Ringkasan Aqidah Islam 4: Syirik Besar

Syirik Besar

Makkah Mukaramah

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Ringkasan Aqidah Islam 4: Syirik Besar

No comments

Syirik Besar

1. Soal: Apakah syirik besar itu ?

Jawab: Syirik besar adalah memalingkan macam dari macam-macam ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, seperti do’a, penyembelihan dan yang lainnya. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ ١٠٦

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”( QS.Yunus:106 ).

Dan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

أكبر الكبائر: الأشراك بالله, وعقوق الوالدين, وشهادة الزور ). رواه مسلم)

Artinya: “Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah subhanahu wata’ala, durhaka kepada kedua orang tua dan persaksian palsu. (Riwayat Muslim).

2.Soal: Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah subhanahu wata’ala ?

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Jawab: Dosa yang paling besar di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah syirik besar. Dalilnya firman Allah subhanahu wata’ala tentang Lukman Al-Hakim:

يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS.Luqman:13).

Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya dosa apakah yang paling besar disisi Allah subhanahu wata’ala ? beliau menjawab: yaitu kamu menjadikan tandingan bagi Allah subhanahu wata’ala, sedangkan Dialah yang menciptakan kamu ( Riwayat Bukhori). Yang dimaksud tandingan adalah sekutu.

3. Soal: Apakah kesyirikan terjadi dalam umat ini ?

Jawab: ya terjadi, dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

ذَٰلِكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَ‌هُمْ وَهُمْ يَمْكُرُ‌ونَ ﴿١٠٢

dan sebahagian dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain). ( QS.Yusuf: 106).

Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

[ لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين, وحتى تعبد الأوثان ] صحيح رواه الترمذي

Artinya: “tidak akan datang hari kiamat sehingga segolongan kabilah dari umatku menyusul orang-orang musyrik dan menyembah patung”. (shahih riwayat tirmidzi).

4. Soal : Apakah hukum berdo’a kepada orang-orang mati atau ghoib.

Jawab : Berdo’a kepada mereka adalah merupakan syirik besar. Allah berfirman:

إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Artinya: “jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui”.( QS.Fathir: 14).

Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

[ من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار ] رواه البخاري

Artinya: “barang siapa yang mati sedangkan ia berdo’a kepada selain Allah subhanahu wata’ala, maka ia masuk neraka (Riwayat Bukhori).

5. Soal : Apakah do’a merupakan ibadah ?

Jawab: ya, do’a adalah merupakan ibadah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” ( QS.Ghafir: 60).

Rosullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

[الدعاء هو العبادة ]

“do’a adalah ibadah”. (Riwayat tirmidzi dan ia mengatakan hadits hasan shahih).

6. Soal : Apakah orang-orang yang meninggal dapat mendengar do’a ?

Jawab: Mereka tidak dapat mendengar do’a. Allah subhanahu wata’ala berfirman:


مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Artinya: “dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”.( QS.Fathir: 22).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata:”Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas permukaan sumur badr seraya mengatakan: “Apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Robb kalian adalah benar ?” kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: “sesungguhnya mereka sekarang mendengar apa yang aku katakan”. Lalu dikabarkan ke Aisyah radhiyallahu ‘anha kemudian ia berkata: sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan (hal itu) ” karena sesungguhnya mereka sekarang tahu bahwa apa yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam katakan kepada mereka adalah kebenaran”.

Kemudian aisyah radhiyallahu ‘anha membaca ayat :

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِ‌ينَ ﴿٨٠﴾

Artinya :”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar” (QS.An Naml: 80).

Qatadah berkata tentang riwayat hadits ini:

[ أحياهم الله حتى أسمعهم قوله توبيخا وتصغيرا ونقمة وحسرة وندامة ] رواه البخاري في كتاب المغازي باب 8

Artinya: “Allah subhanahu wata’ala telah membangunkan mereka sehingga menjadikan mereka mendengar ucapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. hal itu sebagai tanda celaan, hinaan, balas dendam, kesedihan dan penyesalan atas mereka”.( HR. Bukhari dalam kitab Maghaazi ( peperangan ) Bab ke 8 )

Beberapa Faidah Dari Hadits Di Atas

1.Mendengarnya orang-orang musyrik yang sudah terbunuh itu bersifat sementara, dengan dalil ucapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “sesungguhnya mereka sekarang mendengar artinya setelah ini mereka tidak dapat mendengar, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah tentang hadits itu: Allah subhanahu wata’ala telah membangunkan mereka sehingga menjadikan mereka mendengar ucapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu sebagai tanda celaan, hinaan, balas dendam, kesedihan dan penyesalan atas mereka”.

2.Pengingkaran ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha atas riwayat Ibnu Umar, dan sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan “mendengar”, akan tetapi beliau mengatakan: “sesungguhnya mereka sekarang tidak mengetahui “, dengan dalil firman Allah subhanahu wata’ala, artinya: ” Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar”. (QS.An Naml: 80).

3.Memungkinkan adanya kesamaan antara riwayat Ibnu Umar dengan riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan seperti ini, “pada dasarnya adalah tidak ada yang bisa menjadikan orang-orang mati mendengar sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam al qur’an, akan tetapi Allah subhanahu wata’ala telah membangunkan mereka sebagai mu’jizat untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dapat mendengar, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ucapannya Qatadah”

Wallaahu a’laam

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda