Menyiapkan Diri untuk Menerima Kebenaran – Kaidah Ketiga ( Silsilah Ilmu Dialog dan Diskusi Ilmiyah (14) )

Menyiapkan diri menerima kebenaran

Makkah al-mukarramah (18/11/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab ad-dzawabid al-fiqhiyah li at-ta'amul ma'a al-mukhalif fil al-masail al-ashliyah wa al-far'iyah, karya syeikh Ahmad bin sa'ad hamdan al-ghamidy, cet daar ibnu rajab dan dar ad-dirasat al-ilmiyah ke enam, tahun : 1433 H, hal : 33-34

No comments

Menyiapkan Diri untuk Menerima Kebenaran – Kaidah Ketiga ( Silsilah Ilmu Dialog dan Diskusi Ilmiyah (14))

Ketika terjadi perselisihan dalam memahami dalil atau hukum masalah agama tertentu, dimana masing-masing pemahaman menyelisihi pemahaman saudaranya, atau menguatkan hukum masalah selain yang dikuatkan oleh saudaranya, maka ketika itu bisa jadi keduanya adalah salah atau keduanya adalah benar, atau salah satu dari keduanya adalah benar dan yang lain adalah salah, atau salah satu dari keduanya adalah benar dari satu sisi dan salah dari sisi yang lain. Dan tidak ada disana kemungkinan yang ke lima.

Adapun kemungkinan keduanya adalah diatas kebenaran maka ini adalah kemungkinan yang tidak ada menurut ahlu sunnah wal jamaah. Karena setiap masalah hakikatnya mempunyai kebenaran hukum, maka tidak mungkin kedua pendapat bisa benar apabila keduanya berbeda.

Ketiga macam atau corak (orang yang berselisih) di atas itu bisa saja terjadi. Dengan demikian apabila ada dua orang yang sepakat untuk membahas suatu masalah kemudian pendapat yang kuat telah nampak bagi salah satu dari keduanya maka wajib bagi yang lain untuk menerima dan meninggalkan apa yang dia yakini.

Sebagaimana wajib bagi pemilik pendapat yang benar untuk membantu saudaranya dengan tidak menampakkan sesuatu yang dapat menolak kebenaran, baik dengan meremehkan atau merendahkan yang lain. Karena manusia biasanya ia menyangka bahwa dirinya berada di atas kebenaran dikarenakan ia tidak bisa menerima pemahaman dan dalil dari orang lain. Akan tetapi hanya menghukumi melalui dalil diri sendiri. disaat ia menelaah dalil-dalil lawannya maka menjadi jelas bahwa ia telah salah. Dan ketika jelas baginya kesalahan maka dengan serta merta ia langsung kembali dari kesalahannya. Ini merupakan tingkatan yang tidak bisa dicapai melainkan oleh orang-orang istimewa dari kalangan manusia.

Al-Ghazali -semoga Allah merahmatinya- berkata : telah menceritakan dari Hatim al-asham, ia berkata : Aku mempunyai tiga perangai yang selalu aku nampakkan kepada lawan : Aku senang apabila lawanku mendapatkan kebenaran, aku sedih apabila ia melakukan kesalahan, dan aku menjaga diriku agar tidak berbuat jahil kepadanya. Maka ketika hal itu sampai kepada Imam Ahmad bin hambal ia pun berkata : “SUBHANALLAH” alangkah berakalnya lelaki itu.

Ketika (sekarang) kebodohan telah mengalahkan kita dan mengalahkan akal kita, maka kita berani berbuat jahil terhadap orang yang bijak (‘alim), kita sedih jika ia berbuat kesalahan dan kita menjadi senang jika ia berbuat salah !?.. (Allahu musta’an-pent).

Beliau juga -semoga Allah merahmatinya- berkata saat menjelaskan keadaan penyakit hati yang ada di zamannya :”maka lihatlah kepada para pendebat, bagaimana wajah mereka menjadi hitam ketika telah jelas kebenaran melalui lisan lawannya, bagaimana ia menjadi malu karenanya dan bagaimana ia bersungguh-sungguh dalam mengingkari lawan dengan segenap kemampuannya serta bagaimana pula ia mencela selama hidupnya orang yang mengalahkannya”.

Kemudian beliau menyebutkan, bahwa disyaratkan bagi seorang pendebat yaitu dalam rangka mencari kebenaran, seperti orang yang mengumumkan kehilangan, ia tidak membedakan-bedakan, apakah Nampak melalui tangannya atau tangan orang yang menolongnya, memandang temannya sebagai penolong bukan sebagai lawan, bersyukur kepadanya apabila ditunjukkan kesalahannya dan ditampakkan baginya kebenaran”.

Ibnu abdu salam -semoga Allah merahmatinya- merasa keheranan dari kefanatikan ahli zamannya dari mengikuti kebenaran yang nampak melalui lisan yang lain seraya mengatakan :”manakah hal ini dari dialog kaum salaf dalam hukum dan bersegerahnya mereka dalam mengikuti kebenaran apabila Nampak melalui lisan lawannya.

Dan telah dinukil dari imam syafi’I -semoga Allah merahmatinya- ia berkata : Tidaklah aku berdialog dengan seorangpun melainkan aku berdo’a “Ya Allah, perlihatkanlah kebenaran melalui hati dan lisannya”, dimana apabila kebenaran bersamaku maka ia mau mengikutiku dan apabila kebenaran bersamanya akupun mau mengikutinya. (qowaid al-ahkam : 2/136).

Dengan ruh keimanan ini hakikat akan menjadi jelas, jiwa-jiwa akan bersatu.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab ad-dzawabid al-fiqhiyah li at-ta’amul ma’a al-mukhalif fil al-masail al-ashliyah wa al-far’iyah, karya syeikh Ahmad bin sa’ad hamdan al-ghamidy, cet daar ibnu rajab dan dar ad-dirasat al-ilmiyah ke enam, tahun : 1433 H, hal : 33-34).

Bersambung insyaAllah ta’ala

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (18/11/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda