Kritikan Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- kepada Sebagian Ahlu Sunnah – Silsilah Qowaid dan Fawaid dari Kitab Minhaj As-Sunnah

Kritikan Ibnu Taimiyah

Makkah al-mukarramah (07/06/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Al-qowaid wa Al-fawaid ah-haditsiyah min Al-minjad as-sunnah an-nabawiyah, karya syeikhul islam ibnu Ahmad bin abdul halim bin Abdus salam bin taimiyah, ringkasan syeikh 'Ali bin Muhammad Al-imran. Ha : 30-32. Cet. Dar alam al-fawaid, tahun 1417 H

No comments

SILSILAH QOWAID DAN FAWAID DARI KITAB MINHAJ AS-SUNNAH (4) : KRITIKAN IBNU TAIMIYAH -RAHIMAHULLAH- KEPADA SEBAGIAN AHLU SUNNAH

Syeikhul islam Ibnu taimiyah –semoga Allah merahmatinya- ia berkata :”Dan Ahlu sunnah waljama’ah tidak mungkin diliputi oleh arti yang tercela dalam Al-qur’an dan As-sunnah sebagaimana yang dicakup oleh orang-orang syiah rafidzah.
Ya, memang terdapat pada sebagian mereka sesuatu yang tercela, akan tetapi ini tidak mengharuskan celaan bagi mereka. Sebagaimana apabila ada celaan pada sebagian kaum muslimin karena dosa yang ia lakukan, hal itu tidak mengharuskan untuk mencela islam sedangkan para pengikutnya telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya”. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 1/227).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- juga berkata :”Pendapat ini, sekalipun aslinya adalah dari kelompok mu’tazilah, masuk juga pada ucapan orang-orang yang menetapkan sifat, sampai ucapan orang-orang yang menggolongkan dirinya kepada sunnag secara khusus, menisbatkan kepada hadits dan sunnah. Dan itu banyak terdapat pada mayoritas pengikut imam Malik, Syafi’I, Abi Hanifah, Ahmad dan selain mereka. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 2/227).

Ibnu Rajab –Semoga Allah merahmatinya- membatasi masuknya sebagian ahlus sunnah ke dalam ilmu kalam dan semisalnya dari kalangan mutaakhirin. Adapun mutaqodimin, seperti Imam Malik, Syafi’I, Ibnu Mubarak, Ahmad, maka tidak ada sedikitpun dari ucapan mereka dalam itu. (lihat bayan fadl ilmu salaf ‘ala ilmu khalaf, hal : 56).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- juga berkata :”Dan telah kami katakan berkali-kali, kami tidak mengingkari keberadaan dari sebagian ahli sunnah yang berpendapat salah, akan tetapi mereka tidak pernah sepakat diatas kesalahan”. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 3/110).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- juga berkata :”Demikian pula telah tawaqquf orang yang tawaqquf dalam menafikan hal tersebut dari kalangan ahlu hadits, hal itu adalah karena kelemahan ilmu dalam makna al-qur’an dan As-sunnah serta ucapan salaf. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 2/324).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- juga berkata :”…Padahal penguasa dinisbatkan kepada faham syiah, akan tetapi paham syiah dari ahli hadits, seperti An-nasa’I, Ibnu Abdil bar dan semisal keduanya, tidak sampai mendahulukan Ali atas Abu bakar dan Umar bin khattab –semoga Allah meridzai semuanya-. Maka tidak diketahui dari kalangan ahli hadits orang yang mendahulukan sahabat Ali atas sahabat abu Bakar dan sahabat Umar. Karena Allah telah menjaga mereka dan mereka dibatasi oleh hadits-hadits shahih yang mereka ketahui, yang menunjukkan akan keutamaan syeikhain (Abu bakar dan Umar bin khattab) –semoga Allah meridzai keduanya. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 7/373).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- juga berkata :”Barang siapa yang menjadi syiah rofidza dari kalangan orang-orang yang bergelut dalam ilmu hadits, seperti Ibnu uqdah, dan semisalnya, maka puncaknya ia hanya bisa mengumpulkan riwayat kedustaan dan palsu tentang keutamaan-keutamaan sahabat Ali –semoga Allah meridzainya-, tidak mampu menepis riwayat yang mutawatir tentang syeikhain (Abu bakr dan Umar) semoga Allah meridzai keduanya. (minjahu as-sunnah an-nabawiyah, 7/373).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab Al-qowaid wa Al-fawaid ah-haditsiyah min Al-minjad as-sunnah an-nabawiyah, karya syeikhul islam ibnu Ahmad bin abdul halim bin Abdus salam bin taimiyah, ringkasan syeikh ‘Ali bin Muhammad Al-imran. Ha : 30-32. Cet. Dar alam al-fawaid, tahun 1417 H).
Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (07/06/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda