Pintu Dan Bagian Dalam Ka’bah Al-Musyarrafah

pintu dan bagian dalam ka'bah

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

* Beberapa Kitab

No comments

pintu dan bagian dalam ka'bahPintu Ka’bah terdapat di sebelah timur, ketinggian dari lantai thawaf mencapai sekitar 2,25 M. Tinggi pintunya saja adalah 3,10M sedangkan lebarnya adalah 2M. pintu Ka’bah ini sudah mengalami perubahan beberapa kali. dan pintu yang sekarang adalah perubahan atas perintah Raja Khalid Bin Abdul’aziz Ali Su’ud –semoga Allah merahmatinya- setelah beliau memperhatikannya di saat sedang thawaf, lalu beliau jalan menuju ke pintu Ka’bah pada waktu itu, kemudian mengeluarkan surat perintah agar dibuat pintu yang baru.

Pembuatannya telah dilakukan dengan menelan biaya sekitar 13 juta Riyal Saudi dan menggunakan 280 kg emas murni serta menghabiskan waktu selama satu tahun penuh yaitu pada tahun 1398 H. Bagian yang dikenakan kain Ka’bah disebut burqu’.

pintu dan bagian dalam ka'bahPintu Ka’bah memiliki kunci khusus yang panjangnya sekitar 35 cm. Kunci ini dipegang oleh pelayan Ka’bah dari keluarga Asy Syaiby. Ka’bah tidak pernah dibuka pada malam hari baik pada masa jahiliyah atau Islam.

Pada bagian dalam Ka’bah terdapat tiga tiang kayu yang menyangga atap Ka’bah. Tiga tiang tersebut terbuat dari kayu yang paling kuat yang tidak ada tandingannya. Kayu-kayu ini telah dipasang oleh Abdullah Ibnu Zubair dan bertahan sampai 1250 tahun.

pintu dan bagian dalam ka'bahSetiap tiang memiliki panjang keliling 150 cm dan diameternya 44 cm, sebagaimana terdapat juga sebagian gantungan pada setiap tiang. Padanya terdapat hadiah milik Ka’bah. Dan pada setiap tiang terdapat pondasi dari kayu. Kemudian tiang-tiang tersebut telah direnovasi secara sempurna pada masa Raja Fahd Bin Abdul Aziz, pada tahun 1417 H dan digantikan dengan kayu-kayu yang sangat kuat dari pohon At-Tiik, yang didatangkan dari negara Birma.

Lantai Ka’bah ditutupi dengan marmer berwarna putih, begitu pula keempat dinding-dindingnya dengan ketinggian 4 m, tanpa menempelkan ke dinding Ka’bah yang asli.

Di dalam Ka’bah juga terdapat 10 buah batu yang semuanya terbuat dari marmer putih. Diatas batu tersebut terdapat tulisan nama-nama khalifah dan raja-raja yang pernah merenovasi Ka’bah sejak abad ke 6 H hingga sekarang. ketinggian batu-batu tersebut dari lantai Ka’bah sekitar 144 cm.

Ketika Nabi Ibrohim membangun Ka’bah ia menggali lobang di dalamnya di sebelah kanan dengan kedalaman tiga hasta (kira-kira 1,5 m). Fungsinya untuk menampung kekayaan Ka’bah dan hadiah-hadiahnya. Ini dinamakan Al-Jub atau Al-Bi’ru Al-Akhsaf. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjumpai emas sebanyak tujuh puluh Auqiyah (kira-kira 246 gram) dari harta yang dihadiahkan ke Ka’bah dan beliau tidak menyentuhnya. Demikian pula sahabat Abu Bakar dan Umar.

Al-Ghozi menyebutkan dalam kitab sejarahnya bahwa di dalam lobang tersebut ada ular yang melindungi harta Ka’bah. Maka Allah mengutus burung untuk mengambilnya di saat orang-orang quraisy ingin merenovasi bangunan Ka’bah. Harta Ka’bah tersebut dinamakan Al-Abrok karena cepatnya balasan Allah bagi orang yang berusaha berbuat kejelekan kepadanya.

Ulama berbeda pendapat mengenai pemakaian harta Ka’bah, mayoritas dari mereka membolehkan demi kepentingan Ka’bah dan kaum muslimin secara umum. Harta dan hadiah ini telah lenyap setelah renovasi Ka’bah pada tahun 1040 H. dan saya (penulis) tidak menjumpai ulama yang membicarakannya sebagaimana lobang yang ada di dalam Ka’bah pun telah ditutup.

Karena diantara bentuk pengagungan manusia terhadap Ka’bah adalah mereka menggantungkan hadiah dan lembaran yang berharga di dalamnya. Diantaranya adalah lembaran tujuh syair, lembaran orang-orang Quraisy untuk memboikot keluarga Bani Hasyim, Abdul Muththolib, perjanjian-perjanjian dan surat kuasa dari sebagian penguasa. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh pengarang kitab Al-Khomis, bahwa ketika Abdul Muththolib menggali sumur zamzam ia menemukan dua ekor kijang dari emas di dalam Ka’bah. Raja Persia yang bernama Sasan Bin Babak telah memberikannya sebagai hadiah dengan perhiasan dan emas untuk Ka’bah.

pintu dan bagian dalam ka'bahBenda lainnya yang pernah terdapat dalam Ka’bah adalah Ma’aliq, yaitu gantungan-gantungan yang ada dalam Ka’bah. Diantara ma’aliq yang ma’ruf adalah tanduk domba yang dipakai tebusan Nabi Ismail ketika disembelih oleh Nabi Ibrohim. Sebagaimana yang tersebut dalam sebuah kitab Al-azroqy. Dan keduanya telah telah menjadi usang kerana banyaknya tangan yang menyentuh dan hilang pada saat sahabat Ibnu Zubair mengembalikan bangunan Ka’bah al-Musyarrofah pada tahun 65H.

Sebagaimana dalam Ka’bah juga terdapat payung-payung, kalung-kalung dan pelita-pelita dari emas yang dihadiahkan oleh para raja, kholifah dan para hartawan untuk Ka’bah. Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepadaku (penulis) untuk memasuki Ka’bah beberapa kali dan aku tidak mendapatkan kecuali beberapa lampu gantung yang tidak sempat aku menghitungnya.

Wahai saudaraku seiman, sekali lagi ketahui dan pahamilah, bahwa pintu Ka’bah hanya sebuah mahluk, yang tidak akan dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya bagi siapapun. Ia merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada Ka’bah, di dalam masjidil haram, di kota suci Makkah Al-Mukarramah.

Semoga dengan mengatahui lebih detail dan rinci tentang Ka’bah dan bagian-bagiannya dapat menambah keimanan dan memupuk amal shalih kita, sebagaimana kita selalu memohon kepada-Nya untuk menjadi seorang hamba yang dapat mengamalkan semua sunnah, termasuk amalam –amalan yang disunnah disisi Ka’bah ketika melakukan umrah atau haji serta mengagungkan Ka’bah dengan cara-cara yang telah disyariatkan dan diridhai oleh Allah dan Rosul-Nya, bukan dengan cara-cara bid’ah dan kesyirikan. WaAllah ‘alam.

Bersambung isyaAllah ta’ala………

Diringkas oleh: Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
(24/7/1434 H)

Maraji’ /referensi.
1. Al-Balad Al-Haram Fadhaa-il Wa Ahkam, Karya Kuliah Usuludin Universitas Ummu Quro.
2. Akhbar Makkah Wa Ma Jaa-a Fiiha Min Atsar, Karya Abul Walid Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Azroqy, (wafat tahun 250 H).
3. Takshilul Maram Fi Akhbari Al-Bait Haram Wal Masyaa’ir Al-A’dzom, Karya Muhammad Bin Ahmad As-Shabbagh (wafat tahun 1312 H).
4. Al-Ka’bah Al-Musyarrafah Tarikh Wa Ahkam, Karya Abdullah Bin Said Al-Hasany. Cet. 1. Tahun (1433 H).
5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Karya Abu Fida’ Ismail Bin Amr Bin Kastir, (wafat tahun 774 H).
6. At-Tarikh Al-Qowim Li Makkah Wa Baitullah Al-Karim, karya Muhammad Thohir Kurdy.
7. Zadul Maad, Karya Syamsuddin, Abu Abdillah Muhammad Bin Abi Bakr, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, wafat (751 H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda