Hukum-Hukum Ringkas Seputar Bulan Sya’ban

Hukum-Hukum Ringkas Seputar Bulan Sya'ban

Makkah al-mukarramah (08/08/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

- Fathul Baari Libni Hajar –semoga allah merahmatinya- - Lathaif al Ma'arif Libni rajab –Semoga Allah merahmatinya- - Majmu Fatawa Ibnu Baz –semoga Allah merahmatinya- - Majmu Fatawa Lajnah Daimah - Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya-

No comments

Mengikuti sunnah dan waspada terhadap kebid’ahan merupakan keistimewaan manhaj salaf dan dakwah as-salafiyah

1. Sebab penamaan :

Ibnu hajar –semoga Allah merahmatinya- ia berkata : “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram.” (Fathu al-Baari : 4/213).

2. Keutamaan Bulan Sya’ban.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban ? ”Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. ia adalah bulan, dimana amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (Hadits ini dihasankan oleh al bani).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan. Dan Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari pada bulan Sya’ban.” (Riwayat Bukhari ,Muslim, Abu Dawud, An Nasai, Tirmidzi dan selain keduanya).

3. Diampuninya dosa-dosa di malam pertengahan bulan sya’ban.

Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memperhatikan makhluk-Nya di malam Nishfu Sya’ban. Maka Allah akan mengampuni semua hamba-Nya, kecuali orang musyrik dan yang memiliki kebencian (permusuhan).” (Riwayat Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syeikh Al Bani).

Hikmah puasa di Bulan Sya’ban.

Ibnu Rajab –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Puasa di bulan Sya’ban bagaikan latihan untuk puasa di bulan Ramadhan, supaya ketika masuk bulan Rmadahan tidak merasakan kesusahan dan tidak terbebani, akan tetapi sudah terlatih dan terbiasa. Maka kita akan mendapatkan kenikmatan berpuasa sya’ban sebelumnya dan masuk bulan Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. Seperti hal puasa di bulan sya’ban bagaikan muqaddimah untuk bulan Ramadhan, maka di bulan sya’ban pun disyaria’atkan apa yang telah disyari’atkan di bulan Ramadhan berupa puasa dan membaca Al Qur’an untuk mendapatkan rasa senang untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dan jiwa sudah terlatih dengan hal itu untuk melaksanakan keta’atan terhadap yang Maha Pengasih.” (Lathaif al-ma’arif, hal: 138).

4. Apa yang dilakukan oleh orang-orang salaf di bulan Sya’ban?

Salamah Bin Kuhail mengatakan: “Dahulu bulan Sya’ban disebut juga dengan bulan para qurra”.

Habib Bin Abi Tsabit apabila memasuki bulan sya’ban beliau mengatakan: Ini adalah Bulan para ahli qurra’.

“‘Amr Bin Qais Al Malaai apabila memasuki bulan Ramadhan, beliau menutup kedai dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an.” (Lathaif Al Ma’arif, hal : 138)

5. Hukum-hukum malam pertengahan bulan Sya’ban.

Bagaimanakah menyatukan antara hadits “Apabila di pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa” dengan hadits “Bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam menyambungkan bulan sya’ban dengan bulan Ramadhan.” ?

Syekh Ibnu Baz –Semoga Allah merahmatinya-mengatakan:

1. Adalah Rasulullah Shallallaahu’alaihii wa sallam berpuasa di bulan sya’ban seluruhnya atau mungkin berpuasa kecuali sedikit (tidak puasa).
2. Adapun hadits yang melarang untuk berpuasa di pertengahan bulan sya’ban adalah shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh saudara kita Syekh Nashiruddin Al Bani, dan yang dimaksud adalah larangan untuk memulai puasa setelah pertengahan. Adapun barangsiapa yang berpuasa lebih banyak di bulan itu atau berpuasa seluruhnya, maka ia telah mencocoki sunnah. (Majmu’ Fatawa 15/385).

6. Apakah disunnahkan untuk mengkhususkan hari di pertengahan bulan Sya’ban dengan berpuasa?

Syekh Ibnu Baz –Semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Mengkhusukan sehari bertepatan dengan pertengahan bulan sya’ban untuk berpuasa maka hukumnya adalah makruh dan tidak ada dalilnya.” (Majmu Fatawa 10/385).

7. Hukum merayakan malam pertengahan bulan sya’ban.

Syekh Bin Baz –Semoga Allah merehmatinya- mengatakan: “Diantara bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian manusia adalah: merayakan malam pertengahan bulan sya’ban dan mengkhususkan harinya dengan berpuasa, padahal tidak ada dalil yang menunjukan bolehnya berpegang kepadanya, dan telah datang mengenai keutamaannya hadits-hadits dha’if yang tidak boleh dijadikan pegangan untuk itu.” (Majmu’ Fatawa 1/186).

8. Hukum mengkhususkan pertengahan malam dari bulan sya’ban dengan shalat dan puasa?

Syeikh Ibnu baz –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Apa yang datang mengenai keutamaan shalat didalamnya (pertengahan nishfu) maka semuanya adalah palsu.” (Majmu al-fatawah :1/186).

Syeikh Ibnu baz –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Merayakan malam nishfu sya’ban dengan shalat atau yang lainnya dan mengkhususkan harinya dengan puasa adalah bid’ah yang mungkar menurut mayoritas ahli ilmu dan tidak mempunyai asal dalam syariat (islam) yang suci. Bahkan itu merupakan sesuatu yang diada-adakan dalam islam setelah generasi sahabat semoga Allah meridzainya. (Mujmu’ al-fatawa : 1/191).

Syeikh Ibnu utsaimin –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Yang benar, sesungguhnya pertengahan dari bulan sya’ban atau mengkhususkannya dengan bacaan, atau dzikir tidak ada asalnya. Maka, pertengahan bulan sya’ban adalah seperti yang lainnya dari pertengahan hari dari bulan-bulan yang lainnya. (majmu al-fatawa : 20/23).

Beliau juga mengatakan: bahwa mengkhususkan diri dengan berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban bukanlah termasuk sunnah, dan apabila puasanya bukan termasuk sunnah berarti ia termasuk bid’ah, karena puasa itu ibadah yang apabila tidak disyari’atkan maka ia termasuk bid’ah.” (Majmu’ Fatawa 20-26).

9. Hukum melaksanakan shalat malam di pertengahan bulan sya’ban?

Syekh Ibnu Utsaimin –Semoga Allah merahmatinya- mengatakan: melaksanakan shalat malam di pertengahan bulan sya’ban ada 3 tingkatan:

1. Shalat malam tersebut sudah menjadi kebiasaan, dia mengerjakannya di malam pertengahan bulan sya’ban dan juga di malam-malam lainnya dengan tanpa mengkhususkan dengan tambahan apa pun, maka ini perkara yang tidak mengapa.
2. Dia mengerjakan shalat malam di malam pertengahan bulan sya’ban saja. Dan ini termasuk bid’ah.
3. Mengerjakan berbagai macam shalat yang tidak diketahui bilangannya di malam pertengahan bulan sya’ban, hal tersebut senantiasa diulang setiap tahun, ini adalah tingkatan yang paling keras dibanding tingkatan yang kedua dan lebih jauh dari sunnah. (Majmu Fatawa 20/28-30).

10. Apakah semua rizqi, amal dan yang lainnya selama setahun ditaqdirkan pada malam pertenganhan dibulan sya’ban?

Syekh Ibnu Utsaimin –Semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Ini adalah (keyakinan) batil, karena malam ditaqdirkannya segala sesuatu selama setahun adalah malam lailatul qodr.” (mujmu al-fatawa :20-30).

11. Hukum membuat makanan di malam pertengahan bulan sya’ban dan mereka mengatakan “makanan untuk kedua orang tua”?

Syekh Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Sebagian orang membuat berbagai macam makanan di malam nishfu sya’ban dan membagikannya kepada orang-orang faqir dan mereka menyebutnya dengan ”Hidangan untuk kedua orang tua”.

Ini tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam sampai mengkhusukan hari ini, dan termasuk bid’ah.” (Majmu’ Fatawa 20-30).

Semoga Allah membalas kebaikan orang yang membacanya dan membantu untuk menyebarkannya.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

Alih bahasa, al-faqir ilallaah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (08/08/1437H).

Maraji’:
– Fathul Baari Libni Hajar –semoga allah merahmatinya-
– Lathaif al Ma’arif Libni rajab –Semoga Allah merahmatinya-
– Majmu Fatawa Ibnu Baz –semoga Allah merahmatinya-
– Majmu Fatawa Lajnah Daimah
– Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya-

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda