Apakah Keistimewaan ‘Asyura Dan Muharram?

'Asyura dan Bulan Muharram

Makkah Al Mukarramah, 11 Muharram 1435 H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

“FADHLU 'AASYUURA WA SYAHRULLAAH AL MUHARRAM” , karya, Fadhiilatusy Syekh. Muhammad Shaalih Al Munajjid.

No comments

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam senantiasa kami haturkan kepada Nabi kita, Muhammad penutup para Nabi dan utusan. Dan juga kepada keluarga serta para sahabatnya. Amma ba’du:

Sesungguhnya Bulan Allah, Muharram adalah bulan yang agung lagi diberkahi. Dan awal bulan dari bulan-bulan tahun hijriah serta salah satu bulan yang disucikan yang disebutkan Allah di dalam Al Qur’an.

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. (QS.At Taubah: 36).

Dari Abi Bakrah –semoga Allah meridhainya-,Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dalam bulan Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR.Bukhari 2958).

Bulan Muharram disebut dengan sebutan Muharram karena ia bulan yang diharamkan (disucikan) dan sebagai penguat akan kesuciannya.

Makna dari Firman Allah ta’aala, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”, yaitu dalam bulan-bulan yang disucikan ini, karena lebih kuat dan lebih besar dosanya dibanding bulan-bulan yang selainnya.

Dari Ibnu Abbas –Semoga Allah meridhai keduanya- berkata, maksud firman Allah, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” adalah dalam semua bulan, kemudian Allah mengkhususkan dalam hal itu empat bulan dan menjadikannya haram (suci) serta mengagungkan kesuciannya dan menjadikan dosa yang dilakukan padanya lebih besar dan amal shalih padanya juga berpahala lebih besar. Adapun pendapat Qatadah tentang ayat ini, maksudnya adalah bahwa kedzaliman yang dilakukan dalam bulan-bulan suci ini merupakan kesalahan yang paling besar dibanding kedzaliman yang dilakukan dalam bulan-bulan lainnya. Walaupun yang namanya kedzaliman itu kapan saja dilakukan tetap saja dosanya besar, akan tetapi Allah mengagungkan perkara-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Qatadah berkata: sesungguhnya Allah memilih pilihan diantara para makhluk-Nya: Dia memilih dari kalangan para malaikat utusan, dan dari kalangan manusia utusan, Dia memilih dari perkataan-Nya Al Qur’an, memilih dari bumi –Nya masjid-masjid, dari bulan-bulan yaitu bulan Ramadhan dan bulan-bulan yang disucikan, pun memilih dari hari-hari yaitu hari jum’at, dari malam-malam yaitu malam lailatul qadar. Maka agungkanlahh apa-apa yang telah Allah agungkan, kerena semua perkara hanya boleh diagungkan dengan apa yang telah diagungkan oleh Allah menurut ahli akal dan pemahaman yang benar. (diringkas dari tafsir ibnu katsir semoga Allah meridzainya, tafsir surat at-taubah, ayat: 36).

PERTAMA: KEUTAMAAN MEMPERBANYAK PUASA SUNNAH DI BULAN MUHARRAM.

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu berkata, Nabi Shallalaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram”. (HR. Muslim 1982)

Kata “Bulan Allah”, penambahan kata “bulan” ke lafadz “Allah” adalah penambahan yang menunjukkan pengagungan. Al Qaarii mengatakan: “secara dzahir yang dimaksud adalah semua bulan muharram”.

Akan tetapi telah tetap bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan. Maka kemungkinan makna dari hadits ini adalah anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan Muharran, bukan puasa sebulan penuh.

Dan telah tetap juga bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperbanyak puasa di bulan sya’ban. Bisa jadi dikarenakan belum diwahyuan kepadanya tentang keutamaan bulan Muharram kecuali di akhir hidupnya sebelum adanya kemampuan untuk berpuasa”. (syarh An Nawawi dalam shahih Muslim)

KEDUA: ALLAH MEMILIH YANG DIKEHENDAKI-NYA PADA SETIAP WAKTU DAN TEMPAT.

Al’izz Bin Abdis Salam Rahimahullah berkata: pengistimewaan tempat dan waktu dapat dilihat dari dua sisi. Pertama: keutamaan dari sisi duniawi. Dan kedua: keutamaan dari sisi agama yang hal ini kembali kepada bahwa Allah memberi hamba-hamba-NYA kebaikan pada nya dengan keutamaan pahala orang-orang yang beramal, seperti keutamaan puasa di bulan Ramadhan di atas semua bulan-bulan. Begitu juga dengan puasa di hari ‘Asyura, maka keutamaannya kembali kepada kebaikan dan kasih sayang Allah yang diberikan pada Hamba-hamba-Nya pada saat itu. (Qawaid Al Ahkam 1/38)

KETIGA: HARI ‘ASYURA DI LIHAT DARI SEJARAH.

Dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- berkata: Pada saat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sampai di kota Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi sedang berpuasa ‘asyura, maka beliau bertanya: “ada apa ini?”. Mereka menjawab: “ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani israil dari musuhnya, maka Musa pun berpuasa”. Beliau berkata: “aku lebih berhak dari pada kalian (untuk mengikuti sunnah Nabi Musa ‘alaihissalam)”. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan (ummatnya-pent) untuk berpuasa. (HR.Bukhari 1865)

Perkataan “ini adalah hari yang baik” dalam Riwayat Muslim maksudnya adalah ini adalah hari yang agung,di mana Allah telah menyelamatkan Musa ‘Alaihissalam beserta kaumnya dan menenggelamkan fir’aun beserta bala tentaranya. “Maka Musa ‘Alaihissalam berpuasa”

Imam muslim dalam Riwayatnya menambahkan kalimat “sebagai rasa syukur kepada Allah, maka kami berpuasa untuknya”. Dalam Riwayat Bukhari ,”dan kami berpuasa sebagai pengagungan baginya.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan menambahkan “Ia adalah hari di mana bahtera Nuh ‘alaihissalam berlabuh di bukit judy, maka ia berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”.

Perkataan “maka beliau memerintahkan (umatnya-pent) berpuasa”, Imam Bukhari dalam Riwayatnya menyebutkan, “Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat, “kalian lebih berhak untuk mengikuti sunah Musa ‘alaihissalam dari pada mereka, maka berpuasalah”.

Puasa ‘asyura telah ma’ruf hingga di kalangan orang-orang jahiliyah sebelum masa kenabian. Telah tetap dari ‘aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “sesungguhnya orang-orang jahiliyah berpuasa di hari ‘asyura”. Al Qurthubi berkata: “kemungkinan orang-orang jahiliyah berpuasa karena bersandar kepada syari’at yang telah lalu, seperti Ibrahim ‘alaihissalam”.

Dan telah tetap juga bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu berpuasa pada hari ‘asyura ketika beliau di makkah sebelum hijrah ke madinah. Pada saat beliau telah hijrah ke madinah beliau mendapatkan orang-orang yahudi berpesta pora pada hari itu, Maka beliau bertanya kepada mereka tentang sebab pesta tersebut, mereka menjawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk menyelisihi yahudi, karena mereka menjadikan hari ‘asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Abu Musa -semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Dahulu hari ‘Asyura dijadikan hari raya oleh orang-orang yahudi”. Dan dalam Riwayat muslim disebutkan, “dahulu hari ‘Asyura diagungkan oleh kaum yahudi dan dijadikan hari raya”. Dalam Riwayat yang sama juga disebutkan: “Dahulu ahlu khaibar (kaum yahudi) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya, pada hari itu para wanita dipakaikan perhiasan-perhiasan emas , Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura”. (HR.Bukhari)

Secara dzahir bahwa pendorong untuk melaksanakan puasa ini adalah sebagai tanda cinta untuk menyelisihi kaum yahudi sehingga kita berpuasa di hari mereka berbuka, karena yang namanya hari raya itu tidak diperbolehkan puasa. (Ringkasan dari perkataan Al Hafidz Ibnu hajar –semoga Allah merahmatinya- di dalam fathul Baari Syarh shahih bukhari)

KEEMPAT: KEUTAMAAN PUASA ‘ASYURA

Dari Ibnu Abbas –semmoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: “aku tidak pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berniat puasa satu hari demi untuk mendapatkan pahala yang keutamaannya di atas keutamaan yang lain kecuali hari ini, hari ‘Asyura dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “berpuasa di hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu”. (HR. Muslim 1976). Ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada kita, dengan berpuasa satu hari dapat menghapuskan dosa-dosa selama setahun penuh, dan Allah Maha Memiliki karunia yang sangat Agung.

KELIMA: APAKAH HARI ‘ASYURA ITU??

Imam An-nawawy –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Asyura’ dan Taasuu’a adalah dua nama mamdudan (isim yang terdapat huruf alif sebelum akhir kalimat). Ini adalah yang ma’ruf dalam kitab-kitab referensi bahasa Arab. Ashabuna mengatakan: “Asyura adalah tanggal sepuluh di bulan muharram dan Taasuu’a adalah tanggal Sembilan di bulan muharram. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Dan ini merupakan kandungan kandungan hadits-haidts serta keumuman lafadz dan itu adalah yang ma’ruf menurut ahli bahasa. (lihat majmu’).

Itu merupakan nama islamy yang tidak pernah dikenal pada zaman jahiliyah (kasyful qona’, jilid: 2, bab puasa muharram).

Ibnu qudamah –semoga Allah merahmatinya-, ia berkata: “Asyura adalah hari yang ke sepuluh dari bulan muharram. Ini adalah pendapat Said Bin Al Musayib, Hasan Al-Basry, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan puasa pada hari Asyura’, yaitu tanggal Sepuluh dari bulan muharram”. (Riwayat Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

KEENAM: SUNNAH PUASA PADA TANGGAL SEMBILAN DENGAN SEPULUH MUHARRAM

Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhainya-, ia berkata: “ketika Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari asyura’ dan ia memerintahkan untuk puasa, para sahabat bertanya: wahai Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh orang yahudi dan nasrani, maka beliau menjawab: “apabila datang tahun depan insyaallah kami akan puasa pada tanggal Sembilan muharram”. Ibnu Abbas berkata: Tidaklah datang tahun baru melainkan Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. (Riwayat Muslim, no: 1916).

Para imam Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan yang lainnya mereka berkata: “Disunnahkan puasa pada tanggal Sembilan dan sepuluh, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam puasa pada tanggal sepuluh dan berniat puasa pada tanggal Sembilan”.

Oleh karena itu, maka puasa pada Asyura’ bertingkat-tingkat, yang paling rendah yaitu puasa pada tanggal sepuluh saja, yang lebih baik adalah puasa pada tanggal Sembilan dan sepuluh. Semakin banyak berpuasa pada bulan muharram maka semakin utama dan lebih baik.

KETUJUH: HIKMAH DISUNNAHKANNYA PUASA AT-TASU’A (TANGGAL SEMBILAN MUHARRAM).

Imam Nawawy –semoga Allah merahmatinya- berkata: para ulama dari kalangan kami dan yang lainnya menyebutkkan beberapa segi disunnahkannya puasa pada tanggal Sembilan muharram:

Pertama: Bahwa maksud dari puasa tanggal Sembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang yahudi, karena mereka berpuasa hanya tanggal sepuluh.

Kedua: Bahwa tujuan dari puasa tanggal Sembilan adalah untuk menyambung hari ‘asyura (puasa pada tanggal sepuluh) dengan puasa. Sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk puasa pada hari jum’at secara menyendiri. Ini telah disebutkan oleh Al-khattaby dan yang lain.

Ketiga: kehati-hatian puasa pada tanggal sepuluh karena dikawatirkan akan kurangnya hilal atau terjadinya kesalahan sehingga tanggal Sembilan masuk dalam hitungan kesepuluh dalam waktu yang sama.

Adapun alasan (diatas) yang paling kuat yaitu untuk menyelisihi ahlul kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang dari menyerupai ahlil kitab dalam banyak hadits, seperti sabdanya dalam puasa asy-syura’: “Andaikata aku hidup di waktu yang akan datang niscaya aku akan puasa pada tanggal Sembilan”. (al-fatawa al-kubra, jilid: 6, perihal sarana yang mengantarkan kepada yang haram).

Ibnu hajar –semoga Allah meridhainya- berkata dalam ta’liqnya terhadap hadits: “Andaikata aku hidup di waktu yang akan datang niscaya aku akan puasa pada tanggal Sembilan”. Apa yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam inginkan untuk berpuasa pada tanggal Sembilan, kemungkinan artinya supaya jangan sampai mencukupkan dengan puasa tanggal Sembilan, akan tetapi menyambung puasa sampai tanggal sepuluh, demi untuk kehati-hatian serta menyelisihi orang-orang yahudi dan nasrani. Dan ini adalah yang lebih kuat, sebagaimana yang diisyaratkan dengannya oleh sebagian riwayat Muslim. (fathul bari: 4/245).

KEDELAPAN: HUKUM MENYENDIRIKAN PUASA ASY-SYURA’ (TANGGAL SEPULUH)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “puasa hari ‘Asyura’ merupakan penghapus dosa satu tahun dan tidak dibenci (makruh) untuk menyendirikannya dengan puasa. (al-fatawa al-qubra: jilid 5). Dan disebutkan pula dalam kitab tuhfatu al-muhtaj, karya ibnu hajar al-haitamy: “dan puasa ‘Asyura’ tidak mengapa dikerjakan secara menyendiri. (jilid ke tiga, bab puasa tathawu’).

KESEMBILAN: ANJURAN MENGERJAKAN PUASA ‘ASYURA’ WALAUPUN BERTEPATAN DENGAN HARI SABTU ATAU JUM’AT.

Telah datang larangan untuk menyendirikan puasa pada hari jum’at dan sabtu melainkan puasa wajib. Akan tetapi kemakruhan akan menjadi hilang apabila puasa pada hari jum’at dan sabtu dengan menggabungkan puasa sehari dari salah satu dari keduanya, atau jika bertepatan dengan kebiasaan yang disyariatkan, seperti puasa sehari berbuka sehari (puasa dawud), atau di anjurkan oleh syariat, seperti hari arafah, hari ‘Asyura’. (Tuhfatul muhtaj, jilid 3, bab puasa sunnah. Musykil atsar jilid: 2, bab puasa hari sabtu).

Al-buhuti –semoga Allah merahmatinya- berkata: “dan makruh sengaja menyendirikan hari sabtu dengan puasa, berdasarkan Abdullah bin bisr, dari saudara perempuannya: “janganlah kalian puasa pada hari sabtu melainkan apa yang diwajibkan atas kalian”. (Riwayat Ahmad sanad sanad jayyid dan Al-hakim, ia berkata: sesuai syarat Bukhari).

Karena hari sabtu mngupakan hari yang diagungkan oleh orang-orang yang yahudi. Maka jika mengkhususkan puasa pada hari itu berarti menyerupai mereka. Melainkan apabila hari jum’at atau sabtu bertepatan dengan kebiasaan, seperti hari arafah, hari ‘Asyura’ dan menjadi kebiasaan puasa keduanya, maka tidak makruh pada saat itu. (kasyful qona, jilid 2, bab puasa sunnah).

KESEPULUH: APAKAH YANG DILAKUKAN, JIKA PERMULAAN BULAN TIDAK JELAS ATAU MERAGUKAN?

Imam Ahmad –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Apabila awal bulan tidak jelas, maka hendaklah berpuasa tiga hari, dan sesungguhnya mengerjakan hal itu supaya menjadi yakin dalam mengerjakan puasa pada hari Sembilan dan sepuluh. (Al-mughny karya ibni Qudamah, jilid: 3, bab puasa asy-syura’).

Barang siapa yang tidak mengetahui datangnya hilal muharram sedangkan ia ingin berhati-hati dalam puasa pada tanggal sepuluh, maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan dzulhijjah sebanyak tiga puluh hari, sebagaimana kaidah yang sudah ma’ruf. Kemudian ia berpuasa pada tanggal Sembilan dan sepuluh. Dan barang siapa yang ingin berhati-hati dalam puasa pada tanggal Sembilan juga, maka hendaklah ia berpuasa pada tanggal delapan, Sembilan dan sepuluh (andaikata bulan dzulhijjah tidak sempurna, maka ia telah melaksanakan puasa tanggal Sembilan dan sepuluh secara pasti atau yakin). Dan karena puasa ‘Asyura’ merupakan amalan sunnah, bukan amalan wajib maka tidaklah manusia diperintahkan untuk bersungguh-sungguh melihat hilal bulan muharram seperti mereka diperintahkan untuk bersungguh-sungguh melihat hilal di bulan Ramadhan dan syawal.

KESEBELAS: PUASA ‘ASYURA DAPAT MENGAPUS KESALAHAN APA?

Imam Nawawy –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Ia dapat menghapus kesalahan dosa-dosa kecil dan memuliakan bulan ‘Asyura’ dapat mengampuni semua dosa kecuali dosa besar”.

Kemudian beliau juga berkata: “Puasa pada hari arafah menghapus dosa selama dua tahun, sedangkan hari ‘Asyura menghapus dosa selama setahun. Dan apabila ucapan aminnya mencocoki ucapan aminnya para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Masing-masing dari yang tersebut ini dapat menghapus dari dosa. Jika ditemukan sesuatu yang dapat dihapus dari dosa-dosa kecil, maka akan dihapus. Dan jika tidak terdapat dosa-dosa, baik kecil maupun besar maka akan ditulis baginya kebaikan dan diangkat derajat baginya. Jika terdapat dosa-dosa kecil dan tidak terdapat dosa-dosa besar, aku (imam Nawawy) berharap dapat meringankan dosa-dosa besar”. (al-majmu’ syarh muhaddzab, jilid: 6, bab puasa arafah).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah meridhainya- berkata: “Dan penghapusan dosa dari amalan thaharah, shalat, puasa ramadhan, puasa arafah, puasa ‘Asyura’ itu hanya untuk dosa-dosa kecail saja”. (al-fatawa al-kubra, jilid: 5).

KEDUA BELAS: JANGANLAH TERGIUR DENGAN PAHALA PUASA

Sebagian manusia tergiur dengan bersandar kepada puasa ‘Asyura atau hari arafah, sehingga sebagian mereka mengatakan: “puasa ‘Asyura menghapus semua dosa dan puasa Arafah merupakan tambahan dalam pahala”.

Imam Ibnu qoyyim -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Mereka yang tergiur tidak mengetahui, bahwa puasa ramadhan, shalat lima waktu lebih utama dan lebih mulia dari pada puasa ‘Asyura, karena ia dapat menghapus antara keduanya selama menjauhi dosa besar. Maka ramadhan sampai ke ramadhan dan jum’at sampai ke jum’at tidak akan dapat menghapus dosa-dosa kecil melainkan dengan meninggalkan dosa-dosa besar. Diantara bentuk tipuan yaitu Seseorang mengira bahwa kebaikannya lebih banyak dari pada kesalahan, Karena ia tidak menghisab dirinya atas kesalahan-kesalahannya dan tidak pula memperhatikan semua dosanya. Apabila berbuat kesalahan ia ingat-ingat dan ia hitung. Seperti orang yang istighfar dengan lisannya atau bertasbih dalam sehari sebanyak seratus kali kemudian ia menggunjing dan merusak kehormatan mereka serta berbicara dengan apa yang tidak diridhai oleh Allah sepanjang hari. Maka ini seperti orang yang memikirkan keutamaan tasbih, tahlil, akan tetapi tidak mau menoleh kepada pedihnya siksa bagi orang yang menggunjing, atau pendusta, atau pengumpat dan penyakit lisan yang lainnya. Dan itu semua merupakan tipu daya. (Al-mausu’ah al-fiqhiyah, jilid: 31, bab ghurur).

KETIGA BELAS: PUASA ‘ASYURA’ BAGI ORANG YANG PUNYA TANGGUNGAN DI BULAN RAMADHAN.

Para ulama berselisih mengenai melaksanakan puasa sunnah sebelum mengqodho puasa ramadhan. Ulama hanafiyah membolehkan akan hal itu tanpa makruh. Karena qodho tidak wajib untuk dilaksanakan dengan segera. Ulama malikiyah dan syafiyah keduanya membolehkan tapi makruh. Karena hal itu dapat mengkhirkan kewajiban.

Ad-dasuqi –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Makruh puasa sunnah bagi orang yang mempunyai hutang puasa wajib, seperti puasa nadzar, qodho, kafarah, sama saja apakah sunnah yang muakkadah (yang dikuatkan), seperti ‘Asyura, arafah dan lain-lain. Adapun menurut hanabilah, mereka berpendapat haram puasa sebelum mengganti puasa ramadhan dan tidak sah puasa sunnah seseorang, walaupun ada waktu yang cukup untuk mengqodho , maka ia harus mulai dari yang wajib dengan cara mengqodhonya”. (Al-mausu’ah al-fiqhiyah, jilid: 28, bab puasa sunnah).

Maka kewajiban bagi seorang muslim untuk bersegera mengganti puasa setelah ramadhan supaya ia mampu mengerjakan puasa arafah,’Asyura tanpa hambatan. Andaikata ia puasa pada hari arafah dan ‘Asyura dengan niat pada malam hari untuk mengqodho, maka hal itu dapat mencukupinya untuk mengqodho, karena pahala karunia Allah sangatlah besar.

KEEMPAT BELAS: BID’AH DI HARI ‘ASYURA

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang apa yang diLakukan oleh manusia pada waktu ‘Asyura, berupa memakai celak, mandi khusus, pakai pewarna kuning Di badan, saling jabat tangan, memasak biji-bijian dan menampakkan kesenangan serta yang lainnya, apakah semua itu ada dasarnya atau tidak?.

Jawaban: Segala puji bagi Allah Robb semesta alam. Tidak datang sedikitpun mengenai hal tersebut dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat. Tidak seorang pun imam kaum muslimin mensunnahkan akan hal itu, baik imam empat madzhab ataupun yang lainnya. Tidak pula diriwayatkan sedikitpun dari kitab-kitab terpercaya mengenai hal itu. Tidak ada Riwayat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, atau sahabat atau tabi’in, baik yang shahih maupun yang lemah. Akan tetapi sebagian ulama mutaakhkhirin meriwayatkan beberapa hadits dalam hal itu, seperti apa yang mereka riwayatkan mengenai hari ‘Asyura’, bahwa barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura, maka tidak akan rabun selama tahun itu, dan barang siapa yang mandi pada hari ‘Asyura’, maka tidak akan sakit selama tahun itu dan yang semisalnya. Mereka meriwayatkan hadits maudzu’ (palsu) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “sesungguhnya barang siapa yang meluaskan (dalam memberi harta) pada hari ‘Asyura, maka Allah akan meluaskan atasnya selama setahun”. Semua ini diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara dusta.

Kemudian Ibnu taimiyah –semoga Allah merahmatinya- menyebutkan secara ringkas fitnah apa yang terjadi pada awal umat ini, berupa tragedi-tragedi dan pembunuhan Husain –semoga Allah meridhainya, serta apa saja yang diperbuat oleh beberapa kelompok setelah kejadian tersebut, kemudian ia mengatakan:

Mereka menjadi kelompok yang jahil dan dzalim, yaitu munafiq atau sesat. Mereka hanya menampakkan loyal dan kecintaan kepada ahlul bait, menjadikan hari asyura’ sebagai hari kesedihan dan ratapan. Mereka menampakkan di dalamnya syair-syair jahilyah sambil memukul pipi dan merobek saku-saku serta berta’ziyah dengan ala jahiliyah, melantunkan qosidah penuh kesedihan serta menukil kisah-kisah yang banyak kebohongan, berisi kejolak fitnah dan fanatik, peperangan antara kaum muslimin. Bahaya mereka terhadap islam tidak dapat dihitung oleh orang yang fasih dalam ucapannya.

Kebalikan mereka adalah kaum nawasib yang fanatik terhadap Husain dan keluarganya atau orang-orang bodoh yang menyambut kerusakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, kejelekan dengan kejelekan, serta bid’ah dengan bid’ah. Mereka menyebarkan atsar-atsar tentang syair-syair kesenangan dan kegembiraan pada hari asyura’, seperti bercelak, mewarnai rambut, menambah nafkah keluarga, memasak makanan di luar kebiasaan dan yang lain-lainya dari apa yang mereka kerjakan.

Mereka menjadikan hari asyura’ seperti musim lebaran dan kesenangan, mereka menjadikannya sebagai hidangan untuk mengadakan perayaan. Kedua kelompok ini telah keliru, salah dan keluar dari sunnah. (Al-fatawah al-qubra, karya ibnu taimiyah).

Ibnu haj –semoga Allah merahmatinya- menyebutkan diantara kebid’ahan pada hari asyura’ adalah mengeluarkan zakat pada hari itu, mengkhususkannya dengan menyembelih ayam serta memakai pewarna bagi wanita. (al-madkhal, jilid: 1, hari asyura’).

Kami memohon kepada Allah, agar menjadikan kami orang yang mengikuti sunnahnya dan menghidupkan kami di atas islam dan mewafatkan kami di atas iman serta memberikan taufiq kepada kami untuk sesuatu yang Dia ridhai. Kami mohon kepada Allah untuk menolong kami agar selalu mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, memperbaiki amal ibadah kami dan menerima dari kami serta menjadikan kami orang-orang yang bertaqwa.

Shalawat dan salam selalu teruntukkan atas Nabi kita Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya. Aamiin.

 

Al Faqiir Ilaa ‘Afwi Rabbih

Hamidin, Abu Fayha

Makkah Al Mukarramah, 11 Muharram 1435 H

 

Tulisan ini diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian dari salah satu buletin yang berjudul “FADHLU ‘AASYUURA WA SYAHRULLAAH AL MUHARRAM” , karya, Fadhiilatusy Syekh. Muhammad Shaalih Al Munajjid.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda