Hadits berkenaan Keutamaan Shalat, Menjawab Adzan, dan Lain-Lain ( Mutiara Hadits Pilihan – Bagian 1 )

Hadits Berkenaan dengan Keutamaan Shalat

Makkah al-mukarramah (25/05/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Hadits-Hadits Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim

No comments

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam semoga tetap terlimpah atas Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan utusan, kepada segenap keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kemudian.

Para pembaca budiman, berikut ini adalah terjemah mutiara hadits-hadits shahih pilihan, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dimana isi dan kandungan dari kandungan hadits–hadits ini sangat variatif dan menarik untuk memupuk iman dan amal shalih kita insyaAllah. Kami terjemahkan berdasarkan permintaan dari salah satu kantor Islamic center yang ada dimekkah al-mukarramah dan kami pun beri judul sendiri, tanpa adanya maraji’ dari asalnya. Dan agar faidah-faidah lebih banyak dan tersebar maka kami luncurkan disini. Semoga bermanfaat buat semuanya.

1. Dari Abu Said Al khudry –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku tunjukkan kalian sesuatu yang Allah menghapus segala kesalahan dengannya dan bertambah pula segala kebaikan? para sahabat menjawab: mau wahai Rasulullah. Kemudian beliau mengatakan: menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, menunggu waktu shalat berikutnya setelah shalat, tidaklah salah seorang diantara kalian yang keluar dari rumahnya kemudian shalat bersama imam, kemudian dia duduk menunggu waktu shalat berikutnya, melainkan malaikat akan berkata: Ya Allah ampunilah dia dan beri rahmatlah dia”. (HR.Muslim).

2. Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Selama seorang hamba masih melakukan shalat di tempatnya menunggu shalat (berikutnya), Malaikat akan berkata: Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia, hingga dia pergi atau berhadats”. (Yakni kentut atau keluar angin). (HR. Muslim).

3. Dari Abu Hurairah – Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: Malaikat malam dan malaikat siang saling bergantian, mereka berkumpul pada shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar. Kemudian yang bertugas di waktu malam naik, Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada mereka, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui, “Bagaimanakah kamu meninggalkan hamba-hamba-Ku?”. Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka ketika mereka sedang melaksanakan shalat dan kami datang kepada mereka ketika mereka sedang melaksanakan shalat”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

4. Dari Jabir bahwasanya Rasululloh bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku: aku ditolong dengan dengan rasa takut (yang muncul di hati musuh) sebulan perjalanan: dijadikan untuk diriku tanah sebagai masjid dan alat bersuci, maka siapapun orang dari umatku yang menjumpai waktu sholat, hendaklah sholat, dihalalkan bagiku ghonimah (harta rampasan perang) yang tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelumku, aku diberi syafa’at dan seorang Nabi (sebelumku) hanya diutus kepada kaumnya saja tetapi aku diutus kepada seluruh manusia”.(HR. Bukhori dan Muslim).

5. Dari Abdullah bin Umar -Semoga Allah meridhai keduanya-: “Ketika manusia di quba shalat shubuh, tiba-tiba datanglah orang yang berkata: ”Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah turun kepadanya Al Qur’an semalam, beliau disuruh untuk menghadap qiblat, menghadaplah kalian ke qiblat, ketika itu mereka menghadap ke arah syam, merekapun memutar ke arah ka’bah”. (HR.Bukhari).

6. Dari Abi Juhaim Bin shammah Al Anshary -Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui (keburukan) apa yang dia dapatkan maka berdiri menanti empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. Abu An nadhar berkata: Aku tidak tahu yang beliau maksud itu apakah empat puluh hari atau empat puluh bulan ataukah empat puluh tahun. (HR al-Bukhari dan Muslim).

7. Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda :”Sesungguhnya Rasululloh Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika dikumandangkan adzan untuk sholat, maka Syeitan lari dan ia memiliki suara kentut sampai ia tidak mendengar adzan. Jika selesai adzan maka ia datang kembali sampai jika diiqamatkan untuk sholat maka ia akan lari lagi sehingga selesai Al tatswieb (iqamat), maka ia datang kembali sehingga membisikkan (mengganggu) antara seseorang dengan hatinya, syeitan menyatakan: Ingatlah ini dan itu, untuk sesuatu yang belum pernah ia ingat sebelumnya, sehingga seseorang itu berada dalam keadan tidak tahu jumlah rakaat sholatnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Dari Umar Bin Khaththab –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:”Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim).

9. Dari Abdullah Bin ‘Amr Bin Al ‘ash –Semoga Allah meridhai keduanya- Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yg diucapkannya kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya orang yg membaca shalawat sekali untukku, maka Allah akan menganugerahkan sepuluh shalawat (rahmat) kepadanya, lalu mohonlah kepada Allah Azza wa Jalla Wasilah (kedudukan yang tinggi) untukku. Karena wasilah itu suatu kedudukan yang tinggi dalam surga, yang tak pantas kecuali bagi seseorang di antara hamba-hamba Allah Ta’ala, & saya berharap semoga sayalah yang akan menempatinya. Barangsiapa yang memohonkan wasilah kepada Allah untukku, niscaya dia akan mendapat syafaat”. (HR. Bukkhari dan Muslim).

10. Dari Jabir Bin Abdullah –Semoga Allah meridhai keduanya ia berkata, Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:”Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA’IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA’ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat”. (HR. Bukhari).

11. Dari Abu Sa’id bin al khudry berkata : “Aku tengah sholat di masjid, lalu Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam memanggilku, dan akupun tidak menjawab panggilan beliau. Aku berkata : Ya Rasulullah, tadi aku sedang sholat. Beliau berkata : Bukankah Allah berfirman :“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. Kemudian beliau berkata kepadaku : “aku sungguh akan mengajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung dalam al Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid”. Kemudian beliau memegang tanganku. Ketika beliau ingin keluar, aku berkata kepadanya : bukankah engkau berkata akan mengajarkan kepadaku suatu surat yang paling agung dalam al Qur’an? Beliau berkata : “alhamdulillah Robbil ‘Alamin”, ia adalah tujuh ayat yang berulang dan al Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku. (HR.Bukhari).

12. Dari Abu Qatadah Al Anshary –Semoga Allah meridhainya ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam pernah membaca dalam dua rakaat pertama pada shalat dzuhur surat al-Fatihah dan dua surah. Beliau membaca surat yang panjang pada rakaat pertama dan membaca surat yang pendek pada rakaat kedua, dan kadang-kadang memperdengarkan kepada kami dalam membaca ayat. Begitu juga shalat ashar beliau membaca surah al fatihah dan dua surah, beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama shalat shubuh dan memendekkan rakaat kedua”. (Bukhari dan Muslim).

13. bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengutus seorang laki-laki dalam sebuah eskpedisi militer, lantas laki-laki tersebut membaca untuk sahabatnya dalam shalatnya dengan QULHUWALLAHU AHAD (Surat al Ikhlash) dan menutupnya juga dengan surat itu. Dikala mereka pulang, mereka menceritakan hal ini kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , lantas Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Tolong tanyailah dia, mengapa dia berbuat sedemikian? ‘ Mereka pun menanyainya, dan sahabat tadi menjawab, ‘Sebab surat itu adalah menggambarkan sifat Arrahman, dan aku sedemikian menyukai membacanya.’ Spontan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah menyukainya”. (HR. ukhari dan Muslim).

14. Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu? beliau menjawab: aku membaca do’a: Ya Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin”. (HR. Bukari dan Muslim).

15. Dari Abdullah Ibnu Umar –Semoga Allah meridhai keduanya- bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat dan ketika bertakbir untuk ruku’ dan juga ketika mengangkat kepalanya dari ruku beliau juga mengangkat keduanya, dan mengucapkan “Sami’allaahu liman hamidah” beliau tidak melakukannya ketika sujud”.(HR. Bukhari dan Muslim).

16. ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasanya membuka sholat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam). Bila beliau ruku’ beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya tetapi pertengahan antara keduanya; bila beliau bangkit dari ruku’ beliau tidak akan bersujud sampai beliau berdiri tegak; bila beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak akan bersujud lagi sampai beliau duduk tegak; pada setiap 2 rakaat beliau selalu membaca tahiyyat; beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan kakinya yang kanan; beliau melarang duduk di atas tumit yang ditegakkan dan melarang meletakkan kedua sikunya seperti binatang buas; beliau mengakhiri sholat dengan salam. (HR. Muslim).

17. Dari Abi Qatadah al-Anshâri, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat sambil membawa Umâmah binti Zainab binti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari (pernikahannya) dengan Abu al-Ash ibn Rabi’ah ibn Abdu Syams. Bila sujud, beliau menaruhnya dan bila berdiri beliau menggendongnya. (al-Bukhari dan Muslim).

18. Ibnu Mas’uud berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajariku tasyahud – dan telapak tanganku berada di dalam genggaman kedua telapak tangan beliau – sebagaimana beliau mengajariku surat dalam Al-Qur’an : ‘At-tahiyyaatu lillaah, wah-shalawaatu wath-thayyibaat, assalaamu’alaika ayyuhan-nabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu al-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh (Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih (apabila mmengatakan hal ini maka akan mengena terhadap setiap hamba Allah yang shalih baik di langit maupun di bumi), Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)’ kemudian dia memilih permohonan apa saja yang dia kehendaki”. (HR. Bukhari dan Muslim).

19. Dari Ka’b bin ‘Ujrah –Semoga Allah meridhainya- lalu dia berkata; “Maukah kamu aku beri petunjuk? Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam pernah keluar menemui kami, lalu kami bertanya; “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui salam kepadamu, lalu bagaimanakah caranya bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: “Ucapkanlah; ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALII IBRAAHIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA ‘ALAA ‘AALI IBRAHIIMA INNAKA HAMIIDUM MAJIID (Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahiim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia).” (HR. Bukhari dan Muslim).

20. Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Shalat berjama’ah itu belipat ganda (pahalanya) dari pada shalat sendirian di rumah atau di pasar dengan dua puluh lima lipat. Yang demikian itu karena seseorang jika menyempurnakan wudlu kemudian keluar ke masjid, ia tidak keluar melainkan untuk shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki selangkah melainkan terangkat satu derajat dan dihapuskan satu dosa. Dan setelah shalat, ia selalu didoakan oleh para malaikat selama ia di tempat shalatnya (dan belum berhadats). Malaikat berdoa Alloohumma sholli ‘alaih, Alloohummarhamhu (Ya Allah, berilah shalawat padanya, ya Allah berilah rahmat padanya). Dan terus-menerus ia dianggap shalat selama ia menantikan shalat”. (HR. Bukhari).

21. Dari Abdullah Ibnu ‘Abbas –Semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata, “Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridlai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

22. Dari Anas bin Malik –Semoga Allah meridhainya- dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,”Siapa yang terlupa shalat, maka lakukan shalat ketika ia ingat dan tidak ada tebusan kecuali melaksanakan shalat tersebut, dan beliau membaca ayat: “dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”. (QS. Thaahaa:14), dan dalam lafadz Muslim: “Siapa yang terlupa atau tertidur dari shalat, maka tebusannya adalah ia melakukan shalat ketika ia ingat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

23. Dari Jabir –Semoga Allah meridhainya- Bahwa Umar bin Al Khaththab –Semoga Allah meridhainya- datang pada hari peperangan Khandaq setelah matahari terbenam sambil memaki-maki orang-orang kafir Quraisy dan berkata, “Wahai Rasulullah, Aku belum melaksanakan shalat ‘Ashar hingga matahari hampir terbenam!” Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam menjawab, “Demi Allah, Aku sendiri juga belum melaksanakannya.” Kemudian kami berdiri menuju Bath-han, beliau berwudlu dan kami pun ikut berwudlu, kemudian beliau melaksanakan shalat ‘Ashar setelah matahari terbenam, dan setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib.” (HR. Bukhari dan Muslim).

24. Dari Aisyah –Semoga Allah meridhainya- dia berkata, “Tidaklah aku melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sejak beliau diberi wahyu, ‘Idza Ja’a Nashrullah wa al-Fath’ melakukan shalat, melainkan beliau berdoa atau mengucapkan di dalamnya, ‘SUBHAANAKA ROBBII WABIHAMDIKA ALLOOHUMMAGH FIRLII Mahasuci Engkau wahai Rabbku dan dengan memujiMu, ya Allah, ampunilah aku. Dan dalam lafadz lain: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam di dalam ruku’ dan sujudnya senantiasa memperbanyak membaca , SUBHAANAKALLAAHUMMA WABIHAMDIKA ALLOOHUMMAGH FIRLII Maha suci Engkau Ya Allah dan dengan memujiMu, ampunilah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

25. Dari Abu Bakar al-Siddiq –Semoga Allah meridhainya- bahwa ia telah memohon kepada Rasulullah Shallallaahu’alaihi Wa sallam: “Ajarilah aku suatu do’a yang dapat dipanjatkan dalam shalatku”, maka Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: Bacalah do’a : “Allaahumma Innii dzalamtu Nafsii dzulman katsiiraa,Walaa yaghfirudz dzunuuba illa Anta,faghfilrii Maghfiratan Min ‘Indik War hamnii Innaka Antal Ghafuurur Rahiim”. Ya Allah sungguh aku telah banyak berbuat dzalim terhadap diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, maka berilah aku ampunan dari-Mu, dan kasihanilah aku sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (HR. Bukhari dan Muslim).

26. Dari Ibnu Abbas –Semoga Allah meridhai keduanya- “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya. Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir”. (HR. Bukhari dan Muslim).

27. Dari Warrad budak al-Mughirah Ibnu Syu’bah –Semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada setiap selesai sholat fardlu selalu membaca: (artinya = Tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa tiada sekutu bagi-Nya bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tiada orang yang kuasa menolak terhadap apa yang Engkau berikan dan tiada orang yang kuasa memberi terhadap apa yang Engkau cegah dan tiada bermanfaat segala keagungan karena keagungan itu hanyalah dari Engkau”. (HR. Bukhari dan Muslim).

28. Dari Ibnu Sa’id dari Ibnu As Sa’idi Al Maliki bahwa dia berkata; Umar Bin Al Khaththab menugaskanku sebagai pemungut zakat, setelah aku selesai melaksanakannya aku serahkan (Zakat) kepadanya, lalu Umar memerintahkanku untuk mengambil uang (upah), maka aku berkata kepadanya; “Aku bekerja hanya untuk Allah dan balasanku hanya dari Allah.” Umar menjawab; “Ambillah apa yang diberikan kepadamu, karena aku pernah mengalaminya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menugaskanku (untuk memungut zakat) lalu aku mengatakan seperti perkataanmu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apabila kamu diberi sesuatu tanpa kamu memintanya, maka makanlah dan bersedekahlah”. (HR. Muslim).

29. Dari ‘iyadh Bin himar Al Majasyi’I –Semoga Allah meridhainya- bahwa suatu saat Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khuthbahnya:“Penduduk surga ada tiga golongan: penguasa yang adil, bersedekah dan mendapat taufik, dan seorang yang pengasih, berhati lembut kepada setiap kerabat dan setiap muslim, seorang yang miskin dan memelihara kehormatannya (merasa cukup dengan apa yang ada), dan memiliki tanggungan keluarga.” (HR. Muslim).

30. Dari Jabir –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam menemui Ummu Mubasyir Al Anshariyah di kebun kurma miliknya , kemudian beliau bertanya: “siapa yang menanam pohon kurma ini apakah dia seorang muslim atau kafir?” ummu Mubasyir menjawab: seorang muslim. Kemudian beliau bersabda: “tidaklah seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh manusia ,binatang melata atau sesuatu yang lain, melainkan hal itu bernialai sedekah baginya”. (HR. Muslim).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (25/05/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda