh Muhammad bin shalih al-utsaimin, Abdullah bin Abdurrahman bin jibrin, Syeikh bin fauzan al-fauzan dan lajnah daimah lil iftah, dikumpulkan oleh Yahya bin said ali salwan, hal : 13, penerbit dar qosam

No comments

Pertanyaan : Apakah menulis jampi-jampi yang berasal dari al-qur’an dan yang lainnya dan menggantungkannya di leher seorang anak merupakan kesyirikan?

Jawaban: Telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah, jimat dan jampi adalah syirik”. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah, Ibnu Hibban, Hakim dan ia menshahihkannya).

Imam Ahmad, Abu ya’la meriwayatkan dan Al-hakim menshahihkannya dari Uqbah bin amir –semoga Allah meridhainya- sesungguhnya bersabda :

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah/jimat, semoga Allah tidak menyelesaikan urusannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya”.

Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan yang lain dari Uqbah bin Amir dengan lafadz :”Barangsiapa yang menggantungkan tamimah/jimat maka sungguh ia telah berbuat syirik”. Dan Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.

At-tamimah adalah apa-apa yang digantungkan pada anak atau yang lain dalam rangka menolak penyakit ‘ain atau jin dan semisalnya. Sebagian manusia menamainya dengan “HIRZAN/PENANGKAL” dan sebagian yang lain memberi nama “AL-JAMI’AH”, Dan ini ada dua macam:

JENIS PERTAMA : berasal dari nama-nama syetan, tulang, bebatuan, paku, (yaitu huruf-huruf yang terputus-putus) atau semisalnya. Jenis ini tidak diragukan lagi adalah haram karena banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan akan keharamannya. Dan jenis ini merupakan bentuk syirik kecil, Berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas dan yang semakna dengannya. Dan jenis ini bisa menjadi syirik besar apabila orang yang menggantungkan tamimah/jimat ini meyakini bahwa ia dapat memeliharanya, atau menyembuhkannya dari penyakit atau menolak bahaya darinya tanpa izin dan kehendak dari Allah.

JENIS KEDUA : Menggantungkan ayat-ayat atau do’a-do’a dari Nabi berupa do’a yang baik dan semisalnya. Dalam masalah ini para ulama berselisih. Sebagian mereka membolehkannya, mereka mengatakan sesungguhnya itu merupakan salah satu jenis ruqyah yang diperbolehkan. Dan sebagian ahli ilmu yang lain melarang hal tersebut, mereka mengatakan bahwa sesungguhnya itu diharamkan dan mereka berdalil dalam hal itu dengan dua hujjah.

HUJJAH PERTAMA : adalah keumuman hadits-hadits yang melarang dari tamimah dan perintah untuk menjauhinya serta hukum bahwa itu adalah kesyirikan. Maka tidak dibenarkan untuk mengkhususkan sedikitpun dari tamimah dengan kebolehan melainkan dengan hukum yang ditunjukan oleh dalil syar’i. sedangkan di sana tidak ada dalil yang menunjukan atas kekhususan.

Adapun ruqyah, maka dalil-dalil yang shahih telah menunjukannya bahwasannya apa yang berasal dari al-quran dan doa-doa yang diperbolehkan maka itu tidak mengapa dengannya, apabila dengan lisan (bahasa) yang dapat dimengerti artinya sementara orang yang diruqyah tidak menyandarkan diri kepadanya. Akan tetapi ia hanya berkeyakinan bahwa ruqyah hanyalah sebab dari sebab-sebab yang ada. Berdasarkan sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Tidak mengapa dengan ruqyah selama bukan berupa kesyirikan”. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diruqyah dan beliau juga meruqyah sebagian dari sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Tidak ada ruqyah melainkan dari penyakit ‘ain atau panas”.

Hadits-hadits dalam hal tersebut sangat banyak. Adapun tamimah, maka tidak ada pengecualian dalam hadits-hadits yang datang sedikitpun sehingga semua wajib diharamkan demi mengamalkan dalil-dalil yang umum.

HUJJAH KEDUA : Menutup pintu jalan kesyirikan. Ini merupakan prinsip yang agung dalam syariat. Dan telah dipahami, bahwa apabila kita membolehkan jampi-jampi dari al-qur’an dan al-hadits yang membolehkan maka akan terbuka pintu-pintu kesyirikan dan akan menjadi rancu antara jampi-jampi yang terlarang dengan jampi-jampi yang tidak terlarang dan menjadi susah untuk dibedakan antara keduanya melainkan dengan susah payah sehingga wajib untuk menutup pintu tersebut serta menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan.

Dan ini adalah pendapat yang benar karena kejelasan dalilnya. (Syeikh Ibnu baz, fatawa al-mar’ah al-muslimah, 1/162).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman….

(Kami terjemahkan dari kitab : Al-fatawa At-tifl Al-muslim, dari Syeikh Abduz Aziz bin Abdillah bin Baz, Syeikh Muhammad bin shalih al-utsaimin, Abdullah bin Abdurrahman bin jibrin, Syeikh bin fauzan al-fauzan dan lajnah daimah lil iftah, dikumpulkan oleh Yahya bin said ali salwan, hal : 24-25, penerbit dar qosam).
Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (9/7/1438 H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda