Hadits-Hadits Berkenaan Anjuran Dzikir Pagi dan Petang, Wajibnya Shalat, dan Lain-Lain ( Mutiara Hadits Pilihan – Bagian 2 )

hadits berkenaan anjuran dzikir pagi dan petang

Makkah al-mukarramah (27/05/1437H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Hadits-Hadits Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim

No comments

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam semoga tetap terlimpah atas Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan utusan, kepada segenap keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kemudian.

Para pembaca budiman, ini merupakan lanjutan kemarin dari hadits-hadits shahih pilihan, yang diriwayatkan oleh oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dimana isi dan kandungan dari kandungan hadits–hadits ini sangat variatif dan menarik untuk memupuk iman dan amal shalih kita insyaAllah. Kami terjemahkan berdasarkan permintaan dari salah satu kantor Islamic center yang ada dimekkah al-mukarramah dan kami pun beri judul sendiri, tanpa adanya maraji’ kitab dari asalnya (Islamic center). Dan agar faidah-faidah lebih banyak dan tersebar maka kami luncurkan disini. Semoga bermanfaat buat semuanya.

1. Allah Ta’ala berfirman: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang, (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. An Nuur:36-38).

2. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS.Faathir:29-30).

3. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki”. (QS.Al Jumu’ah:9-11).

4. Allah Ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Hud:114).

5. Allah Ta’ala berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS.Thaahaa:132).

6. dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian berwudhu di rumahnya lalu ia pergi ke masjid, maka ia masih dikategorikan sebagai orang yang shalat hingga ia kembali (ke rumahnya), dan janganlah melakukan seperti ini, seraya beliau menjalinkan di antara jari-jari tangannya.” [HR. Al Hakim dalam kitab Shahih Al Jami’).

7. Dari salah seorang sahabat ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda: Wahai Bilal, berdirilah! Buatlah kami beristirahat dengan shalat.” (HR.Abu dawud dan dishahihkan oleh al bani dalam shahih al jami’).

8. Dari Sibrah Bin Ma’bad Al Juhani –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Ajarkanlah anak untuk melakukan shalat di waktu usia dia tujuh tahun, dan pukullah ia usia 10 tahun (jika ia melalaikannya)”. (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Bani dalam Shahih Al Jami’).

9. Dari Abdullah Bin Umar -semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Orang yang luput dari shalat ashar seakan-akan ia telah kehilangan keluarga dan hartanya”. ( HR. Bukhari dan Muslim).

10. Dari Ibnu ‘ammarah Bin Ruaibah dari bapaknya –semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk neraka, orang yang shalat sebelum matahari terbit dan setelah terbenam matahari”. Maksudnya: shalat fajr dan ashar. (HR. Muslim).

11. Dari Abu Musa Al Asy’ary –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat Bardain (shalat shubuh dan ashar) maka ia akan masuk surga”. (HR.Bukhari dan Muslim).

12. Dari Anas Bin Malik –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Dahulu kami shalat bersama Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam dalam keadaan sangat panas, jika salah seorang diantara kami tidak mampu meletakkan keningnya di tanah, maka ia bentangkan kainnnya, kemudian sujud di atasnya”.(HR. Bukhari dan Muslim).

13. Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah (menuju masjid) untuk shalat, dan hendaklah kalian datang dengan tenang dan tunduk, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan shalat (bersama imam) maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang kalian ketinggalan maka sempurnakanlah”. (HR.Bukhari dan Muslim).

14. Dari Al Bara’ Bin Azib –Semoga Allah meridhainya- berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam membaca surah At Tiin pada shalat isya, dan aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih indah suara dan bacaannya dari pada beliau”. (HR. Bukhari dan Muslim).

15. Dari Anas Bin Malik –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Aku sama sekali tidak pernah shalat di belakang imam yang paling ringan shalatnya dan paling sempurna dari pada shalatnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau mendengar suara tangisan anak kecil, maka beliau meringankan shalatnya khawatir mengganggu ibunya”. (HR. Bukhari).

16. Dari Abdullah Bin Malik Bin Buhainah –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi Wa sallam apabila shalat beliau merenggangkan kedua tangannya hingga nampak putih kedua ketiaknya”. (HR.Bukhari).

17. Dari Nu’man Bin Bisyr –Semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih”.

Dan dalam lafadz Muslim: “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan ‘qadah’ (Kayu untuk anak panah ketika dipahat dan diasah menjadi anak panah) sehingga beliau yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau melihat salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau bersabda : “Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih”. (HR. Muslim).

18. Dari Al Barra’ Bin Azib –Semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila mengucapkan “sami’allahu liman hamidah”, tidak ada seorangpun dari kami yang mengangkat punggungnya, sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, kemudian barulah kami sujud setelahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

19. Dari Abu Hurairah –Semoga ALLah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya bersamaan dengan ucapan âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari).

20. Dari Abdullah Bin Umar –Semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Shalat berjama’ah adalah lebih utama dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

21. Dari ‘Aisyah –Semoga Allah meridhainya- ia berkata; “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam tentang menoleh di tengah shalat, beliau mengatakan: itu adalah pencurian yang dilakukan syetan dari shalat seorang hamba”. (HR. Bukhari).

22. Dari Zaid Bin Arqam –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “dahulu kami saling berkata di saat shalat, seseorang berbicara dengan temannya di sampingnya di saat shalat hingga turunlah ayat, “Waquumuu Lillaahi Qaanithiin” Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Maka kami diperintah untuk diam dan dilarang untuk berbicara (di saat shalat)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

23. Dari Anas Bin Malik –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi w asallam bersabda: “Luruskanlah kalian ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kalian membentangkan kedua sikunya seperti anjing membentangkannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

24. Dari Anas Bin Malik –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang diperbuat kaum-kaum itu, mereka mengangkat pandangan mereka ke langit? Kemudian beliau mengeraskan perkataannya hingga beliau mengatakan: apakah mereka mau berhenti dari perbuatan itu atau mereka ingin pandangannya disambar?”. (Bukhari dan Muslim).

25. Allah ta’ala berfirman: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Baqarah: 271).

26. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. (QS. An Nisa: 114).

27. Dari Abi Mas’ud Al Badri –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh seorang muslim apabila menginfakkan suatu nafkah kepada keluarganya dan dia berharap kepada Allah, maka baginya pahala bersedekah“. (HR. Muslim).

28. Dari Hudzaifah –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perbuatan ma’ruf (Baik) adalah sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

29. Dari Abdullah Bin ‘Amr –Semoga Allah meridhai keduanya- Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Makanlah kalian dan bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tanpa berlebih-lebihan dan tidak menyombongkan diri”. (HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Bani di dalam sunan An Nasai).

30. Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil yang baik, melainkan Allah akan menerimanya dengan kanan-Nya, lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung”. (HR. Bukhari dan Muslim).

31. Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu-dua butir kurma.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab,”Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat), dan mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain”. (HR. Bukhari dan Muslim).

32. Dari Miqdam Bin Ma’d Yakrib Az Zubaidy –Semoga Allah meridhainya- Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al bani di dalam sunan Ibnu Majah).

33. Dari Abi Sa’id Al Khudry –Semoga Allah meridhainya- bahwa ada beberapa orang dari kalangan Anshar meminta (pemberian shodaqah) kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka Beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali, lalu Beliau memberi. Kemudian mereka meminta kembali lalu Beliau memberi lagi hingga habis apa yang ada pada Beliau. Kemudian Beliau bersabda: “Apa-apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) sekali-kali tidaklah aku akan meyembunyikannya dari kalian semua. Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran”. (HR. Muslim).

34. Dari Anas bin Malik –Semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam “Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

35. Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa berbicara atas namaku dengan sesuatu yang aku tidak mengatakannya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka, dan barangsiapa yang saudaranya se muslim meminta pendapat, kemudian dia menunjukkannya dengan jalan yang salah, maka dia telah mengkhianatinya. dan barangsiapa yang memberi fatwa dengan fatwa yang tidak benar, maka dosanya ditanggung oleh sang pemberi fatwa”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh ahmad syakir).

36. Dari Mu’awiyah Bin Jahimah, bahwasanya Jahimah datang kepada Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam, lalu mengatakan: Wahai Rasulullah! Aku ingin ikut peperangan, dan kini aku datang kepadamu untuk meminta pendapat, maka beliau bertanya: Apakah kamu memiliki ibu? Dia menjawab: ya. Kemudian belau mengatakan: temanilah ibumu karena surga ada di bawah kakinya”. (HR. Ahmad dan dijayyidkan isnadnnya oleh Al Bani di dalam misykat Al Mashabih).

37. Umar Bin Khaththab –Semoga Allah meridhainya- berkata: “Jenis orang itu ada tiga: pertama, orang yang dilimpahkan kepadanya segala perkara kemudian dia luruskan dengan pendapatnya sendiri. kedua, orang yang memusyawarahkan sesuatu yang belum jelas baginya, kemudian dia menyetujui pendapat ahli ra’yu (orang yang memberi pendapat). dan ketiga, orang yang bingung, dia tidak berkonsultasi dan tidak pula ta’at pada yang menunjukinya”. (Adab Ad Dunya Wad Din).

38. Dari Ibnu Abbas –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Telah datang ‘uyainah Bin Hushn Bin Hudzaifah kemudian singgah di tempat anak saudaranya yang bernama Al hurr Bin Qais, dia adalah termasuk orang-orang yang dekat dengan Umar dan salah satu qurra’ untuk majlisnya sahabat-sahabat Umar, sedang majelis legislatifnya adalah orang-orang yang berusia antara 30-50 tahun dan juga para pemuda. ‘Uyainah berkata kepada anak saudaranya (Al Hurr): Wahai anak saudaraku, sungguh engkau memiliki kedudukan di hadapan pemimpin itu (Umar), maka mintakanlah izin untukku supaya bisa menemuinya. Al Hurr berkata: Aku akan mintakan izin untukmu kepadanya. Ibnu Abbas berkata: Maka Al Hurr memintakan izin untuk Uyainah, lalu Umar mengizinkannya untuk masuk. Ketika Uyainah Masuk dia berkata: Wahai Ibnu Khaththab! Demi Allah engkau tidak pernah memberi kami suatu yang banyak dan engkau tidak menerapkan keadilan diantara kami. Maka Umar pun marah hingga berniat akan melakukannya. Kemudian Al Hurr berkata: Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya Shallallaahu’alaihi wa sallam :”Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (QS.Al A’raf:199). dan orang ini termasuk orang yang bodoh. Demi Allah sungguh Umar tidak melewatinya ketika dibacakan ayat kepadanya, beliau adalah orang yang senantisa berdiri/diam di saat dibacakan kitabullah”. (HR.Bukhari).

39. Dari Al Hasan –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Demi Allah! Tidaklah suatu kaum meminta pendapat kecuali mereka ditunjukkan kepada sesuatu yang lebih utama di hadapan mereka”. Allah ta’ala berfirman: “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; (QS.Asy Syuura:38). Fadhullaah Ash Shamad dalam kitab Syarhul adab Al Mufrad.

40. Dari Al Hasan Al Bashry dan Adh dhahhak, keduanya berkata: “Tidaklah Allah perintahkan Nabi-Nya bermusyawarah untuk keperluan tertentu menurut pendapat mereka, melainkan Allah ingin mengajari kepada mereka kemuliaan yang ada dalam bermusyawarah dan supaya diteladani oleh ummat setelahnya”.(Tafsir Al Qurthuby).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (27/05/1437H)

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda