Hadits Jibril : Islam, Iman, Ihsan (bag. 2) – Hadits Al-Arba’in An-Nawawiyah

Makkah Al-Mukarramah

Ditulis oleh: Ummu Nawwaf Yusfiani

Sumber:

AL-ARBA'IN AN-NAWAWIYYAH

1 comment

PEMBAHASAN HADITS KEDUA DARI HADITS AL-ARBA’IN AN-NAWAWIYAH BAGIAN KEDUA :

Pembahasan ini adalah kelanjutan dari pembahasan hadits sebelumnya, yaitu Hadits Jibril : Islam, Iman, Ihsan (bag. 1)

Maksud kalimat :

 

( قال : “فأخبرني عن الإحسان” قال : “أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك )

Artinya : Dia berkata : “Beritahukanlah kepadaku tentang IHSAN” , Beliau menjawab : “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika keadaanmu tidak dapat melihat-Nya maka (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihat-mu” .

 

Definisi IHSAN sebagaimana yang diutarakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengisyaratkan bahwasanya apabila seorang hamba beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sambil merasakan kedekatan dengan-Nya seakan-akan dia berada di hadapan-Nya serta melihat-Nya , hal tersebut niscaya dapat mendatangkan rasa takut & peng-agungan kepada-Nya, demikian juga dia akan berusaha se-maksimal mungkin untuk memperbagus ibadahnya tersebut dan melaksanakannya dengan sempurna . [1]

Dari definisi ini, maka Ihsan memiliki dua tingkatan :

1. Tingkatan Ath-Thalab / Tuntutan

Yaitu : Engkau (tertuntut) untuk beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.

2. Tingkatan Al-Harab / Peringatan

Yaitu : Engkau beribadah kepada Allah dan Allah ‘Azza wa jalla melihat , maka berhati-hatilah. [2]

Maksud kalimat :

 

( قال: “فأخبرني عن الساعة” قال : “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل )

Artinya : Dia berkata : “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kebangkitan”, Beliau menjawab : “Tidaklah orang yang ditanya tentang hal itu lebih mengetahui dari pada yang bertanya” .

 

* As-Saa’ah artinya : Hari di bangkitkannya manusia dari kuburan-kuburan mereka menuju Allah Subhanahu wa ta’ala.[3]

Maksud kalimat tersebut adalah : Bahwasanya kita sebagai makhluk Allah sama-sama tidak mengetahuinya, karena watu hari kebangkitan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ‘Azza wa Jalla .[4]

Maksud kalimat :

 

( قال: “فأخبرني عن أماراتها” قال: “أن تلد الأمة ربتها, وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان, ثم انطلق)

Artinya : Dia bertanya : “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya” , beliau menjawab : “Seorang budak wanita akan melahirkan tuan-nya , dan engkau akan melihat orang yang (tadinya) tidak beralas kaki , tidak berpakaian layak , orang faqir , dan pengembala kambing (menjadi kaya) saling berlomba-lomba untuk meninggikan bangunannya” , Kemudian orang tersebut beranjak.

 

* Amaaraatihaa artinya : Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hari kebangkitan tersebut sudah dekat

Adapun tanda-tanda hari kebangkitan tersebut adalah :

1. Seorang budak wanita akan melahirkan tuan-nya

Dalam riwayat lain ربتها memakai kalimat mudzakkar ربها , dan dalam riwayat lain juga memakai kalimat بعلها yang kedua-nya bermakna : Sayyid-nya atau pemiliknya.

Imam As-Suyuthy dalam kitabnya Ad-Diibaaj ‘ala Muslim menukil penjelasan Imam Nawawi mengenai hal ini, dan disebutkan :

– Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal ini merupakan pemberitahuan akan banyaknya hamba sahaya perempuan & anak-anak mereka, sedangkan anak-anak mereka dari tuan-nya itu kedudukannya mengikuti kedudukan tuan-nya (hur/merdeka) .

– Pendapat lain menyebutkan artinya bahwasanya hamba sahaya – hamba sahaya perempuan akan melahirkan para raja, maka hamba sahaya tersebut termasuk salah satu rakyatnya .[5]

2. Engkau akan melihat orang yang (tadinya) tidak beralas kaki , tidak berpakaian layak , orang faqir , dan pengembala kambing (menjadi kaya) saling berlomba-lomba untuk meninggikan bangunannya.

Maksudnya : Diantara tanda Hari Kebangkitan tersebut adalah orang-orang yang dulunya secara finansial susah, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin serta memiliki banyak harta sehingga mereka saling bermegah-megahan dengan saling meninggikan bangunannya.[6]

Maksud kalimat :

 

( فلبثت مليا , ثم قال: “يا عمر, أتدري من السائل؟” قلت : “الله ورسوله أعلم”, قال: “فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم” )

Artinya : (Umar berkata) Maka aku tetap tinggal dalam waktu yang lama, kemudian nabi bersabda : “Hai umar tahukah engkau siapa yang tadi bertanya ?” , aku menjawab :”Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui” , beliau menjawab : “Dia adalah Jibril , mendatangi kalian untuk mengajarkan agama kalian

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwasanya orang yang tadi datang & bertanya kepada-Nya tentang perkara-perkara agung dalam agama tersebut tiada lain adalah malaikat Jibril yang menyerupai manusia untuk mengajarkan perkara-perkara agung tersebut kepada para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menggunakan metode tanya jawab supaya memicu perhatian mereka untuk memperhatikan jawabannya & lebih berbekas dalam hati.

Beberapa faidah dari hadits ini diantaranya :

1. Hadits ini terkenal dengan nama “Hadits Jibril” .

Hadits Jibril ini adalah hadits yang sangat penting sekali untuk kita ketahui karena mencakup penjelasan agama secara menyeluruh ; oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir hadits tersebut : ” Dia adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian …”[7]

2. Seyogyanya seorang penuntut ilmu apabila duduk di majlis ilmu bersama ‘alim/Syaikh untuk menanyakan perkara-perkara yang bermanfaat untuk para jama’ah yang hadir, walaupun dia sendiri sudah mengetahuinya .[8]

3. Dalil bahwasanya Malaikat bisa berubah bentuk (dengan izin Allah) , sebagaimana dalam hadits ini malaikat Jibril datang menyerupai seorang laki-laki.

4. Bertanya/belajar dengan bertahap dari tingkatan yang lebih rendah kemudian tingkatan yang lebih tinggi (Sebagaimana malaikat Jibril menanyakan tentang Islam , kemudian tentang Iman, kemudian tentang Ihsan ; dan dari ketiga landasan ini yang paling tinggi kedudukannya adalah Ihsan, kemudian Iman, kemudian Islam) .

5. Bahwasanya Hari Kebangkitan/Hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa ta’ala; karena utusan Allah dari malaikat yang paling mulia (Jibril) menanyakan hal tersebut kepada utusan Allah dari manusia yang paling mulia (Muhammad) , maka beliau menjawab : “Tidaklah orang yang ditanya tentang hal itu lebih mengetahui dari pada yang bertanya” .

6. Menunjukkan agungnya Hari Kebangkitan/Hari Kiamat, oleh karena itu didatangkan tanda-tandanya supaya manusia bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi hari agung tersebut.

7. Bahwasanya yang disebutkan dalam hadits ini adalah “Agama”, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ” mengajarkan agama kalian ” ; akan tetapi secara mujmal/menyeluruh tidak tafshil/terperinci.[9]

Sampai disini penjelasan hadits kedua dari hadits Al- Arba’in An-Nawawiyah walhamdulillah

هذا, والله تعالى أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Thaif , 15 Rajab 1435 H / 14 Mei 2014 M

Footnote :
[1] Lihat : Jami’ al- ‘ulum wal hikam 1/126

[2] Syarh Al-arba’in An-Nawawiyyah,Syaikh Al-‘Utsaimin,Hal:65

[3] SDA

[4] Lihat: Jami’ al-‘ulum wal hikam,Ibnu Rajab 1/135 & Syarh Al-arba’in An-Nawawiyyah,Syaikh Al-‘Utsaimin,Hal:65

[5] Lihat : juz 1, hal:6

[6] Lihat : Jami’ al-‘ulum wal hikam,Ibnu Rajab 1/137

[7] Jami’ al-‘ulum wa al-hikam 1/97

[8] Syarh Riyadhushalihin, Al-‘Utsaimin 1/68

[9] Lihat: Syarh al-arba’in an-nawawiyyah, Al-‘Utsaimin : 68-94

Tags

Tentang Penulis

Ummu Nawwaf Yusfiani

Comment: 1