Ringkasan Prinsip-prinsip Aqidah Islamiyah

Prinsip-Prinsip Aqidah Islamiyah

Makkah Al-Mukarramah (13/6/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

* Dari beberapa sumber

1 comment

Segala puji hanya milik Allah, sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, yang tiada Nabi sesudahnya, amma ba’du.

Mayoritas kaum muslimin pasti tahu dan paham, bahwa perkara aqidah merupakan pokok dan asas, yang sangat menentukan. Ibarat bangunan, aqidah merupakan pondasi. Jika kuat, maka kuatlah yang lainnya. Akan tetapi jika rapuh, maka rusak pula semua.


Pembahasan aqidah memang sangat luas, ibarat laut yang tidak bertepian. Para ulama kita telah membahasnya, baik secara rinci maupun global.

Disini penulis hanya mengambil point-point penting dari kitab-kitab aqidah, yang merupakan garis–garis besar dari prinsip-prinsip aqidah ahlu sunnah wal jamaah. Yang harus diketahui dan diamalkan oleh seorang muslim, tanpa harus menyebutkan dalil-dalil dan atsar-atsar yang berkaitan dalam setiap point. Karena semuanya sudah ma’ruf dan jelas. Tujuan kami adalah meringkas yang inti sehingga mudah dipahami, bahkan dihafalkan.

Sudah barang tentu apa yang tertulis disini belum lengkap apalagi sempurna. Akan tetapi, paling tidak, dapat dijadikan sebagai bekal dasar sebelum seseorang mempelajari lebih luas. Namun demikian jika kedepan ada kemudahan akan kami sempurnakan dengan penjelasannya -Insyaallah. Adapun sekarang dari pilar-pilar aqidah ini, maka bisa dibaca dari kitab-kitab para ulama dan asatidzah atau mendengarkan kaset-kaset ceramah mereka.

Diantara pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah adalah sebagai berikut:

1. Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kita-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir serta beriman kepada qodho dan qodar-Nya, yang baik dan yang buruk.

2. Beriman kepada keesaan Allah subhaanahu wata’ala, dan sesungguhnya Dia adalah tunggal, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada yang menandingi-Nya, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu dan tiada sesembahan atau Robb kecuali Dia (Allah).

3. Allah mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat selalu bersama-Nya, maha tinggi sifat-sifat dan nama-nama-Nya dan bukanlah merupakan sesuatu yang baru.

4. Kita tetapkan nama-nama dan sifat-sifat dari apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rosul-Nya dengan tanpa menyerupakan atau mem-bagaimana-kan. Dan kita tiadakan apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya dan apa yang ditiadakan oleh Rosul-Nya dengan tanpa merubah atau membuang.

5. Maha suci Allah, Dialah Robb yang menciptakan, yang memberi rizki, yang menguasai, yang mengurusi, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang mengatur alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya.

6. Dialah Robb yang benar, yang berhak untuk diibadahi tanpa yang lain. Barang siapa yang beribadah kepada yang lain, maka ia telah kafir.

7. Kita beriman bahwa Allah Azza Wa Jalla bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Dan sesungguhnya Allah di atas langit, tinggi dari mahluk-Nya. Ilmu-Nya meliputi semua tempat di bumi, tiada sedikitpun yang tersembunyi. Dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia tiap sepertiga malam, sebagaimana jelas dalam dalil.

8. Sesungguhnya iman mencakup ucapan, amal, niat serta berpegang teguh dengan sunnah. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

9. Barang siapa yang yang mengira, bahwasanya iman hanyalah ucapan tanpa amal, maka ia adalah orang murji’ah.

10. Barang siapa yang berpendapat bahwasanya iman hanyalah ucapan, dan sesungguhnya amal merupakan syariat, maka ia adalah orang Murji’ah.

11. Manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan. Barang siapa yang mengira bahwa imannya seperti keimanan malaikat, maka ia adalah ia adalah orang Murji’ah.

12. Sesungguhnya ilmu Allah Azza Wa Jalla berlaku pada hamba-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Allah Azza Wa Jalla telah mengetahui semua amal kebaikan dan kemaksiatan seseorang serta menciptakan perbuatan tersebut bagi mereka. Semua manusia beramal sesuai dengan apa yang ciptakan dan akan kembali sesuai dengan taqdirnya. Tidak ada seorangpun yang melampaui taqdir dan kehendak Allah Subhaanahu wata’ala.

13. Seorang hamba adalah pelaku perbuatan mereka yang sebenarnya, sedangkan Allahlah yang telah menciptakan perbuatan mereka. Sebagaimana seorang hamba mempunyai kemampuan dan keinginan terhadap perbuatan mereka, sedangkan Allahlah yang menciptakan kemampuan dan keinginan mereka.

14. Kita tidak boleh memastikan hukuman neraka atau surga bagi kaum muslimin. Kecuali dengan dalil (al-qur’an dan sunnah) yang datang dalam hal tersebut.

15. Kita tidak boleh mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin karena dosa yang ia lakukan atau mengeluarkannya dari islam sebab perbuatan tertentu, kecuali jika terdapat dalil (al-qur’an dan sunnah) dalam hal tersebut maka harus kita terima sebagaimana yang datang dalam riwayat yang shahih.

16. Sesungguhnya jihad tetap berlaku bersama para pemimpin kaum muslimin dan tidak ada yang bisa membatalkannya, baik pemimpin yang durhaka maupun yang adil (baik).

17. Sesungguhnya menahan diri ketika waktu fitnah adalah merupakan sunnah orang-orang salaf yang wajib kita ikuti. Jika kamu diuji, maka korbankanlah jiwamu, bukan agamamu. Dan janganlah kamu ikut membantu dalam fitnah, baik dengan tangan atau lisan, akan tetapi kendalikanlah tanganmu, lisan serta hawa nafsumu. Sesungguhnya Allah Maha Penolong.

18. Kita harus beriman dengan semua perkara ghoib yang telah shahih, seperti keluarnya binatang melata, dajjal yang buta sebelah matanya, terbitnya matahari dari barat, siksa kubur dan kenikmatannya, telaga Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, jembatan antara surga dan neraka, terompet sangkakala, lauh mahfudz, pena dan semua perkara ghoib.

19. Adanya syafaat pada hari kiamat adalah suatu kebenaran. Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam memberikan memberikan syafaat kepada suatu kaum. Para Nabi, malaikat, orang-orang shlalih dan yang lainnya akan memberikan syafaat sebagaimana yang datang dalam riwayat yang shahih (benar).

20. Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam memiliki tiga syafaat pada hari kiamat:

  • Memberikan syafaat kepada penduduk mahsyar, sehingga diputuskan bagi mereka. Setelah para Nabi dimintai syafaat dan masing-masing menjawab: “urusi diri sendiri”.
  • Memberikan syafaat kepada yang berhak memasuki neraka supaya tidak memasukinya.
  • Memberikan syafaat bagi orang yang berhak memasuki neraka untuk keluar dari neraka.

Allah akan mengeluarkan suatu kaum dari neraka dengan tanpa syafaat, akan tetapi dengan Rahmat dan keutamaan-Nya.

21. hati seorang hamba berada diantara kedua jari-jemari Allah Subhaanahu wata’ala. Allah membolak-balikan sesuai dengan kehendak-Nya.

22. Al-qur’an adalah firman Allah Azza Wa Jalla bukan yang datang dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. barang siapa yang menyangka al-qur’an adalah ucapan malaikat jibril atau Nabi Muhammad maka ia adalah kafir.

23. Barang siapa yang mengira didalam al-qur’an terdapat kekurangan atau tambahan atau kontradiksi (bertentangan) atau berpendapat bahwa al-qur’an adalah mahluk maka ia adalah kafir.

24. orang mukmin akan melihat Allah pada hari kiamat dengan sebenarnya. Barang siapa yang mengingkari, maka ia adalah orang yang sesat.

25. Surga dan neraka adalah suatu kebenaran dan keduanya adalah mahluk. Allah telah menciptakan keduanya dan menciptakan penghuni keduanya. Keduanya tidak akan musnah atau binasa selama-lamanya.

26. Nabi kita Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rosul. Allah telah mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Allah telah menghapus semua syariat yang lalu dengan syariatnya. Barang siapa yang kufur dengan Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, maka ia telah kafir dengan semua Nabi dan Rosul.

27. Sesungguhnya wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam. Barang siapa yang berkata telah diwahyukan kepadanya setelah wafatnya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam maka sungguh ia telah berdusta kepada Allah Azza Wa Jalla.

28. Sesungguhnya ‘ishmah (terjaga dari dosa) hanya untuk Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya umat ini secara globlal terpelihara untuk sepakat dari kesesatan. Adapun secara individu-individu, maka tidak ada seorangpun yang terjaga dari dosa.

29. Barang siapa yang melakukan dosa besar dari kaum muslimin, maka ia adalah orang mukmin yang tidak sempurna imannya dan disebut sebagai orang fasik (rusak). Jika ia mati karena dosa besar, maka ia berada dalam kehendak Allah Subhaanahu wata’ala. Jika Allah menghendaki akan menyiksanya atau mengampuninya.

30. Barang siapa yang Allah siksa dengan nerakanya dari orang-orang yang bertauhid – karena sebab maksiat- maka Allah akan keluarkan dengan keimanannya kemudian Allah akan masukan ke surga.

31. Tidak ada yang mengetahui barang ghoib kecuali hanya Allah saja, dan meyakini bahwa seseorang selain Allah mengetahui hal yang ghoib adalah perbuatan kufur. Dengan meyakini bahwa Allah mengaabarkan sebagian hal ghoib kepada sebagian Rosul-Nya.

32. Mempercayai kebenaran para norma dan dukun adalah perbuatan kufur. Sedangkan pergi kepada mereka – tanpa membenarkan mereka- adalah termasuk perbuatan dosa besar.

33. Kita mencintai para sahabat Nabi Shallalaahu’alaihi wa sallam dan loyal kepada mereka serta menahan diri dari perselisihan yang terjadi tentangmereka, menerima keutamaan mereka sebagaimana yang datang dalam al-qur’an dan as-sunnah serta ijma’.

34. Kita membenci orang yang membenci para sahabat Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, atau mencela mereka, atau melecehkan mereka, atau menampakan aib mereka. Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka ia adalah orang syiah yang keji, Allah tidak akan menerima semua amalnya. Bahkan kecintaan terhadap mereka adalah sunnah, mendoakan mereka adalah ibadah, mengikuti mereka adalah wasilah (kepada kebaikan) serta mengambil teladan dari mereka adalah keutamaan.

35. Sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya adalah Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Ustman, kemudian ‘Ali, kemudian semua sahabat Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam setelah empat orang tersebut adalah orang atau manusia yang paling baik.

36. Kita mencintai keluarga Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam dan loyal kepada mereka dan kita akui keutamaan mereka dan tidak melampaui batas kepada mereka seperti yang dilakukan orang Rofidhoh (Syiah).

37. Kita menghormati para istri Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam dan kita imani bahwa mereka adalah para istrinya di akhirat, khususnya Khodijah dan Aisyah –semoga Allah meridhoinya-.

38. Kita membenarkan karamah (keistimewaan) para wali berdasarkan dalil-dalil yang ada, dan itu adalah termasuk mu’jizat para Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam. Maka mengikuti (sunnah) Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam adalah termasuk syarat untuk mendapatkan karamah (keistimewaan).

39. Barang siapa yang mengira cinta kepada Allah dan Rosul-Nya, akan tetapi tidak mau mengikuti sunnah Nabi-Nya, maka berarti ia tidak mencintai Allah Subhaanahu wata’ala dan tidak termasuk wali-Nya.

40. Sesungguhnya (sumber) agama adalah al-qur’an dan as-sunnah serta atsar dari para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka yang sesudahnya, dari para ulama tauladan, dan terpercaya, yang berpegang teguh dengan sunnah dan jauh dari kebid’ahan.

 

Semoga Allah selalu menunjukan dan membimbing kita semua di atas Aqidah yang benar, sehingga kita bisa beramal dengan aqidah yang benar, berdakwah kepada aqidah yang benar, bersabar di atas aqidah yang benar, serta menghadap kepada Allah dengan aqidah yang benar demi mengharap ridha dan balasan dari-Nya yang besar. Amiin.

Bersambung Insyaallahu ta’ala….

Penulis: Al-fakiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits
Makkah Al-Mukarramah
(13/6/1434 H)

Maraji’/ Referensi:

  • Mujmalu Ushul Al-Aqidah Ahlusunnah Fii Aqidah. karya Dr. Nashir Al-Aql.
  • Al-Aqidah At-Thohawiyah.
  • Syarhu Al-Qoiruwaniyah Al-Muyassaroh. karya Dr. Muhammad Khumais.
  • Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah, karya Syeikh Said Wahf Al-Qohtony.
  • Al-Wajiz Fi Aqidah As-Salaf, karya Abdullah Bin Abdul Majid Al-Atsary.
  • Al-Aqidah Al-Wasitiyah karya Ibnu Taimiyyah

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180