Nasihat Empat Imam Madzhab Untuk Mengikuti Sunnah

Nasihat Empat Imam Madzhab Untuk Mengikuti Sunnah

Makkah al-Mukarramah ( 25/6/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Sifat Sholat Nabi, karya Syeikh Al-Albany -semoga Allah merahmatinya-, hal: 41-50.

2 comments

Banyak orang mengira –khususnya yang awam- bahwa perbedaan madzhab menunjukan perbedaan ibadah, bahkan aqidah para pengikutnya. Ini merupakan keyakinan yang salah total dan tidak ada yang mendasarinya melainkan hawa nafsu dan fanatisme. Sehingga tidak heran jika perbedaan-perbedaan furu’ (cabang) menyebabkan perselisihan, perbedaan kemudian perpecahan diantara kaum muslimin, Kendatipun semua mengaku kembali dan berpijak hanya kepada Al-qur’an dan As-sunnah.

Padahal andaikan mereka mau mengetahui pendapat dan fatwa para imam mereka –setelah merujuk kepada al-qur’an dan As-sunnah-, niscaya kita akan dapatkan mereka sepakat dalam semua hukum, yaitu mendahulukan Al-qur’an dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dalam perkara agama, baik besar maupun kecil, lahir dan dan batin. Lantas atas dasar apa kita berselisih??!!…..

Untuk meyakinkan akan hal diatas, kami akan paparkan sebagian ungkapan para imam dari empat madzhab, yang bisa kita jadikan bukti bahwa ushul dan aqidah mereka adalah sama, dasar mereka adalah satu. Yaitu kebenaran sesuai dengan dalil-dalinya, yaitu al-qur’an, As-sunah, ijma’ dan qiyas. Semua itu demi tujuan mereka serupa pula, yaitu mengharap ridha dan wajah Allah.

Sebenarnya masih banyak paparan dari ulama yang lain, akan tetapi disini tujuan kami hanya memberikan contoh supaya kita bisa mengambil faidah serta menjadikan sebagai pelajaran dalam mengamalkan syariat yang MULIA ini.

Terakhir, marilah kita camkan, kita pahami dan kita amalkan pesan serta nasihat dari para imam kita ini, sehingga kita benar-benar menjadi pengikut yang sesuai dengan apa yang mereka bawa, bukan hanya klaim atau pengakuan:

Seorang syair mengatakan:

“semua orang mengaku cinta pada LAILA”

“Akan tetapi LAILA tidak mengakui akan cintanya”

Imam Abu Hanifah, Nukman Bin Tsabit – rahimahullahu – berkata:

  1. Apabila sebuah hadits telah shahih, maka itulah madzabku (pendapatku).
  2. Tidak halal bagi siapapun untuk mengikuti pendapatku, sebelum ia tahu dari mana kami mengambilnya.Dalam riwayat yang lain: haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan ucapanku. Ia menambah dalam sebuah riwayat: sesungguhnya kami adalah manusia, hari ini mengatakan sesuatu dan besok kami menarik ucapan itu kembali. Dalam riwayat yang lain: Celaka kamu wahai Ya’qub (dia adalah Abu Yusuf) janganlah kamu tulis semua apa yang kamu dengar dari saya, maka sesungguhnya bisa jadi hari ini aku berpendapat sesuatu kemudian besok aku meninggalkannya, atau besok aku berpendapat kemudian lusa aku meninggalkannya.
  3. Apabila aku mengatakan suatu ucapan yang menyelisihi al-quran dan as-sunnah, maka tinggalkanlah ucapanku.

Imam Anas Bin Malik – rohimahullah:

  1. Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang dapat benar dan salah. Maka perhatikanlah ucapanku. Jika sesuai dengan al-qur’an dan as- sunnah, maka ambillah dan jika menyelisihi al-qur’an dan as-sunnah maka tinggalkanlah.
  2. Tidaklah ada seorangpun sesudah Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, melainkan ucapannya bisa diambil atau ditinggalkan kecuali beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil semua ucapannya).
  3. Ibnu Wahb berkata: Aku mendengar Imam Malik ditanya tentang (hukum) menyela-nyela air ke jari-jari kaki saat berwudlu, maka Imam menjawab: “Itu tidak harus dilakukan”. Maka aku biarkan sampai manusia menjadi sedikit lalu aku bertanya kepadanya. “Kami punya dalil dalam itu”, ia pun bertanya: “apa dalilnya?” “Telah menceritakan kepadaku Laits Ibnu Saad dan Ibnu Lahia dan Amr Ibnu Harits dari Yazid Ibnu Amr Al-Muafiry dari Abi Abdirrohman Al-Habli dari Mustaurid Ibnu Syadad Al-Qurosy, ia berkata: “aku melihat Rosulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam menyela-nyelai dengan jari kelingkingnya di jari-jari kedua kakinya”. Maka Imam Malik berkata: “sesungguhnya hadits ini adalah hasan sedangkan aku belum pernah mendengar hadits ini sebelumnya”. Kemudian aku (Ibnu Wahb) mendengar setelah itu ketika Imam Malik ditanya ia memerintahkan untuk menyela-nyelai jari kaki (dengan air saat berwudlu).
  4. Setiap hadits dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, maka itu adalah ucapanku sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.
  5. Jika telah datang kebenaran dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam sesuatu yang menyelisihi ucapanku, maka hadits Nabi lebih utama (diikuti) dan jangan kalian taqlid kepadaku.
  6. Apabila kalian melihatku mengatakan suatu ucapan, sementara telah datang dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam kebalikannya dari ucapanku, maka ketahuilah sesungguhnya akalku telah lenyap.
  7. Setiap masalah yang datang padanya hadits yang shohih dari Rosulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam menurut ahlinya dan berbeda dengan yang aku katakan, maka aku telah kembali dari ucapanku dimasa hidupku dan setelah matiku.
  8. Engkau (Imam Ahmad) lebih mengetahui tentang hadits dan perowinya dari padaku. Jika ada hadits yang shahih, maka kabarkan kepadaku dari manapun ia, baik dari Kufah, Basroh maupun Syam. Sehingga aku dapat mengambilnya jika hadits itu shahih.

Imam Syafi’i, Muhammad Bin Idris – rohimahullahu – berkata:

  1. Telah sepakat kaum muslimin bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya sunah dari Rosulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut karena (mengikuti) ucapan orang lain.
  2. Apabila kalian menjumpai dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rosulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka kerjakanlah sunnah Rosulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam dan tinggalkan apa yang aku ucapkan. Dalam riwayat yang lain: Maka ikutlah sunnahnya dan jangan kalian menoleh kepada ucapan siapapun.
  3. Apabila sebuah hadits telah shohih, maka itulah madzhabku.

Imam Ahmad Bin Hambal – rohimahullah – berkata:

  1. Janganlah kamu taklid kepadaku, kepada Malik, kepada Syafi’i, kepada ‘Auzai atau kepada Tsauri. Akan tetapi ambillah dari mana mereka mengambil. Dalam riwayat yang lain: janganlah kamu taklid dalam agama kepada mereka. Kemudian tabi’in dan setelahnya adalah mukhyar (boleh memilih). Dalam riwayat yang lain: ittiba’ adalah seseorang yang mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian yang datang setelah tabiin adalah mukhyar (boleh memilih).
  2. Pendapat Auzai, Malik, Abu Hanifah, semuanya hanyalah pendapat. Dan menurutku adalah sama. Dan sesungguhnya dalil hanyalah atsar.
  3. Barangsiapa yang menolak hadits Rosulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka ia berada di atas jurang kehancuran.

Demikianlah perkataan para ulama madzhab kita. Berbeda madzhab, tapi sepakat dalam hukum, ushul dan aqidah. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan faidah dari untaian kata mutiara para IMAM kita. Sehingga kita bisa menerima kebaikan dan kebenaran dengan dalilnya dari manapun, di manapun dan kapanpun datangnya. Demi mencapai ridho Allah Azza Wa Jalla dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin…

Dinukil dan disarikan dengan sedikit tambahan dari kitab Sifat Sholat Nabi, karya Syeikh Al-Albany -semoga Allah merahmatinya-, hal: 41-50.

Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
( 25/6/1434 H )

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 2


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180

      Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180