Fiqih Do’a

fiqih do'a

Makkah al-mukarramah. (19/5/1435 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

-

No comments

Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Nabi kita Muhammad shallu ‘alaihi wa sallam, segenap keluarga, dan orang-orang yang selalu mengikutinya dengan baik sampai akhir zaman.

Sesungguhnya ibadah itu sangat luas ruang lingkupnya, diantaranya adalah do’a, bahkan doa merupakan ibadah yang sangat mudah bagi siapa saja, kapan saja dan di manapun juga, tanpa ada rasa capek dan kepayahan bagi orang yang mengerjakannya. Dengan kemudahan itu pula sesungguhnya pahala doa sangat besar. Sebagaimana kedudukan keduanya juga sangat agung dan mulia.

Bukan hanya itu, bahkan do’a dapat membukakan berbagai-macam keutamaan dan kebaikan, sebagaimana selalu mengingat Allah Ta’la dapat mewujudkan keamanan dari melupakannya, yang mana itu adalah merupakan sebab celakanya seorang hamba, baik dalam kehidupannya di dunia maupun saat ia kembali kelak di akhirat.

Apabila seorang hamba telah melupakan dirinya dari berdo’a, berarti ia telah membiarkan jiwanya berpaling dari Allah dan melalaikan semua kebaikan sehingga jiwanya akan menjadi rusak dan binasa, bahkan akan menjadi sangat jauh dari petunjuk sehingga dengan demikian ia akan terhalangi untuk beramal shalih serta merasa berat untuk mengerjakan segala kebaikan.

Yang demikian itu, karena sesungguhnya do’a merupakan kunci semua kebaikan dan kebahagiaan bagi seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Apabila Allah telah memberikan kepada seorang hamba kunci tersebut, berarti Allah ingin membukakan semua kebaikan baginya. Begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu, Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan panutan dan suri tauladan kita, beliau selalu berdo’a pada setiap saat dan keadaan. Baik di kala malam maupun siang, dengan terang-terangan atau tersembunyi, dalam kondisi yang umum sampai pada kondisi yang khusus sekalipun.

Beliau biasa berdo’a ketika mendatangi tempat tidurnya, berhubungan dengan istrinya, hendak memasuki atau keluar dari toilet, saat berwudhu, ketika shalat dan sesudahnya, ketika turun hujan, bertiupnya angin kencang, memakai pakaian, masuk dan keluar masjid serta kondisi dan keadaan yang lainnya.

Demikian pula, jika kita kilas balik kehidupan para ulama dan para imam yang terpercaya dari umat ini, dari kalangan kaum as-salaf as-shalih. Mereka sangat berlomba-lomba dalam semua kebaikan, sangat berpaling dari semua kejelekan. Diantara sebabnya adalah karena mereka senantiasa memperbanyak doa kepada Allah, bersungguh-sungguh dan jujur dalam kembali kepada-Nya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa mencontoh panutan kita, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan meneladani kaum as salaf ash shalih, sebagaimana kita memohon kepada-Nya, mudah-mudahan Allah memudahkan kita menempuh jalan do’a kepada-Nya dan menggolongkan kita sebagai orang-orang selalu berdo’a kepada-Nya hingga akhir hayat kita. mudah-mudahkan apa yang kami tulis nanti bermanfaat buat islam dan kaum muslimin.

Pengertian do’a secara bahasa dan istilah :

Pada asalnya kata do’a adalah bentuk masdar, seperti ucapan seseorang “Da’autu as-syaia” wa “ad’u du’aa”, artinya aku berdo’a kepada sesuatu dan aku memohon kepadanya dengan sebuah permohonan. Maksudnya yaitu, kamu mencondongkan sesuatu kepadamu, baik dengan perkataan atau pun suara yang berasal dari kamu[1].

Demikian pula telah ada contoh dalam kamus “da’a ar-rojulu dakwan wa du’aan”, artinya sesorang mengundangnya, maksudnya adalah memanggilnya. Maka kalimat ini da’a, bentuk isim (kata bendanya) adalah ad-dakwah[2].

Adapun pengertian do’a menurut istilah syar’i, maka di sana ada beberapa ungkapan dari para ulama. Diantaranya adalah :

  • Al-khatthaby –semoga Allah merahmatinya- berkata :”Arti doa adalah seorang hamba yang meminta perlindungan dan memohon pertolongan dari-Nya. sedangkan hakikat do’a adalah menampakkan kebutuhan kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari segala daya dan kekuatan (hanya kepada Allah). Do’a merupakan tanda peribadatan, mengakui kehinaan diri. Sebagaimana di dalam do’a mengandung arti pujian atas Allah serta menyandarkan kedermawanan dan kemurahan kepada-Nya[3].
  • Ibnu mandzur –semoga Allah merahmatinya- mengatakan :”Do’a adalah keinginan kepada Allah azza wa jalla”[4].
  • Sebagian mengartikan, bahwa do’a adalah :”Permintaan dari yang lebih rendah(manusia) untuk suatu perbuatan kepada yang lebih tinggi (Allah) dengan cara merendahkan dan menghinakan diri”[5].

Dari beberapa pengertian di atas, intinya adalah bahwa apabila seseorang berdo’a kepada Allah dengan do’a tertentu dalam rangka untuk memenuhi hajatnya, berarti ia telah bersungguh-sungguh kepada Allah dalam meminta dan memohon. Serta mengharap semua kebaikan yang ada pada-Nya[6].

Do’a datang dalam al-qur’an dengan beberapa arti atau maksud, diantaranya :

  • Meminta dan memohon kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al-baqarah :186).

  • Ibadah. seperti firman Allah.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS. Al-kahfi :28).

  • Istighasah. sebagaimana firman Allah.

“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)”. (QS. Al-an’am : 41).

  • Panggilan. Seperti firman Allah.

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat”. (QS. Al-isra’ : 25).

  • Mendorong kepada sesuatu.

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”.(QS. Yusuf : 33).

  • Ketinggian derajat.

“Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat[1323]. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka”. (QS. Ghafir : 43)[7].

Ayat-ayat di atas menunjukkan, bahwa doa merupakan ibadah yang luas cakupannya, tidak terbatas dengan ruang lingkup tertentu, dalam kaitannya dengan amal kebaikan seseorang. Karena sesungguhnya hakikat semua kebaikan adalah mengandung do’a. Oleh karena itu Syeikh Abdurrahman bin nasir as-sa’dy –semoga Allah merahmatinya- berkata :

“semua apa yang datang dalam al-qur’an, baik berupa perintah untuk berdoa, atau larangan berdo’a kepada selain Allah, atau pujian atas orang yang ber’do’a. maka semuanya mencakup do’a mas’alah dan doa ibadah[8]. Dan ini merupakan kaidah yang penting. Karena kebanyakan manusia biasanya langsung memahami maksud dari lafadz do’a adalah untuk do’a mas’alah saja, mereka tidak mengira bahwa semua ibadah masuk ke dalam do’a. maka ini merupakan kesalahan yang dapat menggiring mereka kepada kesalahaan yang lebih jelek”[9].

Wa shallallaahu ‘ala Nabiyyina muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shah bihi ajma’in….

Penulis : Al-faqir ila ‘afwi Robbihi Hamidin As-sidawy, Abu Harits. Makkah al-mukarramah. (19/5/1435 H)

Footnote:

[1] . Maqoyisul lughah (2/27).

[2] . Lisanul al-arab (bab, ‘ain, dzal, wau).

[3] . Sya’nu Ad-du’a (hal:3).

[4] . lisanul al-arab (Bab dzal, ‘ain, wau).

[5] . iddatu ad-da’i. (hal : 12).

[6] . Al-misbah al-munir. (1/194). Dengan sedikit perubahan.

[7] . Al-fawaid, Ibnu qoyim al-jauziyah. (3/5).

[8] . Insyallah akan kami bahas maksud dari keduanya dalam babnya tersendiri.

[9] . Al-qowaid al-hisan (hal: 154).

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda