Kota Makkah Al-Mukarramah dan Keistimewaannya (1)

kota makkah al-Mukarramah dan Keistimewaannya 1

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Beberapa Kitab *

1 comment

Segala puji hanya milik Allah, sholawat dan salam senantiasa teruntuk Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya sampai akhir zaman, amma ba’du.

Makkah Al-Mukarramah adalah tanda kesucian dan tempat tinggal yang suci. Negeri yang paling dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya. Allah telah memilihnya agar menjadi negeri pertama di permukaan bumi untuk dijadikan sebagai tempat ibadah. Sebidang tanah yang paling dekat kepada langit. Allah telah menancapkan kecintaan dan kerinduan kepada hati orang-orang mukmin kepadanya. Tidaklah seorang menetap disana kecuali akan mengambil hatinya dan tidaklah berpisah kecuali merasakan kesedihannya, sangat rindu untuk kembali kepadanya. Hal ini tidaklah asing, karena itu merupakan anugerah ilahi untuk Makkah dan penduduknya.

Jika boleh diibaratkan, Makkah dibanding semua kota di dunia adalah seperti matahari di antara bintang-bintang. Karena ia merupakan ibu dan induk semua kota. Bahkan kiblat kaum muslimin di alam jagat ini.

Allah ta’ala memilih Makkah sebagai tempat turunnya risalah dan diutusnya Nabi yang paling mulia, sebaik-baik mahluk dan penutup para Nabi. Oleh karena itu Allah mengancam dengan kebinasaan bagi siapa saja yang berniat jelek kepadanya.

Disamping itu, Makkah merupakan pusat bumi dan tempat turunnya wahyu dan al-qur’an. Allah telah menjadikanya sebagai tanah haram sejak penciptaan langit dan bumi, dimana manusia di dalamnya merasa aman dan tentram, bahkan burung dan binatangpun merasakan kenyamanan. Hal ini Tidaklah mengherankan, karena Allah telah menanggung dari kelaparan, melindungi dari ketakutan. Di dalamnya terdapat Ka’bah AlMusyarrafah, Hajar Aswad, Maqam Ibrohim dan lain-lain yang merupakan syiar Allah, yang insyaallah kedepan akan saya kupas satu persatu. Kesucian Makkah akan langgeng sampai zaman sebagaimana keberkahannya akan senantiasa menjadi saksi bagi setiap muslim yang pernah mengunjunginya.

Akan tetapi sangat disayangkan jika banyak dari kaum muslimin yang masih belum tahu akan keberadaan dan kedudukan kota Makkah yang sesungguhnya. Oleh karenanya semoga tulisan ini menjadi secuil pelita untuk membekali kaum muslimin dalam mengenal lebih dekat akan pentingnya mengenal tanah suci Makkah ini, khususnya bagi saudara-saudaraku yang akan pergi memenuhi “panggilan” ilahi, baik untuk melaksanakann haji maupun umrah. Dan semoga semua kaum muslimin dimudahkan untuk mengerjakan keduanya… Amiiiin

Dalam tulisan ini hanya mengambil dan terjemah dari kitab para ulama, yang akan membahas tiga point penting, yang berhubungan dengan kota Makkah, yaitu mencakup:

1. Nama-nama lain kota Makkah.

2. Keistimewaan kota Makkah.

3. Beberapa hukum penting yang berkaitan dengan tanah haram, yaitu berburu, menebang pepohonan dan barang temuan.

Pertama: Nama-namanya

Al-Balad Al-Haram adalah Negeri yang telah diharamkan, disucikan dan dimuliakan oleh Allah. Memiliki beberapa nama sebagai tanda pengagungan terhadapnya. Dan diantara nama-nama Al-Balad Al-Haram yang terdapat dalam Al qur’an Al karim adalah:

a. Makkah.

Nama ini adalah nama yang paling dikenal. Allah ta’aala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Fath: 24).

b. Bakkah, Allah ta’aala berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. Ali Imran: 96)

c. Ummul Quro, Allah ta’aala berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ (٧)

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Quro (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam”. (QS. Asy Syura: 7).

Ummul Quro adalah nama Makkah menurut kesepakatan ulama tafsir, dinamakan Ummul Quro karena ia lebih mulia dan lebih istimewa dari pada seluruh negeri, dan ia lebih dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam.

d. Al Balad Al-Amin (negeri yang aman),

Allah ta’aala berfirman:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (١)وَطُورِ سِينِينَ (٢)وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ (٣)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman,” (QS. At Tiin: 1-3).

Al Balad Al amin adalah kota Makkah, tanpa ada perselisihan. Dan selainnya dari nama-nama yang sangat banyak yang diberi nama dengan Al balad Al amin.

Batasan-batasannya.

Untuk kepentingan urusan ini dan apa-apa yang berhubungan dengan hukum-hukum syari’at yang sangat kompleks, Allah mensyari’atkan untuk menetapkan batasan-batasan tanah haram dengan wahyu dari-Nya. Untuk itu Jibril ‘alaihis salam turun untuk melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang sedang membangun tanda-tanda batasan tanah haram, dan beliau sendiri lah yang meletakkan tanda-tanda batasan tanah haram tersebut. Tanda-tanda batasan tanah haram tersebut sudah mengalami pembaharuan pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yaitu di saat beliau mengutus Asad Al Khuza’i pada tahun fathu Makkah untuk melakukan pembaruan terhadap tanda-tanda batasan tanah haram.

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibnu Abbas – radhiyallaahu ’anhuma -, bahwa” (Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengutus asad Al Khuza’i pada tahun Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) untuk memperbaharui tanda-tanda perbatasan tanah haram. Dahulu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang meletakkannya setelah diperlihatkan oleh Jibril ‘alaihis salam)”.

Ibnu Hajar mengatakan: “hadits ini sanadnya hasan. Beginilah batasan-batasan tanah haram diperbaharui sesuai dengan kebutuhan sampai zaman kita sekarang.

Imam Nawawi berkata: ”Ketahuilah bahwasanya mengetahui batasan-batasan tanah haram adalah sesuatu yang yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hal tersebut sangat berkaitan dengan banyaknya hukum-hukum syari’at”.

Kedua: Keistimewaannya.

1. Kesucian Makkah, negeri Allah yang haram.

Sesungguhnya Allah telah memilih tempat ini dan menjadikannya haram (suci) sejak penciptaan langit dan bumi. Allah ta’aala berfirman:

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. An Naml: 91)

Begitu juga Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menunjukkan hal itu. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan ketika Fathu Makkah: “sesungguhnya negeri ini, Allah telah mengharamkannya (mensucikannya) sejak penciptaan langit dan bumi, maka ia akan senantiasa suci dengan kesucian dari Allah sampai hari kiamat”.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah menampakkan kesucian kota Makkah, membangun dan mensucikan baitullah Ka’bah serta menyeru sekalian manusia untuk berhaji. Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah bin zaid bin ‘ashim radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “sesungguhnya Ibrahim ‘alaihis salam telah mengharamkan Makkah dan berdo’a untuknya. Dan aku telah mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah dan aku berdo’a untuknya dalam mud dan sha’nya sebagaimana yang telah dido’akan Ibrahim ‘alaihis salam untuk Makkah”.

Hal ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah Allah sebutkan bahwasanya kota Makkah itu telah diharamkan sejak penciptaan langit dan bumi. Setelah menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim lah yang telah mensucikan Makkah, Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “tidaklah menafikan antara hadits-hadits ini yang menunjukkan bahwa Allah yang telah mengharamkan Makkah pada saat penciptaan langit dan bumi, dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim yang telah mengharamkannya- karena Nabi Ibrahim menyampaikan hukum tentang pengharamannya dari Allah dan ia (kota Makkah) senantiasa dalam keadaan haram sebelum Nabi Ibrahim membangunnya. Bersamaan dengan hal ini Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun berdo’a.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Wahai Rabb kami, utuslah kepada mereka salah seorang utusan dari kalangan mereka” (QS. Al-Baqarah: 129).

Allah telah mengabulkan do’a tersebut dengan ilmu dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu ada sebuah hadits yang menyebutkan, bahwa mereka (para sahabat) bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai Rasulullah kabarkanlah kepada kami bagaimana awal mulanya engkau diutus?”. Beliau menjawab: “Do’anya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kabar gembira yang diberikan kepada Isa putra Maryam dan ibuku yang telah melihat seolah-olah ada cahaya yang keluar darinya yang menerangi istana negeri Syam”

Tentang pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail ‘alaihimassalam, Allah ta’aala berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al Baqarah: 127).

Tentang pensucian Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terhadap Ka’bah dan seruannya kepada manusia untuk mengerjakan haji, Allah ta’aala berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS. Al Hajj: 26-27).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan akan agungnya kesucian baitullah dan kesuciannya hingga hari kiamat, setelah Allah menghalalkan baginya waktu sesaat untuk mensucikannya dari patung-patung dan kesyirikan serta amal-amal jahiliyah.

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya Allah telah menahan Makkah dari serangan gajah dan memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. dan sungguh ia (Makkah) tidak pernah dihalalkan kepada seorangpun sebelumku, ia dihalalkan untukku dengan waktu sesaat, sungguh ia tidak akan dihalalkan kepada seorang pun setelahku”. maka Makkah telah diharamkan dan disucikan oleh Allah sampai hari kiamat.

Kesucian itu ditujukan untuk masjidil haram dan yang mengelilinginya dari semua penjuru. Allah telah menjadikan hukum kesuciannya sebagai tanda penghormatan untuk Makkah dan Ka’bah yang disucikan.

2. Allah bersumpah dengan namanya di dalam Al qur’an.

Allah subhaanahu wa ta’aala telah bersumpah dengan negeri-Nya yang haram di dalam beberapa ayat dari Al qur’an, hal ini menunjukkan akan agungnya yang disumpahi dan untuk mengingatkan akan ketinggian derajatnya di sisi Allah subhaanahu wa ta’aala . Allah berfirman:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (١)وَطُورِ سِينِينَ (٢)وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ (٣)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman”. (QS. At Tiin: 1-3).

Ungkapan dalam bentuk ini menunjukkan akan agungnya perkara negeri yang haram ini, sungguh Allah telah mengagungkannya di saat bersumpah dengannya. di dalam kandungan kata sumpah tersebut ditunjukkan dengan kata isyarah “ ini “ yang berarti begitu dekatnya kedekatan negeri yang haram di sisi Allah Azza Wa Jalla. Kemudian Dia mensifatinya dengan kata “ yang aman” di dalam bahasa arab “ Al amiin” berarti fa’il yang artinya “ yang aman”.

Allah ta’aala berirman:

لا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ (١)وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ (٢)

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah), dan Kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini”. (QS. Al Balad: 1-2).

Ini adalah sumpah lain, Allah menggunakannya dengan bentuk bahasa lain yaitu dengan sumpah muakkad yang disertai isim isyarah juga “dengan kota ini”.

3. Do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk kota Makkah dan penduduknya.

Didalam Al qur’an Allah telah menyebutkan kepada kita bahwa setelah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menempatkan keluarganya (anak dan istrinya- ‘alaihimassalam), beliau berdo’a kepada Allah untuk negeri ini dan penduduknya. Beliau berdo’a supaya Allah menjadikannya sebagai negeri yang aman, menjauhkan anak cucunya dari menyembah berhala, menjadikan hati kaum muslimin condong kepada mereka dan negeri mereka, memberi mereka rizki berupa buah-buahan dan supaya Allah mengutus seorang nabi untuk dan dari kalangan mereka.

Do’a-do’a ini sungguh penuh barakah dari sang kekasih Allah, bapak para nabi ‘alaihis salam, semua Allah sebutkan di dalam kitab-Nya yang mulia. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim 35-37).

Allah juga berfirman di dalam surat Al baqarah:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٢٩)

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Albaqarah: 129).

Allah ta’aala telah mengabulkan do’a yang penuh barakah ini, dengan memberi penduduk lembah yang tidak memliki sarana bercocok tanam ini berupa buah-buahan yang dapat dipetik dari segala arah dan musim, sehingga buah-buahan yang biasa ada di musim dingin terdapat di musim panas, dan buah-buahan yang biasa ada di musim panas terdapat di musim dingin. Maha suci Allah Yang Maha mengabulkan segala do’a dan segala puji Bagi Allah yang Maha memberi.

Maka segala Karunia yang Allah telah berikan kepada penduduk negeri yang haram ini adalah merupakan peringatan bagi mereka akan keutamaan suatu nikmat dan peringatan keras dari perilaku yang jelek jika dilakukan di rumah-Nya dan tanah-Nya yang suci. , hal ini terdapat dalam firman Allah:

أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ

“Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Al Qashash: 57).

Adapun do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam– sang kekasih Allah – supaya hati kaum muslimin senantiasa condong dan rindu kepada negeri mereka, maka Allah telah mengabulkannya dengan dijadikannya rumah ini (Ka’bah) sebagai tempat berkumpulnya semua manusia (yang beriman), mereka berkumpul di tempat ini dan tidak pernah merasa puas untuk selalu mendatanginya.

Berkenaan dengan dijadikannya kecintaan dan kerinduan di dalam hati orang – orang beriman terhadap baitullah ini, Ibnu Abbas, Mujahid dan Sa’id Bin Jubair berkata: “seandainya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan “hati semua manusia”, niscaya bangsa Persia, Romawi, Yahudi, Nasrani dan semua manusia lainnya akan memenuhi baitullah ini, akan tetapi beliau ‘alaihis salam mengkhususkan kata “manusia” dengan orang-orang Islam beriman”.

Adapun do’anya sang kekasih Allah untuk ummat ini, maka Allah telah mengabulkan dengan diutusnya Muhammad Rasulullah shallalaahu’alaihi wa sallam sebagai utusan di kalangan orang-orang yang ummi (tidak bisa menulis dan membaca) dan juga di kalangan manusia dan jin.

4. Negeri yang paling dicintai oleh Allah.

Nash-nash Al-qur’an telah menyebutkan bahwa negeri yang haram ini adalah negeri yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata untuk Makkah: “sungguh engkau adalah sebaik-baik negeri dan paling aku cintai, seandainya kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat selainmu”.

Dari Abdullah bin Adiy Bin Hamra’ berkata: “aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas hazwarah sambil berkata: “ sungguh engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi Allah yang paling Allah cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pernah pergi darimu”.

5. Tidak akan dimasuki Dajjal.

Sungguh Allah telah memuliakan kota-Nya yang aman, Makkah dan kota Rasul-Nya, Madinah dengan terhalangnya dajjal untuk memasuki keduanya. Allah telah menyiapkan untuk kedua kota tersebut malaikat-malaikat yang akan menjaga keduanya darinya, maka dajjal tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam Makkah, kota yang telah Allah sucikan dan kota yang aman. Begitu juga tidak akan bisa masuk ke dalam Thayyibah, Madinah (kota) Rasululah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Hal ini telah disebutkan di dalam riwayat imam Bukhari dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “tidaklah suatu negeri melainkan akan dilangkahi oleh dajjal kecuali Makkah dan Madinah, tidak ada celah dari celah-celahnya melainkan para malaikat berbaris rapat untuk menjaganya, kemudian kota Madinah berguncang tiga kali, maka Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan orang munafik darinya”.

Dan dalam khabar dari Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu– dari imam Muslim- di dalamnya terdapat perkataan Dajjal: “hampir-hampir aku tidak diizinkan untuk keluar. Maka aku keluar berjalan di muka bumi, tidaklah suatu kampung melainkan aku singgahi dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Madinah, keduanya telah diharamkan untukku. Setiap kali aku hendak memasuki keduanya atau salah satu dari keduanya, ada malaikat yang menyambutku dengan pedang di tangannya untuk menghalangiku dari kota tersebut. Dan sungguh pada setiap celah dari keduanya terdapat malaikat yang selalu menjaganya”.

6. Tempat menyatu dan kembalinya iman.

Imam muslim meriwayatkan di dalam shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali seperti semula, ia dapat menyatukan antara dua masjid sebagaimana menyatunya ular di dalam lubangnya”.

Imam Nawawi berkata: “dua masjid tersebut adalah Makkah dan Madinah”.

7. Dilipatgandakannya pahala shalat di masjidilharam.

Masjidil Haram sebagaimana ia merupakan rumah pertama yang diletakkan bagi manusia, maka Allah memuliakan orang-orang yang shalat di dalamnya dengan pelipatgandaan pahala shalat. Ini adalah karunia yang sangat agung dari Allah Yang sangat penyantun dan penyayang pada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk rumah yang mulia ini.

Maka sungguh merugilah orang yang tinggal di Makkah dan bertetangga dengan rumah-Nya serta dibukakan baginya pintu kebaikan dan pahala yang berllimpah, kemudian dia berpaling dan melalaikan shalat serta semua amal kebaikan didalmnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “shalat di masjidku ini (nabawi) lebih baik dari pada seribu kali shalat di tempat lain kecuali masjidil haram”.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “shalat di masjidku ini (nabawi) lebih utama dari pada seribu kali shalat di tempat lain kecuali masjidil haram. dan shalat di masjidil haram lebih utama dari pada seratus ribu kali shalat di tempat lain”.

Apakah pahala berlipat ganda dan keutamaan shalat di masjidil haram ini hanya berlaku di area Ka’bah saja atau juga meliputi semua tanah haram? Dalam hal ini terjadi perselisihan di antara ahli ilmu, ada yang mengartikannya secara khusus dengan hanya meliputi area Ka’bah saja dan ada yang mengartikannya secara umum dengan meliputi semua tanah haram.

Banyak dari kalangan ulama yang menguatkan pendapat bahwa pelipatgandaan pahala shalat di masjidil haram meliputi semua tanah haram. Diantara yang mengatakan ini adalah seorang tabi’in dari Makkah yaitu Atha bin Abi Rabah, beliau adalah imamnya ahli Makkah di masanya. Telah bertanya kepadanya Rabi’ bin Shubaih, ia berkata: “wahai abu Muhammad, keutamaan yang disebutkan itu apakah untuk masjidil haram saja atau semua tanah haram?”. Maka, Atha bin Abi Rabah menjawab: “semua tanah haram, karena sesungguhnya tanah haram itu semuanya masjid”.

Dan diantara yang mengatakan hal ini juga yaitu imam Ibnul Qayyim, dalam hal ini beliau mempunyai pembahasan yang berharga. inilah pendapat jumhur ulama, dan yang dikuatkan oleh ulama kontemper yaitu syekh. Abdul Aziz Bin Baz –rahimahullah-.

Walaupun demikian, tidak diragukan lagi bahwa shalat di masjidil haram yang hanya meliputi Ka’bah saja adalah lebih utama. Karena akan mendatangkan ketenangan jiwa, kelapangan dada, dan banyaknya orang berkumpul yang merasa dekat dengan Ka’bah.

Sebagian ahli ilmu berpendapat tentang pelipatgandaan pahala semua kebaikan yang dilakukan di tanah haram, ini adalah perkataan imam ahmad dan pilihan an-nawawi.

Syaikhul Islam mengatakan: “shalat dan selainnya yang dilakukan di tempat yang dekat dengan Makkah adalah lebih utama, dan berdekatan dengan tempat yang di dalamnya banyak keimanan dan ketaqwaannya juga lebih utama. Dilipatgandakannya pahala kebaikan dan kejelekan itu sesuai dengan tempat atau waktu. sebagaimana yang disebutkan oleh Al Qadhi dan Ibnul Jauzi.

Bersambung insyaAllah ta’ala………

* Maraji’/Referensi:

1. Al-Balad Al-Haram Fadhaa-il Wa Ahkam, Karya Kuliah Usuludin Universitas Ummu Quro.

2. Akhbar Makkah Wa Ma Jaa-a Fiiha Min Atsar, Karya Abul Walid Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Azroqy, (wafat tahun 250 H).

3. Takshilul Maram Fi Akhbari Al-Bait Haram Wal Masyaa’ir Al-A’dzom, Karya Muhammad Bin Ahmad As-Shabbagh (wafat tahun 1312 H).

4. Al-Ka’bah Al-Musyarrafah Tarikh Wa Ahkam, Karya Abdullah Bin Said Al-Hasany. Cet. 1. Tahun (1433 H).

5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Karya Abu Fida’ Ismail Bin Amr Bin Kastir, (wafat tahun 774 H).

6. At-Tarikh Al-Qowim Li Makkah Wa Baitullah Al-Karim, karya Muhammad Thohir Kurdy.

7. Zadul Maad, Karya Syamsuddin, Abu Abdillah Muhammad Bin Abi Bakr, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, wafat (751 H).

Diringkas oleh: Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1