Jurhum dan Khuza’ah serta Kekuasaan Ka’bah – Silsilah Tanya Jawab Seputar Sirah An-Nabawiyah (20)

jurhum dan khuza'ah

Makkah al-mukarramah (16/04/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Kitab ad-dur atsmin fi siraturrosul al-amina, karya Syeikh Mu'idz bin Abdillah az-zahrany –hafidzahullah-, cet dar taibah al-khadra, hal : 15, tahun 1424 H

No comments

JURHUM DAN KHUZA’AH SERTA KEKUASAAN KA’BAH

Pertanyaan : Siapakah yang memegang kekuasaan ka’bah setelah Nabi Ismail dan keturunannya?

Jawaban: Nabi ismail berkuasa sebagai pemimpin kota makkah dan memegang kekuasaan ka’bah sepanjang masa hidupnya, hingga beliau wafat pada usia 137 tahun.

Kemudian kekuasaan beralih kepada kedua putranya yang bernama Nabit kemudian Qaidar, setelah keduanya meninggal dunia, kekuasaan beralih kepada kakek mereka yang bernama Madhadh Bin ‘Amr Al Jurhumi, maka berpindahlah kepemimpinan makkah kepada kabilah jurhum, sampailah kekuasaan di tangan mereka, sedangkan Nabi Ismail dan putra-putranya tetap memiliki kedudukan mulia. dikarenakan ayah mereka (Nabi Ismail ‘alaihissalam) yang telah membangun ka’bah dan tidaklah ada hak kekuasaan bagi mereka sedikit pun, karena kabilah jurhum adalah paman-paman mereka dari pihak ibu, mereka pun tidak menyelisihi karena kedekatan mereka dan pengagungan mereka terhadap kesucian makkah dan ka’bah, dan supaya tidak terjadi peperangan.

Kemudian melemahlah urusan kabilah jurhum dikarenakan mereka berbuat kedzaliman di makkah, dan mereka mendzalimi siapa saja yang datang ke makkah, dan mereka menghalalkan harta ka’bah yang dahulu dihadiahi kepadanya.

Ketika Bani Bakr Bin Abdi Manaf Bin Kinanah dan khuza’ah melihat kenyataan seperti itu, maka mereka berkumpul untuk memerangi jurhum dan mengasingkan mereka dari makkah, maka berkuasalah khuza’ah atas kepemerintahan makkah pada pertengahan abad kedua masehi, oleh karena itu kekallah khuza’ah yang menguasai makkah tanpa Bani Bakr, mereka saling mewarisi hingga orang yang paling terakhir diantara mereka yang bernama Halil Bin Hubsyiyah yang menikahkan Qushay Bin kilab dengan putrinya.

Demikian, semoga bermanfaat dan tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengar benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemah dari kitab ad-dur atsmin fi siraturrosul al-amina, karya Syeikh Mu’idz bin Abdillah az-zahrany –hafidzahullah-, cet dar taibah al-khadra, hal : 15, tahun 1424 H).

Alih bahasa, al-faqir illah Hamidin as-sidawy, Abu harits Makkah al-mukarramah (16/04/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda