Keutamaan Ilmu, Amal dan Ulama – Cerminan Ulama Salaf

Keutamaan Ilmu, Amal dan Ulama

Makkah al-Mukarramah ( 7/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab "Min Akhbar As Salaf “, Karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam,

No comments

Membahas keutamaan ilmu, mengamalkannya serta mendakwahkannya, ibarat mendulang mutiara dari lautan yang tiada habisnya, bagaikan sungai mengalir yang tidak pernah terputus dan seolahnafas yang dibutuhkan oleh semua makhluk. Dimana Ilmu adalah sumber peradaban dan kejayaan setiap umat dengan generasinya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang merasa cukup dari ilmu, karena ilmu juga merupakan sumber kesuksesan, kebahagiaan serta keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat.

Adapun amal, maka ia merupakan buah dari ilmu. Kita sering mengucapkan pepatah yang berbunyi “ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah”. Demi Allah, tidaklah mengingkari akan hal ini melainkan orang yang sombong atau gila. Karena ia telah menolak sesuatu yang sudah jelas bagaikan matahari di siang bolong, baik secara akal maupun syariat. Oleh sebab itu orang yang berilmu akan tetapi tanpa ia ikuti dengan amal, Allah serupakan mereka dengan orang Yahudi. Sebagaimana orang yang beramal akan tetapi tanpa mereka dasari dengan ilmu, Allah telah serupakan mereka dengan orang Nasrani.

Demikian pula para ulama, keagungan mereka sangat langka dan luar biasa. Jika Allah dan Rosul-Nya telah memuji mereka dalam banyak ayat-ayat yang suci serta hadits-hadits yang mulia, maka cukuplah itu sebagai keutamaan mereka sekaligus penggerak bagi kita untuk meniru dan meniti jalan mereka, menghormati dan memuliakan mereka dengan cara yang sesuai dengan syariat dan tidak melukai atau meremehkan mereka dengan lisan atau perbuatan.

Kesimpulannya adalah bahwa semua kebaikan dan keselamatan di dunia dan akhirat -jika kita mau merenungkan dan memikirkan-, maka sumbernya adalah Al-Ilmu (ilmu agama). Tentunya jika dibarengi dengan amal shalih dan ikhlas hanya mengharap ridla serta wajah Allah semata, sebagaimana semua sumber kejelekan dan siksa adalah Al-Jahl (bodoh) dengan ilmu agama.

Oleh karena itu, disini akan kami paparkan cerminan ulama salaf tentang keutamaan ilmu, amal, ulama, dengan harapan supaya hal ini bisa kita pratekkan pada diri kita sendiri, anak keturunan kita dan juga orang lain. Sehingga kita bisa mewujudkan tatanan pribadi, keluarga dan masyarakat serta bangsa yang diridhai oleh Allah. Karena berdasarkan ilmu yang benar, amal yang ikhlas serta menghormati para ulama kaum muslimin.

1. Muhammad Bin Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari mana kamu mengambilnya”. (Hilyatul Auliya: 2/278).

2. Az-zuhry berkata: “tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu”. (Hilyatul Auliya: 3/365).

3. Imam Syafi’i berkata: “membaca satu hadits lebih baik dari pada shalat sunnah”. (Siyar ‘Alamun Nubala’: 10/23).

4. Mu’tamir Bin Sulaiman dari bapaknya, ia berkata: “seorang berkata kepada abi majlis, sedangkan mereka lagi mempelajari fiqh dan sunnah: andaikata kamu membaca satu surat, niscaya lebih utama, maka ia berkata: “aku tidak mengira bahwa membaca satu surat itu lebih utama dari apa yang sedang kita kerjakan”. (Hilyatul Auliya: 3/112).

5. Ditanyakan kepada Atha Bin Abi Rabah: “Apa yang paling utama diberikan kepada seorang hamba? Maka ia menjawab: “mengilmui tentang Allah, yaitu dengan mempelajari agama”. (Hilyatul Auliya: 3/315).

6. Umar bin Abdil Aziz berkata: “barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka apa yang ia rusak akan lebih banyak dari pada apa yang dia perbaiki”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/131).

7. Hasan Al Bisry berkata: “satu pintu (bab) dari ilmu yang aku mempelajarinya adalah lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”. (Hilyatul Auliya 6/271).

8. Az-Zuhri berkata: “ mempelajari sunnah adalah lebih utama dari pada beribadah selama seratus tahun “. (al amalilisysyajari 1/66).

9. Al-Hakam bin Utaibah berkata: “sesungguhnya orang yang menuntut satu pintu dari ilmu kemudian ia mengamalkannya, maka baginya kebaikan dari dunia. Seandainya dunia miliknya, maka ia akan palingkan ia untuk akhirat” (Al Amali 1/63).

10. Abdurrahman Bin Al Mahdi berkata: “seseorang itu lebih butuh kepada ilmu dibanding butuhnya ia terhadap makan dan minum “. (Hilyatul Auliya 4/9).

11. Yahya Bin Abi Katsir berkata: “mempelajari fiqih dan alqur’an adalah merupakan shalat “ ( Hilyatul Auliya 3/67).

12. Imam Syafi’i berkata: “mempejalari ilmu di sebagian malam lebih aku cintai dari pada menghidupkannya”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/117).

13. Beliau juga berkata: “aku tidak mengetahui ibadah sedikitpun yang lebih utama dari pada manusia yang mengajarkan ilmu”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/124).

14. Dari ibnu Mas’ud, ia berkata: “belajarlah kalian dan jika kalian telah mengetahui maka amalkanlah”. (Jami Bayan Al-Ilmy).

15. Dari Salim Al-Miry berkata, aku mendengar Hudzaifah berkata: “Kadar/tingkatan ilmu seseorang akan menentukan tingkat rasa takutnya kepada Allah”. (Al-Mushannaf: 7/139).

16. Dari Abi Darda, ia berkata: “kamu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga kamu menjadi orang yang berilmu dan kamu tidak akan menjadi orang yang baik sehingga kamu beramal dengan ilmu”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/698).

17. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “sesungguhnya semua manusia pandai bicara, barang siapa yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya, maka itu adalah bagian yang ia dapatkan. Dan barangsiapa yang ucapannya menyelisihi perbuatannya, maka sesuangguhnya ia telah menjelekan dirinya sendiri”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/696).

18. Dari Sufyan Al-Tsaury, ia berkata: “Tidaklah sampai kepadaku sebuah hadits pun dari Rosulullah melainkan aku telah mengamalkannya walaupun sekali”. (Siyar ‘Alami Nubala: 7/242).

19. Ibnu munkadir berkata: “Ilmu akan bersambung dengan amal, jika ia mau mengamalkan, jika tidak maka ilmu akan pergi”. (Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal, hal: 35).

20. Malik bin dinar berkata: “Barang siapa yang diberi ilmu yang tidak ia amalkan, maka tidaklah ia diberi ilmu yang bermanfaat”. (Adab Dunya Wa Din, hal: 70).

21. Tidaklah aku menulis sebuah haditspun melainkan aku telah mengamalkannya, sampai lewat kepadaku sebuah hadits bahwasannya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi Abu Thaibah satu dinar, maka aku berbekam dan aku beri tukang bekam satu dinar”. (Siyar ‘Alami Nubala’: 11/296).

22. Dari Amr Bin Qois Al-Mulai, ia berkata: “Apabila kamu mendengar sesuatu dari kebaikan maka kerjakanlah walaupun hanya sekali niscaya kamu akan menjadi pelakunya”. (Az-zuhdu li Ahmad: 326).

23. Dari Malik bin Dinar, ia berkata: “Apabila seseorang mencari ilmu untuk ia amalkan, maka ilmunya akan menghiburnya dan apabila seseorang mencari ilmu untuk selain amal, maka ilmu akan menambahkan kepadanya kesombongan”. (Roudzatul uqola, hal: 35).

24. Dari Malik bin Dinar, ia berkata: “Sesungguhnya seorang ‘alim apabila ia tidak mengamalkan ilmunya maka nasehatnya akan luput dari hati, seperti luputnya air hujan dari batu yang licin”. (hilyatul auliya: 6/288).

25. Dari Habib bin Ubaid, ia berkata: “carilah ilmu dan pahamilah serta ambillah manfaat darinya dan janganlah kamu mencari ilmu untuk memperindah diri dengannya, karena sesungguhnya dikhawatirkan apabila kamu dipanjangkan umur akan mengetahui sebagian orang yang memperindah diri dengan ilmu sebagaimana seseorang memperindah diri dengan pakaiannya (tanpa diamalkan)”. (Hilyatul Auliya’: 6/102).

26. Dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “bukanlah yang dimaksud dengan orang alim adalah orang yang hanya mengetahui yang baik dan yang buruk, akan tetapi yang dimaksud dengan orang alim adalah orang yang mengetahui kebenaran kemudian ia ikuti dan mengetahui kejelekan kemudian ia jauhi”. (Hilyatul Auliya’: 7/274).

27. Dari Abi ‘Asim, ia berkata: “Barang siapa yang mencari hadits maka sungguh ia telah mencari suatu perkara yang paling tinggi, maka ia wajib menjadi orang yang paling baik”. (Siyar ‘alamin nubala: 9/483).

28. Dari Sufyan Atsaury, ia berkata: “Hiasilah ilmu (dengan amal) dan janganlah kalian berhias dengan ilmu”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/665).

29. dari Hasan Al-Basry, ia berkata: “Yang melebihi manusia dengan sepantasnya untuk melebihi mereka dalam amal”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/706).

30. Dari Imam Malik, ia berkata: “wajib bagi setiap orang yang mencari ilmu untuk mempunyai sikap rendah hati, ketenangan dan rasa takut (kepada Allah)”. (Jami’ Bayanil Ilmy: 1/710).

31. Dari Ibrahim bin Ismail, ia berkata: “kami memohon kemudahan (kepada Allah) untuk menghafal hadits dengan mengamalkannya”. (Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal, hal:149).

32. Dari Auza’i, ia berkata: “Apabila Allah menghendaki kejelekan bagi suatu kaum, maka Allah akan membukaan pintu perdebatan atas mereka dan menolak mereka dari amal”. (Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal, hal: 122).

33. Dari Wahb Al-Makky, bahwasanya seorang pemuda telah memperbanyak pertanyaan kepada Ummu Darda, maka Ummu Darda bertanya: “apakah kamu telah amalkan semua apa yang kamu tanyakan?” Pemuda menjawab: “tidak”. Maka Ummu Darda berkata: “jangan kamu tambah hujjah Allah atas diri kamu!”. (Az-Zuhdu Li Ahmad, hal:219).

34. Dari Abi tsaur ia berkata: aku mendengar Imam Syafi’i mengatakan: “sepantasnya bagi seorang faqih untuk meletakan tanah di atas kepalanya sebagai bukti kerendahan bukti dan syukur kepada Allah”. (Siyar ‘Alami Nubala: 10/53).

35. Abu Qilabah berkata: “Ulama itu seperti bintang, mereka adalah imam yang dijadikan petunjuk dengannya. Apabila mereka hilang manusia akan binasa dan apabila mereka tinggalkan manusia akan tersesat”. (Hilyatul Auliya’: 2/283).

36. Hilal bin Khobab berkata, aku bertanya kepada said bin jubair: “apakah tanda binasanya manusia? Maka ia menjawab: yaitu apabila pergi atau binasa ulamanya”. (Hilyatul Auliya’: 4/276).

37. Hasan al Basry berkata: “kematian seorang ‘alim adalah merupakan keretakan dalam agama islam, tidak ada yang menghalanginya sesuatu pun selama ada pergantian malam dan siang”. (az zuhud 262).

38. Abu Qilabah berkata: “perumpamaan ulama di bumi adalah adalah seperti bintang-bintang di langit, barang siapa yang meninggalkannya akan tersesat dan barang siapa yang menghilang darinya maka ia akan kebingungan”. (Al-Aqul Farid: 6/19).

39. Hasan Al-Basry berkata: “Andaikata bukan karena ulama niscaya manusia akan seperti binatang”. ( Mukhtashar ninhajul qosidin, hal: 24).

40. Hasan Al-Basry berkata: “Sesungguhnya fitnah ini apabila telah datang akan diketahui oleh setiap ulama dan apabila ditelah pergi akan diketahui oleh setiap orang yang jahil”. (Thabaqot Libni Saed: 7/166).

41. Malik bin Anas berkata, bahwa ibnu mengatakan: “Dahulu orang-orang belajar adab atau etika seperti mereka mempelajari ilmu. Ia juga berkata: “suatu ketika Ibnu sirin mengutus seorang untuk memperhatikan perilaku dan keadaan Qosim bin Muhammad”. ( Jami Al-Khatib: 1/79).

42. Dari Abdurrahman bin Habib ia berkata: Aku mendengar Nafi’ bin Jubair berkata kepada Ali bin Husain: “Semoga Allah mengampunimu, engkau adalah manusia yang paling utama dan pemimpin mereka, mengapa pergi dan duduk di majlis seorang budak ini, yaitu Zaid Bin Aslam? Maka ia menjawab: “sepantasnya bagi ilmu untuk diikuti kemana aja ia berada”. (Hilyatul Auliya’: 3/137).

43. Dari Abi Salamah dari Ibnu Abbas, sesungguhnya (suatu ketika) ia memegang kekang tali unta Zaid Bin Tsabit, maka Zaid Bin Tsabit berkata kepadanya: “menyingkirlah wahai anak paman Rosulullah shallahu ‘alaihi wasallam, maka Ibnu Abbas berkata: “demikianlah kami diperintahkan untuk memperlakukan para tokoh dan ulama kami”. (Al-Mustadrok: 3/478).

Terakhir, alangkah baiknya jika kita renungkan kata mutiara dibawah ini:

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di dunia, maka harus dengan ilmu”

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di akhirat, maka harus dengan ilmu”

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di dunia dan akhirat, maka harus dengan ilmu”

“Ya Allah, jadilkanlah kami, keluarga kami serta keturunan kami orang-orang yang mencintai ilmu, mengamalkan ilmu serta memuliakan para ulama yang berada di atas syariat-Mu”

Penulis Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits Makkah al-Mukarramah ( 7/7/1434 H )

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf “, Karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda