Metodologi Ibnu Taimiyah untuk Mengetahui Hadits Shahih dan Lemah

metodologi ibnu taimiyah untuk mengetahui hadits shahih dan lemah

Makkah al-mukarramah (21/03/1437 H ).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Minhajus Sunnah

No comments

Beliau berkata : “Dan kami kembalikan riwayat Abu nu’aim dan yang lainnya kepada ahli ilmu ini (ahli hadits) serta jalan-jalan yang dapat diketahui dengannya keshahihannya atau kedustaannya, Dengan cara melihat sanad dan para perawinya apakah sebagian mereka mendengar dari sebagian yang lain atau tidak? Demikian pula kita melihat penguat-penguat hadits serta apa yang menunjukkan salah satu dari keduanya (shahih atau lemah). (Minhaj as sunnah jilid ke 7 hlm. 195).

Kapan dapat diketahui kelemahan sebuah hadits?

Beliau mengatakan :”Sebagaimana telah diketahui bahwa hadits-hadits yang menyesihi al-qur’an, kemutawatiran, ijma, serta menyelisih akal berarti telah diketahui kelemahannya”. (Minhajus sunnah : 7/419).

Beliau juga berkata :”Diantara kelemahan sebuah hadits yaitu adanya riwayat yang menyelisihi apa yang telah diketahui secara mutawatir, seperti musailamah al-kadzdzab yang mengklaim kenabian dan bahwasannya Abu lu’luah, pembunuh sahabat Umar bin khattab adalah seorang kafir majusi. maka apabila seorang jahil meriwayatkan kebalikannya berarti itu adalah kebohongan. (Minhajus sunnah : 7/437-439).

Beliau berkata :”Diantara metode untuk mengetahui kedustaan sebuah hadits, yaitu apabila seorang atau dua perawi menyendiri dengan sesuatu yang andaikata telah terjadi, maka niscaya akan terpenuhi motivasi dan sarana untuk menukilnya. Karena telah maklum, seandainya seseorang mengabarkan sesuatu di negri yang ma’ruf di baghdad, syam, Iraq (Tanpa diketahui yang lain) niscaya kita akan tahu kedustaannya dalam hal tersebut. Karena jika hal itu ada pasti manusia akan mengabarkannya”. (Minjahus sunnah : 7/439).

Beliau juga berkata :”Segala global, hadits-hadits yang dinukil oleh orang-orang yang jahil tidak mempunyai kaidah. Akan tetapi kedustaannya dapat diketahui melalui akal, kebiasaan , dan menyesihi dalil shahih serta metode-metode yang lain”. (Minhajus sunnah : 8/105).

Beliau berkata :”Maka andaikata diprediksi datang sebuah hadits, yang telah menyelisihi ijma berarti itu merupakan hadits yang batil. Bisa jadi karena Rosulullah shallallaahu alaihi wa sallam tidak mengatakannya dan bisa jadi karena tidak adanya bukti (keshahihan) pada hadits tersebut”. (Minjahus sunnah : 8/360).

Beliau berkata sebagai penjelas ungkapan di atas :”Karena tidak mungkin adanya kontroversi (saling berlawanan) antara dalil yang maklum dengan ijma yang maklum, sebab keduanya merupakan hujjah yang qoth’i sedangkan hujjah yang qoth’I tidak boleh saling berlawanan”. (Minhajus sunnah : 8/360).

Alih bahasa, al-faqir illah Hamidin as-sidawy, Abu harits Makkah al-mukarramah (21/03/1437 H ).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda