Sebab Penamaan Beberapa Surat Dalam Al Qur’an Al Karim ( Bag. 1 )

Sebab Penamaan Surat-Surat dalam Al-Quran Al Karim - bag 1

Makkah al-Mukarramah ( 28/1/1435 H )

Ditulis oleh: Ummu Fayha Anisah

Sumber:

“Duruus Wa Fawaa-id Min Al qur'an Wa 'Uluumihi”

1 comment

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, ,

Shalawat dan salam senantiasa kami haturkan kepada penutup para Nabi dan utusan, Nabi Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya.

Ini adalah pelajaran dan faidah-faidah, sengaja kami ambil dari sebuah kitab yang berjudul “Duruus Wa Fawaa-id Min Al qur’an Wa ‘Uluumihi” semoga bisa bermanfaat dan penyemangat untuk semakin mengenal dan mencintai Al qur’an khususnya bagi kami sendiri selaku penerjemah dan umumnya bagi para pembaca,

Jika ada kesalahan, itu dari diri pribadi kami selaku manusia, dan kebenaran itu mutlak bagi Allah semata. Selamat membaca!

Surat Al Faatihah

Ia adalah surat makkiyyah dan termasuk surat al matsani (yang dibaca berulang-ulang), jumlah ayatnya 7 termasuk “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, surat pertama sesuai dengan nomor urutan yang ada di dalam mushaf. Diturunkan setelah surat Al Muddatstsir. Surat ini dimulai dengan salah satu gaya bahasa yang mengandung arti pujian, yaitu “Al Hamdulillah” di dalam surat ini tidak disebutkan lafadzul jalalah kecuali satu kali saja.

Sebab penamaan: disebut surat Al Fatihah karena Al qur’an dimulai dengannya. Dan disebut ummul kitab, karena surat ini mengandung semua pokok-pokok ajaran islam. Surat ini dinamakan juga dengan As sab’ul Matsaanii, asy syaafiyah, al waafiyah, al kaafiyah, al asaasii dan al hamdu.

Kandungan yang ada di dalam surat ini: surat ini mengandung pembahasan seputar pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, aqidah, ibadah, beberapa syari’at, keyakinan terhadap hari kiamat, iman kepada sifat-sifat Allah yang baik, mengesakan-Nya dengan ibadah, pengabulan do’a, berdo’a, kembali kepada-Nya dengan minta petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, merendahkankan diri kepada-Nya dengan minta ditetapkan dalam keimanan dan menempuh jalan orang-orang yang shalih serta menjauhi jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat. Surat ini juga mengandung berita umat-umat terdahulu dan membahas tentang tempat persinggahan terakhir bagi orang-orang yang bahagia dan tempat akhir bagi orang-orang yang celaka, juga mengandung beribadah dengan perintah Allah subhaanahu wata’aala.

Keutamaan surat ini, adalah sebagaimana diriwayatkan oleh imam ahmad di dalam musnadnya, bahwa sahabat ubay bin ka’ab membaca surat al fatihah di hadapan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, maka beliau shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah diturunkan kepada taurat, injil, zabur dan Al-furqan yang serupa dengannya. Ia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al qur’an yang agung yang aku diberikannya”. Hadits ini menunjukkan arti akan firman Allah yang ada di dalam surat al hijr.

 

Surat Al-Baqarah.

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat Al-Baqarah”, karena untuk menghidupkan kenangan mukjizat itu, yaitu yang datang di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika seorang dari bani israil telah dibunuh sedangkan mereka tidak mengetahui pembunuhnya, akhirnya mereka menyampaikan perkara itu ke Nabi Musa ‘alaihis salam dalam rangka bertanya dan untuk mengetahui pembunuhnya. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam agar ia memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi, lalu memukulkan sebagian daging sapi tersebut kepada mayit maka niscaya ia akan mengabarkan siapa pembunuhnya, dan menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah untuk membangkitkan makhluk setelah kematian.

Surat ini madaniyah bahkan ia merupakan surat yang pertama kali diturunkan di madinah. Ia termasuk surat yang paling panjang, jumlah ayatnya 286 ayat, ayat yang terpanjang adalah ayat utang yang terdapat pada ayat ke 282.

Surat Ali Imran

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “ALI IMRAN”, karena datangnya penyebutan kisah keluarga yang sangat mulia, yaitu keluarga imran, bapaknya maryam, Ibu Nabi Isa ‘alaihis salam, dan perkara-perkara yang jelas, yang menunjukkan akan kekuatan dan kekuasaan Allah, mengenai melahirkannya maryam yang bathul (tanpa suami) seorang anak yang bernama Nabi Isa ‘alaihis salam.

Surat An Nisa’

Sebab penamaan surat an nisa’ adalah karena banyaknya hukum-hukum yang berkaitan dengan perkara para wanita, yang tidak disebutkan pada surat lainnya, oleh karena itu surat ini disebut juga “surat An nisa’ Al kubra” sebagai lawan dari “surat An nisa’ ash shugra” yang dikenal dalam Al Qur’an dengan surat Ath thalaaq.

Surat Al Maidah

Surat ini dinamakan dengan “Al Maidah”, karena di dalamnya disebutkan tentang hidangan. Di mana para pengikut Nabi ‘isa ‘alaihissalam meminta kepada beliau satu tanda bukti yang menunjukkan akan kebenaran dari kenabiannya ‘alaihish sholaatu was salaam dan supaya hal itu dijadikan hari raya bagi mereka.. sungguh kisah tersebut termasuk kisah yang paling menakjubkan karena mencakup banyaknya tanda-tanda kekuasaan Allah dan ke Maha lembutan yang sangat agung dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Surat Al An’am.

Surat ini dinamakan dengan “Al An’am”, karena didalamnya disebutkan tentang binatang ternak, “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah”, (QS.Al an’am :136)

Dan karena kebanyakan hukum-hukumnya menjelaskan tentang kebodohan orang-orang musyrik yang selalu bertaqarrub kepada binatang ternaknya mereka yang disebutkan di dalam surat ini.

Diantara keistemewaan surat in adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas –Semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya beliau berkata: “telah diturunkan surat Al ‘an’am pada malam hari di kota makkah secara langsung semuanya (tidak berangsur-angsur), di sekelilingnya ada 70 ribu malaikat yang senantiasa bertasbih”.

Surat Al A’raaf.

Surat ini dinamakan dengan “Al A’raaf”, karena padanya disebutkan tempat yang tertinggi antara surga dan neraka, yaitu sebuah pagar yang terletak diantara surga dan neraka yang mengitari para penghuninya. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari sahabat hudzaifah bahwasanya dia pernah ditanya tentang para ash haab Al A’raaf, maka dia menjawab: mereka adalah suatu kaum yang kebaikan dan kejekan telah menguasai mereka , maka kejekan mereka menahan diri mereka dari masuk ke dalam surga. Dan kebaikan mereka juga menahan diri mereka dari masuk neraka. Maka mereka berdiri di atas pagar tersebut sampai Allah menghukumi mereka.

Surat At Taubah.

Surat ini dinamakan dengan beberapa nama, sebagaian ahli tafsir menggolongkan kepada 14 nama. Al ‘Allaamah Az zamakhsyari mengatakan: surat ini mempunyai beberapa nama: ((Bara’ah, at taubah, Al muqasy qasyah, Al Muba’tsarah, Al Musyarradah, Al Mukhziyah, Al Fadhihah, Al mutsiirah, Al haaqirah, Al Munkilah, Al Mudamdamah, dan Al ‘adzaab))

Beliau mengatakan juga, karena di dalamnya ada taubatnya orang-orang mukmin, yakni mereka berlepas diri dari sifat kemunafikan, dan membongkar rahasia orang-orang munafik serta menghinakan mereka..

Surat Yunus

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “SURAT YUNUS” karena penyebutan kisahnya dalam surat ini, dan pelajaran yang terkandung didalamnya, yaitu dengan diangkatnya adzab dari kaumnya ketika mereka beriman setelah hampir-hampir saja siksa atau adzab menimpa mereka. Dan ini adalah termasuk kekhususan yang dikhususkan oleh Allah kepada kaum Nabi Yunus untuk menunjukkan kebenaran taubat dan keimanan mereka.

Surat Ar-Ra’d

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat ar-ra’d” karena pemandangan alam yang sangat menakjubkan yaitu berupa petir. Yang menjelaskan akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Allah telah jadikan air sebab untuk kehidupan. DIa menurunkan air tersebut dengan kekuasaan-Nya dari langit. Demikian pula menurunkan mendung, di mana Allah kumpulkan padanya antara adzab dan rahmat. Mendung membawa hujan dan petir. Dalam air terdapat kehidupan dan dalam petir terdapat kerusakan. Sedangkan pengumpulan dua perkara yang saling bertentangan dalam satu perkara wujud adalah merupakan sesuatu yang mengherankan. Oleh karena itu ini semua semata-mata menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan Allah semata.

Surat Ibrahim

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat Ibrahim” sebagai pengekalan akan keutamaan bapak para Nabi ‘alaihim as salam dan pemimpin mereka, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihi salam. Beliaulah yang menghancurkan patung-patung, menyebarkan bendera tauhid serta datang dengan membawa agama islam, yang diutus dengannya penutup para Rosul, yaitu Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana al-qur’an telah menceritakan kepada kita dakwahnya (Nabi Ibrahim ‘alaihi salam) yang penuh berkah sesudah ia selesai membangun ka’bah. Dan semua dakwahnya adalah seruan kepada keimanan dan tauhid.

Surat Al-Hijr

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-hijr”, karena Allah ta’ala telah menyebutkan dalam surat ini apa yang terjadi pada kaum shalih ‘alaihis salam. Mereka berasal dari kabilah tsamura, sedangkan tempat tinggal mereka berada di sebuah daerah yang bernama “AL-HIJR”, yaitu antara kota Madinah dan Syam. Sungguh mereka dahulu adalah orang-orang yang kuat, mereka memahat gunung untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, seakan-akan mereka kekal di dunia ini dan tidak ditimpa oleh kematian serta kebinasaan.

Ketika mereka dalam keamanan dan ketenangan maka tiba-tiba datang kepada mereka gemuruh adzab di waktu pagi. Allah berfirman :

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi, maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan”. (QS.Al Hijr:83-84)

Surat An-Nahl

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat an-nahl”, karena ia mengandung pelajaran-pelajaran ( cerita dari kehidupan lebah yang ada dalam surat ini) yang sangat dalam dan mengagumkan, yang mengisyaratkan kepada keajaiban sang pencipta serta sekaligus menunjukkan akan ke-Esaan Allah dengan ciptaan-Nya yang sangat agung ini.

Surat Al-Isra’

Surat yang mulia ini dinamakaN dengan “surat al-isra'”, adalah kerena mukjizat al-isra’ (kepergian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap Allah di waktu malam, di sidratil muntaha) yang Allah khususkan hanya untuk Nabi-Nya yang mulia shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Surat Al-Kahfi

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-kahfi”, karena di dalamnya terdapat mu’jizat ar-rabbany, yaitu berupa kisah yang mengagumkan itu, yaitu cerita penghuni gua.

Surat Maryam

Surat ini dinamakan dengan “surat maryam” adalah dalam rangka untuk mengekalkan mu’jizat yang dahsyat tersebut, yaitu mengenai penciptaan manusia tanpa bapak, demikianlah pula pengucapan Allah terhadap seorang bayi yang baru lahir (Nabi Isa) dan kejadian-kejadian aneh yang menyertainya di waktu kelahirannya.

Surat Thaahaa

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat thaahaa”, ini adalah nama seorang Rosul yang mulia ‘alaihi salam, sebagai sugesti bagi hatinya dan hiburan bagi jiwanya dari penolakan dan pengingkaran yang beliau temui dari kaumnya. Oleh karena itu surat ini dimulai dengan kelemah-lembutan, berupa panggilan:

“Thaahaa, Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. (QS. Thaahaa, ayat : 1-2).

Surat Al-Anbiya’

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-anbiya”, karena di dalamnya Allah menyebutkan sejumlah para Nabi ‘alaihimus salam secara cepat, baik cerita pendek maupun panjang. Sebagaimana Allah juga menyebutkan jihad, kesabaran dan pengorbanan mereka di jalan Allah, serta kesungguh-sungguhan mereka dalam menyampaikan dakwah demi terwujudnya kebahagiaan manusia.

Surat Al-Hajj

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-Hajj”, sebagai pengekalan untuk dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, sampai ketika selesai membangun ka’bah dan menyeru manusia untuk berhaji ke baitullah Al-haram, maka gunung merendahkan diri sehingga suarapun sampai ke penjuru dunia. Allah memperdengarkan panggilan Nabi Ibarahim ‘alaihi salam kepada orang-orang yang masih berada di tulang rusuk, di dalam rahim. Mereka memenuhi panggilan dengan mengucapkan “LABBAIK ALLAAHUMMA LABBAIK”.

Surat An-Nur

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat an-nur”, adalah karena apa yang terpancar di dalamnya merupakan cahaya Robbany berupa syariat hukum-hukum, adab-adab dan keutamaan manusia yang terpancar dari Allah terhadap hamba-Nya dan merupakan siraman rahmat-Nya serta kemurahan-Nya. Allah berrfirman :

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS.An Nuur : 35)

Surat Al-Furqon

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-furqon”, karena Allah telah menyebutkan Al-qur’an yang mulia di dalamnya, yang telah Allah turunkan kepada hamba-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia menjadi nikmat yang besar bagi manusia sekalian, karena itu adalah merupakan cahaya yang memancar dan pelita yang jelas. Yang mana Allah membedakann dengannya antara yang baik dan yang batil, antara cahaya dan kegelapan, antara keimanan dan kekufuran. Oleh karena itu pantas untuk dinamakan dengan al-furqon (pembeda).

Surat As-Syu’ara’

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “as-syu’ara”, karena sesungguhnya Allah menyebutkan berita para penyair di dalamnya. Hal itu adalah karena untuk membantah orang-orang musyrikin yang mengklaim bahwasannya Muhammad adalah seorang penyair dan apa yang ia bawa merupakan bentuk dari syair. Maka Allah membantah kebohongan dan kedustaan tersebut atas hamba-Nya dengan firmannya : Allah berfirman :

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah,. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?. (QS. As-syu’ara : 224, 226).

 

Surat An-Naml

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat an-ml”, karena sesungguhnya Allah menyebutkan di dalamnya kisah semut yang memberi peringatan kepada pasukannya kemudian ia menyampaikan udzur kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan bala tentaranya. Maka Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memahami ucapan semut tersebut dan tersenyum, karenanya kemudian bersyukur kepada Allah atas karunia dan nikmat yang Allah berikan. Hal itu terdapat dalil yang sangat besar akan adanya ilmu hewan dan hal itu merupakan ilham dari Allah yang maha kuasa.

Surat Al Qashash

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-qashash”, karena Allah menyebutkan di dalamnya kisah Nabi Musa ‘alaihis salam secara rinci mulai sejak lahir sampai ia diutus. Di dalamnya juga terdapat kejadian-kejadian aneh yang memperjelas perhatian Allah terhadap para wali-Nya dan penghinaan Allah bagi para musuh-Nya.

Surat Al-Ankabut

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat al-ankabut” karena Allah telah menjadikan laba-laba di dalamnya sebagai permisalan untuk patung yang dipahat. Ayat yang dimaksud adalah firman Allah ta’ala :

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui”. (QS.Al ‘Ankabut: 41)

Surat Ar-Rum

Surat yang mulia ini dinamakan dengan “surat ar-rum”, karena di dalam surat ini terdapat penyebutan mu’jizat yang dahsyat, yang menunjukkan akan kebenaran berita-berita al-qur’an. Allah berfirman :

“Alif Laam Miim, Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdeka dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi, Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman”. (QS.Ar rum : 1-4)

Diterjemahkan dari kitab yang berjudul, “Duruus Wa Fawaa-id Min Al Qur’an Wa ‘Uluumihi”, karya : Syekh. Zaid Bin Muhammad Ar Riimaani.

 

Al-faqiirah ila ‘afwi Robbiha

Ummu fayha, Anisah.

Makkah al-Mukarramah

( 28/1/1435 H )

 

Bersambung insyaallah…………..

 

Tentang Penulis

Ummu Fayha Anisah

Comment: 1


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 180