Sejarah Pembangunan Ka’bah Al-Musyarrafah & Perkembangannya

Sejarah Pembangunan Ka'bah Musyarrafah

Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

* Beberapa Kitab

No comments

Pembangunan Ka’bah Musyarrafah dan tanah haram serta ibadah manasik sangat erat kaitannya dengan nama sang kekasih Allah, Ibrahim dan putranya (Ismail) ‘alaihimassalam. Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al qur’an Al karim. Al Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Secara dhahir Al qur’an menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah orang yang pertama kali membangun dan merintisnya)”[1]. Walaupun nash-nash yang ada tentang itu tidak menafikan dugaan adanya orang yang telah membangun Ka’bah sebelum itu. Wallaahu’alam

Berita tentang pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang dibantu oleh Ismail putranya, Allah telah berfirman dalam kitab-Nya:

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan, kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al Baqarah: 127).

 

Ada beberapa riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang asal mulanya perkara tanah haram dan cerita pembangunan Ka’bah. Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Sa’id Bin Jubair berkata: Ibnu Abbas mengatakan: “wanita yang pertama kali membuat ikat pinggang adalah Ummu Ismail. Ia membuatnya untuk menyembunyikan rahasia dari Sarah (istri madu Nabi Ibrahim), kemudian Ibrahim ‘alaihis salam datang bersama putranya Ismail yang sedang menyusu, hingga menyimpan keduanya di sisi Ka’bah tepatnya di sisi tenda besar di atas air zamzam dan di tempat paling tinggi dari masjid, pada waktu itu tidak ada seorang pun yang berada di situ dan tidak ada pula air, Ibrahim meletakkan sebuah keranjang untuk keduanya yang berisi kurma dan air.

Lalu Ibrahim ‘alaihissalam pergi sambil diikuti oleh Ummu Ismail seraya berkata: “wahai Ibrahim, hendak pergi kemana kau? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada orang dan sesuatu pun?” Ummu Ismail terus menerus mengulangi pertanyaannya. Sedangkan Ibrahim tidak menoleh kepadanya sedikitpun. Kemudian Ummu Ismail bertanya: “apakah Allah yang telah memerintahkan semua ini?” Ibrahim menjawab: “ya” Ummu Ismail berkata: “ jika demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”. Kemudian Ummu Ismail kembali, dan Ibrahim ‘alaihis salam pergi, hingga ketika Nabi Ibrahim sampai di Tsaniyyah (tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun) dia menghadap ke arah Ka’bah seraya mengangkat ke dua tangan dan berdo’a:

 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37).

 

Kemudian Ummu Ismail menyusui Ismail dan minum dari air tersebut. Ketika air yang ada telah habis, maka ia dan putranya kehausan. Ia melihat putranya dengan pikiran yang kacau. Maka pergilah Ummu Ismail (karena tidak tega melihat keadaan putranya), hingga ia sampai di bukit Shafa ia berdiri di atasnya, kemudian menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang? Ia tidak melihat siapa pun. Lalu ia turun dari bukit Shafa, hingga ketika sampai di suatu lembah, ia mengangkat ujung bajunya kemudian berlari sebagaimana larinya orang yang sedang bersungguh-sungguh, hingga melewati lembah. kemudian datang menuju Marwah dan berdiri di atasnya, sambil melihat-lihat adakah seseorang? ia tidak melihat siapa pun, maka ia melakukan hal demikian berulang-ulang hingga tujuh kali.”

Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: oleh karena itulah manusia melakukan Sa’i di antara Shafa dan Marwah. Ketika ia melihat dari atas bukit Marwah, ia mendengar suara berkata: “diamlah!, kamu menginginkannya?” Kemudian ia berusaha untuk terus mendengarkan suara lagi, ia berkata: “Aku telah mendengarnya, bisakah engkau membantu?” Ternyata suara tersebut adalah malaikat yang sedang berada di sumur zamzam, ia menggalinya dengan tumitnya atau dengan sayapnya hingga muncullah air dan ia mengumpulkannya serta menciduk dari tempatnya, air tersebut terus memancar setelah diciduk.

Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Ummu Ismail, seandainya ia tinggalkan zamzam -atau dengan lafadz lain “jikalau Ummu Ismail tidak menciduk dari air zam-zam-, niscaya ia akan menjadi mata air yang mengalir”. Beliau bersabda: maka Ummu Ismail minum dan menyusui putranya, kemudian malaikat berkata kepadanya: “janganlah kalian merasa takut untuk disia-siakan, karena sesungguhnya di sini akan dibangun rumah Allah oleh anak ini dan bapaknya, dan sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan ahlinya”[2].

Dahulu Ka’bah mempunyai ketinggian dari permukaan bumi seperti gundukan tanah sampai akhirnya terkena banjir yang mengenai bagian kanan dan kirinya, hingga kondisinya dalam keadaan seperti itu. Sampai datanglah suatu kelompok yang sedang melakukan perjalanan[3] dari kabilah Jurhum. Mereka datang dari jalan Kada'[4] kemudian turun ke tempat paling rendah dari Makkah.

Maka mereka melihat burung yang sedang berjaga-jaga[5], mereka berkata: “Sesunguhnya burung-burung itu sedang berputar-putar di atas air, sungguh kita akan menjaga lembah ini dan air yang ada disini”. Kemudian mereka mengutus seorang atau dua orang utusan, yang ternyata menemukan air di tempat tersebut, lalu mengabarkannya kepada yang lain tentang adanya air. Akhirnya mereka turun menjumpainya. Salah seorang dari mereka berkata sedang Ummu Ismail berada di sisi air: “Apakah engkau mengizinkan kami untuk bertempat tinggal di sini?”. Ummu Ismail menjawab: “Ya, akan tetapi kalian tidak mempunyai hak atas air ini”. Mereka berkata: “Ya, baiklah”.

Ibnu Abbas berkata, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “maka Ummu Ismail merasa senang dengan adanya manusia, mereka tinggal disitu dan mengabari keluarga mereka yang kemudian bertempat tinggal bersama mereka. Sehingga ketika ada sebuah keluarga dari mereka dan Ismail tumbuh menjadi seorang pemuda, mempelajari bahasa arab dari mereka sampai menjadi orang yang paling berharga dan mengagumkan bagi mereka, mereka menikahkannya dengan salah seorang dari putri mereka, kemudian Ummu Ismail meninggal dunia. Setelah Ismail menikah, datanglah Ibrahim ‘alaihis salam untuk melihat keluarganya. Beliau tidak mendapatkan Ismail, maka beliau bertanya kepada istrinya dan ia menjawab: “Ismail sedang keluar untuk mencari kebutuhan hidup kami”. Kemudian beliau tanyakan tentang kehidupan mereka, ia menjawab dan mengadu kepadanya: “Kami dalam keadaan susah dan sempit serta sulit”.

Maka Ibrahim mengatakan: “Jika suamimu datang, sampaikanlah salamku padanya dan katakanlah kepadanya supaya ia mengganti pintu rumahnya”. Ketika Ismail datang, ia merasakan ada sesuatu, maka ia bertanya kepada istrinya: “Apakah ada orang yang datang kemari?” Istrinya menjawab: “Ya, telah datang seorang laki-laki tua ke sini dan menanyakan tentang engkau, maka aku kabarkan kepadanya bahwa engkau sedang keluar. Dan dia bertanya tentang bagaimana keadaan hidup kita, maka aku katakan bahwa hidup kita serba sulit dan susah”. Ismail bertanya: “Apakah dia mewasiatkan sesuatu kepadamu? Istrinya menjawab: “Ya, dia menyuruhku untuk menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu supaya mengganti pintu rumah”. Ismail berkata: “Itu adalah ayahku, beliau telah menyuruhku untuk menceraikanmu, maka pergilah kamu ke keluargamu”. Dan Ismail menceraikannya kemudian menikah dengan putri lain dari kalangan mereka.

Maka Ibrahim ‘alaihis salam pergi beberapa waktu dengan kehendak Allah Azza Wa Jalla. Tak lama kemudian Ibrahim ‘alaihis salam mendatangi rumah Ismail untuk kedua kalinya, dan tidak mendapatkannya, maka beliau masuk dan bertanya kepada istrinya tentang Ismail.

Istrinya menjawab: “ia sedang keluar mencari kebutuhan hidup kami”

Ibrahim: “Bagaimana keadaan kalian? (beliau menanyakan tentang kondisi hidup mereka).

Istrinya: “Kami baik-baik dan merasakan kelapangan serta kami memuji Allah”.

Ibrahim: “Apa makanan kalian? ”

Istrinya: “Daging”

Ibrahim: “Apa minuman kalian?”

Istrinya: “Air”

Ibrahim: “Ya Allah, berkahilah daging dan air bagi mereka”.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “pada waktu itu mereka tidak memiliki biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, niscaya Ibrahim akan berdo’a untuk mereka dengannya.

Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “karena keduanya (daging dan air) setiap orang pasti mendapatkannya, kecuali bagi orang yang tidak menginginkannya”.

Ibrahim: “Jika suamimu datang sampaikanlah salamku kepadanya, dan suruhlah ia untuk mempertahankan pintu rumahnya”.

Ketika Ismail datang, ia berkata kepada istrinya: “apakah ada seseorang yang telah datang kemari?”.

Istrinya: “iya benar, tadi ada seorang laki-laki tua berparaskan baik dan aku memujinya. lalu ia menanyakanmu, maka aku kabarkan kepadanya bahwa engkau sedang keluar mencari kebutuhan hidup kami, dan ia menanyakan tentang keadaan hidup kita, maka aku katakan kepadanya bahwa kita baik-baik saja”.

Ismail: “Apakah ia berwasiat sesuatu kepadamu?”

Istrinya: “Iya, beliau menyuruhku untuk menyampaikan salamnya kepadamu, dan memerintahkanmu supaya mempertahankan pintu rumahmu”

Ismail: “Itu adalah ayahku, kamu adalah pintu, beliau memerintahkanku untuk tetap mempertahankanmu (sebagai istriku)”.

’alaihis salam pergi beberapa lama sesuai dengan kehendak Allah Azza Wa Jalla. Setelah itu beliau datang lagi dan Ismail sedang meruncingkan anak panah di bawah sebuah pohon besar dekat sumur Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya, Ibrahim ‘alaihis salam, maka ia segera berdiri dan melakukan sebagaimana layaknya seorang anak terhadap bapaknya dan bapaknya terhadap anaknya.

Kemudian beliau berkata kepada Ismail: “wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkan suatu perkara kepadaku”.

Ismail menjawab: “lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu, wahai ayahku”.

Ibrahim berkata: “apakah kamu mau membantuku?”

Ismail menjawab: ”pasti aku akan membantumu”.

Ibrahim berkata: “sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk membangun sebuah rumah di sini, dan beliau menunjuk ke suatu tempat yang lebih tingggi dari tempat di sekelilingnya. Maka sejak itulah mereka berdua mulai membangun pondasi Ka’bah. Ismail mengambil batu-batu sedangkan ayahnya yang membangunnya, sehingga ketika bangunan sudah tinggi Ismail membawa batu dan meletakkannya untuknya, kemudian ayahnya berdiri di atasnya sambil membangun sedang Ismail terus menyodorkan batu kepadanya, keduanya berdo’a:

 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah dari pada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127), Maka jadilah mereka berdua membangun sehingga ketika sudah selesai, mereka berdua mengelilingi Ka’bah sambil berdo’a: ” Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127)[6].

 

Maka sejak itulah, baitullah menjadi bangunan yang pertama kali dibangun di muka bumi untuk dijadikan tempat beribadah. Allah ta’aala berfirman:

 

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran: 96).

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dzar –radhiyallahu ‘anhu– aku bertanya: “Wahai Rasulullah masjid apakah yang pertama kali dibangun?” beliau menjawab: “Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi: “kemudian masjid apa?” beliau menjawab: “Masjidil Aqsha”. Aku bertanya: “Berapa lamakah jarak antara keduanya?”, beliau menjawab: “40 tahun. Kemudian dimana saja kamu mendapatkan waktu shalat, maka shalatlah. Karena sesungguhnya keutamaan ada padanya”[7].

Diriwayatkan bahwa Ka’bah sudah mengalami pembangunan sebanyak sepuluh kali, jika kita sebutkan pembangunan dari segi pondasi dan pembaharuan secara menyeluruh. Yaitu pembangunan yang dilakukan oleh para malaikat untuk Nabi Adam, oleh Nabi Syits, oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, oleh ‘Amaliqah, pembangunan oleh Jurhum, oleh Quraisy, oleh Abdullah bin Zubair, oleh Hajjaj Ats Tsaqafi, oleh Murad Khan dan terakhir oleh Raja Fahd Bin Abdul Aziz. Wallahu a’lam.

Ka’bah bangunan Nabi Ibrohim terbuat dari batu yang tersusun tanpa adanya campuran yang melekat antara batu. Malaikat mendatangkan batu dari lima gunung, yaitu Tursina dan Libnan serta Al-Judi dan Hira. Nabi Ibrohim membangun Ka’bah setiap hari satu baris batu. Dan ketika sampai posisi Hajar Aswad ia meminta Nabi Ismail untuk mencarikan batu sebagai tanda untuk tempat permulaan thawaf, maka malaikat Jibril mendatangkan batu Hajar Aswad.

Bangunan Ka’bah Nabi Ibrohim adalah segi panjang dan ketinggiannya mencapai sembilan hasta[8], kira-kira 4,32m. Ia menjadikan lobang di dalamnya untuk simpanan tanpa memberinya atap dan membangun di sebelah utara sebuah tempat teduhan dekat tempat Hajar Aswad.

Sebagian kitab[9] sejarah menyebutkan bahwa umur Ka’bah bangunan Nabi Ibrohim mencapai empat ribu tahun dan bahwasanya pertama kali yang membuat pintu Ka’bah bisa dibuka dan ditutup adalah Taba As’ad Al-Humairy, ada juga yang berpendapat bahwa pertama kali yang membuatnya adalah kabilah Jurhum.

Sedangkan pada masa quraisy, setelah rusaknya sebagian besar dari bangunan Ka’bah al-musyarrafah disebabkan terbakarnya pakaian Ka’bah, mereka menetapkan untuk mengulangi pembangunannya, yaitu lima tahun sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad. Akan tetapi mereka mengurangi ukuran Ka’bah karena sedikitnya nafkah yang mereka peroleh. Mereka memutuskan tidak akan membelanjakan harta untuk Ka’bah kecuali yang baik[10]. Mereka hanya merenovasi di bagian utara saja, yaitu di posisi Hajar Aswad yang sekarang. Mereka menambah ketinggian Ka’bah sehingga menjadi 8,64m.

Kemudian Abdullah Bin Zubair mengulangi bangunannya karena sebab rusaknya sebagian dinding Ka’bah al-musyarrofah setelah kain Ka’bah terkena sambaran api dan membekas dalam dinding Ka’bah. hal tersebut terjadi pada tahun 65H. Sebenarnya ia telah mendengar hadits dari Aisyah, ia berkata: Rosulullah bersabda: “Wahai Aisyah andaikata bukan karena kaummu yang dekat dengan masa kesyirikan niscaya akan aku pugar Ka’bah dan aku jadikan dua pintu, pintu di sebelah timur dan pintu di sebelah barat. Dan aku akan tambah dengan enam hasta dari batu, karena kaum quraisy telah mengurangi ketika membangun Ka’bah”. maka Abdullah bin Zubair merusak keempat dinding Ka’bah dan Ia mengembalikan Ka’bah seperti bangunan Nabi Ibrohim dan menambah ketinggiannya hingga mencapai 12,95m. Ia mengambil batu dari gunung Hiro’, Tsabir, Al-Maqtho’, Ak-Khontama, Jabal Ka’bah dan Mardalah.

Kemudian Hajaj Bin Yusuf As-Tsaqofi membongkar dinding sebelah utara Ka’bah dan mengembalikan sesuai bangunan kaum quraisy dengan keyakinan bahwa Zubair telah menambah bangunan Ka’bah dengan tanpa asal. Karena Hajaj dan Abdul Malik Bin Marwan belum mendengar hadits Aisyah tersebut kecuali setelah Hajaj menyelesaikan bangunan. Ia telah mengembalikan Ka’bah sesuai dengan bangunan kaum quraisy. Dan Abdul Malik Bin Marwan telah menyesali perbuatannya setelah ia mengetahui dan mengecek kebenaran hadits dari ‘Aisyah tersebut.

Kemudian Sultan Murod yang keempat membangun Ka’bah lagi pada tahun 1040H, yaitu setelah sebagiannya rusak akibat banjir besar yang masuk ke masjidil haram, pada hari Rabu tanggal 19 Sya’ban 1039H. Mereka tidak merusak semua dinding Ka’bah. Mereka tidak merubah Hajar Aswad , tetapi membangun Ka’bah sesuai dengan bangunan Hajjaj. Abdullah bin Zubair mengambil batu dari gunung subaikah yang ada di Makkah, ia adalah batu yang sangat kuat berwarna kebiruan. Seorang sejarawan yang bernama Muhammad Tohir Al-Kurdy telah menghitung jumlah batu Ka’bah pada tahun 1377H, jumlahnya adalah 1614 batu. 414 batu terdapat di dinding yang ada pintu ka’bahnya, 449 batu pada dinding sebelah barat Ka’bah, 428 batu di sebelah selatan dekat rukun Yamani dan Hajar Aswad, 318 batu pada dinding sebelah utara yang terdapat pancuran air.

Batu ini hanya yang nampak dari luar dan tidak mencakup batu dari dalam, batu yang paling besar panjangnya 190cm, lebarnya 50m, sedangkan batu yang paling kecil panjangnya 50cm dengan lebar 40cm. Sedangkan ketebalan dinding Ka’bah adalah 90cm. Dan telah direnovasi sebanyak 37 kali, yang terakhir adalah pada tanggal 8 Sya’ban tahun 1417 H.

Adapun pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz Ali Su’ud telah dilakukan pengambilan dinding bagian luar yang rapuh. Adapun dari bagian dalam, yaitu merubah atap Ka’bah yang berasal dari kayu. Jumlahnya mencapai kira-kira 23 batang, merubah tiga tiang bagian dalam, membuka sebagian batu bagian dalam dan memberinya nomer serta mengembalikanya dengan perekat. Sebagaimana telah dilakukan penggalian lobang di sekitar Ka’bah di kawasan tempat thawaf untuk meyakinkan kelayakan pondasi Ka’bah.

Para insinyur Saudi yang menangani renovasi Ka’bah al-musyarrafah, mereka meneliti kelima pondasi Ka’bah[11], ternyata semua batu saling berkaitan sangat kuat tanpa adanya perekat yang menyambungkan antara bebatuan tersebut. Dan sesungguhnya pondasi ini akan mampu menghadapi perubahan cuaca, banjir yang menyerang terhadap Ka’bah serta dapat menyangga bangunan Ka’bah al-musyarrofah sampai Allah mewariskan bumi kepada orang-orang yang Dia kehendaki[12].

Sebagaimana telah direnovasi juga tempat hijr Ismail dan tempat polisi yang bertugas untuk mengamankan proses penciuman Hajar Aswad . Demikian pula penggantian marmer lama di hijr Ismail dan diganti dengan marmer baru. Pelayan dua tanah suci telah menggelar peresmian setelah proses renovasi tersebut dengan diwakili oleh oleh Raja Adullah bin Abdul aziz ali suud[13].

Ka’bah terletak di bawah Baitul Makmur, yaitu rumah yang ada di langit yang ke tujuh yang dipakai thawaf oleh para malaikat. Mereka beribadah dan thawaf sebagaimana penduduk bumi thawaf di Ka’bah. Baitul Makmur adalah merupakan Ka’bah bagi penduduk yang ada di langit yang ke tujuh. Dari Qotadah ia berkata, sesungguhnya Rosulullah bersabda: “tahukah kalian apa Baitul Makmur? Mereka menjawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui”. Rosulullah mengatakan: “ia adalah sebuah masjid di langit yang lurus dengan Ka’bah yang ada di bumi, andaikata jatuh niscaya akan mengenai Ka’bah”[14].

Ka’bah merupakan poros bumi, sebagaimana yang ditetapkan oleh penelitian modern. Semua posisi Negara di seluruh dunia berada di sekitar Ka’bah, panjang dinding Ka’bah dari batas Hajar Aswad sampai rukun yamani adalah 10m. demikian juga dinding yang bersebelahan dengan rukun yamani, yaitu di bagian hijr Ismail, dari Hajar Aswad sampai rukun Syami atau rukun Iraqi panjangnya kira-kira 12cm. dan dinding yang sejajar dengannya, maka panjangnya adalah sama. Sementara ketinggian Ka’bah sekarang mencapai 14m. Allah berfirman:

 

لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

Supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Quro (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya. (QS. Asy syura: 7)

 

Ka’bah mempunyai empat rukun, yaitu rukun Hajar Aswad yang berada di sebelah timur Ka’bah, rukun yamani yang di sebelah selatan Ka’bah, keduanya biasa disebut dengan dua rukun yaman. Rukun Iroqi yaitu yang berada di sebelah utara Ka’bah. Rukun Syami yaitu yang berada di sebelah barat Ka’bah. Keduanya dinamakan (Asy Syamiyani).

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan sejarah Ka’bah al-musharrofah yang sangat menakjubkan ini untuk menambah keimanan dan memupuk amal shalih, sebagaimana kita selalu memohon kepada-Nya untuk menjadi hamba yang selalu rindu dengan Ka’bah-Nya serta mengagungkannya dengan cara-cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rosul-Nya.

Bersambung insyaAllah kedepan kita bahas akan tentang “RINCIAN BAGIAN-BAGIAN KA’BAH”, Semoga kita semua selalu dimudahkan dalam segala urusan. amiiin

Diringkas oleh: Al-faqiir ila afwi Robbih Hamidin as-sidawy al-atsary, Abu harits Makkah al-Mukarramah (24/7/1434 H)

Maraji’/referensi:1. Al-Balad Al-Haram Fadhaa-il Wa Ahkam, Karya Kuliah Usuludin Universitas Ummu Quro.

2. Akhbar Makkah Wa Ma Jaa-a Fiiha Min Atsar, Karya Abul Walid Muhammad Bin Abdullah Bin Ahmad Al-Azroqy, (wafat tahun 250 H).

3. Takshilul Maram Fi Akhbari Al-Bait Haram Wal Masyaa’ir Al-A’dzom, Karya Muhammad Bin Ahmad As-Shabbagh (wafat tahun 1312 H).

4. Al-Ka’bah Al-Musyarrafah Tarikh Wa Ahkam, Karya Abdullah Bin Said Al-Hasany. Cet. 1. Tahun (1433 H).

5. Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Karya Abu Fida’ Ismail Bin Amr Bin Kastir, (wafat tahun 774 H).

6. At-Tarikh Al-Qowim Li Makkah Wa Baitullah Al-Karim, karya Muhammad Thohir Kurdy.

7. Zadul Maad, Karya Syamsuddin, Abu Abdillah Muhammad Bin Abi Bakr, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah, wafat (751 H).

Footnote:

[1]. Al-Bidayah Wan Nihayah 2/277

[2]. Dalam sebuah riwayat disebutkan dengan lafadz (yabniihi) yang dikeluarkan oleh Al Isma’ili, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al Fath 6/463

[3]. Lisaanul ‘Arab / 120: 10

[4]. Sebuah tempat paling tinggi di Makkah (Mu’jam Al Buldan 4: 439. Al balady berkata: Tsaniyyah Daru Tsanaaya Makkah, sekarang terkenal dengan nama Ri’il Hujun, yang memisahkan antara Jabal Qaiqa’an dan Jabal Hujun, dan sampai ke Batha’- pekuburan ahli Makkah. Ma’alim Makkah at Taarikhiyyah hal. 227

[5]. berjaga untuk mendapat kesempatan minum air . an nihayah 330/3

[6]. Shahih Bukhari , kitab al anbiya’

[7]. Shahih Bukhari , di dalam kitab al anbiya’ footnote: 3366 (6/407)

[8] . Satu hasta kira-kira 48cm.

[9] . Seperti sejarah Makkah karya al-Azroqy.

[10] . Saya katakan: “sampai orang-orang musyrikpun memehami harta yang baik dan tidak. Mereka tidak mau pakai untuk membangun Ka’bah dari harta riba, hasil zina karena mereka paham bahwa itu tidak baik.

[11] . Yang dimaksud adalah pondasi Nabi Ibrohim alaihissalam.

[12] . Ini adalah merupakan mu’jizat Ka’bah.

[13] . Waktu itu beliau masih menjabat sebagai pangeran.

[14] . Sanad hadits mursal akan tetapi dishahihkan oleh syeikh Al-Albany.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda