Macam-Macam Air dan Dalil-Dalilnya – Silsilah Fiqh Praktis (3)

Macam-Macam Air dan Dalil-Dalilnya

Makkah al-mukarramah (28/06/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syeikh shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 22, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H

2 comments

SILSILAH FIQH PRAKTIS (3)

PEMBAHASAN KETIGA : MACAM-MACAM AIR DAN DALIL-DALILNYA

PERTAMA : AIR THAHUR (SUCI DAN MENSUCIKAN).

Ia adalah air yang suci dzatnya dan bisa mensucikan yang lain. Yaitu dapat membersihkan hadats dan menghilangkan najis. Jenis air ini mencakup :

1. Air hujan. Allah berfirman :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu”.(QS. Al-anfal : 11).

2. Air salju dan embun. Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللهم اغسلني من خطاياي بالثلج والماء والبرد

“Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan air, salju dan embun”.(HR.Bukhari, no: 744 dan Muslim, no: 598 dan selain keduanya).

3. Air sumber mata air. Allah berfirman yang artinya:

أَلَمْ تَرَ‌ أَنَّ اللَّـهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْ‌ضِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi…”. (QS. Az-zumar : 21).

4. Air laut. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu adalah suci (airnya) dan halal bangkainya”. (Dikeluarkan oleh Abu dawud, no: 83, Tirmidzi, no: 69, An-sai no: 59, Ibnu majah, no: 3246. Tirmidzi berkata : hadits hasan shahih, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-bany di (Shahih sunan An-nasai), no: 58).

5. Air Zam-zam. Berdasarkan riwayat dari sahabat Ali –semoga Allah meridhainya- , bahwasannya:

رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فدعا بسَجْلٍ من ماء زمزم ، فشرب منه وتوضا

“Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta setimba dari air zam-zam, kemudian beliau minum dan berwudhu”. (Zawaid musnad, 1/76).

6. Air ajin (air yang berupa karena diam atau kecampuran dengan sesuatu yang suci). Berdasarkan hadits ummi hani’, bahwasannya :

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan maimunah (istrinya) dalam satu bejana dan di dalamnya terdapat bekas adonan”. (Riwayat An-sai “Sahih sunan an-sai’, no: 234, dan Ibnu majah “Shahih sunan Ibnu majah, no: 303 dan yang lainnya. Al-misykah, no: 485, Al-irwa’, no: 271).

7. Air yang tercampur dengan najis tetapi tidak merubah salah satu dari ketiga sifatnya. Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila air mencapai dua kullah, maka tidaklah ia mengandung najis”.Riwayat Abu dawud dan yang lainya. Shahih sunan abi dawud, no: 57, Shahih sunan An-nasai, no: 51, Shahih sunan Tirmidzi, no: 57, dan Irwa’, no: 23).

8. Air musta’mal. Berdasarkan hadits Urwah dari miswar –semoga Allah meridhai- keduanya :

“Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, maka hampir-hampir sahabat berkelahi untuk mendapat sisa air wudhu Nabi”. (Riwayat Bukhari, no: 189).

9. Air musakkhan (air yang dipanaskan).
Telah shahih dari Umar bin khattab –semoga Allah meridhainya- :

“Bahwasannya ia mandi dengan air panas”. (Riwayat ibnu abi syaibah dan yang lainnya.dan dishahihkan oleh syeikh al-bany dalam irwa’, no: 17.

KEDUA : AIR SUCI, TIDAK MENSUCIKAN YANG LAIN.

Ia adalah air yang dicampur dengan sesuatu yang suci, kemudian berubah namanya sehingga menjadi air cuka, air bunga, air teh Atau campuran yang mengalahkan sehingga merubah air menjadi tinta, atau campuran yang dimasak dengan air sehingga menjadi kuah.

Maka jenis air ini tidak boleh dipakai untuk mandi atau berwudhu dengannya. Karena thaharah hanya boleh dengan air. Berdasarkan firman Allah yang artinya :

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)”. (QS. An-nisa : 43).

KETIGA : AIR NAJIS.

Ia adalah air yang bercampur dengan najis, atau suatu najis yang merubah rasa, warna dan bau. Maka tidak boleh dipakai bersuci dengannya.

Syeikhul ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata :”Apabila air telah berupa dengan najis, maka itu adalah air najis”. (majmu’ al-fatawa : 21/30).

Imam Ibnu mundzir –semoga Allah merahmatinya- berkata : “para ulama telah sepakat bahwa air sedikit atau banyak apabila kecampuran dengan najis kemudian merubah rasa, warna dan baunya maka ia menjadi air najis”. (lihat subulu as-salam, karya As-sun’any, hal: 21).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syeikh shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 22, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala……

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (28/06/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 2


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180

      Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180