Silsilah Amalan Sunnah yang Terlupakan (20) : Membaca Surat Kadang-Kadang pada Dua Rakaat Terakhir dari Shalat Dzuhur dan Ashar dengan Al-Fatihah

silsilah amalan sunnah yang terlupakan 20

Makkah al-mukarramah (28/07/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-wasyiyah bi ba'di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal: 91-93, cet. Kedua, tahun 1426 H

No comments

Silsilah amalan sunnah yang terlupakan (20) : MEMBACA SURAT KADANG-KADANG PADA DUA RAKA’AT TERAKHIR DARI SHALAT DHUHUR DAN ASHAR DENGAN AL-FATIHAH

Syekh Ibnu Baz –Semoga Allah merahmatinya- mengatakan dalam sifat shalat Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam: “Dan apabila membaca surat (ayat al qur’an-pent) pada raka’at ke tiga dan ke empat dari shalat dhuhur artinya tambahan setelah surat al fatihah secara kadang-kadang, maka tidak mengapa, berdasarkan apa yang ditunjukkan mengenai hal itu dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, hadits riwayat Abu Sa’id Al Khudry –Semoga Allah meridhainya-. ” (Wizarah Syuun Al Islamiyah/17).

Dan aku katakan: sungguh permasalahan ini sangat penting, karena ada sebagian orang dari kalangan ahli ilmu yang mengatakan: “Orang yang menambah dari surat al fatihah pada dua raka’at terakhir, maka hendaklah sujud sahwi, dan ini adalah menyelisihi sunnah yang shahih dan atsar para sahabat.”

Dan sekarang aku akan sebutkan hadits yang dijadikan hujjah oleh orang yang membolehkan membaca surat (ayat al qur’an-pent) selain al fatihah pada dua raka’at terakhir, kemudian akan aku sebutkan juga sebagian apa aku jumpai dari pendapat ahli ilmu.

Dari Abu Sa’id Al Khudry –Semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’laihi wa sallam membaca dalam shalat dhuhur pada dua raka’at pertama di setiap raka’at kira-kira membaca tiga puluh ayat, dan pada dua raka’at terakhir membaca kira-kira lima belas ayat, atau beliau mengatakan “setengah dari pada itu”, dan di shalat ashar pada dua raka’at pertama pada setiap raka’at membaca kira-kira lima belas ayat, dan pada dua raka’at ke dua kira-kira membaca setengah dari pada itu.” (HR. Muslim 452).

Ibnu Al-Qayyim –semoga Allah merahmatinya- ia mengatakan: “Dan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa beliau membaca apapun pada dua raka’at terakhir setelah Al-Fatihah, Imam Syafi’i berpendapat di salah satu dari dua perkatannya, dan selain beliau, bahwa disunnahkan untuk membaca tambahan surat Al Fatihah pada dua raka’at terakhir, beliau beralasan untuk pendapat ini dengan hadits Abu Sa’id Al Khudry yang shahih. maka beliau menyebutkan hadits tersebut Kemudian beliau mengatakan : “Dan Hadits Abu Qatadah yang telah disepakati, jelas (sebagai dalil) untuk mencukupkan dengan surat Al Fatihah pada dua raka’at terakhir. Abu Qatadah –Semoga Allah meridhainya- mengatakan: “Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, beliau membaca pada dua raka’at pertama dari shalat dhuhur dan ashar dengan Al Fatihah dan dua surat, dan terkadang beliau memperdengarkan ayat.”

Imam Muslim menambahkan (dan membaca Al Fatihah pada dua raka’at terakhir). dua hadits itu tidak jelas dan dalam posisi dipertentangkan. Adapun Hadits Abu Sa’id Al Khudry itu merupakan alasan dari mereka, bukan pengkabaran dari tafsir perbuatan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Adapun Hadits Abu Qotadah, maka bisa juga yang dimaksud sesungguhnya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan (baca surat) pada dua rak’at terakhir akan tetapi beliau membaca pada keduanya) hingga sampai pada perkataan beliau –Rahimahullah- “oleh Karena inilah maka sangat mungkin untuk dikatakan: sesugguhnya ini yang paling banyak dikerjakan, dan barangkali beliau membaca sesuatu setelah al fatihah pada dua raka’at terakhir seperti yang ditunjukan oleh hadits Abu Sa’id”.

Imam Al Bani mengatakan dalam sifat shalat tentang hadits Abu Sa’id : “hadits ini merupakan dalil bahwa menambah sesuatu setelah al-fatihah pada dua raka’at terakhir adalah sunnah. Dan para sahabat sepakat diantara mereka adalah Abu Bakar Ash shiddiq –semoga Allah meridhainya-, yaitu dengan pendapat Imam Syafi’I, sama saja baik di shalat dhuhur atau lainnya.

Ulama muthaakhirin kita, yaitu Abu hasanat al-laknawy mengambil pendapat tersebut dalam ta’liq al-majdnya terhadap muwattha Muhammad, hal : 102 dan ia mengatakan :”Ana heran dengan sebagian sahabat kami dimana meraka mewajibkan sujud sahwi karena membaca surat dalam dua rakaat yang terakhir. Dan para pensyarh Al Maniya, yaitu Ibrahim al-halaby, Ibnu Amir Haj telah membantah dengan sebaik-baik bantahan. Dan tidak diragukan lagi, bahwa orang yang berpendapat demikian berarti dalil belum sampai kepadanya, andaikata dalil sampai kepadanya niscaya mereka tidak akan menolaknya”.

Yang penting, bahwa menambah surat setelah al fatihah pada dua raka’at terakhir dengan kadang-kadang adalah sunnah. Sebagaimana Ibnu Baz telah menjelaskannya di awal pembicaraannya, dan ini merupakan kebenaran yang menggabungkan antara dalil-dalil dan pendapat mayoritas yaitu mencukupkan dengan al-fatihah. adapun tambahan ini bisa dilakukan dengan kadang-kadang.
Ibnu Qudamah –semoga Allah merahmatinya- mengatakan : “Kebanyakan ahli ilmu berpendapat tidak mensunnahkan tambahan setelah Al-Fatihah di selain dua raka’at pertama”. (Al Mughni 2/218-282).

Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: “Dan dikatakan, bahwa disunnahkan untuk semua raka’at yaitu tambahan setelah al-fatihah dan itu adalah dzahir dari hadits Abu Hurairah ini”. (Fathul Baari 2/295).

Dan hadits yang mengisyaratkan kepadanya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Dan apabila engkau tidak menambah setelah Al-Fatihah, maka hal itu sudah cukup bagimu, dan apabila engkau menambah, maka hal tersebut merupkan kebaikan.

Oleh karena itu, aku tidak memastikan hal itu sebagai sunnah yang ditinggalkan, karena banyak orang yang sengaja meninggalkannya karena mengikuti kebanyakan ahli ilmu. Dengan demikian aku katakan: bahwa hal tersebut dikerjakan dengan kadang-kadang, adapun ilmu (yang sesungguhnya) adalah disisi Allah.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Al-wasyiyah bi ba’di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal: 91-93, cet. Kedua, tahun 1426 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (28/07/1437H).

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda