Silsilah Cerminan Kaum Salaf (31) : Menangis Karena Sebab Takut Kepada Allah Ta’ala

menangis

Makkah al-mukarrmah ( 29/10/1438 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

• Hayatus salaf baina al-qoul wa al-amal, karya Ahmad bin Nasyir at-tayyar, cet, dar ibnu jauzi, tahun 1433 H. • Min akhbar as-salaf shalih "Min akhbar as salaf", karya Abu yahya zakarya bin abdul gulam qadir, cetakan ke tiga maktabah Ar-rusd, tahun 1433 H. • Aqwal wa hikam win duror salaf, karya Syeikh Sami Abdurrahman Muhammad Qubajah, tahun ke dua, 1431 H. • Rosail al-ahwali as-salaf ad-dawyy, karya syeikh Umar bin Abdurrahman al-Umar, cetak pada tahun 1434 H.

No comments

Dari Syaudzab ia berkata: ketika ajal menjemput Abu Hurairah beliau menangis, maka beliau ditanya: Wahai Abu Hurairah apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab: jauhnya tempat kemenangan, sedikitnya bekal, dan akibat tempat kembali ke surga atau neraka. (Az Zuhud li Ahmad/223).

Dari Abu Musa Al Asy’ari ia berkata: ” Sesungguhnya penghuni neraka akan menangis di dalamnya sehingga andaikan perahu dijalankan di atas air mata mereka sungguh akan berjalan, dan sesungguhnya mereka akan menangis darah setelah air mata, sebagaimana keadaan mereka semula, maka semakin menangislah orang-orang yang menangis”. (Hilyatul Auliya 1/261).

Aku telah mendengar Al Hasan berkata: “Sesunguhnya banyak kaum yang mata mereka menangis akan tetapi hati mereka tidak menangis, maka siapa yang matanya menangis hendaklah hatinya pun menangis”. (Al Mushannif Ibnu Abi Syaibah 7/189).

Dari Yunus Bin Abdil A’la ia berkata: “Abdullah Bin Wahb membaca kitab tentang keadaan hari kiamat, maka ketika melewati sifat neraka, beliau berteriak kemudian pingsan, lalu beliau dibawa ke rumahnya kemudian beliau hidup beberapa hari setelah itu wafat”. (Hilyatul Auliya 8/324).

Dari Abdurrahman Bin Mahdi ia berkata: “Aku menatap Sufyan Ats Tsauri sepintas di waktu malam setelah beberapa malam beliau terbangun ketakutan seraya memanggil: neraka… neraka…ingat neraka telah menyibukkanku dari tidur dan hawa nafsu”. (Siyar A’lam Annubala 7/276).

Dari Abbas Bin Muhammad Al Asyhali ia berkata: “Ayahku telah menceritakan kepadaku : aku melewati kuburan-kuburan maka aku mendengar suara (seperti suara lembu atau gajah) ternyata Yahya Bin Ayyub ada di dalam satu lobang dari lobang-lobang yang ada, dia dalam keadaan berdo’a sambil menangis seraya berkata: Wahai penyejuk hati orang-orang yang bermaksiat, Engkau telah menutupi (cacat) mereka, mengapa Engkau tidak menjadi penyejuk hati orang-orang yang ta’at, Engkau berikan mereka karunia dengan ketaatan. Ia berkata; kemudian dia meneruskan tangisannya hingga aku pun larut dalam tangisan, maka dia pun mengerti, akhirnya berkata: sinilah kemari! Semoga Allah mengutusmu untuk suatu kebaikan”. (Siyar A’lam An Nubala, 11/ 387).

Dari Yazid Bin Maisarah ia berkata: “Tangisan itu ada 7, menangis karena bahagia, karena sedih, takut, sakit, riya’ dan syukur, serta menangis karena takut kepada Allah, maka air mata itulah yang dapat menghentikan bara api sebesar gunung”. (Hilyatul Auliya 5/235).

Dari Ibrahim al-muhalla –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Suatu hari aku mendatangi atha’ as-sulamy akan tetapi aku tidak mendapatkannya dirumahnya, kemudian tiba-tiba aku melihatnya duduk dipojok kamar dan tiba-tiba disekitarnya basah maka aku mengira bahwa itu adalah bekas wudzunya maka kemudian seorang wanita tua (istri) dirumah tersebut berkata kepadaku bahwa itu adalah bekas air matanya”. (Hilyatul Auliya 6/218).

Dari Yusuf bin Muslim –semoga Allah merahmatinya- ia berkata : “Ali bin bakkar suatu hari ia menangis sampai mengalami kebutaan dan terdapat bekas air mata dikedua pipinya”. (Siyar A’lam An Nubala, 9/ 585).

Dari Ibrahim bin asy-ast –semoga Allah merahmatinya- ia berkata : “Tidaklah ada seorangpun yang didadanya ada rasa takut kepada Allah melebihi dari Fudzailbin iyadz, yang mana apabila beliau mengingat Allah atau disebut Allah disisinya, atau mendengar al-qur’an maka nampak padanya rasa takut, sedih, meneteskan air mata serta menangis sehingga orang yang hadirpun mengasihaninya”. (Siyar A’lam An Nubala, 8/426).

Dari Amr bin ‘Aun –semoga Allah merahmatinya- ia berkata : “Tidaklah aku shalat dibelakang Khalid bin abdillah at-thahan melainkan aku mendengar tetesan air matanya mengenai panahnya”. (Siyar A’lam An Nubala, 8/279).

Dari Khalid bin kadhas –semoga Allah meridzainya- ia berkata : “Suatu hari dibacakan kepada Abdullah bin wahb kitab tentang huru hara hari kiamat, karangannya sendiri, maka ia tersungkur pingsan. Ia (Khalid) berkata: maka tidaklah ia berbicara sedikitpun setelah itu sampai ia meninggal beberapa hari kemudian, semoga Allah merahmatinya”. (Siyar A’lam An-Nubala, 9/226).

Dari Abi masharah –semoga Allah merahmatinya- ia berkata : “Al-imam al-Auza’I dahulu biasa menghidupkan malamnya dengan shalat, baca qur’an dan tangisan. Sebagaian saudaraku mengabarkan kepadaku bahwa ibunya (al-auza’i) memasuki rumahnya dan memeriksa tempat shalatnya maka sang ibu mendapati tempat tersebut dalam keadaan basah karena air mata dimalam hari”. (Siyar A’lam An Nubala, 8/119).

Dari Abdurrahman bin Mahdi –semoga Allah merahmatinya ia berkata : “Dahulu aku tidak mampu mendengar suara Imam tsaury karena kebanyakan menangis”. (Siyar A’lam An Nubala, 7/277).

Dari Abdurrahman as-sulamy ia berkata :”Aku mendengar Aba Ahmad al-hafidz berkata : sebaik-baik tangisan adalah tangisan seorang hamba atas waktu yang telah berlalu tanpa ia mendapatkan taufiq atau tangisan atas kekeliruan yang telah ia lakukan dimasa lalu”. (Syuabul iman karya Al-baihaqi : 1/509).

Dari Baqiyah bin walid –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Suatu hari aku mendatangi Ibrahim bin adham sedangkan ia dalam keadaan menangis dimasjid bairut seraya menghadapkan wajahnya kearah tembok dan memukulkan dengan kedua mukanya ke kepala. Maka aku bertanya kepadanya? Apa yang membuatmu menangis, maka ia menjawab : aku mengingat suatu hari dimana hati-hati dan pandangan semuanya akan merunduk”. (al-mujalasah dan jawahirul al-ilm: karya Ad-danyury, hal ; 597).

Ya Allah, jadikanlah kami dan anak keturunan hamba-hambamu yang selalu menangis karena takut kepada-MU, demi hanya mengharap wajah dan ridza-MU. Dekatkanlah kami selalu kepada-MU dengan hidayah dan petunjuk-Mu. Amiiin.

Semoga bermanfaat buat semuanya, shalawat dan salam senatiasa tercurah atas Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan segenap keluarganya serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti sunnahya hingga akhi zaman.

Penterjemah
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin as-sidawy al-atsary, Abu harits
Makkah al-mukarrmah
( 29/10/1438 H )

Referensi :

• Hayatus salaf baina al-qoul wa al-amal, karya Ahmad bin Nasyir at-tayyar, cet, dar ibnu jauzi, tahun 1433 H.
• Min akhbar as-salaf shalih “Min akhbar as salaf”, karya Abu yahya zakarya bin abdul gulam qadir, cetakan ke tiga maktabah Ar-rusd, tahun 1433 H.
• Aqwal wa hikam win duror salaf, karya Syeikh Sami Abdurrahman Muhammad Qubajah, tahun ke dua, 1431 H.
• Rosail al-ahwali as-salaf ad-dawyy, karya syeikh Umar bin Abdurrahman al-Umar, cetak pada tahun 1434 H.

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda