Bacaan dalam Shalat Maggrib – Silsilah Amalan Sunnah yang Terlupakan (18)

Bacaan dalam Shalat Maggrib

Makkah al-mukarramah (17/05/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-wasyiyah bi ba'di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal.69-71, cet. Kedua, tahun 1426 H

No comments

Berikut Hadits-Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berkaitan dengan Bacaan dalam Shalat Maggrib :

1. Dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Sesungguhnya Ummu Fadhl ia telah mendengarnya sedangkan dia membaca “Wal mursalaati ‘urfaa”, maka ia (ummu fadhl) berkata : “Wahai anakku! Demi Allah sungguh engkau telah mengingatkanku dengan bacaanmu surat ini, ia adalah akhir surat yang aku dengar dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam ketika beliau membacanya pada shalat maghrib”.(HR. Bukhari 763 dan Muslim 462).

Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata : Dalam hadits Ummu fadhl terdapat isyarat bahwa Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam ketika dalam keadaan sehat beliau membaca surat yang lebih panjang dari surat al mursalat, adapun pada saat beliau sedang sakit keras beliau mengira-ngira untuk meringankan”.(Fathul baari : 2/291).

2. Dari Jubair Bin Muth’im –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam membaca surat Ath thuur dalam shalat maghrib”. (HR. Bukhari 765 dan Muslim 463).

Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata :”Dan aku belum pernah melihat satu hadits pun yang marfu’ yang mennashkan (melandasi) bacaan pada shalat maghrib dengan surat-surat yang pendek”. (Fathul baari : 2/290).

3. Dari Marwan Bin Al Hakam ia berkata: Zaid Bin Tsabit –semoga Allah meridzainya- telah berkata kepadaku: “Kenapa kamu membaca surat-surat pendek dalam shalat maghrib? Padahal aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam membaca dua surat thuula ath-tulayain.

Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud, di dalamnya beliau mengatakan: aku menanyakan apa yang dimaksud dengan Thuulaa Ath Thuulayain? Beliau menjawab: surat Al A’raaf. Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath: maka dari itu muncullah kesepakatan akan penafsiran Ath Thuulayain dengan surat Al A’raaf. Ibnu Hajar berkata: cara menyatukan antara hadits-hadits ini adalah bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam terkadang memanjangkan bacaan dalam shalat maghrib, baik dengan tujuan untuk menjelaskan akan bolehnya seperti itu maupun karena beliau melihat hal itu tidak memberatkan para makmum. Dan bukanlah yang dimaksud dalam hadits Jubair Bin Nu’aim ini dalil bahwa hal itu sesuatu yang diulang-ulang. Adapun dalam hadits Zaid Bin Tsabit terdapat isyarat untuk itu. Karena beliau mengingkari Marwan yang senantiasa membaca ayat-ayat pendek. Seandainya Marwan mengetahui bahwa Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam senantiasa menjaga bacaan tersebut, maka dia akan berhujjah dengannya terhadap Zaid. Akan tetapi Zaid tidak menyebutkan dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam apa yang nampak dari beliau mengenai penjagaannya beliau terhadap bacaan yang panjang, akan tetapi Zaid menginginkan dari marwan supaya menjaga bacaan panjang sebagaimana yang dia lihat dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar mengatakan: maka dengan dua hadis ini dapat dijadikan dalil akan sunnahnya membaca surat-surat panjang dalam shalat magrib. Beliau berkata juga : aku katakan: hadits-hadits yang disebutkan Imam Bukhari mengenai bacaan di sini (dalam shalat magrib) adalah tiga yang diperselisihkan secara ukuran, karena surat Al A’raf adalah diantara tujuh surat yang paling panjang, surat Ath Thuur adalah diantara surat panjang dari mufashshal dan surat Al Mursalat adalah pertengahan darinya.

4. Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam dalam shalat magrib membaca surat Al A’raaf, beliau pisahkan dalam dua raka’at. (HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al bani).

Ibnu Khuzaimah berkata dalam shahihnya: Aku telah mendengar Ahmad Bin Nashr Al Muqri berkata : “Aku menginginkan dalam shalat magrib untuk dapat membaca surat Al A’raaf sekali saja”.

Oleh karena itu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka –semoga Allah meridhai mereka- mereka berjalan di atas petunjuk Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam dalam hal itu baik ketika mukim maupun bepergian. Silahkan lihat perjalanan mereka mengenai hal itu dalam karangan Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah.

Catatan: Abu Dawud berpendapat dalam sunanya untuk menghilangkan bacaan yang panjang dalam shalat magrib. Dan Ibnu Daqiiq al-iid berdalil untuk senantiasa beramal dengan yang mudah. Silahakan lihat bantahan terhadap hal itu di dalam kitab fathul Baarii 2/290-291.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Al-wasyiyah bi ba’di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal.69-71, cet. Kedua, tahun 1426 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala….

Alih bahasa, al-faqir illah Hamidin as-sidawy, Abu harits Makkah al-mukarramah (17/05/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda