Resep Hidup Bahagia Nan Barakah

Resep Hidup Bahagia nan Barakah

Makkah al-Mukarrmah (13/6/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

* Beberapa Sumber

No comments

Banyak orang mendambakan kebahagiaan, akan tetapi mereka salah melangkah. Banyak orang menginginkan ketenangan, akan tetapi mereka salah cara. Banyak orang ingin menjadi sejahtera, akan tetapi tertutup jalannya.


Kenapa bisa demikian? Karena mereka berangkat dari tolak ukur yang berbeda dan sudut pandang yang lain.

Saudaraku yang saya cintai..

Sebagian manusia mengira bahwa kunci kebahagiaan dan sukses hanya bisa didapat dengan harta, diperoleh dengan kekuasaan, atau diwujudkan dengan jabatan serta yang lainnya, yang bersifat materi.

Padahal kebahagiaan yang hakiki dan sukses di dunia yang sesungguhnya, adalah ketika seorang hamba mau tunduk dan kembali kepada syariat, dengan mengamalkan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, dekat kepada Allah serta selalu istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya.

Alangkah indahnya saudaraku, hidup dengan syariat, di atas sunnah dan selalu dalam ketaatan, apalagi jika dibarengi dengan ilmu yang benar.

Oleh karena itu, Di dalam al qur’an al karim Allah telah sebutkan banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan tentang wajibnya mengikuti apa-apa yang telah datang dari Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam serta memperingatkan agar senantiasa bersikap waspada terhadap apa-apa yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam yang berupa kebenaran, petunjuk dan hidayah yang ia bawa.

Bahkan lebih luas lagi, Allah telah peringatkan kita, agar tidak terjerumus kepada segala macam bentuk penyimpangan dan penyelewengan dalam agama, baik yang mengandung unsur kesyirikan, atau yang mengarah kepada kesesatan dan kema’siatan. dalam hal ini Allah tabaaraka wata’aalaa berfirman :

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Q.S Al An’am: 153)

Maksudnya: janganlah kamu mengikuti agama-agama dan kepercayaan yang lain dari Islam.

Dalam ayat yang lain Allah tabaaraka wata’aalaa berfirman:

“maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (Q.S An Nuur: 63)

 

Maksudnya (akan ditimpa cobaan) adalah di dalam hatinya tertanam kekafiran, kemunafikan dan kesesatan.

maksudnya (ditimpa azab yang pedih) adalah ketika di dunia mengalami pembunuhan, hukuman, pengasingan dan lain-lain.

Allah tabaaraka wata’aalaa juga berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al Ahzaab: 21).

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.(Q.S Al-Hasyr: 7).

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran: 31).

Ibnu Katsir – rahimahullah – dalam tafsirnya mengatakan: “ayat yang mulia ini menghukumi setiap orang yang mengakui cinta kepada Allah sedangkan ia tidak berada di atas jalan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam, maka ia telah berbohong sehingga ia mau mengikuti syari’at nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam dan agamanya dalam segala perkataan dan perbuatannya”.

Hasan Al Bashri dan para ulama salaf lainnya mengatakan: “suatu kaum telah mengira bahwasanya mereka telah mencintai Allah, maka Allah berikan mereka cobaan dengan ayat ini”. Yaitu:

“ Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Diantara hadits-hadits dan atsar yang mendorong kita untuk selalu meneladani Rosulullah shallahu ‘alihi wa sallam serta menjauhi bid’ah.

1. “Barangsiapa yang mengadakan dalam perkara kami (agama), sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak”. (Bukhori dan Muslim).

2. “Kewajiban bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah-sunnah khulafaur rosyidin yang mendapat petunjuk, pegangilah dan gigit dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara (agama) yang baru. Karena setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Bukhori dan Muslim).

3. Abdullah bin Umar –semoga allah meridhainya- berkata: “setiap kebid’ahan adalah sesat sekalipun menurut manusia adalah baik”.

Maka setiap amal tidak akan diterima di sisi Allah ta’ala kecuali jika memenuhi dua syarat:

PERTAMA: yaitu memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah. Ini adalah kandungan dari persaksian “LAA ILAAHA ILLALLAAH”.

KEDUA: mengikuti sunnah Rosulullah Shallallaahu’alaihi wasallam. Ini adalah kandungan dari persaksian “Muhammad adalah utusan Allah”.

Fudhoil bin ‘Iyadh mengatakan tentang firman Allah yang artinya : “untuk menguji manakah diantara kalian yang lebih baik amalnya”. Yaitu yang paling benar dan ikhlas. Ia berkata: “sesungguhnya apabila amal telah ikhlas tetapi belum benar (mengikuti sunnah), maka tidak akan diterima. Jika benar tetapi belum ikhlas, maka tidak akan diterima sampai amal tersebut menjadi ikhlas dan benar. Ikhlas, artinya hanya untuk Allah ta’aala. Benar, artinya sesuai dengan sunnah”.

 

Empat ulama (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin hambal), mereka telah sepakat akan wajibnya untuk berpegang teguh dengan al-qur’an dan as-sunnah dan kembali kepada keduanya serta meninggalkan setiap ucapan yang menyelisihi keduanya.

Sudut lain dari hadits dan atsar diatas yang bisa kita ambil pelajaran adalah, bahwasannya jika seseorang telah diterimah amal dan usahanya oleh Allah, karena sesuai dengan al-qur’an dan as-sunnah, maka pasti ia akan menjadi orang beruntung dan bahagia. Karena ini adalah merupakan janji Allah dan Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.

Kita mohon kepada Allah Subhaanahu wata’aalaa, agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk, bukan orang-orang tersesat atau menyesatkan, sehingga kita benar-benar menjadi orang-orang mendapat atau merasakan kebahagiaan yang hakiki di dunia sebelum di akhirat. Amiin

Semoga shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi kita Muhammad, para sahabat dan segenap keluarganya.

Penulis: Al-faqiir ilaa ‘afwi Robbih
Hamidin as-sidawy al-atsary, Abu Harits
Makkah al-Mukarrmah
(13/6/1434 H)

 

Maraji’

  1. Al Qur’an Al-Kariim
  2. Tafsiir Al Qur’anil ‘Adzim Karya Al Imam Ibnu Katsir.
  3. Min Akhbar As-Salaf, Karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Gulam

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda