20 December 2014

Hukum Puasa Pada Hari Syak (Diragukan)

Puasa pada hari meragukan

Puasa pada hari meragukan

PERTANYAAN: Apakah boleh puasa pada hari syak atau tidak ?

JAWABAN: Untuk menjawab akan hal itu saya perlu menentukan dalulu apa yang dimaksud dengan hari syak. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa hari syak adalah hari ketiga puluh dari bulan Sya’ban, apabila malamnya cerah alias tidak mendung, sedangkan manusia tidak melihat hilal. Atau orang yang menyaksikan hilal tidak bisa dijadikan sandaran (tidak bisa dipercaya). Adapun hari mendung maka tidak terhitung hari syak.

Diantara mereka juga ada yang mengatakan: “apabila manusia berselisih, apakah hari itu hari dari bulan Ramadhan atau hari dari bulan Sya’ban maka ia adalah syak”. Ada pula yang mengatakan: “waktu yang cerah bukanlah hari yang diragukan di dalamnya, sedangkan waktu mendung adalah merupakan hari yang diragukan di dalamnya”.

Adapun yang paling rajih menurutku adalah apabila terdapat kemungkinan bahwa hari ini termasuk Ramadhan atau Sya’ban, maka ini merupakan hari syak (yang diragukan), sama saja apakah langit cerah atau mendung.

Adapun hukum puasa pada hari syak, maka ada beberapa pendapat:

  • Pendapat yang mewajibkannya, mereka adalah sebagian fuqoha (ahli fiqih) Hanabilah.
  • Ada pula pendapat yang mengharamkan puasa dengan niat Ramadhan. Mereka adalah mayoritas ahli ilmu, seperti Imam Malik, Sufyan, Ibnu Mubarak, Al-‘Auza’i, Syafi’i dan selain mereka.
  • Adapun apabila ia berpuasa pada hari syak dengan niat Sya’ban, maka sebagian ulama memberikan keringanan akan tetapi imam Syafi’i melarangnya kecuali jika puasanya bersamaan dengan kebiasaan ia berpuasa, maka hal itu menjadi boleh.
  • Pendapat yang melarang secara mutlaq, yaitu tidak boleh berpuasa wajib atau sunnah.
  • Pendapat yang membedakan antara hari mendung maka boleh berpuasa dan hari cerah maka tidak boleh berpuasa.
  • Pendapat Imam Ahmad, bahwa hal tersebut kembali kepada penguasa, apabila ia berpuasa maka manusia wajib puasa dengannya, jika tidak maka tidak wajib.
  • Dan pendapat yang lainnya.

Dalil yang membolehkan puasa pada hari syak atau yang mewajibkannya ada bererapa, diantaranya adalah:

1. Hadits ‘Imran bin Husain, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seseorang dan berkata: “wahai fulan, tidakkah kamu puasa disurara (akhir-akhir) bulan ini? Yaitu Sya’ban. Maka orang itu menjawab: tidak wahai Rosulullah!, maka Nabi berkata: “apabila kamu berbuka (di bulan Sya’ban), maka berpuasalah dua hari”.

Para ulama mengatakan: bahwa “surara” artinya adalah akhir-akhir bulan Sya’ban, sebagaimana itu adalah pendapat ahli bahasa. Mereka mengatakan: “dan tidaklah ada puasa pada akhir bulan melain merupakan puasa syak, dan ketika Nabi memerintah untuk berpuasa satu atau dua hari menunjukan akan wajibnya berpuasa pada hari syak”.

2. Hadits ibnu Umar dalam shahih Bukhari (1906) dan Muslim (1080): sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal, jika terhalangi atas kalian maka kira-kirakanlah baginya (hilal)”. Maksudnya yaitu sempitkanlah atas bulan Sya’ban dengan berpuasa di akhirnya.

Sebagaimana dalam riwayat yang lain: “jika terhalangi atas kalian maka sempurnakan hitungan tiga puluh hari”. Ulama kita mengatakan: “yang dimaksud adalah hitungan bulan Ramadhan dan hilal bulan syawal, dengan dalil apa yang datang dalam shahih Muslim (1081): “jika terhalang atas kalian maka kira-kirakanlah hitungannya kemudian berbukalah….”, yaitu di bulan syawal.

3. Hadits ummi salamah dan ‘Aisyah –semoga Allah meridhai keduanya-: “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dahulu menyambung puasa Sya’ban dengan Ramadhan”. Dan guru kami syeikh al-Albany telah menshahihkannya di dalam “shahih sunan abi dawud” (2/444) dan didalam “shahih ibnu majah” (1/276).

4. Atsar ibnu umar –semoga Allah meridhainya- yang shahih: “sesungguhnya apabila datang hari ke dua puluh Sembilan dari bulan Sya’ban telah berlalu maka ia mengutus orang untuk melihat cuaca, jika tidak melihat hilal maka ia berbuka, dan jika ada mendung maka ia berpuasa. Dikeluarkan yang semisalnya oleh Abdurrozak (7323), Imam Ahmad (2/5), Abu Dawud (2320) dan selain mereka.

Para ulama mengatakan: sedangkan Ibnu Umar adalah yang meriwayatkan hadist, yang artinya: “berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena karena melihat hilal….(al-hadits)”. Dan tidak sepantasnya ibnu Umar menyelisihi riwayatnya sendiri. Wallaahu a’lam.

Adapun dalil-dalil orang yang melarang berpuasa syak diantaranya adalah:

1. Hadits Abu Hurairah dalam shahih Bukhari (1914) dan Muslim (1082), sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “janganlah seseorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, melainkan seseorang (yang biasa) berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa pada hari itu”.

2. Hadist Abi Hurairah dalam shahih Bukhori (1909), bahwasanya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berbukalah kalian karena melihat bulan, jika terhalangi atas kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh”. Para ulama kita mengatakan: “di dalam hadits terdapat anjuran untuk berbuka sebab adanya mendung dan yang lainnya”.

3. Hadits Ibnu Umar dalam shahih Bukhari (1907) dan Muslim (1080) bahwasanya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “dalam satu bulan itu ada dua puluh Sembilan malam, maka janganlah kalian berpuasa sehingga melihat bulan, jika terhalangi atas kalian, maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh”.

4. Hadits ibnu Abbas dari jalan Syu’bah dari simak ia berkata: “Aku menemui ikrimah pada hari syak dari bulan Ramadhan sedangkan ia dalam keadaan makan. Maka ia berkata: “mendekat dan makanlah”, aku menjawab: “sesungguhnya aku berpuasa”. Maka ia berkata: “demi Allah mendekatlah”. Maka aku bertanya: “ceritakanlah”. Sesungguhnya ibnu Abbas menceritakannya kepadaku, bahwa Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “janganlah kalian menyambut bulan dengan suatu sambutan, berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berbukalah kalian karena melihat bulan, jika dihalangi antara kalian oleh mendung atau kegelapan, maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari”. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan lafadz ini (3590), dan Nasai, Ibnu Huzaimah, Ahmad, dan yang lainnya dengan semisalnya.

Walaupun hadits ini adalah riwayat simak dari ikrimah – yang didalamnya terdapat kegoncangan- hanya saja ini adalah riwayat syu’bah dari simak, yang mana sebagian ulama telah memujinya. simak telah meriwayatkan kisah ini, yang dia alami sendiri, yang menunjukan akan ketsiqahannya. Demikian pula riwayat ini telah kuatkan oleh asy’ast bin suwar –sekalipun lemah- menurut At-Tabrany didalam sunannya “al-kabir” (11/271-1706).

Kemudian di sana terdapat riwayat-riwayat yang menguatkan arti riwayat ini. Maka secara dhahir ini menunjukan akan shahihnya hadits ini. Ats-saury dan al-qattan telah meriwayatkannya dari ikrimah, ia berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi yang nampak adalah bahwasanya hadits ini tidak melemahkan hadits ibnu Abbas yang sebelumnya. Wallaahu a’lam.

5. Ucapan Ammar: “Barang siapa yang berpuasa di hari syak, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul qosim shallallaahu ‘alaihi wa sallam “. Atsar ini terdapat dalan Bukhari. Al-hafidz Ibnu Hajar menyebutkan perawinya di dalam “at-taghliq” (3/139-141). Dan berdasarkan jalan-jalannya (sanad) yang saya lihat -tanpa mendalaminya- maka tidak shahih dengan lafadz ini karena dalam sanadnya ada perowi yang terputus. Al-hafidz Ibnu Hajar telah mengisyaratkannya di dalam “at-taghliq”.

Dan telah diriwayatkan dengan lafadz: “jika kamu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya maka makanlah”. Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dan dalam sanadnya terdapat seorang yang mubham (tidak diketahui), yaitu antara Rib’I bin hirats dan Ammar, maka tidak menjadikan hati tenang.

Hanya saja di sana terdapat riwayat semisalnya di dalam Ibnu abi syaibah (2/285-286) dari sebagian tabi’in yang menunjukan populernya atsar ini pada mereka. Wallaahu a’lam.

Di sana juga terdapat komentar mengenai terputus dan bersambungnya atsar ini. Al-hafidz Ibnu Hajar dan Ibnu abdil bar menguatkan bersambungnya atsar ini secara hukman (yaitu secara makna yang mereka ambil dari nabi dan bukan secara riwayat). Lihat “fathul bari” (3/120).

Peringatan: “kemudian aku pelajari atsar ini secara luas, maka menjadi jelaslah bagiku bahwa keshahihan atsar dari Ammar terdapat pandangan (fiihi nadzar)”.

Adapun yang rajih menurutku di dalam masalah ini yaitu tidak boleh berpuasa pada hari syak kecuali apabila mencocoki kebiasaan puasa sesorang. Sebagaimana telah datang hadits dalam “shahihain” mengenai hal tersebut. Dan jika hal itu dalam puasa sunnah, maka puasa wajib lebih utama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi di dalam “al-majmu” (6/400). Lihat “fathul bari” (4/28).

Dan diantara hal itu (bolehnya puasa pada hari syak) adalah mengganti puasa yang sempit waktunya, atau puasa nadzar tertentu dan semisalnya. Lihat “al-inshaf fi ma’rifati ar-rajih min al-hilaf”, berdasarkan madzab Ahmad bin hambal karya al-mardawy (3/348).

Sedangkan dalil yang tidak membolehkan adalah apa yang saya sebutkan berupa argumen-argumen orang yang melarang puasa pada hari syak dengan niat kehati-hatian untuk Ramadhan.

Adapun hadits Imran mengenai puasa di akhir-akhir bulan Sya’ban, maka diantara mereka ada yang menjawab bahwa “surara as-syaiik” adalah pertengahannya. Sedangkan yang dimaksud dengannya adalah hari-hari bulan purnama (tanggal 13-15), di mana terdapat motivasi (amal shalih) di dalamnya, berbeda dengan akhir-akhir bulan Sya’ban , maka telah datang larangan berpuasa di dalamnya.

Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud “surara as-syai-i” adalah permulaan sesuatu, akan tetapi yang kuat sesungguhnya maksud hal tersebut adalah akhir-akhir bulan. Karena itu adalah pendapat mayoritas ahli bahasa. Dinamakan hari-hari akhir bulan dengan “surara” karena adanya rembulan dengan terus-menerus dan ketersembunyiannya.

Untuk menggabungkan antara dalil-dalil maka harus ada penafsiran. Al-khattaby mengatakan dalam kitabnya “ma’alim as-sunan”, kedua hadits ini, yaitu hadits Imaran: “bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seseorang dan berkata: “wahai fulan, tidakkah kamu puasa di surara (akhir-akhir) bulan ini? Yaitu Sya’ban. Maka orang itu menjawab: tidak wahai Rosulullah!, maka Nabi berkata: “apabila kamu berbuka, maka berpuasalah dua hari”. Dalam riwayat Muslim “apabila kamu berbuka dalam bulan Ramadhan, maka berpuasalah satu atau dua hari”.

Dan hadits Ibnu Abbas: “janganlah kamu mendahului bulan (Ramadhan) dengan puasa sehari atau dua hari”. Kedua hadits ini controversial (bertentangan) sedangkan cara menggabungkannya maka hadits yang pertama adalah merupakan puasa yang diwajibkan oleh seseorang atas dirinya dengan cara nadzar, maka Nabi memerintahkannya untuk memenuhinya, atau hal itu merupakan kebiasannya ia berpuasa pada akhir bulan, lalu ia meninggalkan karena datangnya bulan (ramadzan), maka Nabi menganjurkannya untuk menggantikan.

Adapun larangan yang datang dalam hadits Ibnu Abbas adalah bagi orang yang mengerjakan sunnah bukan kewajiban nadzar, bukan pula kebiasaan yang ia kerjakan pada waktu-waktu sebelumnya. WaAllah ‘alam. Lihat ringkaran dari sunan abi Dawud (3/217-218).

Penggabungan ini lebih baik dari pada ucapan orang yang mengatakan: “sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya dengan pertanyaan pengingkaran karena puasanya pada akhir bulan, karena nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika bertanya kepadanya: “apakah kamu berpuasa di akhir bulan?”, ia menjawab: “tidak wahai Rosululllah”. Lihat “Al-Fath” (4/231).

Dan dikatakan, penggabungan kedua hadits bisa dengan cara membawa larangan kepada makruh, bukan keharaman. Hanya saja penggabungan al-khattaby lebih utama berdasarkan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “kecuali mencocoki puasa salah seorang dari kalian maka hendaklah ia berpuasa”. Maka ini lebih khusus dalam kebolehan puasa pada hari syak, apabila mencocoki kebiasaan tanpa adanya makruh. Dengan arti seperti inilah pula dipahami hadits Imran, dan apabila hal itu dalam puasa sunnah maka dalam puasa wajib lebih utama.

Adapun hadits Ibnu Umar: “jika dihalangi atas kalian, maka kira-kirakanlah baginya”. Maka tidak benar membatasi kembalinya dhamir hanya kepada hilal bulan syawal, akan tetapi kembali kepada bulan syawal dan Ramadhan, sebagaimana telah diperjelas oleh riwayat-riwayat yang lain.

Dan riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari”, telah dilemahkan oleh al-ismaily dan lainnya dari para ulama. Yang rajih sesungguhnya riwayat ini merupakan penafsiran Adam Bin Abi Iyas, maka semua yang meriwayatkannya dari Syu’bah bahkan dari adam tidak menyebutkan bulan Sya’ban. Sesungguhnya itu hanya penafsiran dari Adam kemudian imam Bukhari menggabungkannya ke khabar. Lihatlah apa yang dikatakan oleh al-hafidz dalam “Al-Fath”.

Dan yang rajih adalah bahwasanya sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam “kira-kirakanlah baginya”, yaitu lihatlah di awal bulan dan hitunglah genap tiga puluh”, sebagaimana di dalam “Al-Fath” (4/121).

Al-hafidz Ibnu Hajar berkata: Ibnu Abdil Hadi berkata dalam kitabnya At-Tanqih: berdasarkan hadits-hadits –yang sesuai dengan kaidah-kaidah- sesungguhnya di bulan apa saja jika terhalangi atasnya maka disempurnakan tiga puluh hari, sama saja apakah hal itu pada bulan syawal dan Ramadhan atau selain keduanya.

Berdasarkan hal ini maka ucapan “sempurnakanlah hitungan” kembali kepada dua jumlah, yaitu dalam sabdanya: “berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian

Karena melihatnya, jika dihalangi atas kalian maka sempurnakanlah hitungan (tiga puluh hari)”. Yaitu dihalangi atas kalian dalam puasa kalian atau buka kalian.

Hadits-hadits yang lainnya juga menunjukkan akan hal di atas. Maka huruf “LAM” dalam sabdanya “FA AKMILUU AL-‘IDDAH”, adalah untuk bulan, yaitu hitungan bulan. Sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bulan tertentu untuk disempurnakan apabila ada mendung. Maka tidak ada bedanya dalam hal itu antara bulan Sya’ban dengan yang lainnya. Karena jika bulan Sya’ban tidak dimaksud untuk disempurnakan pasti Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

Maka tidaklah riwayat “maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban” menyelisihi riwayat “maka sempurnakan hitungannya”, bahkan riwayat yang pertama menjelaskan yang kedua dan menguatkannya.

Adapaun atsar Ibnu Umar dan lainnya yang membedakan antara cuaca mendung dan terang, maka atsar ini bertentangan dengan sahabat lain yang tidak berpendapat seperti ini.

Ini adalah ringkasan dalil-dalil ahli ilmu dalam masalah ini. Pembahasan ini panjang cabangnya. Al-qodzi Abu Ya’la Muhammad bin Husain bin Muhammad bin farra’ al-hambaly mengarang buku, ia memenangkan di dalamnya pendapat orang yang mengatakan wajibnya puasa syak, sedangkan Khotib al-Baghdady membantahnya dengan sebuah juz yang khusus mengenai penolakan hal itu. Dan Imam Nawawi telah mendatangkan ringkasan keduanya di dalam kitabnya “al-majmu’, (6/408-435). Lihatlah kepadanya untuk mendapatkan faedah darinya.

Walaupun pendapat yang rajih adalah tidak puasa pada hari syak melainkan jika mencocoki kebiasaan puasa seseorang atau mengganti yang wajib atau puasa nadzar yang ia wajibkan atas dirinya dan ia telah tentukan pada hari ini (yaitu hari syak) atau yang sebab semisal itu.

Sebagian ahli ilmu menyebutkan hikmah dari pelarangan puasa pada hari syak. Sebagaimana yang datang dalam “Al-Fath” (4/128), dari sebagian para ulama bahwa diantara hikmah berbuka pada hari syak adalah untuk memperkuat pada bulan Ramadhan, agar masuk ke bulan Ramadhan dengan kuat dan semangat.

hal Ini dilemahkan oleh al-hafidz Ibnu Hajar dengan mengatakan: bahwa dalam pendapat ini terdapat pandangan, karena kandungan maksud dari hadits ini adalah andaikata ia mendahului Ramadhan dengan tiga hari atau empat hari sebelumnya maka dibolehkan (karena yang dilarang adalah mendahului satu atau dua hari).

Diantara hikmah dari larangan puasa syak adalah dikhawatirkan campur antara yang sunnah dengan wajib. Maka Ibnu Hajar mengatakan bahwa dalam pendapat ini terdapat pandangan, karena dibolehkan (berpuasa syak) bagi orang yang memiliki kebiasaan, sebagaimana datang dalam hadits.

Dan kisahkan, bahwa diantara hikmahnya juga adalah karena hukum puasa berkaitan dengan rukyah (melihat hilal). Barangsiapa yang mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, berarti telah berusaha untuk mencacat hukum dalam hal itu (karena mendahului rukyah). Al-hafidz Ibnu Hajar berkata: “inilah yang dijadikan sandaran”. Dan hanya Allah yang maha mengetahui.

Peringatan: syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- mengingkari bahwa ucapan wajib adalah merupakan pendapat imam Ahmad, atau salah seorang dari pengikutnya, akan tetapi imam Ahmad berpendapat sunnahnya puasa pada hari mendung. (lihat Majmu’ Al-Fatawa: 25/99).

Peringatan lain: Tirmidzi menyebutkan di dalam sunannya (3/70) dari mayoritas ahli ilmu bahwa barangsiapa yang berpuasa pada hari syak, kemudian nampak baginya bahwa pada hari itu adalah Ramadhan, maka ia wajib mengganti satu hari yang lain, dengan alasan karena ia tidak memastikan niat Ramadhan. Wallaahu a’lam.

Alih bahasa
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah Al-Mukarramah
( 20/8/1434 H )

Fatawa ini diterjemahkan dari kitab “Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah”, karya Syeikh Abul Hasan Mushthafa Bin Ismail As-Sulaimani Al-Ma’riby Al-Yamany. Edisi ke tiga, hal: 110-115.

Article Tags

Related Posts


Site Officiel Bottes Ugg Coach Umbrella Outlet Nike Air Jordan Retro 6 Pas Cher UGG Boots How To Clean Outlet Borse Gucci Online Spaccio Peuterey Treviso Moncler Blouson Blot Woolrich Outlet Outlet Lombardia Moncler Nike Baskets Air Max Skyline Homme Pas Cher Louis Vuitton Pas Cher Veste Coach USA Christian Louboutin Geneve Gucci Ballerine Scarpe