Kesalahan-kesalahan Umum dalam Ibadah Haji

Kesalahan-Kesalahan Umum dalam Ibadah Haji

Makkah al-Mukarramah ( 29/11/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

buletin yang berjudul Al-Akhtha' alladzi Yaqa'u Fiiha Ba'dhu al-Hujjaj, karya bagian keilmuan di percetakan al-Wathan.

No comments

kesalahan hajiSegala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah atas Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejaknya dengan baik hingga hari kemudian.
Ibadah haji merupakan ibadah yang agung. Yang bagi sebagian kaum muslimin hanya terjadi sekali seumur hidup. Karena faktor biaya yang sangat besar. Maka sudah seyogyanyalah setiap kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji ini harus benar-benar mempersiapkan ilmunya sebaik mungkin. Termasuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang umum terjadi dan menimpa jama’ah haji agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama.
Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh para jama’ah haji[1]:

Pertama Kesalahan-Kesalahan Ketika Ihram

Terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian jama’ah haji ketika ihram dari miqat, diantaranya adalah:
1. Meninggalkan ihram dari miqat, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat-miqat bagi bagi penghuninya dengan sabdanya :”miqot-miqot itu adalah bagi penghuninya dan orang-orang yang melewati dari selain penghuninya bagi yang mau umrah atau haji”[2]. Barangsiapa yang melewati miqot dalam perjalanannya atau yang sejajar dengannya dari udara dan daratan untuk mengerjakan haji dan umrah, maka wajib ia berihram dari miqot, karena jika ia melampauinya atau berihram dari selainnya maka ia berdosa dan telah meninggalkan kewajiban serta wajib membayar dam[3].
2. Memasuki makkah dengan tanpa ihram bagi yang mau mengerjakan umrah atau haji.
3. Sebagian jama’ah haji menyangka bahwa larangan-larangan ihram hanya khusus untuk orang besar saja, anak-anak tidak .termasuk ini adalah kesalahan, maka wajib bagi orang tua untuk memperhatikan semua larangan-larangan ihram.
4. Shalat di miqot setelah ashar atau fajar, karena keduanya adalah waktu terlarang. sedangkan shalat sunnah ihram bukanlah termasuk dzawatu asbab. (shalat yang dikerjakan karena ada dalil yang mengkhususkannya).
5. Memotong janggut ketika ihram, sedangkan memotong atau memendekkannya adalah terlarang setiap saat, baik ketika ihram maupun di luar ihram.
6. Keyakinan sebagian jama’ah haji bahwa dilarang mengganti pakaian ihram yang ia pakai dari miqot walaupun kotor, yang benar adalah diperbolehkan untuk mengganti pakaian dengan yang lain (yang bersih).
7. Keyakinan sebagian jama’ah haji mandi di miqot adalah wajib, Yang benar adalah sunnah, bukan wajib.
8. Keyakinan bahwa disebut ihram jika telah mengenakan kain ihram. Padahal sebenarnya ihram adalah berniat dalam hati untuk masuk melakukan manasik. Jika tanpa niat seseorang tidak dinamakan muhrim walaupun memakai pakaian ihram.
9. Sebagian jama’ah haji meyakini bahwa shalat dua rakaat ketika ihram adalah wajib, sedangkan yang benar adalah sunnah.
10. Sebagian jama’ah haji melakukan Idhthiba’ ( yaitu menampakkan pundak sebelah kanan dan menjadikan ujung kain di atas pundak sebelah kiri pundak) mulai dari permulaan ihram sampai akhir haji. Padahal ini disyariatkan hanya pada waktu thawaf qudum (kedatangan) saja.
11. Sebagian jamaah haji mengira, bahwa larangan jahitan pakaian dalam ihram adalah mencakup sandal, sepatu, ini merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan jahitan disini adalah semua jahitan yang membentuk anggota badan, seperti tangan dan yang lainnya.
12. Sebagian jama’ah haji mengatakan ketika ihram :”Ya Allah, sesungguhnya aku ingin mengerjakan haji atau umrah”. Yang benar apabila mengerjakan umrah hendaklah mengucapkan “LABBAIKA UMRATAN”, dan apabila mengerjakan haji mengucapkan “LABBAIKA HAJJAN”. Jika ia menggantikan umrah orang lain mengucapkan “LABBAIKA UMRATAN ‘AN FULAN” atau haji mengucapkan “LABBAIKA HAJJAN ‘AN FULAN”. Inilah yang sesuai dengan sunnah.
13. Sebagian jama’ah haji wanita meyakini, bahwa pakaian ihram mempunyai khusus, seperti hijau, putih. Yang benar ada warna khusus, akan tetapi seorang wanita ketika ihram hendaknya berpakaian biasa, menjauhi hiasan, pakaian transparan, pakaian ketat.
14. Sebagian jama’ah haji wanita memakai kedua sarung tangan ketika ihram atau bahkan memakai cadar, ini adalah kesalahan. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :”janganlah seorang wanita bercadar dan memakai kedua sarung tangan”. (Riwayat Ahmad).
15. Sebagian jama’ah haji wanita meletakkan di atas kepala semacam imamah, penyangga agar wajahnya tidak tersentuh oleh kerudung atau yang semisal. Ini adalah merupakan TAKALLUF yang tidak dibenarkan.
16. Sebagian jama’ah haji wanita berkeyakinan bahwa memakai gelang dari emas merupakan larangn ihram. Ini adalah kesalahan karena sesungguhnya dibolehkan bagi wanita yang ihram untuk berhias dengan emas, atau jam atau cincin.
17. Wanita yang dalam keadaan haidh atau nifas meninggalkan ihram karena menganggap ihram itu harus suci terlebih dahulu. Padahal itu keliru. Yang tepat, wanita haidh atau nifas boleh berihram dan melakukan manasik haji lainnya selain thawaf. Setelah ia suci barulah ia berthawaf tanpa harus keluar menuju Tan’im atau miqot untuk memulai ihram karena tadi sejak awal ia sudah berihram.

Kedua : Kesalahan-Kesalahan Dalam Bertalbiyah Atau Mengucapkan Talbiyah.

1. Sebagian jama’ah haji bertalbiyah dengan suara satu atau berjamaah, ini adalah sebuah kesalahan. Karena tidak ada dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah beserta para sahabatnya dengan berjamaah, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :”barangsiapa yang mengada ada dalam urusanku ini sesuatu yang tidak ada darinya, maka ia terolak”.
2. Sebagian jama’ah haji mengulang-ulangi talbiyah tanpa memahami artinya atau memikirkannya, maka sepatutnya untuk menghadirkan artinya talbiyah, bahwasannya talbiyah adalah mendengar dan taat kepada-Nya serta mengakui semua nikmat-Nya.
3. Sebagian jama’ah haji laki- laki tidak mengeraskan talbiyah, itu artinya menyembunyikan syiar haji, bahkan sebagian mereka menyibukan dari talbiyah dengan ucapan atau senda gurau. Ini kesalahan karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa bertalbiyah sampai beliau melempar jumrah aqobah.
4. Sebagian jama’ah haji wanita mengangkat suara ketika talbiyah, ini adalah merupakan kesalahan , karena mengangkat suara ketika talbiyah adalah khusus bagi kaum laki-laki. Adapun kaum wanita, maka cukup bagi mereka dengan memperdengarkan suara talbiyah untuk diri mereka sendiri.
5. Sebagian jama’ah haji bertalbiyah dengan cara-cara yang tidak ada dalilnya dalam sunnah. Ini adalah sebuah kesalahan, maka tidak boleh seseorang bertalbiyah melainkan dengan cara yang datang dalam syariat.

Ketiga : KesalahanKesalahan Ketika Masuk Masjidil Haram.

1. Sebagian jama’ah haji ketika masuk masjidil haram berdo’a dengan do’a yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka wajib bagi kita untuk mencukupkan dengan apa yang datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam berdo’a ketika masuk masjid dengan mengatakan yang artinya:
“Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu Rahmat-Mu”.
2. Sebagian jama’ah haji meyakini wajibnya masuk masjidil haram dari pintu (dengan keyakinan tertentu). Maka hal ini tidak ada dasarnya dalam syariat. Maka diperbolehkan bagi orang yang haji maupun umrah untuk masuk dari pintu manapun.
3. Sebagian jama’ah haji meyakini bahwa tahiyatul masjidil haram adalah dengan melakukan thawaf, berbeda dengan masjid-masjid yang lain. Maka ini adalah kesalahan, karena masjidil haram adalah seperti masjid-masjid yang lain, yaitu disunnahkan baginya dua rakaat tahiyatul masjid ketika masuk. Apabila seseorang mengerjakan umrah atau haji kemudian ia thawaf, maka hal itu dapat menggantikannya dari dua rakaat tahiyatul masjid.

Keempat : Kesalahan-Kesalahan Dalam Thawaf.

1. Sebagian jama’ah haji, mereka membiasakan do’a khusus ketika thawaf, dan menjadikan hal tersebut sebagai amalan sunnah bagi ketika thawaf. Padahal tidak ada do’a khusus yang diajarkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika thawaf.
2. Sebagian jama’ah haji mencari barakah dengan mengusap hajar aswad atau menciumnya, demikian pula rukun yamani. Maka ini adalah menyelisihi sunnah, karena dari menyentuh hajar aswad adalah mengagungkan Allah. Oleh karena itu ketika Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyentuhnya beliau mengucapkan Allahu Akhbar.
3. Sebagianjama’h haji, ditengah-tengah thawaf, mereka mengusap dinding ka’bah, ini merupakan kesalahan. Karena tidak datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melainkan mengusap hajar dan rukun yamani.
4. Sebagian jama’ah haji mengulang-ngulangi do’a thawaf dengan suara berjamaah, karena ini mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Maka yang benar adalah masing-masing berdo’a untuk dirinya dengan suara yang lirih.
5. Sebagian jama’ah haji melafadzkan niat thawaf ketika mulai, ini adalah sebuah kesalahan, karena tidak datang sedikitpun dari Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam akan hal itu. Maka wajib seseorang niat dengan hatinya tanpa melafadzkan dengan lisannya.
6. Sebagian jama’ah haji berdesak-desakan di hajar aswad atau rukun yamani sampai menyakiti saudaranya yang lain. Ini merupakan kesalahan. berdesak-desakan tidak disyariatkan, akan tetapi cukup dengan mengisyaratkan pakai tangan tanpa harus menciumnya.
7. Sebagian jama’ah haji mengira bahwa mencium hajar aswad merupakan syarat thawaf, dan thawaf tidak akan sempurna melainkan dengannya. Yang benar bahwa mencium hajar aswad adalah sunnah bagi orang yang thawaf saja dan bukan merupakan syarat.
8. Sebagian jama’ah haji mencium rukun yamani, ini merupakan kesalahan, karena hal itu tidak datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi yang datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah yaitu mengusap rukun yamani dengan tangan kanan. Jika seseorang mampu hal itu tanpa menyakiti yang lain maka ia boleh mengerjakan, jika tidak mampu, maka hendaklah ia meneruskan thawafnya tanpa harus mengisyaratkan ke rukun yamani. Hal ini berbeda dengan hajar aswad.
9. Sebagian jama’ah haji menyentuh hajar aswad atau rukun yamani dengan kanan kiri. Ini tidak sepatutnya, karena tangan kanan lebih baik dan untuk sesuatu yang mulia.
10. Sebagian jama’ah haji berkeyakinan bahwa ketika sampai dimakkah langsung thawaf merupakan suatu keharusan. Apabila seseorang haji atau umrah kelelahan karena safar, maka ia boleh mengambil istirahat sejenak kemudian meneruskan thawaf setelah itu.
11. Sebagian jama’ah haji masuk thawaf melalui pintu hijr dan keluar dari pintu yang kedua. Ini adalah sebuah kesalahan. Karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam thawaf dika’bah dari arah belakang hijr, apabila seseorang thawaf dari belakang hijr, karena tidak dianggap thawaf dika’bah dan thawafnya tidak sah.
12. Sebagian jama’ah haji ketika thawaf, mereka tidak menjadikan ka’bah di sebelah kirinya, akan tetapi kamu melihatnya thawaf sedangkan ka’bah dibelakang punggungnya, atau ka’bah didepannya, atau kanannya, kebalikannya. Maka semua thwaf ini tidaklah sah.
13. Sebagian jama’ah haji ketika thawaf, mereka berlari-lari kecil dalam semua putaran, padahal yang disyariatkan hanyalah tiga putaran yang pertama saja. Dan hal adalah khusus untuk laki-laki.
14. Sebagian jama’ah haji memulai thawaf dari arah pintu ka’bah, ini merupakan kesalahan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallammemulai thawaf dari arah hajar aswad dengan mengatakan :”ambillah dariku tata cara manasik kalian”.
15. Sebagian jama’ah haji berhenti lama pada garis yang sejajar dengan hajar. Ini adalah kesalahan. Karena hal itu terdapat gangguan bagi orang-orang yang shalat dan orang-orang thawaf. Sedangkan yang wajib hanyalah isyarah kepada hajar aswad dengan berjalan tanpa harus berhenti.
16. Sebagian jama’ah haji saling dorong ketika thawaf, bahkan hal itu menyebabkan celaan . ini merupakan kesalahan. Maka wajib sabar dengan desakan ketika thawaf serta mengharap pahala dalam hal tersebut, karena adanya larangan untuk berdebat dan menyakiti dalam ibadah haji.
17. Sebagian jama’ah haji berhenti dan berdo’a lama di maqam Ibrahim, kadangkala secara berjamaah (berkelompok). Ini adalah kesalahan, karena do’a ditempat ini tidak ada asalnya.
18. Sebagian jama’ah haji, ketika usai dari thawaf, mereka keluar dengan cara mundur dengan prasangka bahwa itu merupakan penghormatan untuk, ini adalah kesalahan dan yang benar adalah hendaklah seseorang keluar seperti ia keluar dari masjid yang lain.
19. Mencium setiap pojok atau rukun Ka’bah. Padahal yang diperintahkan untuk dicium atau disentuh hanyalah hajar Aswad dan rukun Yamani.
20. Sebagian jama’ah haji wanita berdesaak-desakkan dengan laki-laki agar bisa mencium hajar Aswad. Padahal ini adalah suatu kerusakan dan dapat menimbulkan fitnah.

Kelima : Kesalahan-Kesalahan Ketika Shalat Dua Rakaat Thawaf.

1. Sebagian jamaah haji mengirah, bahwa dua rakaat thawaf tidak cukup kecuali dibelakang makam Ibrahim, ini adalah kesalahan, karena orang yang haji dan umrah apabilah mau shalat dua rakaat maka boleh ia kerjakan dimasjid manapun.
2. Sebagian jamaah haji memanjangkan shalat dua rakaat thawaf dan bacaannya, memanjangkan ruku’, sujud, duduk. ini tidak sesuai dengan sunnah. Karena sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam meringkas dua rakaat ini dan berpaling langsung setelah shalat.
3. Sebagian jamaah haji duduk dan berdo’a lama setelah shalat, ini juga tidak ada dalilnya dari Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan juga tidak pernah diperintahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Keenam : Kesalahan-Kesalahan Pada Waktu Sa’i Antara Sofa Dan Marwah.

1. Melafadzkan dan mengeraskan niat ketika mau sa’i, ini merupakan kesalahan, karena tidak pernah dikerjakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharap berjumpa dengan Allah rasul-Nya serta banyak mengingat Allah”.
2. Sebagian jamaah haji melakukan Al-idhthiba’ ( menyelendangkan kain ihram keatas bahu sebelah kiri dan menjadikannya di bawah ketiak di sebelah kanan ) pada waktu sa’i. ini adalah kesalahan, karena idhthiba’ itu disyariatkan hanya ketika thawaf saja.
3. Sebagai jamaah haji mulai sa’i dari marwah, ini adalah kesalahan, karena sa’i dimulai dari sofa dan berhenti dimarwah sebagaimana yang dikerjakan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
4. Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa sa’i tidak akan sempurna melainkan apabila naik ke atas gunung sofa dan marwah, walaupun tidak sampai puncak keduanya.
5. Sebagian jamaah haji jika naik di atas bukit sofa dan menghadap ke arah qiblat, ia mengangkat kedua tangannya dengan cara isyarat, seperti ketika takbir dalam shalat. Ini adalah kesalahan. Karena yang dilakukan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah mengangkat kedua tangan dan berdoa, ini menunjukan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam rangka untuk doa dan bukan untuk takbir.
6. Sebagian jamaah haji menganggap sa’i dari bukit sofa ke bukit sofa kembali adalah satu putaran. Ini adalah kesalahan. Karena dari sofa menuju ke marwah adalah satu putaran, kemudian dari marwah ke sofa adalah putaran yang kedua. Demikian pula seterusnya.

Ketujuh : Kesalahan-Kesalahan Ketika Sa’i

1. Sebagian jama’ah haji ada yang meyakini bahwa sa’i tidaklah sempurna sampai naik ke puncak bukit Shafa atau Marwah. Padahal cukup naik ke bukitnya saja, sudah dibolehkan.
2. Ada yang melakukan sa’i sebanyak 14 kali putaran. Padahal jalan dari Shafa ke Marwah disebut satu putaran dan jalan dari Marwah ke Shafa adalah putaran kedua. Dan sa’i akan berakhir di Marwah.
3. Ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah sambil bertakbir seperti ketika shalat. Padahal yang disunnahkan adalah berdoa dengan memuji Allah dan bertakbir sambil menghadap kiblat.
4. Shalat dua raka’at setelah sa’i. Padahal seperti ini tidak diajarkan dalam Islam.
5. Tetap melanjutkan sa’i ketika shalat ditegakkan. Padahal seharusnya yang dilakukan adalah melaksanakan shalat jama’ah terlebih dahulu.
6. Sebagian jamaah haji berlari-lari kecil dalam semua putaran sa’i dari soafa ke marwah, dan dari marwah ke sofa. Ini adalah sebuah kesalahan dan terdapat kesusahan didalmnya. Karena lari-lari kecil hanya dibagian tertentu antara dua yang bertanda hijau.
7. Sebagian jamaah haji menyepelehkan lari-lari kecil antara dua tanda hijau. Ini adalah menyelisih sunnah, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berlari-lari kencang antara dua tanda hijau ini. Dan keduanya lebih dekat kepada sofa.
8. Sebagian jamaah haji berkeyakinan wajibnya bersuci ketika sa’i. ini adalah kesalahan , karena sa’i tidak diwajibkan bersuci, walaupui ketika sa’i. ini adalah kesalahan , karena sa’i tidak diwajibkan bersuci, walaupun dengan bersuci akan lebih utama.
9. Sebagian jamaah haji membaca firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya sofa dan marwah adalah termasuk syiar Allah” dalam setiap putaranaya. Ini adalah kesalahan, karena yang disyariatkan adalah ayat tersebut ketika seseorang telah mendekati bukit sofa untuk melakukan sa’i.
10. Sebagian jamaah haji mengkhususkan setiap putaran sa’i dengan do’a tertentu. Ini adalah kesalahan, karena hal itu tidak datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.
11. Sebagian jamaah haji meneruskan sa’i ketika shalat dimulai. Ini adalah kesalahan. hendaknya ia memutuskan sa’inya ketika shalat dimulai, kemudian ia teruskan sa’inya dari tempat ia berhenti sebelum shalat.
12. Sebagian jamaah haji meyakini wajibnya untuk sa’i ketika selesai thawaf, ini adalah kesalahan, karena apabila capek, maka boleh baginya untuk istirahat sejenak kemudian jika sudah kuat ia mulai sa’i.
13. Sebagian jama’ah haji mengira bahwa ibadah sa’i boleh dikerjakan secara menyendiri, ini adalah kesalahan, karena sa’i merupakan ibadah yang tergabung dalam haji dan umrah secara khusus.
14. Sebagian jama’ah haji wanita, mereka berlari-lari diantara dua tanda hijau, seperti laki-laki. Ini merupakan kesalahan. Karena perempuan tidak seperti laki-laki dalam hal ini. Sebagaimana ucapan Ibnu umar –semoga Allah meridhai keduanya- :”Tidak ada lari-lari bagi wanita ketika thawaf maupun ketika sa’i antara sofa dan marwah”.

Kedelapan : Kesalahan-Kesalahan Ketika Tahallul

1. Sebagian jamaah haji mencukur atau memendekkan sebagian rambut kepala dan meninggalkan sebagian yang lain. Ini adalah kesalahan, maka mencukur semua rambut, baik dengan cara memotong bersih atau memendekkannya.
2. Sebagian jamaah haji apabila selesai dari sa’i ia pulang ke rumah, kemudian ia menggundul atau memendekkan rambutnya, ini adalah kesalahan, karena seseorang tidak bisa namakan tahallul atau selasai dari umrah melainkan apabila ia membersihkan rambutnya atau memendekkanya. Berdasarkan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :”maka hendaklah ia mencukur rambut kemudian bertahallul”.
3. Sebagian jamaah haji mulai mencukur dari bagian rambut yang kiri. Ini tidak sesuai dengan sunnah, karena yang sunnah yaitu memulai cukur dari rambut yang kanan.

Kesembilan : Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Tarwiyah ( Tanggal 8 Dzulhijjah ).

1. Sebagian jamaah haji, pada hari tarwiyah mereka langsung pergi ke Arafah tanpa singgah di mina sampai terbitnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah. Ini adalah menyelisihi sunnah. Karena Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu tinggal di mina pada waktu dhuha, tanggal 8 sampai terbitnya matahari, tanggal 9 Dzulhijjah.
2. Sebagian jamaah haji tidak mengeraskan talbiyah, ini tidak sesuai dengan sunnah, kerena yang sunnah dan yang lebih utama adalah mengeraskan talbiyah. (bagi laki-laki).
3. Sebagian jamaah haji menjama’ shalat dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya, karena mereka mengira bahwa itu diperbolehkan ketika di mina. Padahal ini tidak sesuai dengan sunnah, karena yang disyariatkan di mina adalah mengqhasar (meringkas) shalat, bukan menjama’ (menggabung) shalat.
4. Sebagian jamaah haji tinggal di dekat mina dan tidak memperhatikan batasan – batasannya. Ini adalah kesalahan. Karena yang disunnahkan pada hari tarwiyah adalah bermalam di mina, maka wajib bagi seseorang yang tidak mengetahui batasan-batasannya untuk bertanya.

Kesepuluh : Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Arafah ( Tanggal 9 Dzulhijjah ).

1. Sebagian jamaah haji tidak mengeraskan talbiyah ketika berjalan ke Arafah. Ini menyelisihi sunnah, karena mengeraskan talbiyah adalah sunnah sampai melempar jumrah aqobah pada hari ‘id.
2. Sebagian jamaah haji tinggal di tempat-tempat sebelum Arafah, dan mereka tinggal di tempat-tempat itu sampai tenggelam matahari kemudian mereka pergi ke Muzdalifah. Maka mereka tidak melakukan haji berdasarkan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:”Puncak ibadah haji adalah Arafah”.
3. Sebagian jamaah haji duduk di bagian depan dari masjid namirah. Ini merupakan kesalahan, karena areal itu telah keluar dari Arafah. Apabila seseorang duduk di tempat itu sampai tenggelam matahari kemudian ia keluar darinya, niscaya akan terlewatkan olehnya haji.
4. Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa gunung yang dipakai wukuf oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mempunyai kelebihan khusus, oleh karena itu mereka menaikinya dan mencari barakah dari batu dan tanahnya. Ini merupakan amalan bid’ah dan tidak disyariatkan untuk menaiki dan shalat di atasnya.
5. Sebagian jamaah haji berkeyakinan wajib melaksanakan shalat dengan imam di masjid namirah. Ini adalah kesalahan, karena apabila seseorang melakukan shalat di kemah dengan tumakninah tanpa menyakiti orang lain tentu lebih baik baginya. karena Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :”Aku berwukuf di sini sedangkan semua areal Arafah adalah tempat untuk berwukuf”.
6. Sebagian jamaah haji berdesak-desakan mencari tempat di dalam masjid namirah, karena ia mengira bahwa wukuf di dalamnya lebih utama. Ini merupakan kesalahan, kerana semua Arafah adalah tempat untuk berwukuf, sedangkan menyakiti jamaah haji adalah terlarang.
7. Sebagian jamaah haji mereka berdo’a dengan menghadap ke gunung, padahal qiblat berada di punggung- punggung mereka atau berada d sebelah kiri atau kanan mereka. Ini adalah kesalahan, karena yang lebih utama yaitu berdo’a dengan menghadap qiblat.
8. Sebagian jamaah haji, mereka keluar dari Arafah sebelum tenggelam matahari. Ini merupakan kesalahan. Kerena meluncur dari Arafah ke Muzdalifah tidak dibolehkan melaiankan setelah terbanamnya matahari, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
9. Sebagian jamaah haji tidak tahu kedudukan hari Arafah, kita menjumpai mereka berjalan dan tidak menampakkan wukuf yang khusyu’ pada saat di Arafah. Sedangkan yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh untuk berdo’a, berdzikir dan istighfar sampai tenggelam matahari.

Kesebelas : Kesalahan-Kesalahan Di Muzdalifah.

1. Sebagian jamaah haji tinggal di namirah dan mereka mengira itu adalah Muzdalifah. Ini adalah kesalahan. Sebaiknya mereka bertanya posisi Muzdalifah yang sebenarnya serta batasan-batasanya sebelum bermalam. Barangsiapa yang mengalami hal itu maka ia wajib menyembelih dam dan hajinya tetap shahih.
2. Sebagian jamaah haji terburu-buru ketika kembali mehuju Muzdalifah. Ini adalah kesalahan, karena ketika menuju Muzdalifah seharusnya dengan tenang dan tumakninah. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallamdengan sabdanya :”wahai manusia dengan tenang, dengan tenang”.
3. Sebagian jamaah haji melaksanakan shalat maghrib dan isya’ di jalan sebelum sampai di Muzdalifah. Ini menyelisihi sunnah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,karena Nabi tidaklah melakukan shalat melainkan ketika sampai di Muzdalifah.
4. Sebagian jamaah haji mengerjakan shalat maghrib dan isya dimuzdalifah, akan tetapi setelah keluarnya waktu shalat isya’. Ini merukan kesalahan. Karena tidak sepatutnya mengakhirkan shalat dari waktunya, walaupun bagaimanapun keadaannya.
5. Sebagian jamaah haji mereka menghidupkan mala mini dengan shalat, dzikir serta ibadah-ibadah yang yang lain. Ini adalah kesalahan. Karena yang lebih umata adalah istirahat sampai shalat fajar, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
6. Sebagian jamaah haji kembali dari Muzdalifah sebelum mereka tinggal di Muzdalifah walaupun sebentar. Kamu melihat mereka hanya melewati dan tidak berhenti. Ini merupakan kesalahan yang besar, karena sunnah mengajarkan bahwa hendaklah seorang yang haji berdiam di Muzdalifah sampai shalat fajar, kemudian berhenti dimas’aril haram untuk berdo’a lalu menuju ke mina.
7. Mengumpulkan batu untuk melempar jumroh ketika sampai di Muzdalifah sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya’. Dan diyakini hal ini adalah suatu anjuran. Padahal mengumpulkan batu boleh ketika dalam perjalanan dari Muzdalifah ke Mina, bahkan boleh mengumpulkan di tempat mana saja di tanah Haram.
8. Sebagian jamaah haji meninggalkan talbiyah ketika kembali atau pulang dari Muzdalifah. Ini merupakan kesalahan, karena talbiyah tidak dianjurkan untuk berhenti kecuali apabila sampai jumrah aqobah.

Kedua belas : Kesalahan-Kesalahan Ketika Melempar.

1. Sebagian jamaah haji mereka pergi ke tempat melempar dengan terburu-buru dan kekerasan. Inilah kesalahan, karena hal itu menyebabkan ketakutan dan kegelisaan bagi jamaah haji. maka yang afdhal hendaklah jamaah haji melempar dengan tenang dan tumakninah.
2. Sebagian jamaah haji mereka menyangka bahwa lemparan tidak akan sah melainkan dengan batu dari Muzdalifah. Ini merupakan kesalahan, karena batu dapat diambil dari mana saja, baik Muzdalifah atau mina dan tidak dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.mengambil batu dari Muzdalifah.
3. Sebagian jamaah haji meyakini bahwa jamarat adalah tempat setan, oleh karena itu kamu lihat mereka mencela dan memaki dan seakan-akan seperti melempar setan. Ini merupakan kesalahan, karena jamarat itu sesungguhnya adalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah.
4. Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa batu harus mengenai tiang, ini adalah kesalahan, karena tidak disyaratkan untuk sahnya lemparan dengan terkenanya batu ke tiang jamarat. Karena tiang jamarat itu hanyalah dijadikan sebagai tanda atas lemparan batu yang mengenainya.
5. Sebagian jamaah haji mencuci batu dengan anggapan bahwa perbuatan itu adalah sunnah. Ini merupakan kesalahan, karena hal itu tidak datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.
6. Mewakilkan melempar jumroh pada yang lain karena khawatir dan merasa berat jika mesti berdesak-desakkan. Yang benar, tidak boleh mewakilkan melempar jumroh kecuali jika dalam keadaan tidak mampu seperti sakit.
7. Sebagian jamaah haji melempar jumarat sebelum zawal (tergelincir matahari). Ini merupakan kesalahan. Karena melempar pada waktu yang tidak ditentukan oleh syariat adalah tidak sah. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak melempar melainkan setelah zawal dan sebelum shalat dzuhur.
8. Sebagian jamaah haji melempar jumroh sekaligus dengan tiga atau empat atau tujuh batu. Yang benar adalah melempar jumroh sebanyak tujuh kali, setiap kali lemparan membaca takbir “Allahu akbar” dan dengan tambahan atau pengurangan.
9. Sebagian jamaah haji tidak berhenti setelah melempar jamarat yang pertama dan ke dua. hal ini merupakan sunnah, karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam ketika selesai melempar jamarat yang kedua beliau berdo’a menghadap qiblat dengan mengangkat kedua tangannya dan apabila selesai melempar jumrah aqobah ia berpaling dan tidak berhenti.
10. Sebagian jamaah haji tidak memastikan dari lemparan jaramat. Dan sebagaimana diketahui bahwa batu lemparan haruslah jatuh di kolam. Jika batu telah jatuh dikolam berarti ia telah terbebas dari tanggungan, sama saja apakah tersebut menempel di dinding atau jatuh ke dalam.
11. Saling berdesak-desakkan ketika melempar jumroh. Padahal untuk saat ini lempar jumroh akan semakin mudah karena kita dapat memilih melempar dari lantai dua atau tiga sehingga tidak perlu berdesak-desakkan.
12. Sebagian jama’ah haji dan biasanya yang ditemukan adalah jama’ah haji Indonesia, ada yang melempar jumrah di tengah malam pada hari-hari tasyrik bahkan dijamak untuk dua hari sekaligus (hari ke-11 dan hari ke-12).

Ketiga belas : Kesalahan-kesalahan dimina pada hari-hari tasyriq.

1. Sebagian jamaah haji tidak bermalam di mina pada hari-hari tasyriq. Ini merupakan kesalahan, karena bermalam dimina adalah wajib. barangsiapa yang meningglkannya tanpa udzur syar’i, maka ia harus menyembelih dam. Jika tidak mampu maka harus puasa sepuluh hari.
2. Sebagian jamaah haji tidak bersungguh-sungguh cari tempat untuk bermalam di mina, akan tetapi hanya menoleh ke kiri dan kanan kemudian berpaling ke makkah. Ini adalah kesalahan. Maka wajib baginya untuk mencari tempat, jika ia tidak dapat maka hendaklah ia bermalam diakhir tenda jamaah haji.
3. Menyangka bahwa yang dimaksud barangsiapa yang terburu-buru maka hanya dua hari yang ia ambil untuk melempar jumrah yaitu hari ke-10 dan ke-11. Padahal itu keliru. Yang benar, yang dimaksud dua hari adalah hari ke-11 dan ke-12. Jadi yang terburu-buru untuk pulang pada hari ke-12 lalu ia ia melempar tiga jumrah setelah matahari tergelincir dan sebelum matahari tenggelam, maka tidak ada dosa untuknya.

Keempat Belas : Kesalahan-Kesalahan Dalam Menyembelih.

1. Sebagian jamaah haji menyembelih hadyu di luar tanah haram, seperti di Arafah atau yang lainnya. Ini merupakan kesalahan, karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam menyembelih hadyu di tanah haram.
2. Sebagian jamaah haji menyembelih binatang yang tidak memenuhi syarat, seperti binatang kecil yang belum mencapai umur. Sebagaimana dijelaskan dalam syariat, yaitu unta yang berumur lima tahun, sapi yang berumur dua tahun dan kambing yang berumur satu tahun dan domba yang berumur enam bulan.
3. Sebagian jamaah haji menyembelih binatang yang cacat dan tidak sesuai dengan syarat.
4. Sebagian jamaah haji menyembelih kemudian membuang buang dagingnya sedangkan yang utama adalah memakan dan membagi-bagikannya kepada orang fakir dan miskin. Allah berfirman :”maka makanlah darinya dan bagikanlah kepada para fakir yang membutuhkan”.
5. Sebagian jamaah haji menyembelih sebelum hari iid, ini adalah kesalahan. Karena sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam hanya menyembelih pada hari iid. Allah berfirman :”maka kerjakanlah shalat karena Roobmu dan berkorbanlah”.

Kelima Belas : Kesalahan-Kesalahan Dalam Thawaf Wada’.

1. Sebagian jamaah haji melakukan thawaf wada’ sebelum melempar jamarat. Kita lihat ia thwaf lalu kembali ke mina untuk melempar kemudian ia safar (keluar dari makkah). Ini merupakan kesalahan, karena thawaf wada’ adalah merupakan akhir amalan haji sebelum ia safar, berdasarkan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :”janganlah salah seorang dari kalian safar sebelum akhir janjinya adalah dengan ka’bah”. (riwayat Muslim). Barangsiapa yang mendahulukan thawaf wada’ sebelum melempar jamarat, maka wajib ia thawaf apabila hendak melakukan safar.
2. Sebagian jamaah haji thawaf wada’ kemudian ia tinggal lama di makkah. Ini merupakan kesalahan. Maka wajib ia mengulangi thawaf ketika mau safar.
3. Sebagian jamaah haji memahami dari firman Allah Ta’ala :”barangsiapa yang tergesa-gesa dalam dua hari, maka tidak ada dosa baginya”, bahwa hari yang pertama adalah hari iid dan hari yang kedua adalah tanggal 11 Dzulhijjah, ini merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan dua hari adalah tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah.
4. Sebagian jamaah haji apabila selesai thawaf wada’ kemudian ia berpaling ke pintu masjidil haram sampai melihat ka’bah seakan-akan untuk perpisahan atau salam atau yang lainnya. Ini merupakan kesalahan dan termasuk perkara bid’ah, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallamtidak pernah melakukannya.
5. Sebagian jamaah haji setelah thawaf wada’ menghadap kearah qiblat dan berjalan mundur dengan keyakinan bahwa ini adalah penghormatan untuk ka’bah. Ini merupakan kesalahan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah mengerjakannya.

Keenam Belas : Kesalahan-Kesalahan Ketika Ziarah Masjid Nabawy

1. Sebagian jamaah haji berkeyakinan bahwa ziarah masjid nabawy berkaitan dengan haji dan barangsiapa yang melakukan ziarah maka hajinya kurang. Ini merupakan kesalahan, karena ziarah masjid nabawy tidak ada hubungannya dengan haji dan haji bisa menjadi sempurna tanpa ziarah. Adapun apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :”barangsiapa yang haji dan tidak menziarahiku, maka sungguh ia telah meremehkanku”. maka itu adalah hadits yang lemah dan palsu.
2. Sebagian jamaah haji melakukan penciuman kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahkan boleh jadi ada yang thawaf di sekitarnya dan mengusap-ngusap dindingnya. Ini merupakan kesalahan, dan tidak diperbolehkan untuk mengerjakannya karena itu termasuk bid’ah yang terlarang.
3. Sebagian jamaah haji berdo’a kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menepis bahaya atau menunaikan hajat. Ini merupakan syirik besar yang dapat mengeluarkan dari agama. Allah berfirman :”Adapun masjid-masjid adalah milik Allah, maka jangalah kalian berdo’a bersama Allah kepada seorangpun”.
4. Sebagian jamaah haji, mereka mengusap-ngusap kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sala, mimbar, mihrab dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dan lain-lain. Semua ini adalah merupakan bid’ah yang terlarang.
5. Sebagian jamaah haji, mereka mengangkat suara di dekat masjid nabawi. Ini merupakan kesalahan, bahkan bisa menjadi sarana kepada kesyirikan. Karena sunnah dalam berdo’a adalah menghadap qiblat, bukan kuburan.
6. Sebagian jamaah haji berkeyakinan akan wajibnya melaksanakan shalat beberapa rakaat tertentu ( arba’in) dimasjid nabawy. ini semuanya merupakan kebid’ahan yang tidak ada dalilnya dalam syariat. Wa Allah ‘alam.
Demikian beberapa penjelasan tentang kesalahan-kesalahan haji yang bisa kami ulas dalam tulisan yang sederhana ini, semoga bermanfaat buat islam dan kaum muslimin. Amiiin…..
Wallahu ‘alam bish showab, shalawat dan salam senantiasa teruntukkan atas Nabi kita Muhammad, segenap keluarganya serta para sahabat semua.

Alih bahasa

Al-faqiir ila afwi Robbih

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Faiha

Makkah al-Mukarramah

( 29/11/1434 H )

Artikel: CahayaUmmulQuro.com

Footnote:

[1]. Tulisan ini diterjemahkan dari sebuah buletin yang berjudul Al-Akhtha’ alladzi Yaqa’u Fiiha Ba’dhu al-Hujjaj, karya bagian keilmuan di percetakan al-Wathan.

[2] . Seperti yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji Indonesia yang baru berihram ketika di Jeddah.

[3] . Yaitu binatang yang disembelih harus di Makkah dan dibagikan kepada fakir dan miskin yang di sana.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda