Hajar Aswad (Kepingan Batu Dari Surga)

Hajar Aswad (Kepingan Batu Dari Surga)

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Beberapa Kitab *

No comments

Hajar Aswad adalah sebuah batu hitam yang tertancap di rukun sebelah timur Ka’bah Baitullah Al Haram. Dari arahnya lah thawaf di sekeliling Ka’bah dimulai dan di situ pula berakhir. Ia merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata di bumi Allah yang aman ini. banyak hadits yang meriwayatkan bahwa ia awalnya berwarna lebih putih dari pada susu, tapi kemudian menjadi hitam disebabkan kesalahan bani adam.

Tingginya dari lantai tempat thawaf sekitar 1, 5 m dan terdiri dari delapan kepingan kecil, yang paling besar seukuran dengan buah kurma. warna hitam pada batu itu adalah bagian yang dapat kita lihat, sedangkan semua batu yang ada di dalam dinding Ka’bah adalah berwarna putih. Muhammad Bin Nafi’ al-Khuza’i telah melihatnya di saat orang-orang Qaramithah mengambilnya, ia melihat warna hitam pada kepala batu Hajar Aswad saja, adapun lainnya berwarna putih[1].

Panjangnya sekitar 50cm dan telah mengalami beberapa kali penyerangan dan yang terkenal adalah yang dilakukan orang-orang qaramithah[2] pada tahun 314 H. mereka mengambilnya dan dibawa ke daerah ahsa’ dan menyimpannya di tempat mereka selama 22 tahun kemudian dikembalikan lagi pada tahun 339 H. dan akhir penyerangan ke Hajar Aswad adalah pada masa Raja abdul aziz ali suud pada tahun 1351 H yaitu ketika seorang laki – laki paris dari negara afghan mengambil kepingan dari batu tersebut dan menyobek sebagian kain Ka’bah, maka ia dipancung sebagai hukuman baginya.

Diantara kesalahan adalah menyebut Hajar Aswad dengan hajar as’ad (batu kebahagiaan), sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang awam. sedangkan yang benar adalah Hajar Aswad sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah yang tidak berbicara menurut hawa nafsunya.

Adapun mengusap Hajar Aswad bagi wanita, Imam Nawawi – semoga Allah merahmatinya – berkata: “wanita tidak disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad atau mengusapnya, kecuali pada malam hari ketika tempat thawaf sudah longgar, karena jika tidak begitu akan ada madharat bagi mereka dan bagi kaum lelaki dengan adanya mereka. Telah diriwayatkan oleh Aisyah – bahwa beliau thawaf dalam keadaan berjauhan dengan kaum lelaki dan tidak bercampur dengan mereka, maka salah seorang wanita berkata kepadanya: “wahai Ummul Mukminin ayo kita pergi menuju Hajar Aswad untuk menciumnya!” Beliau menjawab: “pergi saja kamu sendiri![3]”. dia pun menolak untuk pergi.

Untuk membicarakan lebih rinci tentang kedudukannya dan adab-adab serta hukum-hukum yang berkaitan dengannya, kita akan bahas beberapa permasalahan di bawah ini:

1. Hajar Aswad berasal dari surga

Telah disebutkan di dalam nash-nash Syar’i yang tetap bahwa sesungguhnya Hajar Aswad berasal dari surga, pada asalnya ia lebih putih dari pada susu, akan tetapi kesalahan-kesalahan bani Adam lah yang telah menjadikannya hitam. Berikut adalah dalil-dalil yang menunjukkan hal itu.

Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Hajar Aswad berasal dari surga”[4]. At-tirmidzi juga meriwayatkan di dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: “Hajar Aswad diturunkan dari surga, ia lebih putih dari pada susu, maka kesalahan-kesalahan bani adam yang telah menjadikannya hitam”[5]. Jika hal ini merupakan pengaruh maksiat terhadap suatu benda mati, maka bagaimanakah pengaruhnya terhadap Hati? Hanya Allah lah tempat kita memohon pertolongan.

2. Hajar Aswad disunnahkan untuk dicium, diusap dan sujud kepadanya.

Untuk mengagungkan Hajar Aswad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kita cara-cara yang syar’i. barangsiapa yang thawaf di sekeliling Ka’bah maka ia memulai darinya dan disunnahkan baginya untuk menciumnya jika hal itu memungkinkan, jika tidak maka cukup dengan mengusapkan telapak tangan padanya dan mengusapnya dengan satu usapan kemudian menciumi tangannya, atau dengan mengusapkan tongkat padanya kemudian menciumi bagian yang sampai padanya, atau jika tidak bisa maka dengan memberikan isyarat melalui tangannya ketika tidak mampu untuk menciumnnya atau mengusapnya atau karena khawatir menyakiti orang lain kemudian bertakbir bersamaan dengan itu semua. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah:

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya dari Zubair Bin ‘Arabi ia berkata: “seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang mengusap Hajar Aswad, maka beliau berkata: “aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengusap dengan telapak tangannya dan menciumnya….. sampai akhir hadits”[6].

Dan pada Imam muslim dari Nafi’ ia berkata: “aku telah melihat Ibnu Umar mengusap Hajar Aswad dengan telapak tangannya dan mencium tangannya dan beliau berkata: aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukannya”[7].

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam thawaf di sekeliling Ka’bah dan mengusapkan tongkat pada (Hajar Aswad ) lalu mencium tongkat tersebut”[8].

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: “aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam thawaf di sekeliling Ka’bah di atas unta, setiap kali sampai di rukun (Hajar Aswad ) beliau memberikan isyarat dengan sesuatu yang ada pada beliau dan bertakbir”[9].

Imam muslim meriwayatkan dari Suwaid Bin Ghafalah ia berkata: “aku telah melihat Umar mencium Hajar Aswad dan selalu melakukannya seraya mengatakan: “aku telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sangat baik kepadamu”[10].

Di dalam shahih Ibnu Khuzaimah dari Ja’far bin Abdullah ia berkata: “aku telah melihat Muhammad bin Abbad Bin Ja’far mencium Hajar Aswad dan sujud kepadanya, kemudian berkata: “aku telah melihat pamanmu Ibnu Abbas menciumnya dan sujud kepadanya”, Ibnu Abbas berkata: “aku telah melihat Umar Bin Khaththab mencium Hajar Aswad dan sujud kepadanya, kemudian mengatakan: “aku telah melihat Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam mengerjakan seperti ini maka aku melakukannya”[11].

Imam ibnu khuzaimah memasukkan bab ke dalam hadits ini yaitu bab sujud kepada Hajar Aswad jika orang yang thawaf mendapatkan jalan untuk melakukan hal itu tanpa menyakiti saudaranya yang muslim.

Maka mencium Hajar Aswad dan mengusapnya dengan telapak tangan serta sujud kepadanya karena Allah, semua itu adalah perkara yang disyari’atkan, disunnahkan dan disukai secara Syar’i dan padanya memilki ganjaran dan pahala yang sangat agung. orang yang melakukannya berarti telah melakukan hal yang sunnah dan mengharap pahala yang telah dijanjikan, bukan karena ia mengira bahwa Hajar Aswad tersebut dapat mendatangkan madharat atau memberinya manfaat, sebagaimana yang dikira oleh orang-orang yang bodoh. Oleh karena itu, Khalifah Ar Rasyid Umar Al Faruq radhiyallahu ‘anhu ketika mendatangi Hajar Aswad beliau menciumnya kemudian mengatakan: “sungguh aku tahu bahwa kamu tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak pula memberi manfaat, seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menciummu niscaya aku tidak akan menciummu”[12].

3. Mengusap Hajar Aswad dapat menghapus kesalahan.

Imam An Nasai meriwayatkan di dalam sunannya dari Ubaid Bin Umair bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Ibnu Umar: “wahai Abu Abdurrahman! Aku tidak melihat engkau mengusap kecuali mengusap dua rukun ini. Beliau menjawab: “aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya mengusap keduanya dapat menghapus kesalahan”[13]. Ini adalah pahala yang sangat agung bagi yang memenunaikan ibadah ini dengan jujur dan ikhlas.

4. Hajar Aswad akan bersaksi di hari kiamat bagi orang yang mengusapnya dengan benar.

Telah meriwayatkan Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya, imam ahmad di dalam musnadnya, al hakim di dalam Mustadrak dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “sesungguhnya Hajar Aswad ini memiliki lisan dan dua bibir yang akan bersaksi pada hari kiamat untuk orang yang mengusapnya dengan benar”[14].

Oleh karena itu, bagi orang yang hendak mengusapnya tidak boleh menyakit orang-orang yang sedang thawaf, yang pada akhirnya ia mengusap Hajar Aswad dengan cara yang tidak benar sehingga hilang lah pahalanya. Dan semua itu akan mengakibatkan madharat dan dapat menyakiti kaum muslimin. Telah diriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam telah memerintahkan Umar dengan sabdanya: “wahai Umar! Sesungguhnya engkau adalah orang yang kuat, engkau bisa saja menyakiti yang lemah, jika engkau meihat kelonggaran, maka usaplah, jika tidak bertakbirlah dan berlalulah”[15]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “jika engkau mendapati kemacetan, maka janganlah menyakiti dan jangan pula disakiti”[16].

Larangan ini lebih ditegaskan lagi bagi kaum wanita khususnya ketika berdesak-desakkan. ‘Atho Bin Rabah telah melihat seorang wanita yang hendak mengusap Hajar Aswad, lalu beliau berteriak kepadanya seraya mengatakan: tidak ada hak untuk para wanita di dalam mengusap rukun (Hajar Aswad )[17]. larangan ini berlaku ketika terdapat laki-laki asing dan di waktu berdesak-desakkan.

Begitu pula ada perkara yang tidak boleh dilakukan seperti yang dilakukan oleh sebagian banyak orang yaitu memutus shalat sebelum imam mengucapkan salam demi ingin mengusap Hajar Aswad.

5. disunnahkan bagi yang thawaf setiap kali melewati Hajar Aswad untuk bertakbir.

Ketika memulai thawaf bertakbir dan ini ketika memulai setiap kali thawaf, sehingga ketika thawaf terakhir maka berakhir thawafnya dengan sampainya dia ke Hajar Aswad, di mana dia memulai di situ pula dia bertakbir. Maka bilangan semua takbir ketika thawaf adalah 8 kali takbir[18].

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah thawaf di atas unta, setiap kali sampai di Hajar Aswad, beliau mengisayaratkan kepadanya dengan sesuatu yang ada pada beliau dan bertakbir”[19].

Sebagian ahli ilmu berpendapat untuk membatasi 7 takbir, karena takbir itu di awal putaran bukan di akhir[20]. Wallaahu a’lam

Adapun sifat takbir telah terdapat riwayat dari Ibnu Umar yaitu dengan menambahkan basmalah ketika mengusap Hajar Aswad: “bismillaah wallaahu akbar“.

Maka bagi seorang muslimah yang mendatangi rumah Allah yang ingin mencari ridha-Nya tidak sepantasnya melakukan sunnah yang menyebabkan terjerumus kepada kemungkaran yang besar, yaitu berdesak-desakan dengan kaum lelaki. padahal mencium Hajar Aswad tidak termasuk syarat-syarat haji dan umrah, akan tetapi hanya sunnah.

Wahai saudaraku seiman, sekali lagi ketahui dan pahamilah, bahwa Hajar Aswad hanya sebuah mahluk, yang tidak akan dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya bagi siapapun. Ia merupakn bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada Ka’bah, di dalam masjidil haram, di kota suci Makkah al-Mukarramah. Semoga dengan mengatahui lebih detail dan cinci tentang hajar aswd dapat menambah keimanan dan memupuk amal shalih kita, sebagaimana kita selalu memohon kepada-Nya untuk menjadi seorang hamba yang dapat mengamalkan semua sunnah-sunnah, termasuk sunnah terhadap Hajar Aswad dan mengagungkannya dengan cara-cara yang telah disyariatkan dan diridzai oleh Allah dan Rosul-Nya, bukan dengan cara-cara bid’ah dan kesyirikan. WaAllah ‘alam.

Diringkas oleh:
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
(24/7/1434 H)

Maraji’ /referensi:
1. Al-Balad Al-Haram Fadhaa-il Wa Ahkam, Karya Kuliah Usuludin Universitas Ummu Quro.
2. Akhbar Makkah Wa Ma Jaa-a Fiiha Min Atsar, Karya Abul Walid Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Azroqy, (wafat tahun 250 H).
3. Takshilul Maram Fi Akhbari Al-Bait Haram Wal Masyaa’ir Al-A’dzom, Karya Muhammad Bin Ahmad As-Shabbagh (wafat tahun 1312 H).
4. Al-Ka’bah Al-Musyarrafah Tarikh Wa Ahkam, Karya Abdullah Bin Said Al-Hasany. Cet. 1. Tahun (1433 H).
5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Karya Abu Fida’ Ismail Bin Amr Bin Kastir, (wafat tahun 774 H).
6. At-Tarikh Al-Qowim Li Makkah Wa Baitullah Al-Karim, karya Muhammad Thohir Kurdy.
7. Zadul Maad, Karya Syamsuddin, Abu Abdillah Muhammad Bin Abi Bakr, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, wafat (751 H).

Footnote:
[1]. Al Fakihi meriwayatkan di dalam “Akhbar Makkah” dari mujahid, ia berkata: ”aku melihat Hajar Aswad Ibnu Zubair merobohkan baitullah, ternyata semua yang terlihat di dalam Ka’bah adalah berwarna putih”.
[2]. Qaramithah itu dinisbahkan kepada seorang laki-laki dari Kufah, dia dikatakan (qurmuth), menyeru kepada zindiq dan kekufuran yang jelas. Mereka termasuk golongan Bathiniyah, menyerang Hajar Aswad dan para jama’ah haji dan membunuhnya di haram. Dia adalah musuh Allah, waktu itu raja Bahrain bernama Abu Thahir Sulaiman Al Qurmuthi, mereka adalah orang-orang Rafidhah.
[3]. Silahkan dilihat ulang Keutamaan Hajar Aswad oleh Said Bakhdasy
[4]. Sunan Nasai 5/226, dan dishahihkan oleh Al-Albani. Shahih Sunan Nasai 2/616 no. 2748
[5]. Sunan Tirmidzi 3/226, dan telah dishahihkan Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya 4/219, 220. Dishahihkan oleh Al-Albani 1/261 no. 694
[6]. Shahih Bukhari Fathul Baari 3/475
[7]. Shahih Muslim 2/924
[8]. Shahih Muslim 2/927
[9]. Shahih Bukhari 3/476
[10]. Shahih Muslim 2/926
[11]. Shahih Ibnu Khuzaimah 4/213 hadits dengan sanad shahih
[12]. Shahih Bukhari 3/462 Al Hajj
[13]. Sunan Nasai 5/221 dan dishahihkan oleh Al-Albani dengan no. 2732
[14]. shahih Ibnu Khuzaimah 4/221, musnad imam Ahmad 1/266, al hakim di dalam Mustadrak 1/457. Dishahihkan dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah 2/160 no. 2381
[15]. Akhbar Makkah Lil Azraqi 1/433 di dalam sanadnya ada orang yang tidak diketahui.
[16]. Akhbar Makkah Lil Azraqi 1/334
[17]. Sumbernya sudah disebutkan sebelumnya 1/334
[18]. Lihat Fatwa Lajnah Daimah 11/224, 225
[19]. Shahih Bukhari: 3/476
[20]. Syarhul Mumti’ Syarh Zaadul Mustaqni’ Libni Utsaimin rahimahullah 7/281

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda