Muqaddimah Ilmu Tajwid

muqaddimah Ilmu Tajwid cahaya ummul quro

-

Ditulis oleh: Admin

Sumber:

-

1 comment

Ketahuilah bahwa pada setiap ilmu mempunyai prinsip,dan inilah 10 prinsip yang harus anda ketahui dalam Ilmu Tajwid.

1. Nama ilmu ini.

Ilmu ini dinamakan ilmu tajwid.

2. Pengertian ilmu Tajwid.

Menurut bahasa (ethimologi) adalah: memperindah sesuatu. Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah mengeluarkan huruf dari makhrajnya dengan menunaikan hak dan kewajibannya. Hak huruf adalah sifat huruf tersebut yang selalu lazim baginya. Seperti jahr, syiddah, isti’la’, istifal, ghunnah dan lain sebagainya. Adapun kewajibannya adalah sifat huruf tersebut yang timbul dari sifat dzatiyah, seperti tafkhim yang timbul dari sifat isti’la’, tarqiq yang timbul dari istifal, dan seterusnya.

3. Hukum mempelajari ilmu tajwid.

Hukum mempelajari ilmu tajwid itu bisa ditinjau dari dua sisi, yaitu sisi teori dan sisi praktek. Dari sisi teori hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Adapun dari sisi praktek, maka hukum mempelajarinya terdapat dua macam.

pertama dari sisi huruf-huruf dan harakatnya, maka hukumnnya adalah fardhu ‘ain. kedua dari sisi keindahan membaca maka hukumnya disesuaikan dengan ke adaan si pembaca. jika si pembaca membaca al qur’an dengan bacaan biasa (sendiri) maka hukumnya adalah sunnah. adapun jika si pembaca membacanya di dunia pendidikan atau dunia pengajaran, maka hukumnya adalah fardhu’ain. Sebagaimana ini merupakan praktek dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi Wasallam.

Kesimpulannya adalah bahwa belajar ilmu tajwid itu hukumnnya fardhu kifayah, sedang membaca al qur’an dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid yang benar) itu hukumnya fardhu ‘Ain. Dalil akan Wajibnya Mempraktekkan Tajwid Dalam Setiap Pembacaan Al-Qur’an sangat banyak, diantaranya adalah:

Dalil dari Al-Qur’an.

Firman Allah Azza Wa Jalla:

”Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)” [Q.S. Al-Muzzammil (73): 4].

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah Azza Wa Jalla memerintahkan Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam untuk membaca Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).

Firman Allah Azza Wa Jalla yang lain:

Dan Kami (Allah) telah bacakan (Al-Qur’an itu) kepada (Muhammad ) secara tartil (bertajwid)”. [Q.S. Al-Furqaan (25): 32)

Dalil-dalil dari As-Sunnah.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah –Semoga Allah meridhainya- (istri Nabi Shallallaahu’alaihi Wasallam), ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan dan sholat Rasulullah Shallallaahu’alaihi wasallam, maka beliau menjawab: “Ketahuilah bahwa Baginda Shallallaahu’alaihi wasallam sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wasallam dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu ‘Amr, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang, yaitu: Abdullah Ibnu Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal dan Ubai bin Ka’ad.” (Hadits ke 4615 dari Sahih Al-Bukhari).

Dalil dari Ijma’ Ulama.

Telah sepakat para ulama sepanjang zaman sejak dari zaman Rasulullah Shallallaahu’alaihi wasallam sampai dengan sekarang dalam menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an secara bertajwid adalah suatu yang fardhu dan wajib. Pengarang kitab Nihayah menyatakan: “Sesungguhnya telah ijma’ (sepakat) semua imam dari kalangan ulama yang dipercaya bahwa tajwid adalah suatu hal yang wajib sejak zaman Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam sampai dengan sekarang dan tiada seorangpun yang mempertikaikan kewajiban ini.”

4. Tujuan ilmu tajwid.

Adalah untuk menjaga dan memelihara lisan dari kesalahan membaca al qur’an yang merupakan kalaamullah ‘Azza Wa Jalla.

5. Keutamaan ilmu tajwid.

Adalah merupakan ilmu yang paling mulia karena keterkaitannya dengan al qur’an.

6. Pembahasan ilmu tajwid.

Yaitu memperbincangkan kalimat-kalimat al qur’an ditinjau dari sisi pengucapan huruf-huruf dengan benar, pemberian hak-hak dan kewajiban setiap huruf dan cara pengeluaran setiap huruf dari tempat keluarnya (makhrajnya) tanpa terpaksa dan terbebani.

7. Penisbahan ilmu tajwid.

Ilmu tajwid dinisbahkan kepada ilmu-ilmu syar’I karena keterkaitannya dengan al qur’an yang merupakan perkataan Allah Azza Wa Jalla.

8. Sumber ilmu tajwid.

Ilmu tajwid diambil dari tata cara bacaan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam kemudian diikuti oleh para sahabat – semoga Allah meridhai semuanya- , kemudian para tabi’in dan taabi’ut taabi’in sehingga sampai kepada kita secara mutawatir melalui jalan para masyayikh.

9. Permasalahan ilmu tajwid.

Yaitu kaidah-kaidah menyeluruh yang menjelaskan bagian-bagian ilmu tajwid.

10. Pengarang ilmu tajwid.

Siapakah yang pertama kali mengarang ilmu tajwid? Jawabannya adalah dilihat dari dua sisi, sisi teori dan sisi praktek. Dari sisi teori terjadi perselisihan tentang siapa yang pertama kali mengarang ilmu tajwid. Ada yang mengatakan Al Khalil Ahmad Al-Furahaidi, ada juga yang mengatakan Abu Aswad Ad-Duali dan terakhir mengatakan Abu Ubaid Al Qasim Bin Salam.

Adapun dari sisi praktek, beliau adalah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya kemudian diikuti oleh para sahabat, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka sehingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Tingkatan Bacaan Al-Qur’an.

Terdapat empat tingkatan atau mertabat bacaan Al Quran yaitu bacaan dari segi cepat atau perlahan:

Pertama:

At- Tahqiq: Bacaannya seperti tartil cuma lebih lambat dan perlahan, seperti membetulkan bacaan huruf dari makhrajnya, menepatkan kadar bacaan mad dan dengung. Tingkatan bacaan tahqiq ini biasanya bagi mereka yang baru belajar membaca Al Quran supaya dapat melatih lidah menyebut huruf dan sifat huruf dengan tepat dan betul, atau lebih tepat dipakai untuk proses belajar mengajar atau dunia pendidikan.

Kedua:

Al-Hadr: Bacaan yang cepat dengan tetap menjaga hukum-hukum bacaan tajwid. Tingkatan bacaan hadr ini biasanya bagi mereka yang telah menghafal Al Quran, supaya mereka dapat mengulang bacaannya dalam waktu yang singkat.

Ketiga:

At-Tadwir: Bacaan yang pertengahan antara tingkatan bacaan tartil dan hadr, dengan tetap menjaga hukum-hukum tajwid.

Keempat:

At-Tartil : Bacaannya perlahan-lahan, tenang dan melafazkan setiap huruf dari makhrajnya secara tepat serta menurut hukum-hukum bacaan tajwid dengan sempurna, merenungkan maknanya, hukum dan pengajaran dari ayat.Tingkatan bacaan tartil ini biasanya bagi mereka yang sudah mengenal makhraj-makhraj huruf, sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid. Tingkatan bacaan ini adalah lebih baik dan lebih diutamakan.

Wa shallallaahu ‘alaa Nabiyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihy wa sallam.

Bersambung insyAllah ta’ala.

Penulis: Al-faqiirah ilaa ‘afwi Robbiha, Ummu Fayha
Makkah Al Mukarramah, 29/6/1434 H

Maraji’ :

  1. Hidaayatul Qaari’ Ilaa Tajwiid Kalaamil Baarii, karya Abdul Fattah Assayyid ‘Ajmi Al Mirshafi, Daar Al Fajr Al Islaamiyyah, tahun 1424 H
  2. Al Mulakhkhash Al Mufiid Fii ‘Ilmit Tajwiid, karya Muhammad Ahmad Ma’bad, Daar Al Fajr Al Islaamiyyah Madinah Al Munawwarah, tahun 1425 H
  3. Taisiir ‘Ilmittajwiid, karya Ahmad bin Ahmad Muhammad Abdullah Ath thawiil , Daar Ibnu Khuzaimah, tahun 1423 H
  4. Ashal wa Asra’ Thariiqah Li Hifdzil Qur’an Al Kariim, karya Abdurrahman Shibagh, Daar ‘Imraan, tahun 1431 H
  5. Al Burhaan Fii Tajwidil Qur’aan Wa Risaalah Fii Fadhaa-ilil Qur’aan, karya Muhammad Ash Shaadiq Qamhaani, ‘Aalamul Kutub Beirut, cetakan pertama tahun 1405 H / 1985 M

Cat: Penulis hanya akan mengumpulkan dan meringkas dari kitab-kitab para ulama, sebagaimana yang penulis sebutkan. Sebagiannya ada di dalam maraji’. Disamping konsultasi langsung kepada ahlinya yang penulis kenal disini (Makkah Al-Mukarramah) -semga Allah selalu menjaga dan membalas mereka. Sebenarnya tujuan dari goresan tinta ini adalah untuk pembekalan pribadi dan adanya panggilan jiwa untuk berpartisipasi dalam dunia ilmu walaupun tidak seberapa. Semoga bermanfaat. Amin.

 

Tentang Penulis

Admin

Comment: 1