Fiqih Ikhlas

Fiqih Ikhlas

-

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

-

No comments

Segala pujian Hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Nabi kita, Muhammad yang tidak ada lagi Nabi setelahnya.

Sering sekali kita mendengar ungkapan ini, yaitu ikhlas. Bahkan tidak jarang kita melafadzkannya dengan lisan sebelum beramal. Tentunya dengan harapan agar digolongkan oleh Allah sebagai orang yang ikhlas. kendatipun demikian sedikit diantara kita yang benar-benar memahami hakikat “IKHLAS” yang sesungguhnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat dan dianjurkan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih.

Jika kita bicara secara praktek maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwa tidak ada sesuatu amalan yang paling susah melebihi dari ikhlas dalam beribadah. Sebagaimana tidak ada penyakit yang lebih susah untuk diobati melebihi penyakit niat yang rusak. Oleh karenanya, kita akan menukil dari para ulama salaf tentang kesungguhan mereka dalam menjaga dan mengoreksi hati. Diantaranya adalah apa yang datang dari Yusuf bin asbath ia mengatakan:

“mengikhlaskan niat yang benar dari niat yang salah itu lebih susah dari pada terus – menerus dalam beribadah”[1].

Dari yusuf bin Husain, ia juga mengatakan “sesuatu yang paling susah di dunia adalah ikhlas. Berapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dari hati, maka ia selalu muncul dengan corak yang lain”[2].

Artinya, ia telah berusaha untuk memerangi dari satu sisi, akan tetapi muncul dari sisi yang lain, bersungguh-sungguh menjauhi sifat riya’, muncul sifat yang lainnya, yaitu ujub. Dan begitu pula seterusnya.

Apa sebabnya? karena syetan telah mengalir dalam peredaran darah anak adam, sebagaimana datang dalam sunnah yang shahih. Akan tetapi bukan berarti realisasi ikhlas merupakan perkara yang mustahil atau tidak mungkin diwujudkan. Dan tidak pula berarti apapun daya upaya yang kita usahakan tidak akan dapat menghantarkan seseorang untuk mencapai derajat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas)??!!. Ini adalah merupakan pemahaman dan keyakinan yang salah kaprah.

Oleh karena itu -Saudaraku yang budiman-, semoga dengan tulisan ini bisa menjadi pelita baru dan motivasi kongkrit untuk memahami dan memupuk keikhlasan serta merealisasikannya dalam semua aktifitas kita selama berada di alam yang fana (dunia) ini. Dan hanya kepada Allah kami memohon taufiq.

Pengertian ikhlas menurut bahasa dan istilah.

Secara bahasa ikhlas berasal dari kata “Khalasha (bersih)”, maka maksudnya adalah jernih dan hilangnya semua campuran. Seperti ungkapan “khalasha min warthatihi (bebas dari gangguannya)”, maka maksudnya adalah selamat dan lolos darinya. Adapun yang dimaksud ikhlas dalam ibadah atau amalan adalah meninggalkan riya'[3] dan membersihkannya dari hal-hal atau cabang-cabang yang mengotorinya[4].

Seperti ucapan “Ad-din Al-khalis (agama yang murni)”, maka maksudnya yaitu yang selamat dari campuran riya’, campuran sum’ah, campuran sesuatu yang dapat merusaknya atau bercampur dengan sesuatu yang dapat mengotorinya. Sehingga agama menjadi bersih dan menjadi sebuah amalan yang diterima di sisi Allah Ta’ala.

Demikian pula Allah telah mengabarkan –dengan kekuasaan dan kehendak-Nya- ketika memberi karunia kepada hamba-Nya berupa minuman susu yang keluar antara tahi dan darah dalam keadaan murni dan bersih serta layak diminum. Maka Allah menamakan dan mensifatinya dengan bersih dan murni dalam firmannya:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ

”Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”. (An-nahl : 66).

Adapun secara istilah, maka ulama kita berbeda pandangan dalam hal ini, disebabkan karena perbedaan ijtihad mereka sebagaimana dalam disiplin ilmu yang lainnya. Diantara definisi para ulama tentang IKHLAS adalah:

  • · Ibnu al qoyiim –Rahimahullahu- mengatakan :”Bahwa ikhlas dalam beramal yaitu tidak mencampur amalan dengan keinginan-keinginan jiwa yang mengotorinya, baik mencari simpati di hati makhluq, atau pujian mereka, atau lari dari celaan mereka, mengharap pujian, mencari harta, atau bantuan dan kecintaan mereka, atau demi untuk menunaikan hajat, atau yang lain-lainnya, yang mana intinya adalah menginginkan dengan amal selain Allah, apapun bentuknya[5]. Beliau juga mengatakan :”Apa yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga ia menulisnya, tidak diketahui oleh musuh sehingga ia merusaknya dan tidak pula dikagumi oleh pelakunya sehingga ia dapat membatalkannya”[6].
  • · Abu Ustman Said bin Ismail –Rahimahullah- mengatakan- :”Bahwa ikhlas adalah menginginkan dengan niat, amal dan perbuatan ridha Allah Ta’ala, karena takut dari murka Allah. Seakan-akan kamu melihat-Nya dengan hakikat amalmu bahwasannya Allah melihatmu sehingga hilanglah riya’ darimu. Kemudian ingatlah karunia-Nya atas kamu ketika Allah memberikan taufiq kepadamu dalam beramal sehingga hilanglah kesombongan dari hatimu, lalu engkau menggunakan kelembutan dalam beramal sehingga hilanglah ketergesa-gesaan dari hatimu[7].
  • · Il-imam Ahmad al-maqdisi berkata :”ketahuilah bahwa segala sesuatu dapat dicampuri dengan yang lainnya. jika sesuatu bersih dari yang mencampurinya maka itu dinamakan ikhlas. Karena ikhlas adalah kebalikan syirik. Barang siapa tidak ikhlas berarti ia adalah orang musyrik, hanya saja kesyirikan bertingkat-tingkat”[8].
  • · Ali al-jurjany berkata : ikhlas adalah tabir antara Allah Ta’la dan hamba-Nya, yang tidak dapat diketahui oleh malaikat sehingga ia tulis (sebagai suatu kebaikan) dan tidak pula diketahui oleh syetan sehingga ia merusaknya[9].
  • · Ada yang mengatakan, bahwa Ikhlas :”yaitu bermaksud kepada yang diibadai (Allah) saja dalam ibadah”[10], sebagamana Allah berfirman dalam (Surat Alkahfi : 110).
  • · Ada yang berpendat, bahwa ikhlas adalah :”Membersihkan hati dari semua campuran yang mengotori kessuciannya”[11].
  • · Ada yang berpendapat pula, bahwa ikhlas adalah :”menjaga diri dari pandangan mahluk”[12].
  • · Ada yang mengatakan, bahwa ikhlas yaitu :”Mengesahkan kebenaran Allah Ta’la dalam semua ketaatan dan niat”[13].
  • · Ada juga yang mengatakan :”bahwa ikhlas yaitu hendaklah pendorong untuk melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan dalam rangka mencari Ridza Allah”[14].
  • · As-susy berkata :”Ikhlas adalah meniadakan melihat keikhlasan”. Karena barang siapa yang mencermati ikhlas dalam keikhlasannya berarti keikhlasannya telah membutuhkan keikhlasan. Karena orang yang ikhlas adalah orang yang bersih dari semua cela atau aib.

Sahl berkata :”ikhlas yaitu ketenangan dan gerakan seorang hamba yang diberikan hanya kepada Allah secara khusus”.

ikhlas yaitu Kesamaan amal seorang hamba dari sisi dzahir dan batin. Sedangkan riya’ adalah dzahir amalan seseorang lebih baik dari batinnya. Sedangkan jujur dalam keikhlasan adalah Keadaan batin seseorang lebih baik dari pada dzahirnya.

Ada pula yang berpendapat, bahwa ikhlas adalah memurnikan amal dari pantauan mahluk serta menghindari kekaguman dengan dirinya sendiri.

Ada pula yang berkata, bahwa ikhlas yaitu engkau tidak mengharap saksi atas amalanmu melainkan Allah.

Al-harits al-mahasiby berkata :”Ikhlas adalah mengeluarkan amalan makhluq dari muamalah dengan Allah”[15].

Berdasarkan semua definisi di atas jelaslah, bahwa sesungguhnya ikhlas yaitu memberikan semua amal hanya kepada Allah dan mendekatkan diri hanya kepada-Nya saja, tanpa disertai dengan riya, atau sum’ah dan tidak pula demi mengharap imbalan atau kesenangan sementara. akan tetapi hanya mengharap pahala dari Allah dan takut akan adzab-Nya serta mengharap ridha-Nya.

Syeikh Al-asyqor berkata :”Seorang hamba terkadang berniat begini, terkadang begitu, bahkan kadang kalah berniat lebih dari satu. Semua berujung ke satu tujuan dan pada akhirnya bermaksud satu, yaitu seorang hamba yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan yang lainnya. Maka semua niat diatas dapat mewujudkan keikhlasan dan pemilik niat tersebut berada diatas jalan yang lurus dan petunjuk serta kebenaran[16].

Oleh karena itu al-fudzail bin iyadz –semoga Allah merahmatinya- berkata : ”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan mengerjakan amal demi manusia adalah syirik sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkan kamu dari keduanya (riya’ dan kesyirikan)”.

Sedangkan arti ikhlas dalam kehidupan seorang muslim, yaitu hendaklah ia niatkan dalam amalannya, perbuatannya serta semua langkah dan aktifitas, baik yang kecil maupun besar, baik yang berhubungan dengan lahir maupun batin hanya untuk mengharap wajah Allah Ta’ala saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Penulis : Al-faqir ila ‘afwi Robbihi
Hamidin As-sidawy, Abu harits. (Makkah al-mukarramah, 11/5/1435 H)

Footnote:

[1] . Al-mujalasah wa jawahir al-ilmi, karya Ad-dinyury, hal :725.
[2] . Hajatuna ilal ikhlas, Muhammad shalih al-munajjid, hal:22.
[3] . Lihat al-mu’jam al-wasit (1/249) dan mukhtar as-shihah (ha:77).
[4] . Mu’jam maqoyisu al- lughah, Ibnu faris (2/208).
[5] . Madarijus salikin, karya Ibnu qoyim (2/88).
[6] . Al-fawaid, Ibnu qoyyim, hal : 148.
[7] . Al-ikhlas, karya al-uwaisah (hal: )
[8] . Mukhtashar minhajil al-qosidin (hal : 399).
[9] . Kitab At-ta’rifat, hal : 14.
[10] . ‘Umdatul huffadz, karya As-samin al-halafy (1/600).
[11] . At-tauqif ‘ala muhimmati at-ta’arif, karya Al-munawy, hal :43.
[12] . Ar-risalah al-qusairiyah: 2/444.
[13] . Ar-risalah al-qusairiyah: 2/443.
[14] . At-tahrir wa At-tanwir, karya Ibnu As-syur, (23/318).
[15]. Tahdzib al-muhlikat wal munjiyat min kitab ihya ulumuddin, karya abi hamid al-gozali, hal : 269. cet. Ar-riasah al-ammah li su’un masjidil haram wa masjid an-nawaby.
[16] . maqoshidu al-mukallafin, hal : 409.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda