Kota Makkah Al-Mukarramah dan Keistimewaannya (2)

kota makkah al-Mukarramah dan Keistimewaannya (2)

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

* Beberapa Kitab

No comments

Para pembaca yang budiman, ikhwati fillah…. tulisan ini adalah merupakan kelanjutan dari pembahasan yang lalu, yaitu Kota Makkah Al-Mukarramah dan Keistimewaannya (1). Semoga bisa menambah ilmu kita semuanya. Selamat membaca.

8. Diharamkan berbuat ilhad (penyimpangan) di tanah haram

Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam kitab-Nya telah mengharamkan perilaku yang menyimpang yang dilakukan di tanah haram-Nya, Makkah. dan mengancam pelakunya dengan siksa yang sangat pedih dan kehinaan yang sangat besar. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”. (QS. Al Hajj: 25)

Ibnu jarir berkata: “yang dimaksud dengan ilhad adalah condongnya hati terhadap kedzaliman”. sebagian ulama menafsirkannya dengan kesyirikan. Sedangkan yang lain menafsirkannya dengan menghalalkan yang haram di tanah haram. Dan ada juga yang menafsirkannya dengan menimbun makanan di Makkah. Semua itu disebutkan oleh imam ath thabari di dalam tafsirnya.

Perbuatan ilhad mencakup semua kemungkaran dan selainnya, hal ini jika dilihat dari segi tafsir. Adapun lebih jelasnya – wallahu’alam- bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan ilhad adalah mencakup setiap maksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Syeikh abdul Aziz Bin Baz –rahimahullah– berkata: “kalimat ilhad adalah mencakup setiap kecondongan kepada kebatilan baik dari sisi aqidah atau selainnya. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan”.

semua bentuk kejahatan tersebut adalah nakirah (umum), artinya Jika seseorang berbuat ilhad, maka ia terancam dengan ancaman yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan pengharaman ilhad ini di tanah haram, dan menjelaskan bahwa pelakunya termasuk manusia yang paling dibenci di sisi Allah Azza Wa Jalla.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“tiga golongan yang paling dibenci oleh Allah, yaitu yang berbuat ilhad (menyimpang) di tanah haram, yang menginginkan adanya sunnah jahiliyah dalam Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tanpa hak”.

Ibnu umar radhiyallahu ‘anhuma memasukkan perbuatan ilhad di tanah haram ini termasuk diantara dosa-dosa besar .

Imam Ath Thabari meriwayatkan di dalam tafsirnya dari Thailasah Bin Ali berkata: “aku mendatangi Ibnu Umar di waktu sore pada hari Arafah sedangkan beliau berada di bawah naungan pohon arak , maka aku bertanya kepadanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “mempersekutukan Allah, menuduh wanita suci, membunuh jiwa yang mukmin, lari dari peperangan, sihir, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, durhaka kepada kedua orangtua muslim, berbuat ilhad di baitullah al haram, yang mana ia adalah kiblatnya kalian baik bagi yang masih hidup maupun yang sudah mati”.

Sebagai catatan bahwa orang yang mendapat ancaman dengan siksa yang pedih di dalam ayat-ayat diatas adalah orang yang bermaksud atau berniat untuk berbuat ilhad walaupun ia belum melakukannya, maka bagaimanakah dengan orang yang sudah melakukannya? Oleh karena itu ibnu mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “jika seseorang berniat untuk melakukan ilhad di tanah haram dan di tempat yang terbuka, sungguh Allah akan menimpakan kepadanya adzab yang sangat pedih.

Ibnu Katsir berkata, sebagian ahli ilmu mengatakan: “barangsiapa yang berkeinginan melakukan kejahatan di Makkah, maka Allah akan menimpakan kepadanya siksa yang pedih dikarenakan keinginannya tersebut walaupun belum melakukannya. berbeda dengan tempat selain Makkah , maka tidak dihukum karena keinginan”.

Syeikh abdul Aziz Bin Baz –rahimahullah– berkata: “hal yang menunjukkan kerasnya ancaman Allah terhadap kejahatan yang dilakukan di tanah haram, dan bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat besar adalah firman Allah:

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”. (QS. Al Hajj: 25).

Hal ini menunjukkan bahwa kejahatan di tanah haram adalah perkara yang sangat besar walaupun hanya sekedar keinginan atau niat untuk melakukan kejahatan saja. Maka akan mendapat ancaman yang sama. Jika yang hanya berniat saja mendapat ancaman dengan siksa yang pedih, maka bagaimanakah dengan orang yang sudah melakukan ilhad di tanah haram dengan berbagai kejahatan dan kemungkaran? Maka dosanya tentu lebih besar dari yang hanya sekedar berkeinginan. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa perbuatan jahat yang dilakukan di tanah haram adalah perkara yang berbahaya”.

Maka ini adalah peringatan bagi orang yang dimuliakan oleh Allah dengan bertempat tinggal di negeri ini, dan diberikan nikmat serta dimudahkan untuk berkunjung ke tempat ini. Ya Allah berilah kami rizki untuk menjadi sebaik-baik tetangga rumah-Mu.

9. Diharamkan peperangan dan pertumpahan darah di kota Makkah serta menyakiti penghuninya.

Ini adalah masalah besar, ia merupakan salah satu alasan terpenting dari kesucian tanah haram. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah selesai membangun Baitullah Al Haram, beliau berdo’a kepada Allah dengan do’a yang penuh barakah untuk negeri ini dan para penduduknya. Banyak ayat-ayat yang menyebutkan dan mengingatkan kita untuk menjauhkan segala macam bentuk kerusakan dan penyimpangan di tanah haram. Diantaranya adalah firman Allah ta’aala:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman,”. (QS. Al Ankabut: 67)

Imam Al Qurthubi berkata: “sesungguhnya kota Makkah akan senantiasa dalam keadaan suci dan aman dari tangan-tangan yang dzalim, gempa, dan segala sesuatu yang menjadikan halal negeri ini. Dan dijadikan dalam jiwa-jiwa orang yang sombong suatu pengagungan dan penghargaan untuknya, mereka merasa lebih aman dari pada yang lainnya diantara penduduk Makkah”.

Oleh karena itu, dilarang untuk membawa senjata ke kota Makkah kecuali dalam keadaan darurat dan kebutuhan. Imam muslim meriwayatkan dari sahabat jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang untuk membawa senjata ke kota Makkah”.

Al Qadhi ‘Iyadh berkata: “hal ini dipahami oleh ahli ilmu ketika membawa senjata tanpa adanya darurat atau kebutuhan, tapi jika memang keadaannya seperti itu maka diperbolehkan. Beliau berkata lagi: “ini adalah madzhab imam malik, imam syafi’I, dan ‘atha”. Beliau menambahkan lagi: “sedangkan hasan al bishry membencinya karena berpegang teguh terhadap dhahir hadits ini”.

Adapun peperangan di tanah haram, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjadikannya perkara yang sangat besar, dan menegaskan tentang pengharamannya. Imam Bukhari –rahimahullah– berkata hal ini di dalam Bab: “larangan peperangan di Makkah”.

 

Dari Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabbda: “tidak diperbolehkan menumpahkan darah di Makkah”.

Kemudian hadits dari Ibnu Abbas terdahulu meriwayatkan, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “dan sungguh negeri ini (Makkah), Allah telah mensucikannya sejak penciptaan langit dan bumi. Ia suci dengan pensucian dari Allah hingga hari kiamat”.

Allah tidak mengizinkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman untuk berperang dan memerangi orang-orang kafir di Makkah, kecuali jika mereka (orang-orang kafir) yang memerangi terdahulu. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir”. (QS. Al Baqarah: 191).

Beginilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sungguh beliau memberikan keamanan kepada siapa saja yang meletakan senjatanya di kalangan orang-orang musyrik pada hari fathu Makkah, dan mengutus seseorang untuk mengumandangkan seruan: “siapa yang masuk masjidil haram maka, ia aman. Siapa yang menutup pintunya, ia aman. Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia aman. Dan beliau tidak mengizinkan para sahabatnya kecuali memerangi orang yang memerangi mereka dan menampakkan senjata kepada mereka.

Oleh karena itu, seyogyanya bagi ahli Makkah dan para pengunjungnya tidak mengotori kesucian haram dengan menyakiti sesama manusia dan menyebarkan fitnah diantara mereka, karena hal itu termasuk sebesar-sebar dosa.

Sungguh Allah telah berfirman:

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia”. (QS. Ali Imran: 97).

Artinya siapa saja yang memasukinya, harus diberi keamanan dan tidak disakiti. Ibnu Katsir mengatakan tentang ayat ini: “artinya jika ada orang dalam keadaan takut masuk ke tanah haram Makkah, maka harus diberi keamanan dari segala kejelekan. Beliau menambahkan: “hal seperti itu terjadi juga di zaman jahiliyah”.

Asy Syeikh bin baz –rahimahullah-berkata: Allah ta’aala berfirman: “ barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia” artinya: wajib diberi keamanan. Bukan berarti di tanah haram tidak ada orang yang menyakiti sesama dan tidak ada pembunuhan, bahkan hal seperti itu bisa saja terjadi. Jadi yang dimaksud adalah wajib adanya jaminan keamanan bagi yang memasukinya dan tidak menimpakan kepadanya kejelekan, dan hal orang-orang jahiliyah dahulu mengetahui hal ini. Sebagaimana disebutkan ada seseorang yang menjumpai pembunuh bapaknya atau saudaranya, maka ia tidak menyakitinya sehingga si pembunuh tadi keluar dari tanah haram”.

10. Diharamkan bagi orang-orang kafir dan musyrik memasuki kota Makkah.

Ini adalah salah satu kekhususan dari beberapa kekhususan negeri Allah yang aman, maka secara mutlak tidak diperbolehkan untuk orang-orang kafir atau musyrik dari yahudi dan nasrani untuk memungkinkan mereka memasuki Makkah. Karena orang-orang musyrik adalah najis sedangkan negeri Allah adalah suci. maka kenajisan dan kekafiran mereka menghalangi mereka untuk dapat masuk ke masjidil haram.

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At Taubah: 28).

Demi melaksanakan perintah ilahi ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Bakar ash shiddiq pada tahun ke Sembilan untuk menyampaikan kepada manusia, bahawa setelah tahun itu orang musyrik tidak diperbolehkan berhaji, dan tidak thawaf di baitullah orang yang telanjang”.

Al qurthubi mengatakan dalam tafsirnya: “diharamkan bagi orang musyrik memungkinkan untuk masuk ke tanah haram secara ijma’. Jika datang salah seorang utusan dari mereka kepada kita, maka pemimpin kita mesti harus keluar dulu dari tanah haram untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan utusan tersebut. Jika seorang musyrik sudah masuk ke tanah haram secara sembunyi kemudian mati, maka kuburannya digali kemudian tulang belulangnya dikeluarkan”.

Adapun yang dimaksud dengan masjidil haram di dalam ayat ini adalah semua tanah haram, bukan hanya yang meliputi Ka’bah saja. Dan Sebagian para ulama mengambil dalil dengan ayat ini mengenai pelipatgandaan pahala shalat di semua tanah haram bukan yang meliputi Ka’bah saja, karena Allah Azza Wa Jalla telah memutlakan arti tanah haram dengan masjidil haram. Wallaahu A’lam.

11. Diharamkan memburu, menebang pepohonan dan mengambil barang temuan di tanah haram.

Imam Bukhari dan imam muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “ketika Allah Azza Wa Jalla memberikan kemenangan kota Makkah atas Rasul-Nya, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan manusia dan memuji Allah kemudian berkata: “sesungguhnya Allah telah menahan Makkah dari serngan gajah dan memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Sungguh ia tidak pernah dihalalkan kepada seorang pun sebelumku, ia dihalakan untukku dalam waktu sesaat, ia tidak akan dihalalkan kepada siapa pun sesudahku, maka buruannya tidak boleh diburu, pepohonannya tidak ditebang dan barang temuannya tidak dihalalkan untuk siapa pun kecuali untuk diumumkan siapa pemiliknya”.

Hadits ini mencakup beberapa keistimewaan negeri Allah yang suci, Makkah. Diantaranya adalah larangan memburu hewan di Makkah dan membunuhnya, larangan menebang pepohonan di dalamnya, dan barang temuannya tidak dihalalkan kecuali untuk diketahui siapa pemiliknya. Ini adalah hukum-hukum khusus untuk negeri Allah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia adalah hukum yang kekal selamanya sampai hari kiamat. Maka menjadi kewajiban atas setiap muslim yang bertempat tinggal di Makkah atau yang datang untuk berhaji dan umrah untuk mengetahui hukum-hukum ini dan semua mengerjakannya . Dan hendaklah waspada dengan sebenar-benarnya dari menyelisihi perintah Allah dan melampaui batas-batas-Nya serta melanggar larangan-larangan-Nya.

Berikut kami akan menjelaskan hukum-hukum setiap masalah dari tiga permasalahan di atas (berburu, menebang pepohonan dan mengambil barang temuan di tanah haram) secara terperinci:

1. larangan memburu hewan atau burung di Makkah dengan mengusir dan menyingkirkannya serta membunuhnya .

Telah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang “tidak boleh memburu buruan”. Ini jelas berhubungan dengan larangan memburu. Oleh karena itu imam al Bukhari menyimpulkan di dalam shahihnya masalah ini dalam satu bab, beliau mengatakan: “Bab larangan memburu buruan haram”.

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya Allah telah menjadikan Makkah haram (suci), maka tidak pernah dihalalkan peperangan kepada seorang pun sebelumku dan tidak pula sesudahku. Melainkan dihalalkan bagiku hanya sesaat dari waktu siang belaka, rumputnya tidak boleh dipotong, pepohonannnya tidak boleh ditebang, binatangnya tidak boleh diburu, barang temuannya tidak boleh diambil kecuali untuk diumumkan siapa pemiliknya”. Ibnu Abbas berkata: “wahai Rasulullah, apakah tidak dikecualikan idzhir (semacam tumbuhan) untuk menyedapkan pemandangan dan kuburan kita?” Beliau menjawab: “ya benar, kecuali idzhir”.

Yang dimaksud dengan mengusir hewan atau burung adalah mengganggunya dari tempat mereka berada. Imam Nawawi –rahimahullah– mengatakan: “diharamkan mengusir (hewan dan burung) yaitu dengan mengganggunya dari tempat mereka berada, jika mengusirnya saja diharamkan , maka membunuhnya lebih diharamkan lagi.

Inilah yang ditafsirkan oleh salah seorang tabi’in terkenal yang bernama Ikrimah. beliau meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas. Setelah beliau meriwayatkan hadits ini beliau bertanya: “apa yang kamu ketahui tentang tidak boleh mengusir buruan hewan atau burung yang ada di tanah haram?” beliau menjawab: yaitu menyingkirkannya dari tempat mereka berteduh sehingga pindah ke tempat lain.

Jika menyingkirkan hewan atau burung saja diharamkan, maka membunuh dan memburunya niscaya lebih diharamkan lagi. Setelah Ikrimah menafsirkan tentang hal ini, Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Ikrimah mengingatkan tentang hal itu, yaitu sebagai larangan dari adanya kerusakan dan segala bentuk gangguan dan juga sebagai peringatan dari orang yang di bawah kepada orang yang di atas.

Ibnul mundzir mengatakan: “para ulama telah sepakat bahwa memburu hewan atau burung yang ada di tanah haram itu hukumnya haram.

Syari’at telah membolehkan untuk membunuh beberapa yang fasik yang secara nash Syar’i boleh untuk dibunuh baik di tanah haram maupun di luar tanah haram. Imam Bukhari dan imam muslim meriwayatkan dari Hafshah ummul mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “lima macam dari binatang melata yang tidak ada halangan untuk membunuhnya, yaitu burung gagak, burung rajawali, tikus, kalajengking dan anjing yang suka menggigit”.

Termasuk yang boleh dibunuh selain dari yang sudah disebutkan diatas adalah setiap yang berbahaya secara dhahir dan tidak diperselisihkan apakah ia menyakiti atau tidak. Imam malik telah menafsirkan arti dari “anjing yang suka menggigit”, beliau mengatakan: “sesungguhnya setiap yang mengigit manusia dan menyerang mereka serta membuat mereka takut seperti singa, srigala, macan dan beruang, itu termasuk anjing yang suka menggigit .

2. Menebang pohon dan tumbuh-tumbuhan.

Hukum ini juga merupakan salah satu dari kekhususan al-balad al-haram. telah disebutkan di hadits sebelumnya perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang Makkah bahwa “rumput-rumputnya tidak boleh dipotong” dan “pepohonannya juga tidak boleh ditebang” kecuali idzhir.

Maka, hadits-hadits ini mengandung arti tentang larangan menebang pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang ada di tanah haram sekalipun duri. Hukum ini dikhususkan untuk apa-apa yang Allah tumbuhkan tanpa ditanam oleh manusia sendiri.

Al-qurthubi mengatakan: “para ahli fiqih mengkhususkan pepohonan yang terlarang untuk ditebang itu adalah yang Allah tumbuhkan tanpa dibuat oleh manusia. Adapun apa-apa yang tumbuh dengan perantara manusia seperti dengan menggunakan obat atau pupuk maka, dalam hal ini terjadi perselisihan, dan menurut jumhur hal itu dibolehkan.

Akan tetapi jika benar-benar terjadi ada orang yang menebang pohon atau tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah haram, yang Allah tumbuhkan tanpa perantara tangan manusia, apa hukuman bagi yang melakukannya? Jawabannya:

1. Para ahli ilmu sepakat bahwa yang menebang pohon atau memotong duri di tanah haram telah berdosa dan melampaui batasan-batasan yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

2. Para ahli ilmu berselisih tentang hukuman bagi pelaku yang melakukan hal di atas. ‘atha berpendapat bahwa orang tersebut berdosa dan harus memohon ampun serta bertaubat kepada Allah Azza Wa jalla, dan inilah seharusnya ia lakukan. Pendapat ini dipilih oleh Imam Malik , Ibnul Mundzir, Abu Tsaur dan Ibnu Hazm.

Sedangkan para imam yang tiga (Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa pelakunya membayar jaminan. Walaupun jaminan tersebut berbeda antara satu sama lain dalam ukurannya. Adapun yang dipilih oleh imam Abu Hanifah bahwa ukuran jaminan tersebut dilihat dari harga pohon atau tumbuhan yang ia tebang. jika harganya melebihi harga seekor ternak maka ia harus menyembelih seekor ternak. Jika harganya kurang dari itu maka ia harus membeli makanan yang ia berikan kepada setiap seorang miskin setengah sha’. Adapun yang dipilh oleh imam syafi’I dan imam ahmad adalah jika pohon yang ditebang ukurannya besar maka, ia harus menyembelih seekor sapi. Tapi jika pohon yang ditebangnya ukurannya kecil maka, ia harus menyembelih seekor kambing. Dan jika yang ditebangnya berupa rumput atau tumbuh-tumbuhan maka dilihat dari harganya.

Dari dua hukum di atas terdapat dua hal pengecualian, yaitu:

1. Ibnu Qudamah –rahimahullah– mengatakan: “tidak mengapa memanfaatkan potongan –potongan dari dahan pohon dan daun-daunnya yang terjatuh. Imam ahmad menghukumi hal tersebut dan kami tidak mengetahui ada perselisihan dalam hal tersebut.

2. Dibolehkan menggembala kambing dari rumput-rumput atau tumbuhan-tumbuhan yang ada di tanah haram tanpa bantuan manusia dalam memotong rumput-rumput tersebut. Ini adalah Madzhab Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Abu Hanifah melarang hal tersebut.

3. Haram mengambil barang temuan di tanah haram kecuali untuk diumumkan siapa pemiliknya.

Hukum ini juga termasuk salah satu dari kekhususan atau keistimewaan kota suci Makkah.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hukum barang temuan di seluruh penjuru negeri, yaitu dengan diumumkan barang temuan tersebut selama setahun, kemudian dimanfaatkan. Sebagaimana hadits zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menanyakan tentang hukum barang temuan, beliau bersabda: “kenalilah tutup botolnya kemudian umumkan siapa pemiliknya selama setahun, apabila datang pemiliknya berikanlah. Apabila tidak, maka itu urusanmu. Dia bertanya: “ wahai Rasulullah bagaimana dengan temuan kambing? beliau menjawab: itu untuk kamu atau saudara kamu atau untuk singa”. Dia Tanya lagi: “ bagaimana dengan temuan unta? beliau menjawab: “apa urusanmu dengannya, karena tempat minum dan sandal selalu bersamanya, ia mendatangi air dan memakan rumput sampai bertemu dengan pemiliknya.

Ini adalah hukum barang temuan di semua tempat. adapun hukum barang temuan di Makkah maka sebagian ahli ilmu berpendapat hukumnya adalah sebagaimana di tempat lain, hanya saja lebih ditegaskan lagi dalam hal pengumuman tentang siapa pemiliknya. Yang berpendapat seperti ini mereka adalah imam malik, imam abu hanifah, dan sebuah riwayat dari imam ahmad.

Sebagian ahli ilmu yang lain mengatakan bahwa tidak boleh mengambil barang temuan melainkan orang yang benar-benar akan mencari siapa pemiliknya untuk selama-lamanya, bukan untuk dimiliki. Ini adalah perkataan imam syafi’I dan sebuah riwayat dari imam ahmad dan juga perkataan Abdurrahman bin Mahdi.

Pendapat yang kedua adalah yang paling kuat, karena barang temuan yang ada di Makkah dan wilayah tanah haram tidak boleh diambil melainkan untuk dicari siapa pemiliknya selama-lamanya tanpa ada batasan waktu setahun atau dua tahun bukan untuk dimiliki. Hal ini dilihat dari nash hadits di atas yaitu sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam “Dan barang temuannya tidak boleh diambil melainkan untuk dicari siapa pemiliknya.

Telah disebutkan sebuah riwayat yang menjelaskan tentang hukum-hukum yang mengkhususkan tanah haram diantara semua negeri. Seperti haramnya memburu hewan atau burung dengan mengusir dan menyingkirkannya dan haramnya menebang pohon. Adapun maksud dari antara barang temuan di tanah haram dengan barang temuan di tempat lain, maka belum disebutkan hikmah yang Nampak.

Diantara yang memilih perkataan ini adalah Imam Nawawi dan al hafidz inu hajar. Dia mengatakan: (artinya adalah barang temuannya tidak dihalalkan kecuali bagi orang yang hendak mencari tahu pemiliknya saja, adapun bagi orang yang hendak mencari tahu pemiliknya kemudian hendak memilikinya, maka tidak boleh mengambil barang temuan tersebut). Dia mengatakan: hal ini karena mengambil dalil dari hadits Ibnu Abbas dan Abu Hurairah yang telah disebutkan di Bab ini bahwa barang temuan di Makkah tidak boleh diambil untuk dimilki akan tetapi untuk diumumkan siapa pemiliknya. Ini adalah perkataan jumhur.

Asy Syeikh Ibnu baz rahmahullah pernah ditanya mengenai barang temuan di tanah haram, sang penanya berkata: “apa hukumnya barang temuan di tanah haram? Apakah boleh dberikan kepada fakir miskin? Atau diinfakkan untuk membangun masjid?

Beliau menjawab: Wajib bagi orang yang mendapatkan barang temuan di tanah haram untuk tidak menyumbangkannya ke masjid atau memberikannya kepada fakir miskin atau kepada yang lainnya, akan tetapi selalu mengumumkannya di haram dalam kumpulan orang-orang banyak sambil mengatakan: “milk siapa uang ini?. . . milik siapa emas ini?. . . berdasarkan perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “barang temuannya tidak dihalalkan kecuali bagi yang hendak mengumumkannya”. Dalam riwayat lain disebutkan. “kecuali bagi yang mengangkat suaranya”. artinya memanggil-manggil dalam rangka mencari pemiliknya (pent). Begitupun dengan tanah haram Madinah. Jika orang yang menemukan meninggalkan barang tersebut di tempatnya, maka tidak mengapa. Dan jika menyerahkannya kepada instan si resmi yang telah dibebani pemerintah untuk menjaga temuan berarti ia telah bebas dari tanggungan. Wa Allah ‘alam bis shawab

Sebenarnya jika kita teruskan pembahasan serta kita rinci lagi hukum-hukumnya, niscaya tidak aka nada batasnya, akan tetapi paling tidak semoga yang kekelumit ini bisa mewakili dari yang lain dan mampu mendorong kita untuk menggali sendiri yang lebih dalam. Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Bersambung ……….

Diringkas oleh:

Al-faqiir ila afwi Robbih

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu harits

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

* Maraji’/referensi:

1. Al-Balad Al-Haram Fadhaa-il Wa Ahkam, Karya Kuliah Usuludin Universitas Ummu Quro.

2. Akhbar Makkah Wa Ma Jaa-a Fiiha Min Atsar, Karya Abul Walid Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Azroqy, (wafat tahun 250 H).

3. Takshilul Maram Fi Akhbari Al-Bait Haram Wal Masyaa’ir Al-A’dzom, Karya Muhammad Bin Ahmad As-Shabbagh (wafat tahun 1312 H).

4. Al-Ka’bah Al-Musyarrafah Tarikh Wa Ahkam, Karya Abdullah Bin Said Al-Hasany. Cet. 1. Tahun (1433 H).

5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Karya Abu Fida’ Ismail Bin Amr Bin Kastir, (wafat tahun 774 H).

6. At-Tarikh Al-Qowim Li Makkah Wa Baitullah Al-Karim, karya Muhammad Thohir Kurdy.

7. Zadul Maad, Karya Syamsuddin, Abu Abdillah Muhammad Bin Abi Bakr, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, wafat (751 H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda