Kesalahan Umum Yang Terjadi Saat Berpuasa

Kesalahan Umum Yang Terjadi Saat Berpuasa

Makkah al mukarramah, 15 Ramadhan 1434 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Kutaib Karya Qism Ilmy, di Dar Al-Wathan.

1 comment

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi pembawa petunjuk dan Rahmat, sebaik-baik orang yang berpuasa dan berqiyamullail serta berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah senantiasa bershalawat kepadanya, keluarganya dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kemudian.

Berikut ini adalah sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi pada sebagian orang-orang yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan, kami berharap kepada Allah agar tulisan ini bermanfa’at bagi yang membacanya, mengumpulkannya dan yang membantu dalam menyebarkan dan mencetaknya.

1. Sebagian kaum muslimin menyambut bulan Ramadhan ini dengan cara berlebih-lebihan di dalam membeli makanan dan minuman dan dengan jumlah yang sangat besar sekali, sebagai ganti dari mempersiapkan diri dengan keta’atan, berhemat serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir dan yang membutuhkan.

2. Bersegera ketika sahur. Ini terjadi pada sebagian orang-orang yang berpuasa, hal ini merupakan kelengahan di dalam mendapatkan pahala yang banyak, karena sunnahnya dalam hal ini adalah hendaklah seorang muslim mengakhirkan sahurnya demi untuk mendapatkan pahala dan mengikuti sunnah Nabinya Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam .

3. Sebagian orang berpuasa tidak meniatkan puasa dari malam. Jika seorang yang berpuasa mengetahui bahwa bulan Ramadhan telah masuk, maka ia wajib untuk meniatkan puasanya dari malam.

Telah diriwayatakan sebuah hadits dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : “Barang siapa yang tidak meniatkan puasa dari malam, maka tidak ada puasa baginya”. (HR.An Nasai)

Dan sabda Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : “Barang siapa yang tidak meniatkan puasa dari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (HR.Ad daruquthni)

Sebaliknya yang terjadi adalah sebagian orang melafadzkan niatnya dan ini adalah salah. Cukuplah baginya meniatkan puasa di dalam dirinya.

Syaikhul islam ibnu taimiyyah –rahimahullah– berkata: “melafadzkan niat bukanlah suatu kewajiban menurut kesepakatan kaum muslimin. Maka kaum muslimin secara umum mereka berpuasa dengan niat dan puasanya sah”. (majmu’ fatawa jilid 52, hal 572).

4. minum dengan sengaja di pertengahan adzan fajar, dengan perbuatan tersebut ia telah merusak puasanya secara khusus apabila muadzin mengetahui dengan detail waktu dikumandangkannya adzan.

Syaikh ibnu utsaimin –rahimahullah– berkata: “adzan untuk shalat fajar baik sesudah terbit fajar atau sebelumnya. Jika setelah terbit fajar, maka seseorang wajib menahan puasanya dengan alasan mendengar adzan, karena Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian hingga kalian mendengar adzannya ibnu ummi maktum, sesungguhnya dia tidak mengumandangkan adzan melainkan hingga terbit fajar”. Jika engkau mengetahui bahwa tidaklah muadzin mengumandangkan adzan melainkan karena muncul fajar maka berhentilah ketika mendengar adzan. (kajian dan fatawa haram).

5. Tidak menahannya (dari makanan) orang yang tidak mengetahui dengan datangnya bulan Ramadhan, seperti orang bepergian atau tidur atau yang lainnya yang termasuk sebab-sebab terhalanginya antara dia dengan mengetahui masuknya bulan. Ini adalah kesalahan dia. Maka sepatutnya bagi seorang muslim, ketika mengetahui masuknya bulan Ramadhan untuk menahan hari yang tersisa. Berdasarkan dalil yang datang dari Salamah Bin Al-Akwa’ –semoga Allah meridhainya ia berkata: “Sesungguhnya Nabi mengutus seseorang untuk menyeru manusia pada hari Asyuro’: “Sesungguhnya barangsiapa yang telah makan hendaklah ia menyempurnakan puasa dan barangsiapa yang belum makan janganlah ia makan”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

6. Bodohnya sebagian orang akan keutamaan bulan Ramadhan. Mereka menyambutnya sebagaimana menyambut bulan-bulan yang lain. Ini adalah kesalahan, karena telah shahih hadits dari Nabi shallallaahu’alaih wa sallam, beliau bersabda: “apabila telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu”. Dalam riwayat lain “syetan-syetan dirantai”. (HR.Bukhari muslim).

Dan masih banyak sekali hadits-hadits lainnya mengenai keutamaan bulan yang agung ini.

7. Sebagian manusia apabila bulan Ramadhan sampai kepadanya, yaitu malam pertama dari bulan Ramadhan, ia tidak melaksanakan shalat tarawih. Ini adalah kesalahan, kerena hanya dengan melihat hilal Ramadhan seorang muslim telah masuk malam pertama dari bulan Ramadhan, Maka disunnahkan shalat tarawih dengan jamaah kaum muslimin di masjid pada malam itu.

8. Apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu meninggalkan orang yang makan dan minum karena lupa pada siang hari di bulan Ramadhan sampai ia menyelesaikan dari hajatnya.

Syeikh Abdul Aziz Bin Baz –rahimahullah– berkata: “Barangsiapa yang melihat seorang muslim yang minum pada siang Ramadhan atau makan atau mengkonsumsi hal lain yang membatalkan, wajib mengingkarinya, karena menampakkan hal itu pada waktu siang adalah kemungkaran walaupun pelakunya mendapat udzur pada waktu yang sama. Supaya manusia tidak berani menampakkan keharaman dari sesuatu yang membatalkan pada siang hari dengan alasan lupa”. (majalah dakwah: 6811).

9. Pengingkaran sebagian orang terhadap anak-anak mereka yang ingin melakukan puasa, dengan alasan masih kecil. Terkadang ada anak yang sudah mencapai umur balig (dengan datangnya haid) hendak berpuasa, akan tetapi dilarang oleh keluarganya dengan alasan ia masih kecil tanpa bertanya dulu tentang datangnya haid.

Syaikh Ibnu Jibrin berkata: “kebanyakan anak-anak perempuan datang masa haid pada umur 10 atau 11, maka keluarganya menganggap remeh dan mengira mereka masih kecil sehingga tidak mengharuskan untuk berpuasa. Ini adalah kesalahan. Karena apabila seorang anak perempuan jika sudah datang masa haid, maka ia telah baligh seperti balighnya wanita-wanita yang lain dan berlaku atasnya hukum taklif (yang diwajibkan atasnya). (Fatawa Shiyam).

10. Sebagian orang merasa salah, apabila di tengah-tengah puasa ia makan atau minum karena lupa lantas teringat, maka Ia ragu akan keabsahan puasanya. Padahal Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda: “apabila salah seorang diantara kalian lupa makan atau minum, maka sempurnakanlah puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum”. (HR.Bukhari)

11. Sebagian wanita merasa salah dengan memakai pewarna rambut di tengah-tengah puasa. Syeikh Muhammad bin shalih al-utsaimin-rahimahullah– berkata: “Sesungguhnya memakai pewarna rambut di tengah-tengah puasa tidak membatalkandan tidak mempengaruhi puasa sedikitpun, seperti celak dan tetesan telinga atau mata, semua itu tidak membahayakan atau membatalkan puasa”. (Fatwa Nur ‘Ala Darb).

12. Sebagian wanita merasa salah jika mencicipi makanan dapat merusak puasanya. Syeikh ibnu jibrin berkata: “Tidak mengapa dengan mencicipi makanan karena hajat, dengan meletakan pada ujung lisannya supaya mengetahui manis, asin atau sebaliknya. Tidak boleh menelan sedikitpun dari makanan, akan tetapi harus ia keluarkan dari mulutnya. Dengan demikian tidak batal puasanya”. (fatawa puasa).

13. Sebagian orang tidak mengetahui perusak dan pembatal puasa, sehingga sebagian terjerumus ke dalamnya. Khususnya pada permulaan Ramadhan. Ini merupakan kesalahan. Maka wajib bagi orang yang berpuasa untuk mengetahui perusak dan pembatal puasa menjelang Ramadhan , sehingga terjaga dari terjerumus ke dalamnya.

14. Sebagian merasa salah untuk memakai siwak pada siang Ramadhan dan mengira bahwa memakai siwak di siang Ramadhan dapat membatalkan puasa. Ini adalah kesalahan. Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “andaikata aku tidak memberatkan umatku niscaya aku akan perintakan umatku untuk memakai siwak setiap masuk shalat”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Imam Bukhari –semoga Allah meridhainya- berkata: “Nabi tidak mengkhususkan untuk orang yang puasa atau yang lainnya”.

Syeikh Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya- berkata: “dan tidaklah menjadi berbuka bagi orang yang bersiwak, bahkan siwak merupakan sunnah bagi Nabi dan yang lainnya dalam setiap waktu baik permulaan atau akhirnya”.

15. Sebagian muadzin tidak melakukan adzan melainkan setelah tersebarnya kegelapan dan tidak cukup dengan terbanamnya matahari. ia menyangka bahwa hal itu lebih hati-hati dalam beribadah. Ini adalah menyelisihi sunnah, karena sunnahnya adalah adzan ketika bener-bener tenggelam matahari dan tidak ada ibrah dengan yang lainnya.

Syeikhul islam ibnu taimiyah berkata: “Apabila telah tenggelam semua bentuk matahari maka berbukalah orang yang berpuasa dan tidak ada ibrah dengan sisa mega yang masih di ufuq. (Majmu al-fatawa: 25/512).

16. Kelalaian sebagian orang berpuasa dari mendo’akan orang yang memberi buka. Diantara sunnah apabila orang yang puasa berbuka dengan suatu kaum, maka hendaklah ia berdo’a, seperti: “Ya Allah berilah makan orang memberi aku makan dan berilah minum orang yang memberiku minum”. (H.R. Muslim). Atau berdo’a: “Ya Allah berkahilah terhadap apa yang engkau berikan kepada mereka, ampunilah dan rahmatilah mereka”. (H.R. Muslim).

17. Keyakinan sebagian manusia akan keharaman menggauli wanita pada malam Ramadhan. Ini merupakan kesalahan. Karena keharaman adalah di waktu siang, adapun pada waktu malam adalah halal. Allah berfirman:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka”. (QS.Al Baqarah: 187)

18. Penolakan sebagian wanita dari puasa apabila telah suci (dari haid atau nifas) sebelum fajar sedangkan ia belum mampu untuk mandi karena sempitnya waktu. Ia meninggalkan puasa dengan alasan bahwa ia menjumpai shalat subuh sedangkan ia belum mandi untuk mensucikan seperti kebiasannya.

Syeikh bin jibrin berkata: “Apabila darah telah terputus atau berhenti pada waktu sebelum terbit fajar walaupun sedikit maka sah puasanya dan mencukupkan dari kewajiban walaupun ia tidak mandi melainkan setelah datang waktu subuh”. (fatawa siyam).

19. Apa yang terdengar dari sebagian tangisan manusia dengan suara yang tinggi. Menangis ketika membaca al-quran insyaallah -menunjukan akan terpengaruhnya orang shalat dengan al-qur’an yang ia dengar. Ini adalah perkara yang terpuji dan tidak ada keraguan.

Akan tetapi realita dan kenyataan dari sebagian orang yang shalat bahwa tangisan dengan suara yang tinggi dapat menyebabkan terganggunya sebagian orang yang shalat di sekitarnya. Disamping itu gerakan-gerakan yang menyertai tangisan. Dan yang mengherankan lagi, bahwa tangisan itu adalah ketika qunut bukan ketika ada bacaan al-qur’an. Maka seperti ini dikatakan: yang lebih utama adalah menangis atau terpengaruh ketika membaca al-qur’an.

20. Sebagian orang merasa bersalah ketika bangun pagi dalam keadaan junub, ia mengira puasanya batal dan harus mengqadhanya. Ini adalah kesalahan. Yang benar adalah puasanya sah dan tidak harus mengqadhanya. Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mendapatkan fajar sedangkan beliau dalam keadaan junub, maka beliau mandi dan berpuasa. Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah– berkata: “mimpi itu tidak membatalkan puasa, karena ia bukan merupakan pilihan orang yang berpuasa dan hendaklah dia mandi janabat jika dia melihat air (mani)”. (majmu’ fatawa¸).

21. Sebagian wanita keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih dengan memakai minyak wangi. Begitu juga mereka tidak menutup aurat secara sempurna dan yang terjadi di dalam masjid mereka juga mengangkat suara. pada asalnya itu merupakan tempat fitnah, maka bagaimanakah jika hal tersebut dilakukan di waktu yang utama dan di tempat yang utama pula?. Oleh karena itu, seorang wanita muslimah hendaklah senantiasa menjaga untuk menjauhi hal tersebut agar selamat dari dosa yang mengakibatkan terjadinya perbuatan-perbuatan tersebut.

22. Sebagian orang yang berpuasa mengakhirkan dua waktu shalat yaitu dhuhur dan ashar dengan alasan tertidur, ini adalah kesalahan terbesar. Allah berfirman: “maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS.Al Maa’uun: 4-5) sebagian ahli ilmu mengatakan: “mereka adalah yang mengakhirkan shalat dari waktunya”. dan dalam hadits shahih disebutkan bahwa ibnu mas’ud bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : shalat apakah yang terbaik? Beliau menjawab: shalat pada waktunya. Dalam riwayat lain “di awal waktunya”.

23. Mengakhirkan berbuka puasa. Padahal termasuk sunnah adalah menyegerakan berbuka bagi yang merasa yakin bahwa waktu berbuka puasa sudah tiba. Sebagaimana diriwayatkan dari sahl bin sa’d as sa’idy -semoga Allah meridhainya- bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “manusia dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa”. (muttafaq’alaih). Dan dari anas semoga Allah meridhainya- berkata: Rasululah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘segerakanlah berbuka puasa dan akhirkanlah sahur”.(shahih al jami’ ash shaghir).

24. Sebagian orang berpuasa tidak berbuka kecuali jika sang muadzin selesai mengumandangkan adzannya, dengan alasan kehati-hatian. Ini adalah kesalahan. Apabila seseorang yakin telah mendengar adzan, hendaklah ia berbuka puasa. Barangsiapa yang mengakhirkannya hingga adzan selesai, maka ia telah membebani diri dengan sesuatu yang bukan kewajiban baginya. Adapun menurut sunnah yaitu menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.

25. Lalainya sebagian orang yang berbuka puasa dari mengucapkan do’a. padahal menurut sunnah adalah berdo’a ketika berbuka puasa karena itu merupakan keutamaan yang sangat agung dan orang berpuasa termasuk orang yang do’anya tidak tertolak.

26. Kesibukan sebagian kaum muslimin pada waktu sepuluh hari terakhir untuk membeli pakaian dan kue dengan menyia-nyiakan waktu yang utama karena didalamnya terdapat malam lailatul qodar, sebagainama Allah berfirman: “malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (surat al-qodar, ayat: 3). Dan diantara hal yang menyertai kesibukan mereka dari shalat tahajjud adalah begadang di pasar dalam waktu yang lama untuk jalan-jalan dan belanja. Ini adalah perkara yang disayangkan dan banyak dialami oleh kaum muslimin. Maka kewajiban atas mereka untuk mengikuti sunnah Nabi mereka. Sesungguhnya apabila beliau memasuki sepuluh hari yang terakhir beliau mengencangkan ikat pinggangnya, membangunkan keluarganya dan menghidupkan malamnya. Demikianlah kebiasaan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya –semoga Allah meridhai semuanya-.

27. Sebagian orang yang sakit merasa salah untuk berbuka dan meneruskan puasa dengan kesusahan yang ada. Ini merupakan kesalahan. Karena benar sesungguhnya Allah telah mengangkat dosa dari manusia. Telah diberi keringanan bagi orang yang sakit dalam hal itu. Dan ia harus menggantinya setelah Ramadhan. Allah berfirman: ” Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lan”. (al-baqarah: 185).

28. Kesibukan sebagian orang yang berbuka dari menjawab adzan maghrib. Ini merupakan kesalahan. Karena disunnah bagi orang yang berpuasa dan yang lainnya untuk menjawab adzan dan mengatakan yang semisalnya.

Dari Abi Abu sa’id al khudry –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin”. (muttafaq’alaih). Mengikuti ucapan muadzin dilakukan bersamaan dengan berbuka puasa tanpa memutusnya, karena tidak ada dalil yang melarang makan ketika mengikuti ucapan muadzin. Wallaahu A’alam.

29. Tidak membiasakan anak-anak untuk berpuasa dengan alasan umurnya masih kecil. Padahal disunnahkan untuk membiasakan mereka berpuasa sebelum masa balig dengan tujuan untuk melatih mereka, terlebih lagi apabila mereka mampu melakukannya. Karena telah datang riwayat dari Ar Rabi’ bint mu’awwadz ia berkata: “kami membiasakan anak-anak kami berpuasa dan kami berikan mereka mainan yang terbuat dari bulu, jika mereka menangis ingin makan, kami memberikannya. Begitulah hingga waktu berbuka”. (muttafaq’alaih).

30. Sebagian orang yang sedang bepergian (musafir)mencela untuk berbuka, ini adalah kesalahan. Yang benar adalah seorang yang sedang bepergian pada bulan Ramadhan diperbolehkan untuk berbuka atau berpuasa, dilihat dari keadaannya. Keadaan seorang musafir tidak keluar dari tiga hal:

a. Apabila tidak keberatan untuk berpuasa, maka berpuasa bagi yang kuat melakukannya lebih utama dari pada berbuka. Dengan keumuman firman Allah: “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.Al Baqarah: 184).

b. Apabila puasa memberatkannya, tapi ia tidak mau mengambil rukhshah (keringanan), maka berbuka baginya lebih utama dari pada berpuasa, dengan keumuman firman Allah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS.Al Baqarah: 286) dan sabda Rasululah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : “sesungguhnya Allah senang diambil keringanan-Nya sebagaimana Dia senang dilaksanakan perintah-Nya”. serta sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : “tidak termasuk kebaikan berpuasa ketika bepergian”. (HR.Bukhari – muslim dari hadits sahabat Jabir –semoga Allah meridhainya).

c. Apabila tidak terwujud keberatannya,maka ia memilih antara berpuasa dan berbuka, sebagaimana yang datang dari Hamzah bin ‘amral aslamy bahwasanya ia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; ” apakah aku boleh berpuasa ketika bepergian? –dia adalah orang yang biasa banyak berpuasa- maka Nabi shallallaahu’alaihi wasallam menjawab; “jika kamu mau berpuasalah, dan jika kamu mau berbukalah”. (HR.Bukhari).

para sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah saling mencela dalam hal berpuasa atau berpuasa -di saat bepergian- sebagaimana yang datang dari sahabat Anas bin malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “kami bepergian bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam , maka orang yang berpuasa (diantara kami) tidak mencela orang yang berbuka dan orang yang berbuka tidak mencela orang berpuasa”. (muttafaq’alaihi).

31. cepat marah, berteriak-teriak dan berkata kotor di siang hari bulan Ramadhan. Seyogyanya bagi seorang yang berpuasa mencontoh apa yang dikatakan di dalam hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam : “puasa itu adalah perisai. Apabila hari dimana salah seorang diantara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak, apabila salah seorang mencela atau mencaci maki, maka hendaklah ia mengatakan: “aku sedang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa itu tidak hanya terbatas pada makan dan minum saja, melainkan meliputi puasa anggota badan dari perbuatan maksiat, dan puasanya lisan adalah dari perbuatan keji an akhlaq yang jelek.

32. menyia-nyiakan waktu-waktu utama di siang hari bulan Ramadhan dengan mengikuti berbagai perlombaan yang diiringi dengan macam music dan nyanyian serta sinetron. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini melemahkan iman dan menghilangkan pahala yang sangat agung bagi seorang yang berpuasa yang seharusnya didapatkan di bulan yang mulia ini. Maka bagaimana mungkin seorang muslim menggantikan sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah?.

Maka wajib bagi seorang muslim untuk memanfatkan semua waktunya pada bulan Ramadhan dalam ketaatan kepada Allah, membaca al-qur’an, dzikir, membaca kitab-kitab yang bermanfaat dan berdiam di masjid serta menghadiri majlis-majlis ilmu sehingga ia memperoleh pahala yang besar di bulan yang agung ini.

33. Sebagian orang merasa salah dengan berbuka ketika safar (bepergian). Ini merupakan kesalahan. Karena sesungguhnya keringanan berbuka dalam safar telah ditunjukan oleh Rosulullah shalahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “sesungguhnya Allah menyukai untuk diambil keringanan-Nya sebagaimana menyukai untuk dikerjakan perintah-Nya”.

34. Tergesa-gesa dalam membaca al-qur’an dengan tanpa tadabbur atau tartil melainkan hanya motif menyempurnakan khataman dengan keyakinan bahwa apa yang ia kerjakan itu adalah benar, akan tetapi ia berada di atas bahaya yang besar. Karena al-qur’an diturunkan pada bulan ini kepada Rosulullah Shallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman;

“atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
” (Al-muzammal: 4).

Maka kewajiban dalam membaca al-qur’an adalah dengan tartil, berhati-hati dan memahami artinya.

35. Menyepelekan sunnah ‘itikaf dengan kemampuan yang ada. Sekalipun kebanyakan telah memperoleh libur pada waktu itu, akan tetapi mereka tidak mau mempraktekkan sunnah ‘itikaf di masjid.

36. Sebagian orang yang berpuasa merasa dengan mencukur rambut atau memotong kuku, atau mencabut bulu ketiak, atau bulu kemaluan di siang Ramadhan dengan alasan bahwa hal itu akan membatalkan puasa. Yang benar adalah bahwa semua itu tidak membatalkan puasa dan tidak merusaknya.

37. sebagian orang berpuasa mengira bahwa dengan menelan ludah dan yang semisalnya di siang hari bulan Ramadhan dapat membatalkan puasanya dan mengganggu kaum muslimin lainnya. Yang benar adalah bahwa tidak mengapa menelan ludah walau pun banyak, akan tetapi jika berupa dahak yang kental maka janganlah ditelan tapi hendaklah diludahkan ke tisu atau yang sejenisnya dan tidak dengan suara keras yang dapat menganggu orang-orang di sekelilingnya.

38. Berlebih-lebihan dalam berwudlu dan istinsyaq di siang hari bulan Ramadhan tanpa kebutuhan dengan alasan cuaca yang sangat panas dan hendak meringankan panasnya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “sempurnakanlah wudlu dan celah celahilah jari jemari dan berlebihlah dalam beristinsyaq kecuali jika sedang berpuasa”. Ini adalah dalil bahwa seorang yang sedang berpuasa tidak berebih-lebihan dalam beristinsyaq begitu pun dalam berwudlu, karena hal tersebut menyebabkan masuknya air ke dalam tenggorokan hingga membatalkan puasanya. (fiqhul ibadah).

39. sebagian penderita asma merasa salah menggunakan bukhah (pipa saluran pernapasan) karena khawatir membatalkan puasa. Dalam hal ini Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “penggunaan bukhah diperbolehkan bagi orang yang sedang berpuasa baik di bulan Ramadhan atau lainnya, karena bukhah ini tidak sampai ke lambung melainkan hanya sampai ke saluran udara sehingga ia terbuka karena kekhususan yang ada padanya. setelah itu seseorang dapat bernafas seperti biasa.

40. sebagian orang yang berpuasa merasa salah untuk memakai tetes mata atau telinga, atau hina (zat pewarna rambut) di atas kepala atau celak. Yang benar adalah sesungguhnya semua ini tidak membatalkan puasa dan termasuk sesuatu yang dibolehkan di tengah-tengah puasa menurut salah satu dari dua pendapat ulama yang paling benar. Yang tidak dibolehkan adalah tetesan hidung karena ia tembus ke perut.

Terakhir, kami telah berupaya untuk memaparkan bagian dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh kaum muslimim dan muslimat. Kami mohon kepada Allah semoga berkenan menerima amal shalih puasa dan shalat kita. Dan memberkahi dalam amal-amal kita semua. Shalawat dan salam selalu terlimpahkan atas Nabi kita Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya.

Risalah ini diterjemahkan dari Kutaib Karya Qism Ilmy, di Dar Al-Wathan.

Alih bahasa:

Al faqiir ilaa ‘afwi Rabbih

Hamidin As-Sidawy, Abu Harits

Makkah al mukarramah, 15 Ramadhan 1434 H

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180