Pentingnya Tadabbur Al-Quran

pentingnya tadabbur al-quran

Makkah Al-mukarramah ( 15/51435 H)

Ditulis oleh: Ummu Fayha Anisah

Sumber:

"min ajli tadabbur Al qur'an", karya syeikh Sulaiman bin umar as sunaidy–hafidzahullah-, majalah al bayan, cetakan ke-3 tahun (1428 H /2007 M).

No comments

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam selalu teruntukan atas Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, segenap keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau di atas kebaikan sampai akhir zaman.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah subhaanahu wa ta’aala telah menurunkan Al Qur’an agar kita mentadabburinya dan memahaminya.

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shaad:29) .

Dan telah ditegaskan kepada kita suatu wasilah yang dapat menghantarkan kita di dalam merealisasikan tadabbur Al qur’an, yaitu bersihnya hati dan selamatnya dari berbagai penyakit baik syubhat maupun syahwat. juga telah dijelaskan oleh sahabat Utsman bin ‘affan radhiyallahu’anhu- melalaui perkataannya: “jikalau hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah kenyang/puas dari membaca Al qur’an”. Dan sungguh agung kedudukan mentadabburi Al qur’an dan menyibukkan diri di dalam memahami ayat-ayatnya, dan mentafakkuri makna-maknanya, Apalagi di jaman sekarang kita ini yang telah banyak diliputi oleh kelalaian. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala supaya menjadikan Al qur’an sebagai penghibur hati kita, cahaya dada kita, dan penawar kesedihan kita, serta penghilang kegundahan dan kesusahan kita. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Pengertian Tadabbur Al Qur’an.

Sebelum kita mengetahui urgensi-urgensi dari tadabbur Al Qur’an, alangkah baiknya kita mengetahui dahulu pengertian dari tadabbur Al Qur’an itu sendiri.
Tadabbur Al Qur’an yaitu, memahami makna lafadz-lafadznya, memikirkan apa saja yang ditunjukkan oleh makna lafadz-lafadz tersebut berupa petunjuk dan peringatan, supaya hati dapat mengambil pelajaran, jiwa menjadi khusyu’, dan dada menjadi lapang untuk beramal shalih.

Urgensi (pentingnya) mentadabburi Al Qur’an.

1 . Mendapatkan berkah dari Al Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّ‌بِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ‌ وَهُدًى وَرَ‌حْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّـهِ وَبِرَ‌حْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَ‌حُوا هُوَ خَيْرٌ‌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS.Yunus: 57-58)
“berkah” di sini artinya kegembiraan.

2. Kebutuhan hati terhadap tadabbbur Al Qur’an adalah sangat dibutuhkan. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ‌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Hadiid: 16)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai sifat hati orang-orang yang khusyu’:

اللَّـهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ‌ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَ‌بَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ‌ اللَّـهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّـهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّـهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴿٢٣﴾

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah”. (QS. Az zumar: 23)

Ibnu Al-Qayyim –rahimahullah- berkata: “maka tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hati dari pada membaca Al Qur’an dengan disertai tadabbur. Apabila seseorang telah membacanya dengan disertai tafakkur, sehingga jika melewati suatu ayat yang ia membutuhkannya untuk mengobati hatinya, ia mengulang-ulangnya hingga seratus kali walau pun dalam waktu semalam. Dan membaca satu ayat dengan disertai tafakkur dan tafahhum itu lebih baik dari pada mengkhatamkannya tanpa disertai tadabbur dan tafakkur. Dan hal itu lebih bermanfaat untuk hati serta lebih mudah mendapatkan keimanan dan manisnya membaca Al Qur’an”.

3. Allah memuji dan menyanjung orang-orang yang mentadabburi AlQur’an. Dia berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. . (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. (QS.Al Anfaal: 2-4)
4 . Allah mencela orang yang meninggalkan tadabbur Al Qur’an dan tidak mengambil pengaruh darinya.
Allah ta’aala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُ‌ونَ الْقُرْ‌آنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”.(QS.Muhammad:24)

وَقَالَ الرَّ‌سُولُ يَا رَ‌بِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْ‌آنَ مَهْجُورً‌ا ﴿٣٠﴾

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al Furqan: 30)

Imam ibnu katsir –rahimahullah- berkata: “meninggalkan tadabbur Al Qur’an termasuk mengacuhkannya.
Ibnu Umar –radhiyallahu’anhuma- berkata: “aku telah melihat manusia, salah seorang dari mereka diberi Al Qur’an sebelum keimanan menyapanya, lantas ia membacanya dari Al Fatihah hingga mengkhatamkannya, sedangkan ia tidak mengetahui perintah-perintahnya dan juga larangan-larangannya serta apa yang seharusnya ia berhenti dan membacanya layaknya kurma yang rontok berhamburan”.

Ibnu mas’ud –radhiyallahu’anhu- berkata: “jangan kalian membaca al-Qur’an seperti kalian membaca sya’ir (tergesa-tergesa, sehingga kalian tidak bisa meresapi maknanya –pent), dan Janganlah kalian membaca al-Qur’an layaknya kurma yang rontok dan berhamburan, berhentilah sejenak (demi menghayati) keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati kalian dengannya. Dan janganlah hanya akhir surat dijadikan keinginan kalian”.
Allah subhanahu wa ta’ala memperumpamakan keadaan yahudi beserta kitab sucinya (taurat) dengan sejelek-jelek perumpamaan:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَ‌اةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ‌ يَحْمِلُ أَسْفَارً‌ا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّـهِ ۚ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥﴾

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”. (QS. Al Jumu’ah: 5)

Ath thurthusyi –rahimahullah- berkata :”maka orang yang menghafal Al Qur’an dari kalangan ajaran kita (kaum muslimin) kemudian tidak memahami dan tidak mengamalkannya, termasuk keumuman makna ayat di atas”.

5 . merealisasikan nasihat untuk kitabullah.
Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata :”Nasihat untuk kitabullah adalah sangat mencintainya, mengagungkan kedudukannya, sangat ingin memahaminya, sangat perhatian di dalam mentadabburinya, berhenti ketika membacanya untuk memahami makna-maknanya yang diinginkan Allah untuk difahaminya, mengamalkannya setelah memahaminya, kemudian menyebarkan apa yang telah difahaminya di antara hamba-hambanya, melanggengkan mempelajarinya dengan mencintainya, berakhlaq dengan akhlaqnya dan beradab dengan adabnya”.

Perkara-perkara yang disyari’atkan di dalam mentadabburi AlQur’an:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَ‌كٌ لِّيَدَّبَّرُ‌وا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ‌ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shaad:29)
Allah telah mensyari’atkan perkara-perkara yang dapat mendukung untuk mentadabburi Al Qur’an, menghadirkan hati dan memahami makna-maknanya, diantaranya adalah:
1. Membaca dengan tartil dan membaguskannya.
2. Membacanya di shalat malam.
3. Membacanya dengan selamat dari kesalahan-kesalahan membaca dan mengitqankan (menyempurnakan) tajwidnya.
4. Beristi’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah.
5. Diam ketika mendengarkan bacaan ayat AlQur’an.
6. Membaca dengan suara keras.
7. Bagus di dalam ibtida’ (memulai bacaan) dan ketika waqf (berhenti dari membaca).

Bersambung insyaAllah Ta’ala

Alih bahasa

Anisah Nafilah (Ummu Fayha)
Makkah Al-mukarramah ( 15/51435 H)

[1] . Diterjemahkan dari risalah yang berjudul “min ajli tadabbur Al qur’an”, karya syeikh Sulaiman bin umar as sunaidy–hafidzahullah-, majalah al bayan, cetakan ke-3 tahun (1428 H /2007 M).

Tentang Penulis

Ummu Fayha Anisah

Berikan komentar anda